Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

16 May 2009

Posted by ShureX Posted on May 16, 2009 | 5 comments

Memuaskan Diri Sendiri

Kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin. —Yehezkiel 16:49

Bacaan:
Yehezkiel 16:48-56

Suatu pusat pertokoan papan atas di London meluncurkan sebuah kartu belanja baru yang dapat dijadikan hadiah dengan slogan, "Kado untuk Memuaskan Diri Sendiri". Di seluruh penjuru pertokoan itu, papan-papan penanda, slogan-slogan, dan bahkan tanda pengenal karyawan pun berusaha menarik perhatian pengunjung pada kartu baru itu. Menurut seorang karyawan, angka penjualan kartu tersebut sangat tinggi selama minggu pertama promosinya, jauh melampaui target yang diperkirakan perusahaan. Sikap murah hati mungkin mendorong seseorang untuk memberikan kado mewah bagi seseorang yang spesial. Namun, terlalu sering kita merasakan bahwa jauh lebih mudah membeli sesuatu yang kita inginkan untuk diri kita sendiri.

Yehezkiel memberikan pencerahan bagi suatu kota kuno yang penduduknya menderita penghukuman Allah. Salah satu sebabnya adalah karena mereka menganut gaya hidup yang memuaskan diri sendiri. "Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin. Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan kekejian di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu" (Yeh. 16:49-50).

Sepanjang sejarah, Tuhan telah menindak keras umat-Nya yang bersikap sombong, berkelimpahan makanan, dan tidak peduli terhadap sesamanya (ay.49). Obat penawar untuk racun pemuasan diri sendiri ini adalah kerinduan untuk menyenangkan Allah dan melayani orang lain, bukan diri kita sendiri (Flp. 2:4).

Pemuasan diri sendiri adalah kado yang tidak kita perlukan. —DCM

Ada yang patah semangat dan hatinya berbeban berat,
Tolonglah mereka hari ini!
Ada yang harus memulai perjalanannya menuju ke surga,
Tolonglah mereka hari ini! —Breck


Semakin lebih kita melayani Kristus, semakin berkurang kita melayani diri sendiri.


Sumber : rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

28 March 2009

Posted by ShureX Posted on March 28, 2009 | 1 comment

Menemukan Panggilan Kita

Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. —Efesus 4:1



Baca: Efesus 4:1-16


Suatu pergumulan yang terus-menerus kita alami di saat belajar mengikut Kristus adalah ketika kita mencoba untuk menemukan panggilan hidup kita. Kita sering berpikir bahwa panggilan itu berkaitan dengan pekerjaan dan lokasi kita. Namun, mungkin yang lebih penting dari itu adalah soal karakter, yakni keberadaan diri yang mendasari perilaku. "Tuhan, apa yang Engkau kehendaki bagiku?"

Dalam Efesus 4, Paulus menulis, "Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu" (ay.1). Ia melanjutkan ini dengan tiga "hendaklah", seperti tertulis dalam satu terjemahan: Hendaklah selalu rendah hati, hendaklah lemah lembut, hendaklah sabar, "tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu" (ay.2). Paulus menulis ini dari penjara, suatu tempat yang sulit, namun ia terus setia pada panggilan Allah atas hidupnya.

Oswald Chambers berkata: "Pengabdian bukanlah menyerahkan panggilan hidup kita pada Allah, tetapi pemisahan dari semua panggilan lainnya dan memberikan diri kita sepenuhnya pada Allah, mengizinkan kedaulatan Allah menempatkan kita sesuai kehendak-Nya—dalam bidang bisnis, hukum, ilmu pengetahuan, pertukangan, politik; atau dalam pekerjaan yang sederhana sekalipun. Kita ditempatkan di sana untuk bekerja sesuai hukum dan prinsip Kerajaan Allah."

Bila kita adalah orang-orang yang tepat di mata Allah, kita dapat melakukan tugas apa pun yang diberikan-Nya, di mana pun Dia menempatkan kita. Dengan itulah, kita menemukan dan meyakini panggilan-Nya bagi kita. —DCM

Engkau dipanggil dengan suatu panggilan ilahi
Untuk menjadi terang dunia;
Untuk memancarkan cahaya Injil
Hingga terangnya bisa dilihat banyak orang. —NN.


Yang terpenting bukanlah apa yang Anda kerjakan, tetapi siapakah diri Anda.


sumber : rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

12 January 2009

Posted by ShureX Posted on January 12, 2009 | No comments

TAK TERTOLONG LAGI?

Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." —Lukas 23:43


Baca: Lukas 23:33-43

Seorang gembala Israel berumur 110 tahun dari suku Bedouin dengan segera dibawa ke rumah sakit di Beersheba ketika ia terkena serangan jantung. Meskipun usianya sudah renta, dokter bekerja keras menyelamatkan jiwanya. Pria ini mungkin adalah pasien pengidap penyakit jantung tertua yang berhasil disembuhkan dengan obat pencegah penyumbatan jantung. Jurubicara dari rumah sakit melaporkan bahwa pria Bedouin ini telah kembali ke tendanya di gurun pasir Negev untuk menjaga kawanan kambingnya.

Perhatian yang diberikan pada pria berumur 110 tahun ini mencerminkan cara Yesus dalam menanggapi orang-orang yang kita anggap sudah tidak tertolong lagi. Kemampuan dan kemauan-Nya untuk menembus batas-batas sosial untuk menolong para penderita kusta dan mereka yang dikucilkan jauh melebihi apa yang biasanya dilakukan oleh seseorang yang baik hati.

Bahkan di tengah kepedihan atas penderitaan yang dialami-Nya, Yesus merengkuh seseorang yang sekarat, yang dianggap orang lain sudah tidak tertolong lagi. Orang ini adalah seorang penjahat, dihukum mati, dan hanya punya waktu beberapa jam sebelum ia akan terhilang selamanya. Pada saat itu, Yesus menanggapi seruan orang yang meminta pertolongan ini dengan berkata, "Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Luk. 23:43).

Apakah Anda mengenal seseorang yang tampaknya tidak tertolong lagi? Atau mungkin Anda berpikir, Anda-lah yang tidak memiliki harapan lagi. Allah dalam Alkitab sanggup memberikan pertolongan bagi mereka yang dianggap terlalu tua, terlalu berdosa, atau terlalu lemah untuk dapat ditolong lagi. —MRD II

Yesus mencari mereka yang direndahkan
Yang tidak dipedulikan oleh banyak orang;
Kebaikan hati dan pertolongan-Nya
Rindu Dia bagikan pada mereka. —D. De Haan

Kuasa Allah terlihat paling nyata dalam kelemahan kita.

Santapan Rohani
2009-1-12

Sumber : rbcintl.org



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

17 December 2008

Posted by ShureX Posted on December 17, 2008 | No comments

PENCARIAN DAN PENEMUAN

Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh.
—1 Korintus 2:10


Baca : 1 Korintus 2:6-16

Bayangkan bila pagi Natal tanpa kertas pembungkus hadiah! Sukacitanya pasti hanya bertahan sebentar, karena sebagian besar serunya Natal adalah rasa ingin tahu akan apa yang ada di dalam kertas pembungkus hadiah itu.

Rupanya Allah menciptakan kita dengan tatanan "normal" yang menyebabkan kita begitu menikmati proses mencari dan menemukan, karena menemukan sesuatu sering terasa lebih menyenangkan daripada memilikinya. Itulah alasannya mengapa kita membungkus hadiah-hadiah kita.

Banyak cerita di dalam Alkitab yang menggunakan konsep ini. Dalam Amsal kita membaca tentang kebijakan: "Dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku." (8:17). Nabi Yeremia menuliskan tentang Tuhan: "Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati" (29:13).

Allah bisa saja menyatakan seluruh kebenaran kepada semua orang sejak awal, tetapi Dia memilih untuk menyatakan diri-Nya secara bertahap (1 Kor. 2:7-8). Kemungkinan hal itu karena kita memang lebih menghargai sesuatu apabila kita harus mencari dan menunggunya.

Allah tidak sedang bermain petak umpet dengan kita. Dia mengizinkan kita menikmati proses pencarian dan penemuan tentang siapakah Dia dan apa yang dilakukan-Nya di jagat raya ini.

Jadi, janganlah menjadi putus asa jika Anda belum mengetahui banyak tentang Allah. Sebaliknya, bersukacitalah pada saat Anda menyingkapkan segala hal baru yang belum Anda temukan. —JAL

Ajariku lebih lagi tentang Yesus,
Kehendak-Nya yang kudus lebih kumengerti;
Roh Allah, yang mengajarku,
Memperlihatkan perkara Kristus padaku. —Hewitt


Tuhan memberikan diri-Nya kepada kita sebagai hadiah yang tidak akan habis-habisnya untuk kita singkapkan.


Sumber : rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

01 December 2008

Posted by ShureX Posted on December 01, 2008 | No comments

MENANTIKAN SUKACITA

Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.
—Mazmur 30:6


Baca: 2 Korintus 4:8-18

Sebagian besar hidup kita berpusat pada masa-masa penantian. Kita akan sangat merasa kehilangan jika pada suatu pagi kita bangun dan tiba-tiba mendengar pengumuman tak terduga: "10 menit lagi Natal!" Sukacita dalam banyak peristiwa hidup dialami karena kita memiliki waktu untuk menantikannya.

Hari Natal, acara liburan, perjalanan misi, pertandingan olahraga. Semuanya menjadi semakin bernilai disebabkan oleh jam-jam yang kita habiskan untuk menanti datangnya saat-saat itu—semua kesenangan, tantangan, dan kegembiraan yang akan datang dari pengalaman itu silih berganti memenuhi benak kita.

Saya terpikir akan nilai dari sebuah penantian dan perasaan menggebu-gebu yang menyertainya di dalam hati manusia saat saya membaca Mazmur 30:6, "Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar soraksorai." Sang pemazmur sedang menyatakan suatu pemikiran yang memberikan penghiburan, yaitu bahwa kesusahan duniawi hanya terasa sesaat saja jika dibandingkan dengan sukacita yang kita nantikan akan terjadi di surga hingga selamaselamanya. Rasul Paulus menuliskan pemikiran yang serupa dalam 2 Korintus 4:17. Dalam ayat tersebut, kita menemukan bahwa "penderitaan ringan" akan menuntun kita pada kemuliaan kekal.

Untuk saat ini, sebagian dari kita yang berdukacita dapat terus memiliki pengharapan daripada tenggelam dalam keputusasaan dan memiliki sikap hati yang menantikan daripada terus berduka. Mungkin saja hati kita mengalami kelamnya malam hari, tetapi di hadapan kita terbentang fajar kekekalan. Dan seiring fajar itu, Allah menjanjikan sukacita yang tak akan pernah berakhir dari pagi surgawi. —JDB

Kesengsaraan, dukacita, dan penderitaan
Tidak lain adalah batu loncatan surga
Menuju hari esok yang cerah dan penuh sukacita
Tempat di mana tidak ada lagi kesedihan. —Glass

Kita mampu menghadapi pencobaan dalam hidup ini karena adanya janji sukacita di kehidupan mendatang.


Sumber : rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


12 November 2008

Posted by ShureX Posted on November 12, 2008 | No comments

WILAYAH BEBAS GOSIP

Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam. —Amsal 25:18


Baca: Amsal 25:8-18

Di banyak kantor, Anda dapat dipecat karena bergosip. Menurut survey di tahun 2002, rata-rata karyawan bergosip selama 65 jam dalam setahun. Sebuah perusahaan di Chicago memutuskan untuk menjadi "wilayah bebas gosip". Para karyawan tidak boleh membicarakan hal-hal buruk tentang rekanrekan kerjanya secara sembunyi sembunyi. Jika ada yang tertangkap basah bergosip, ia akan kehilangan pekerjaannya.

Sebuah lembaga pelayanan bagi orang-orang yang bekerja di dunia hiburan menerapkan langkah alternatif untuk mengatasi gosip. Mereka melawannya dengan doa. Alih-alih membicarakan keburukan orang-orang terkenal yang sedang bermasalah karena keputusan mereka yang salah, pelayanan ini mendorong banyak orang untuk berdoa bagi mereka.

Salah satu dari perintah-perintah Allah bagi umat-Nya adalah "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu" (Kel. 20:16). Walaupun hal ini terutama mengacu pada kesaksian dusta di pengadilan, gosip dapat juga termasuk dalam perintah ini karena gosip melanggar hukum yang meminta kita untuk memiliki kasih terhadap sesama kita. Amsal menggunakan bahasa yang keras untuk menggambarkan dampak dari gosip yang keluar dari mulut kita. Gosip itu seperti "gada, atau pedang, atau panah yang tajam" terhadap sesama (25:18).

Gosip memuaskan sifat alami kita untuk merasa lebih baik daripada orang lain, merasa lebih disukai atau lebih diterima oleh orang lain. Akibatnya, mengatasi gosip dalam kehidupan pribadi kita dapat menjadi sebuah tantangan. Namun, bila kita memilih untuk mengasihi melalui doa, hidup kita dapat menjadi wilayah bebas gosip. —AMC

Tuhan, ampuni kami karena telah berkata-kata dengan ceroboh
tentang orang lain untuk membuat diri kami tampak lebih baik.
Tolong kami untuk berpikir sebelum berbicara. Ajarlah kami
untuk berkata-kata dengan penuh kasih. Amin.


Anda tidak dapat pernah membenarkan gosip.

Sumber : rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


27 October 2008

Posted by ShureX Posted on October 27, 2008 | 1 comment

Tanda Plus

Pernah ada seorang gadis kecil mulai belajar Aritmatika. Ia menyukai pelajaran itu dan pikirannya terkuasai oleh berbagai tanda: tanda plus, tanda minus, tanda pembagi, dan sebagainya. Pada suatu pagi ia diajak ayahnya pergi ke gereja. Gadis itu melihat salib kecil di atas altar.

Kemudian dengan berbisik ia berkata pada ayahnya : "Papa, untuk apa tanda plus di atas altar itu?" Rupanya gadis kecil itu sedikit bingung melihat tanda plus sendirian di atas altar itu. Namun, dalam pengertian yang mendalam, gadis kecil itu benar. Salib adalah "tanda plus". Penebusan yang disimbolkan dengan salib telah memberikan sebuah "tanda plus besar" ke dalam hidup kita (Halford F. Luccock)

Cerita singkat itu mengundang perhatian kita pada "tanda plus besar" yaitu Salib Tuhan kita Yesus Kristus sendiri. Salib-Nya menjadi sebuah tanda yang menunjukkan apa yang telah diperbuat Yesus bagi kita. Ia telah menghampakan diri menjadi seorang hamba. Dengan setia Ia memikul salib-Nya bahkan sampai Ia disalibkan dan wafat di salib.

Dengan salib-Nya, Ia telah menebus dunia. Berkat salib-Nya ditambahkan hidup kekal bagi kita. Menghormati salib-Nya berarti kita menjunjung tinggi nilai plus yang dianugerhkan-Nya yakni hidup dan iman kita dan dengan tekun lagi setia menjalankan tugas dan kewajiban yang menyertainya. Semoga rahmat penebusa-Nya menguatkan setiap orang yang melihat dan menghormati Salib-Nya.

(P. Metodius Sarumaha, Ofm.Cap.)
sumber : http://www.mkif-online.de


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


18 October 2008

Posted by ShureX Posted on October 18, 2008 | No comments

BUKIT YANG TERLALU TINGGI

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. —Matius 6:34


Baca: Keluaran 16:1-5

Saya dan istri gemar bermain rollerblade. Dekat akhir dari salah satu rute favorit kami terdapat perbukitan. Ketika pertama kali kami menempuh rute itu, saya berusaha menyemangati Sue dengan berkata, "Apa kau siap menaklukkan bukit itu?" sesaat sebelum kami mendaki menuju puncak bukit. Namun, pada suatu hari Sue berkata, "Dapatkah kau tidak mengucapkan kalimat itu? Kau mengatakannya seolah-olah kita sedang menghadapi sebuah gunung yang begitu besar dan itu mematahkan semangatku."

Adalah lebih baik bagi Sue ketika ia mendaki bukit itu untuk berpikir hanya "selangkah demi selangkah", atau satu kali kayuhan kaki di atas rollerblade, daripada membayangkan masih ada satu bukit curam yang harus ditaklukkan.

Hidup dapat diibaratkan seperti itu. Apabila kita menatap terlalu jauh melampaui hari ini, tantangannya dapat terasa seperti mendaki Gunung Everest. Semua tantangan itu tampaknya mustahil untuk diatasi, jika kita berpikir bahwa kita harus siap "menaklukkan bukit".

Alkitab mengingatkan kita bahwa yang perlu kita hadapi hanyalah hari ini. Kita tidak perlu khawatir akan hari esok (Mat. 6:34). Bayangkan jika Musa berpikir, "Saya harus memberi makan semua orang ini, entah sampai kapan. Bagaimana saya dapat menyediakan makanan sebanyak itu?" Namun, Allah memenuhi gunung itu dengan manna—tetapi hanya cukup untuk keperluan sehari (Kel. 16:4)

Setiap bukit dalam kehidupan ini akan terasa terlalu tinggi, jika kita berpikir untuk mendaki seluruh bagiannya sekaligus. Namun, tak ada bukit yang terlalu tinggi untuk kita daki jika kita menaklukkannya setapak demi setapak—dengan pertolongan Allah. —JDB

Dia yang hatinya penuh dengan segala kebaikan
Memberikan yang terbaik setiap hari—
Dengan penuh kasih, dalam penderitaan dan sukacita,
Memadukan karya dengan kedamaian dan ketenangan. —Berg

Allah hadir memberi kita kekuatan untuk setiap bukit yang harus kita daki.

Sumber : http://www.rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


11 October 2008

Posted by ShureX Posted on October 11, 2008 | No comments

KARYA DARI ORANG BIASA

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.
—Lukas 5:32

Bacaan :
Matius 4:18-25

Pelukis Italia abad ke-16, Caravaggio, menerima kritikan tajam pada masa hidupnya karena melukiskan tokoh-tokoh Alkitab sebagai orang-orang biasa. Para pengkritik itu merefleksikan suatu masa ketika hanya anggota-anggota kerajaan dan aristokrat yang dianggap pantas menjadi subyek dari seni yang bernilai kekal. Lukisan kanvasnya tentang St. Matthew and the Angel (Matius dan Malaikat) begitu mengusik para pemimpin gereja sehingga lukisan itu harus dikerjakan ulang. Mereka tidak dapat menerima ketika melihat Matius dilukiskan dalam sosok tubuh seorang pekerja kasar pada umumnya.

Menurut seorang penulis biografi tentang hidupnya, apa yang tidak dipahami oleh para pejabat gereja itu adalah bahwa "Caravaggio, ketika mengangkat sosok yang sederhana ini, sedang meneladani Kristus yang telah mengangkat Matius dari jalanan."

Pendapat Caravaggio mengenai tokoh-tokoh Alkitab sungguh benar. Yesus sendiri dibesarkan dalam rumah seorang pekerja. Ketika waktu-Nya tiba untuk tampil di depan umum, Ia diperkenalkan oleh seorang pria berjubah bulu yang muncul dari padang gurun dan yang dikenal sebagai Yohanes Pembaptis. Murid-murid-Nya terdiri atas para nelayan dan orang awam.

Yesus juga hidup, mengasihi, dan mati untuk orang-orang kaya. Namun, dengan menjadi sahabat bagi mereka yang dirasuk setan, orang kusta, para nelayan, dan bahkan para pemungut pajak yang dipandang rendah, sang Guru dari Nazaret itu menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang begitu miskin, berdosa, atau terbuang sehingga ditolak oleh-Nya menjadi sahabat-Nya. —MRD II

Yesus sahabat sejati,
Bagi kita yang lemah!
Tiap hal boleh dibawa
Dalam doa pada-Nya! —Scriven

Yesus menginginkan Anda menjadi sahabat-Nya.


@ www.rbcintl.org



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


22 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 22, 2008 | No comments

SALURAN KASIH

Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. —1 Yohanes 3:18

Baca: 1 Yohanes 3:16-20

Ada banyak mahasiswa yang mengikuti perjalanan misi di musim panas. Namun, jarang ada yang kembali dengan rencana untuk menyelamatkan seorang bayi. Mallery Thurlow, seorang mahasiswi di Cornerstone University di Grand Rapids, pergi ke Haiti untuk membantu pendistribusian makanan. Satu hari seorang ibu muncul di tempat pendistribusian makanan itu dengan menggendong seorang bayi yang sakit parah. Ibu itu tidak memiliki pilihan lain. Bayi itu harus dioperasi, tetapi tidak ada yang mau melakukannya. Jika tidak ditolong, bayi itu akan meninggal. Mallery kemudian tidak hanya memeluk bayi Rose itu, ia juga mengingatnya dalam hati.

Sekembalinya ke AS, Mallery mencari dokter mana yang dapat mengoperasi bayi Rose. Sebagian besar dokter mengatakan harapannya kecil. Akhirnya, Rose memperoleh visa untuk meninggalkan Haiti dan Mallery kembali ke Haiti untuk menjemputnya. Rumah Sakit Anak Detroit mau menanggung biaya operasi sebesar $100,000 AS dan operasi itu berhasil. Hidup bayi kecil itu pun terselamatkan.

Kita mungkin tidak akan memiliki dampak sedramatis itu atas hidup orang lain. Namun, tertantang oleh kepedulian mahasiswi ini, kita dapat menemukan cara-cara untuk memberikan pertolongan. Mahasiswi itu tidak membiarkan situasi, usia mudanya, atau ketidaknyamanan menghentikan dirinya untuk menyelamatkan hidup Rose.

Seperti halnya Mallery, kita dipanggil untuk mengasihi "dalam perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh. 3:18). Kepada siapa Anda dapat menyalurkan kasih Allah hari ini? —JDB

Ketika Anda melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan,
Kasih memuntut perbuatan yang penuh kasih;
Jangan hanya berkata Anda sungguh mengasihinya,
Buktikan dengan perbuatan yang Anda lakukan. —Sper

-----------------------------------------------------------------

Belas kasih mewujudkan kasih menjadi perbuatan.


@ http://www.rbcintl.org/


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


09 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 09, 2008 | No comments

Dalam pencarian

Dimana Kamu?
Dimana keadilanMu?
Dimana belas-kasihMu yang selalu Kau agung-agungkan dan Kau janjikan?
Dimana pertolonganMu saat aku membutuhkan?

Akh... Kamu telah meninggalkan aku, Kau biarkan aku dalam kebimbangan dan keter-putus asaan
Kau acuhkan aku di kala aku sangat membutuhkan keajaibanMu.
Akh... semuanya hanya sia-sia dan omong kosong belaka.

Mengapa Kau beri aku cobaan seperti ini?
Tidak tahukah Kamu akan kemampuanku?
Tidak tahukah Kamu atas keter-batasanku?
Tidak tahukah Kamu akan segala kesulitanku?

. . . h e n i n g . . .

Aku sadar

selama ini aku tidak pernah mencari-MU
selama ini aku tidak pernah berlaku adil kepada sesama
selama ini aku berlaku bengis dan kejam kepada sesama
selama ini aku selalu mengacuhkan sesama ciptaan-MU

Engkau tidak pernah meninggalkan aku tetapi aku yang menjauhi-MU
Aku biarkan diriku larut dalam ragu dan hampa
Aku meninggalkan-MU di saat Engkau mencoba menggapaiku
akhh..... Aku telah sia-siakan karunia-MU

Ini bukan cobaan-MU, tapi akibat dari ketidak-pedilianku
Bukan karena aku tak mampu, tapi aku tak mau berusaha
Bukan karena aku terbatas, tapi aku tak mau belajar
Bukan keslitan yang aku hadapi, tapi buah kemalasanku selama ini

Oh Tuhan...
maafkan aku
aku telah mencaci-MU
aku telah mengacuhkan-MU
aku telah meninggalkan-MU
terimalah pertobatanku
terimalah kedatanganku kembali

salam,
( kebimbangan dalam pencarian )


Sumber : Gundolo Sosro


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


03 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 03, 2008 | 1 comment

Mengucap Syukur

Banyak perintah Tuhan yang dapat kita terima dengan mudah, misalnya, jangan berzinah, jangan menyembah berhala, jangan membunuh. Namun Tuhan juga kadang-kadang memberikan beberapa perintah yang sulit diterima akal. Mari kita melihat salah satunya, yaitu mengucap syukur senantiasa untuk segala sesuatu.

Mengucap syukur haruslah menjadi gaya hidup kita, bukan hanya kegiatan seremonial. Masalahnya, gaya hidup seperti ini akan tampak aneh bila dipraktikkan ketika kita sedang berduka atau dalam pergumulan berat. Siapapun akan setuju bahwa untuk tetap bersyukur di tengah kejadian buruk memang tampak tidak masuk akal. Namun sesungguhnya, pemahaman kita yang terbatas tidak dapat dibandingkan dengan pengetahuan Tuhan yang jauh lebih luas tentang apa yang terbaik bagi makhluk ciptaan-Nya.

Tuhan mengajar kita bahwa sikap bersyukur akan memberikan dampak yang luar biasa bagi setiap orang percaya. Mungkin kita sedang merasa sesak dengan ujian yang kita alami. Namun, mengucap syukur kepada Tuhan untuk meminta perhatian atau penyediaan-Nya yang terus-menerus, akan mengingatkan kita bahwa Dia selalu hadir bagi kita. Bila kita tahu bahwa Dia memegang kendali atas segala sesuatu, pasti kita akan berserah kepada kehendak-Nya. Situasi yang kita alami mungkin tetap sama, namun sikap kita dalam menghadapinya telah diubah melalui iman.

Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita orang percaya. Itu artinya Tuhan memiliki tujuan untuk setiap kejadian yang Dia rencanakan atau izinkan. Sikap yang penuh syukur akan memotivasi kita untuk mencari tahu tujuan-Nya itu. Di dalam Tuhan yang sempurna, segala sesuatu pasti disingkapkan dan kita dapat berkata kepada-Nya dengan hati yang tulus, "Tuhan, terima kasih!"

Regards,
Gundolo Sosro



10 August 2008

Posted by ShureX Posted on August 10, 2008 | No comments

MATA ALLAH

Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.
—2 Tawarikh 16:9


Baca: 2 Tawarikh 16:7-14

Teleskop Ruang Angkasa Hubble berhasil mengambil foto-foto Helix Nebula (Nebula adalah sekelompok bintang yang nampak seperti kabut bercahaya). Banyak ahli astronomi menggambarkannya seperti "terowongan dari gas bercahaya yang trilyunan mil panjangnya." Pada pusat terowongan itu terdapat sebuah bintang sekarat yang melontarkan debu dan gas yang terserak sampai ke lingkaran luar. Foto-foto Nebula yang mengagumkan itu terlihat seperti selaput bola mata manusia berwarna biru lengkap dengan kelopak matanya. Itulah alasan yang membuat banyak orang menyebut nebula ini sebagai "Mata Allah".

Walaupun gugusan bintang nebula ini bukanlah mata Allah yang sesungguhnya, Alkitab memang menuliskan tentang pandangan Allah terhadap hidup kita. Nabi Hanani berkata: "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia" (2 Taw. 16:9).

Pernyataan tentang mata Allah yang melihat semuanya ini adalah tanggapan atas ketergantungan raja Asa kepada penguasa lain demi keamanan militernya. Kelihatannya Asa telah lupa bahwa Tuhan Allah, dan bukan prajurit-prajuritnya, yang telah memberikan kemenangan atas para musuhnya di masa lalu (14:11-12). Penyelewengan rohani ini tidak luput dari perhatian Allah, yang selalu mencurahkan berkat bagi setiap orang yang patuh pada-Nya.

Meski kita tidak dapat melihat mata Allah, kita dapat yakin bahwa Ia melihat kita. Ia rindu untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang setia pada-Nya dengan sepenuh hati. —HDF

Janji berharga Allah telah diberikan
Kepada musafir yang letih lesu,
Dalam perjalanan dari dunia menuju surga,
"Aku akan menuntunmu dengan mata-Ku." —Niles


Mengetahui bahwa Allah melihat kita memberikan keyakinan dan juga ketenangan.


Sunber : http://www.rbcintl.org/


13 July 2008

Posted by Klinik Rohani Posted on July 13, 2008 | No comments

Bau Yang Tak Terdeteksi

Lihat, enam orang laki-laki datang dari jurusan pintu gerbang Atas, yang menghadap ke utara, masing-masing dengan alat pemukul di tangannya. Dan satu orang di antara mereka berpakaian lenan dan di sisinya terdapat suatu alat penulis. Mereka ini masuk dan berdiri di samping mezbah tembaga.
~Yehezkiel 9:2


Beberapa tahun yang lalu, kawan-kawan saya tinggal di kawasan industri dengan asap-asap pabrik yang menyebarkan 'aroma' -- bukan, 'bau'. Maksud saya, bau itu seperti asam sulfur -- tercium seperti bau telur busuk. Ketika Anda pertama kali berkunjung ke daerah itu, Anda akan mendengus dan berkata, "Apa ini?" Dan mereka akan berkata, "Apanya apa?" Lihat, mereka telah tinggal di kawasan itu begitu lama sehingga bau yang sangat menusuk hidung itu pun tidak tercium oleh mereka lagi.

Firman Tuhan yang kita ambil hari ini berasal dari kitab Yehezkiel 9:2, yang menggambarkan tipe orang yang Tuhan cari dahulu kala - dan tipe orang yang Tuhan cari saat ini, adalah dimana Anda berada sekarang. Allah menunjukkan nabinya Yehezkiel betapa buruknya dosa mereka dulu dan betapa Ia hendak membersihkan semuanya.

Yehezkiel menggambarkan "orang yang berpakaian lenan" yang "Berjalan dari tengah kota Yerusalem dan menuliskan tanda pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan disana." Kata Tuhan dahulu, dan sekarang, "Pada suatu masa ketika dosa dilakukan terus menerus, dan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya lagi, Aku mencari orang-orang yang tidak ikut melakukan dosa namun berkeluh kesan dan sedih karena dosa." Orang-orang seperti ini dulu, dan sekarang, sangat sulit dicari. Mereka adalah orang-orang istimewa, dulu dan sekarang.

Banyak dari kita sebagai milik Allah seperti kawan-kawan saya yang tinggal di lingkungan yang sangat tercemar - kita begitu terbiasa sehingga kita tidak bisa mencium bau itu lagi! Besar peluang Anda untuk berhubungan dengan sampah-sampah dosa; berbohong atau menipu dan dianggap sebagai ketrampilan bisnis yang cerdik, sikap penerimaan yang tidak pantas terhadap kesucian seksual, berhubungan dengan orang-orang yang memperlakukan nama Allah atau Yesus seperti sampah. Nama Yesus -- nama yang seharusnya membuat setiap lutut bertelut! Anda berada di tengah-tengah lingkungan yang mengidolakan uang dan mencintai benda-benda mati! Anda berada dalam lingkungan yang penuh dengan kemarah, kepahitan hati, rasialisme, dan pemfitnahan.

Mungkin Anda begitu terbiasa dengan dosa-dosa seperti itu sehingga hati Anda tidak remuk karenanya. Namun, hal-hal tersebuh meremukkan hati Bapa. Dia telah melakukan perjalanan panjang dan penyiksaan sampai kepada kayu salib untuk membayarkan semua dosa, memberikan kita keselamatan. Dan Roh Kudus bersemayam di hati Anda jika Anda benar-benar milik Tuhan, dan Ia bersedih karena kita menjadi kebal terhadap dosa-dosa itu.

Kita harus merasa terganggu ketika dosa sudah tidak mengganggu kita lagi. Kita perlu berdoa, "Tuhan, berikan aku kembali indra penciuman rohaniku!" Kecuali kita bersekutu setiap hari dengan Yesus dan melihat apa yang Ia lihat, tingkat kepekaan kita terhadap dosa akan semakin lama semakin melemah dan mati, sehingga dosa tidak terlihat begitu jahat lagi.

Bayangkan Anda sedang menceritakan lelucon mengenai keadaan menyetir ketika mabuk kepada seseorang yang tiba-tiba menghentikan Anda dan berkata, "Seorang pengendara mabuk telah membunuh anak saya." Dosa kita adalah ketika kita juga menjadi kebal terhadap Anak Allah yang telah mati -- Allah tidak menganggap remeh hal itu. Dan kita juga tidak bisa.

Mintalah kepada Tuhan untuk membuat Anda, seperti yang dikatakan dalam Roma 16:19 "bijaksana terhadap apa yang baik dan bersih terhadap apa yang jahat." Bersih daripada yang jahat daripada terbawa olehnya. Dosa itu bau! Bau kematian yang busuk, tidak perduli betapa harumnya ketika dibungkus dalam keglamoran. Jangan Anda menjadi terbiasa oleh baunya!


Oleh: Ron Hutchcraft
Kiriman: Lesmana, Azallea


12 July 2008

Posted by Klinik Rohani Posted on July 12, 2008 | No comments

Berbahagialah dengan Apa Yang Kau Miliki

"Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."
Ulangan 5:21


Seperti yang dijelaskan oleh ayat di atas, kita harus merasa puas dengan apa yang telah kita miliki dan tidak boleh mengingini milik sesama kita yang tidak kita punyai. Mengapa?

Tentu saja Allah menginginkan kita mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi dan memaksimalkan kehidupan kita sepenuhnya, tapi apa yang kita rasa terbaik bagi kita bukanlah yang terpenting bagi Allah. Contohnya, kita tentu mencintai pasangan kita, tapi tetap kita membandingkan dia dengan orang lain / tetangga yang lebih menarik, atau seorang wanita cantik di supermarket atau supermodel gagah di sampul depan majalah olahraga. "Jika istri saya dapat menurunkan 15 kg lagi, hubungan kami akan lebih harmonis." Anda mungkin berkata seperti ini. Atau, mungkin Anda berpikir "Hmmm... betapa lebih berbahagiannya saya jika saya memiliki uang lebih banyak." Atau dalam suatu percakapan, keluar celetukan, "Oh!! Saya akan berikan segala sesuatunya untuk dapat mencoba mengendarai mobil sport itu!"

Sekali lagi pertanyaan yang harus dijawab adalah, mengapa beberapa orang, daripada menghitung berkat yang telah mereka miliki memilih untuk memfokuskan perhatian mereka pada hal-hal yang mereka tidak miliki, atau hal-hal yang lebih besar dan lebih baik.

Tentu saja Anda boleh menginginkan hal-hal yang terbaik dalam kehidupan Anda, tetapi janganlah kita lupakan bahwa apa yang Allah anggap penting dan baik tidak selalu hal-hal yang selama ini kita prioritaskan. Emas, intan, mantel bulu, mobil mewah, rumah besar, pasangan dengan tubuh gagah seperti dewa Adonis atau lekukan indah seperti dewi Venus, tidak ada kaitannya dengan hubungan istimewa yang kita miliki bersama Allah. Tentu saja Allah menginginkan kita untuk hidup sehat dan makmur, tapi menyirami dan memperkaya kehidupan rohani kita bersama Tuhanlah yang terpenting di mataNya.

Hari ini, maukah Anda mengesampingkan hal-hal material dan sempit itu, dan meminta kepada Tuhan untuk memberikan kerinduan yang lebih mendalam untuk bersekutu denganNya, menyirami dan menyehatkan kehidupan rohani Anda?

Terjemahan Bebas: Azallea Lesmana (Untuk kalangan sendiri)


Oleh: Melanie Schurr
Kiriman: {-Bassisette-}


Posted by Klinik Rohani Posted on July 12, 2008 | No comments

PERTAHANKAN JANJI NIKAH

Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang siasia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari.
—Pengkhotbah 9:9

Bacaan: Kejadian 24:61-67

Seorang pria mengunjungi pendetanya untuk konseling. Di tangannya ada berlembar-lembar keluhan tentang istrinya. Setelah berjam-jam mendengarkan keluh kesahnya, pendetanya itu tidak dapat menahan lagi untuk tidak bertanya, "Jika istri Anda sedemikian buruknya, mengapa Anda menikahinya?" Segera pria itu menjawab dengan ketus, "Ia tidak seperti itu sebelumnya!" Pendeta yang tidak ragu dalam mengungkapkan pikirannya ini bertanya, "Jadi, apakah Anda ingin mengatakan bahwa istri Anda berubah menjadi seperti sekarang karena ia menikah dengan Anda?"

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita itu, cerita tersebut menyatakan pelajaran penting yang dapat dipelajari. Kadang-kadang, perasaan terhadap pasangan kita mungkin bertambah dingin. Namun, cinta itu lebih dari perasaan semata—cinta adalah komitmen seumur hidup.

Meskipun kebanyakan orang memilih untuk menikah hanya karena cinta, tetapi dalam banyak kebudayaan, ada orang yang menikah karena telah dijodohkan. Di dalam kehidupan Ishak dan Ribka yang tercatat dalam kitab Kejadian, cinta timbul setelah pernikahan. Dikatakan dalam pasal 24 bahwa Ishak menikahi Ribka dan kemudian Ishak mencintainya (ay.67).

Cinta alkitabiah adalah memiliki makna kerelaan kita untuk melakukan apa yang baik bagi pasangan kita. Suami diperintahkan untuk "mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri" (Ef. 5:28).

Jadi, dalam ketaatan kepada Tuhan, marilah kita mempertahankan janji nikah kita untuk mencintai pasangan kita "sampai maut memisahkan kita." —AL

"Dalam masa suka dan duka," kami berjanji,
Melalui rasa sakit dan pergumulan;
Dan dengan pertolongan dan anugerah Allah
Kita akan menjaga janji ini sehidup semati.
—D. De Haan

============================

Cinta lebih dari sekadar perasaan, itu adalah suatu komitmen.


sumber : http://www.rbcintl.org/


--------------------------
I Korintus 7:10-11 Kepada orang-orang yang telah kawin aku -- tidak, bukan aku, tetapi Tuhan -- perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.

Matius 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

08 July 2008

Posted by ShureX Posted on July 08, 2008 | No comments

POLA PIKIR YANG FATAL

Musa dan Harun telah melakukan segala mujizat ini di depan Firaun. Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga tidak membiarkan orang Israel pergi dari negerinya. —Keluaran 11:10


Bacaan: Keluaran 11

Ketika Firaun tidak membiarkan orang Israel meninggalkan Mesir, ribuan orang Mesir yang tidak bersalah meninggal karena kekerasan hatinya. Mungkin karena mengetahui apa yang akan terjadi pada anak sulung penduduk Mesir di malam Paskah pertama itulah yang menyebabkan Musa sangat murka ketika ia meninggalkan Firaun (Kel. 11:8). Malam itu akan menjadi malam kedukaan dan kesedihan karena penguasa negara itu memiliki pola pikir yang fatal.

Mudah bagi saya untuk mencerca ketidaktaatan Firaun yang disengaja kepada Allah, namun sangat sulit untuk melihat ketidaktaatan saya sendiri. Namun, pasal ini memaksa saya untuk bertanya, "Apakah sikap saya menghambat hidup orang lain yang hidup dekat dengan saya?"

Oswald Chambers berkata: "Hak untuk hidup ditekankan dalam seluruh isi Alkitab. Selama saya tidak membunuh orang, hukum tidak dapat menjamah saya, tetapi apakah ada seseorang yang bergantung kepada saya dan saya tidak memberinya hak hidup sedikit pun? Seseorang yang terhadapnya saya pelihara kebencian saya yang tak terampuni? 'Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia' (1 Yoh. 3:15)."

Hati kita menjadi keras seiring dengan penolakan yang berulang kali kita lakukan untuk berserah kepada Allah. Namun, hati kita dapat dilunakkan dengan ketaatan. Ketika kita mengatakan "ya" kepada Allah, hasilnya sungguh melegakan dan memberikan kelepasan yang memberi hidup bagi keluarga, rekan-rekan kerja, dan kawan-kawan kita.

Bagaimanakah pola pikir saya hari ini? —DCM

Ku berterima kasih untuk kesabaran-Mu, Tuhan,
Karena aku sering menyimpang,
Tetapi, oh aku merasakan sukacita
Ketika aku menaati firman-Mu.
—Stairs


==============================
Jalan ketaatan adalah jalan berkat.



sumber : http://www.rbcintl.org/

16 June 2008

Posted by ShureX Posted on June 16, 2008 | 1 comment

BENANG LAYANG-LAYANG

BENANG LAYANG-LAYANG

Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.
—Yakobus 4:10

Baca:
Yakobus 4:1-10


Ray Bethell adalah juara dunia perlombaan memainkan layang-layang. Dia dapat membuat beberapa layang-layang berputar dan berbalik dengan kecermatan tinggi sehingga tampak semua layang-layang itu bergerak dalam satu perpaduan, seolah-olah hanya ada satu layang-layang. Ketika menyaksikan tayangan video yang sangat mengagumkan tentang Ray dengan tiga layang-layang yang dimainkannya pada saat bersamaan, saya teringat sebuah puisi yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu.

Di perpustakaan milik pendeta Howard Sugden, saya menemukan sebuah buku bersampul bagus yang berisi karya-karya dari John Newton. Di dalamnya terdapat sebuah puisi yang berjudul, "Layang-layang; atau Runtuhnya Kebanggaan Diri." Layang-layang di dalam puisi itu bermimpi jika suatu saat kelak ia akan terbebas dari benangnya. "Seandainya aku bebas, ku kan terbang / menembus awan jauh melampaui pandangan / Namun, ah! Seperti seorang tahanan yang terikat, / benang mengikat semua gerakku." Layang-layang itu akhirnya putus dari benang yang mengikatnya. Alihalih melambung tinggi di langit, ia malah jatuh ke laut.

Analogi ini mengingatkan saya tentang banyaknya "benang" yang membuat saya merasa tidak leluasa, yaitu sumpah, janji, komitmen, dan tanggung jawab yang saya buat. Meskipun hal-hal itu membuat saya merasa terikat, Allah menggunakannya untuk menahan diri saya. Seperti diajarkan Yakobus, ketika kita bersedia untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, Ia akan meninggikan kita (Yak. 4:10).

Sebelum memutuskan benang apapun, pastikan itu bukan benang yang menjadi tempat Anda berpaut. —JAL

Meski aku adalah domba-Nya, aku tetap dapat tersesat,
Namun, Yesus dalam kasih-Nya memberikan penderitaan;
Pelajaran yang diberikan melalui rasa sakit yang mendalam
Akan mengajarku untuk mengikuti Tuhanku sekali lagi!
— Bosch


Orang Kristen dapat bangkit mengatasi terpaan angin kesengsaraan.



sumber : http://www.rbcintl.org/

09 June 2008

Posted by ShureX Posted on June 09, 2008 | 1 comment

KEBENARAN YANG MEMBEBASKAN

KEBENARAN YANG MEMBEBASKAN

Supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.
—Efesus 1:6



Baca: Efesus 1:3-10


Seorang misionaris wanita yang masih lajang merasa rendah diri. Dia merasa tidak senang dengan hidupnya secara keseluruhan, tetapi dia terutama tidak puas karena dia merasa pertumbuhan rohaninya amatlah lambat.

Suatu pagi dia mengamati dirinya sendiri di depan cermin. Lalu, dengan perlahan dia berkata, "Allah, saya bersyukur kepada-Mu karena saya menjadi diri saya sendiri dan tak pernah dapat menjadi orang lain."

Pada saat itulah, misionaris wanita itu mengalami penerimaan diri yang membebaskannya. Dia menyadari bahwa Allah telah merancang dirinya menjadi seorang pribadi yang amat unik, seorang pribadi yang telah ditebus Kristus, dan dirinya tak pernah dapat digantikan atau digandakan.

Apakah Anda menyalahkan diri sendiri karena berpikir bahwa Anda tidak serohani seperti yang seharusnya? Apakah Anda memandang diri sendiri sebagai murid Kristus kelas kedua, kurang memiliki talenta dan karunia bila dibandingkan dengan saudara-saudara seiman yang sepertinya menjadi panutan dalam hal berdoa, bersaksi, dan melayani? Kita dapat bangkit dari sikap hati yang menolak diri sendiri dan menikmati penerimaan diri dengan penuh syukur ketika kita memercayakan hidup kita ke dalam tangan Yesus yang pernah terpaku itu. "Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya" (Ef. 1:7). Kita telah diterima dan dipilih oleh Allah (ay. 4-6).

Jika Tuhan telah menerima kita, tentunya kita dapat menerima diri kita sendiri! Itulah kebenaran yang membebaskan. —VCG

Segala puji bagi Sang Domba, aku diterima-Nya,
Melalui iman dalam nama Juruselamat yang mengagumkan;
Pada-Nya kupercaya, darah-Nya tercurah;
Bagiku Dia telah menderita, bagiku Dia telah mati.
—Wesley


Menerima anugerah keselamatan yang cuma-cuma dari Yesus membebaskan kita untuk menerima diri sendiri.


di sadur dari : http://www.rbcintl.org/

20 May 2008

Posted by ShureX Posted on May 20, 2008 | 1 comment

RASA SAKIT

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
—Roma 8:28


Baca: Roma 8:18-30

Saya tidak akan pernah melupakan ketika anak bungsu kami, Matthew, terjatuh dan pergelangan tangannya patah. Parah sekali keadaannya! Pergelangan tangannya itu terpelecok sehingga tangannya mengalami luka yang mengerikan.

Kami bergegas membawanya ke rumah sakit dan dokter mulai memperbaiki posisi pergelangan tangannya. Saya melihat dokter itu menarik dan memutar lengan Matthew. Saya hendak melompat dan menjauhkan dokter itu dari putra saya! Namun, saya hanya duduk dan menyaksikan, mengetahui bahwa penderitaan itu diperlukan untuk memulihkan Matt kembali.

Jika kita memercayai dokter duniawi untuk melakukan hal itu pada anak-anak kita, betapa kita harus lebih percaya kepada Allah, sang Tabib Agung, untuk memperbaiki hidup kita yang rusak “untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm. 8:29). Salah satu tujuan Allah melalui rasa sakit yang kita alami adalah untuk memeteraikan citra Yesus di hati kita. Dapatkah kita menangis dengan mereka yang menangis? Mungkin Allah hendak menodai pipi kita dengan air mata kita sendiri supaya kita dapat berempati kepada orang lain seperti yang dilakukan Yesus. Apakah kita merasa sanggup mencukupi sendiri kebutuhan kita? Allah mungkin akan menanggalkan kenyamanan kita untuk membuat kita bergantung pada kecukupan yang dari Allah seperti yang diperlihatkan Kristus. Apakah kita kurang beriman? Mungkin dibutuhkan sebuah tragedi yang mengajar kita untuk memercayai Allah seperti Yesus memercayai-Nya.

Jika Anda merasa “patah”, jangan panik—pujilah Allah! Pada saat itulah, Dia sedang bekerja! —JMS

Retak-retak dalam hidup dapat diperbaiki
Dengan beriman kepada Kristus Tuhan—
Mula-mula terasa sakit, tetapi kemudian ada pemulihan
Dan hidup kita dipulihkan.
—Hess


Tujuan Allah melalui rasa sakit yang kita alami adalah untuk memeteraikan citra-Nya dalam hati kita.


Sumber : http://www.rbcintl.org/
  • Text Widget