Showing posts with label Renungan Tahun A/II. Show all posts
Showing posts with label Renungan Tahun A/II. Show all posts

30 May 2009

“Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”

HR Pentakosta : Kis 2:1-11; Gal 5:16-25; Yoh 15:26-27

Hari ini juga diimani sebagai hari pendirian Gereja Katolik (Umum), paguyuban Umat Allah, orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus, yang satukan oleh Roh Kudus. Hari ini umat perdana/purba menerima anugerah Roh Kudus, yang dijanjikan oleh Yesus, “Roh Penghibur dan Kebenaran, yang bersaksi tentang Yesus Kristus”. Penghiburan yang membawa ke persaudaraan sejati atau persatuan umat Allah tersebut dikisahkan dalam Kisah Para Rasul :”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."(Kis 2:7-11). Maka baiklah di Hari Raya Pentakosta ini kita mawas diri perihal persaudaraan atau persatuan kita sebagai orang beriman, yang ditandai atau diwarnai oleh aneka penghiburan dan kebenaran.

“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku." (Yoh 15:26-27)

Para rasul bersaksi dengan kata-kata perihal “perbuatan besar yang dilakukan Allah” dengan bahasa mereka sendiri dan banyak orang dari aneka suku dan bahasa dapat memahami dan mendengarkan dalam bahasa mereka masing-masing. Bahasa merupakan sarana komunikasi utama, entah bahasa lisan atau bahasa tubuh, dan dengan berkomunikasi secara terbuka atau transparan, artinya saling mengkomunikasikan isi hati masing-masing lahirlah kebersamaan hidup damai sejahtera dan bahagia, penuh dengan penghiburan. Kita, dengan telah menerima Sakramen Inisiasi, juga telah menerima anugerah Roh Kudus, Roh Penghibur dan Roh Kebenaran, maka kita juga dipanggil untuk mewartakan ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’.

“Perbuatan besar yang dilakukan Allah” kiranya menjadi nyata dalam kehidupan bersama yang dijiwai oleh cintakasih, dalam hidup orang yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan. Untuk saling mengasihi dengan baik orang harus berani memboroskan waktu dan tenaga bagi yang dikasihi, sebagaimana dalam peristiwa Pentakosta banyak orang dari berbagai daerah berkumpul alias memboroskan waktu dan tenaga untuk mendengarkan ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’ yang disampaikan oleh para rasul. “Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku”, demikian sabda Yesus kepada para rasul, kepada kita semua. Marilah kita menjadi saksi atau teladan dalam memboroskan waktu dan tenaga dalam hidup saling mengasihi, dengan saling membagikan pengalaman atau sharing perihal ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’, entah yang terjadi dalam diri kita yang lemah dan rapuh maupun di dalam lingkungan hidup dan kerja kita setiap hari.

Dalam saling memboroskan waktu dan tenaga untuk curhat perihal ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’ kita akan saling terhibur dan bersama-sama menemukan kebenaran-kebenaran. Apa yang disebut benar senantiasa berlaku secara universal, sebagaimana dialami oleh jemaat Perdana dalam peristiwa Pentakosta, dimana mereka mendengarkan kebenaran-kebenaran yang diwartakan oleh para rasul. Dalam saling curhat tersebut kiranya kita semua juga diingatkan atau disegarkan perihal aneka ajaran, nasihat, petuah yang telah kita terima dalam aneka kesempatan pendidikan atau pembelajaran; kita juga diingatkan dan disegarkan perihal ajaran-ajaran Yesus, yang kiranya dapat dipadatkan dalam ajaran untuk saling mengasihi satu sama lain. Dalam curhat dan bercakap-cakap kita saling belajar dan mengajar. Berbagai kesalah-pahaman dapat diatasi dengan cuthat atau bercakap-cakap bersama.
“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki” (Gal 5:25-26)
Hidup dari dan oleh Roh berarti bersahabat atau bersaudara dengan siapapun dan apapun, dimanapun dan kapanpun, dan cara hidup atau cara bertindaknya dijiwai oleh dan berbuahkan keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23).. Persahabatan atau persaudaraan sejati kiranya mendesak dan ‘up to date’ untuk kita hayati dan sebar-luaskan, lebih-lebih di Indonesia dimana sedang sibuk berkampanye dalam rangka pemilu Capres dan Wapres. Jika dicermati rasanya ada sementara tokoh politik dan bangsa yang ‘gila hormat’, yang diperkuat dengan gila harta benda dan gila kedudukan atau jabatan. Berbagai komunikasi dan koalisi yang diselenggarakan setelah pemilu anggota legislatif dan sebelum pencalonan presiden dan wakil presiden nampak hanya untuk mengejar kehormatain duniawi, harta benda maupun kedudukan atau jabatan. Maka panggilan bagi kita semua untuk hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh serta menghayati keutamaan-keutamaan di atas sungguh mendesak dan ‘up to date’.

Di tengah-tengah hiruk-pikuk/kesibukan ‘gila hormat atau kuasa’ masa kini, perkenankan saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal keutamaan ‘penguasaan diri’. Menguasai atau mengendalikan diri sendiri kiranya tidak mudah. Jika orang tidak dapat menguasai atau mengendalikan diri sendri, maka menguasai orang lain berarti menindas, sebaliknya jika orang dapat menguasai diri sendiri, maka menguasai orang lain berarti melayani dan didalam melayani pasti dijiwai oleh keutaman-keutamaan di atas. Di dalam kesempatan ini perkenankan saya mengingatkan dan mengajak mereka yang pada saat ini sedang berkuasa, misalnya di dalam keluarga dan tempat kerja dimana kita semua memboroskan waktu dan tenaga kita:

1) Orangtua/kepala keluarga: Para orangtua atau kepala keluarga hendaknya menjadi teladan dalam hal melayani, melayani anak-anak atau anggota keluarga, yang berarti dengan segala upaya atau usaha senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan anak-anak atau anggota keluarga. Sebagai tanda atau buah bahwa pelayanan itu sungguh terjadi atau dilaksanakan adalah anak-anak atau anggota keluarga tumbuh berkembang, semakin cerdas dan dikasihi oleh Tuhan maupun sesamanya. Kelak kemudian hari anak-anak ketika menjadi dewasa akan lebih cerdas atau baik daripada orangtuanya. Bahwa di dalam keluarga juga terjadi pelayanan yang baik adalah semua anggota keluarga berfungs secara aktif di dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

2) Pemimpin kantor/tempat kerja: Para pemimpin di tempat kerja atau kantor kami harapkan menghayati kepemimpinan partisipatif, dimana pemimpin melibatkan secara aktif semua bawahan-nya dalam perjalanan hidup kantor atau tempat kerja. Berikut saya sampaikan tujuh prinsip manajemen ala Jawa , yaitu : “Titi-> teliti, hati-hati, Toto -> teratur, Titis-> tepat, berfokus, efektif dan efisien, Temen-> jujur, tulus , Tetep-> konsisten, mantap, Tatag-> tabah, Tatas-> tegas.”


“Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu.Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya! Aku hendak bersukacita karena TUHAN.”
(Mzm 104: 29b-30.34)


Jakarta, 31 Mei 2009

Romo Maryo

11 April 2009

Posted by ShureX Posted on April 11, 2009 | 1 comment

Renungan Malam Paskah

Renungan Malam Paskah: Kej 1:1-2:2; Kel 14:15-15:1; Yeh 36:16-17a.18-28; Rm 6:3-11; Mrk 16:1-7

“Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan, Ia telah bangkit”

"Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu." (Mrk 16:6-7)

“Rahasia Paskah mempunyai dua sisi: Dengan kematianNya Kristus membebaskan kita dari dosa, dengan kebangkitanNya Ia membuka pintu masuk menuju kehidupan baru. Hidup baru ini pada tempat pertama adalah pembenaran, yang menempatkan kita kembali dalam rahmat Allah. ‘supaya seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati…demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Pembenaran terletak dalam kemenangan atas kematian yang disebabkan oleh dosa dan dalam keikutsertaan dalam rahmat. Ia melaksanakan penerimaan menjadi anak Allah, karena orang-orang menjadi saudara-saudara Kristus. Yesus sendiri, sesudah kebangkitanNya, menyapa murid-muridNya dengan perkataan saudara: ‘Pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu…’ (Mat 28:10; Yoh 20:17). Kita adalah saudara-saudariNya bukan atas dasar kodrat kita, melainkan oleh anugerah rahmat, karena hidup sebagai anak angkat ini benar-benar menyertakan kita dalam kehidupan PuteraNya yang tunggal, hidup yang nyata sepenuhnya dalam kebangkitanNya” (Katekismus Gereja Katolik 1993, no 654).

Kematian dan kebangkitan bagaikan mata uang bermuka dua

Kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya dari mati bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Saat Ia wafat, mempersembahkan Diri seutuhnya kepada Allah Bapa yang mengutus pada saat itu juga Ia masuk ke dalam hidup baru, hidup mulia kembali di sorga, sebagaimana pernah Ia sabdakan kepada salah satu penjahat yang disalibkan bersamaNya dan bertobat: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43). Penjahat yang bertobat itu pada saat ia meninggal dunia/mati pada saat itu juga memperoleh anugerah Allah, hidup mulia di dalam Firdaus, di dalam sorga.

“Dengan kematianNya Kristus membebaskan kita dari dosa, dengan kebangkitanNya Ia membuka pintu masuk menuju kehidupan baru”. Pada malam ini kita mengenangkan kebangkitanNya, yang berarti kita bersama-sama diundang untuk memasuki kehidupan baru, sebagai ‘anak-anak Allah’, meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus. Kita dipanggil untuk memperbarui hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, yang telah dicemari atau dikotori oleh dosa-dosa kita. “Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu” (Yeh 36:23-24). Kita dipanggil untuk menanggaapi secara positif ajakanNya untuk berkumpul kembali ke ‘tanah terjanji’, hidup bahagia dan mulia di sorga.

Hidup bahagia dan mulia di sorga yang dijanjikan kepada kita tersebut kiranya telah dapat kita cicipi atau nikmati selama hidup di dunia ini, yaitu dengan membebaskann diri dari dosa dan memeluk kehidupan baru, sesuai dengan kehendak dan panggilan Tuhan. Secara liturgis hal ini di dalam Perayaan Malam Paskah dikenangkan dengan liturgi pembaharuan janji baptis , dimana kita bersama-sama memperbarui janji untuk “hanya mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan”. Mengabdi Tuhan Allah dan menolak semua godaan setan bagaikan mata uang bermuka dua, seperti mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan Allah dan menolak untuk berbuat jahat atau berbuat dosa. Jika hati kita sepenuhnya diarahkan kepada Tuhan Allah pasti secara otomatis dikuasai atau dirajai, dan dengan demikian “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”(Yeh 36:26). Hati kita akan meneladan Hati Yesus yang lemah lembut, rendah hati serta terbuka lebar bagi siapapun yang merindukan atau mendambakan Tuhan. Kita akan menjadi orang yang bermurah hati, memberi perhatian kepada saudara-saudari kita.

“Sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu." (Mrk 16:7)

“Demenyar” adalah singkatan dari ‘demen sing anyar’ = suka apa-apa yang baru. Apa-apa yang baru pada umumnya menarik perhatian dan memikat, demikian juga ketika kita memiliki apa-apa yang baru pada umumnya juga tergerak untuk menceriterakan atau menyebarluaskan kepada saudara-saudari kita. Kita telah dianugerahi hati baru, kehidupan baru dan seperti para wanita yang menjadi saksi kebangkitan Yesus kita juga diundang “Pergilah, katakanlan kepada murid-muridNya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu di Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakanNya kepada kamu”

Galilea adalah tempat tinggal para murid, dimana mereka hidup dan mengerjakan tugas pekerjaan sehari-hari. Galilea kita adalah rumah/keluarga dan tempat kerja/belajar, dimana mayoritas waktu dan tenaga kita boroskan di dalamnya. Ia mendahului kamu masuk ke dalam keluarga atau tempat kerja/ belajar, maka “Jangan takut masuk ke dalam atau pulang kembali ke keluarga dan sebaliknya meninggalkan keluarga menuju ke tempat kerja/belajar”. Marilah kita buka hati kita lebar-lebar dan juga mata kita untuk melihat dan menangkap kehadiran Tuhan yang telah mendahului perjalanan dan keberadaan kita di dalam keluarga maupun tempat kerja/belajar, tanpa takut dan gentar, was-was atau curiga. Dengan kata lain hendaknya dengan gemibra, ceria, dinamis serta penuh harapan memasuki rumah/keluarga, tempat kerja atau belajar. Mulailah, awalilah segala sesuatu dengan gembira, ceria dan penuh harapan.

Dalam dan dengan hati baru, gariah, ceria dan penuh harapan marilah kita “memandang bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-ciptaanNya: dalam unsur-unsur , memberi ‘ada’nya; dalam tumbuh-tumbuhan, memberi daya tumbuh; dalam binatang-binatang, daya rasa; dalam manusia, memberi pikiran; jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran. Bahkan dijadikan olehNya aku bait-Nya, karena aku telah diciptakan serupa dan menurut citra yang Mahaagung” (St Ignatius Loyola, LR no 235). Dengan kata lain kita dipanggil untuk menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan, dan dengan demikian kita akan mampu meneladan Yesus yang menyapa dan memperlakukan para murid sebagai saudara-saudariNya, kita dapat menyikapi dan memperlakukan siapapun dan apapun sebagai saudara dan saudari. Jika kita telah mampu menyikapi dan memperlakukan siapapun dan apapun sebagai saudara atau sahabat, maka tidak ada ketakutan sedikitpun untuk meninggalkan rumah/keluarga pergi ketempat kerja/belajar dan sebaliknya pulan dari kerja/belajar untuk pulang ke rumah/keluarga.

“Allah tinggal dan berkarya dalam seluruh ciptaanNya, dan tentu saja terutama dan pertama-tama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan citra atau gambar Allah. Maka marilah kita sikapi dan perlakukan diri kita maupun saudara-saudari kita sebagai citra atau gambar Allah. Sebagai gambar atau citra Allah berarti Roh Allah hidup dan bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23). Marilah kita hayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut dalam diri kita sendiri serta kita cermati dan imani buah-buah Roh tersebut dalam diri saudara-saudari kita.

“Kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm 6:10-11)

Pembaruan janji baptis yang kita ikrarkan bersama-sama pada Malam Paskah ini merupakan ajakan atau panggilan untuk menghayati peringatan Paulus “bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”. Ini dari janji baptis adalah “hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan”. Mengabdi Tuhan Allah berarti kita senantiasa hidup dalam dan oleh “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan, penguasaan diri”, sedangkan godaan setan antara lain berupa “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (lihat Gal 5:20-23). Maka baiklah kutipan surat Paulus kepada umat di Roma di atas kita renungkan atau refleksikan dengan bantuan kutipan surat Paulus kepada umat di Galatia di atas ini.

“Kamu telah mati bagi dosa”

Dosa-dosa seperti percabulan dst.. sebagaimana dikatakan Paulus di atas rasanya masih marak dilakukan orang pada masa kini. Sebagai contoh adalah marah, mengingat marah ini rasanya menjadi sumber dari dosa-dosa lainnya. Marah berarti melecehkan atau merendahkan yang lain, bahasa marah yang paling lembut adalah mengeluh/menggerutu, sedangkan paling kasar adalah membunuh. Yang menjadi dorongan atau alasan mengeluh adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pribadi, dengan kata lain orang hidup menurut selera pribadi atau berpedoman like and dislike, sehingga segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pribadi adalah musuh.

Bukankah ketika orang tidak berani atau tidak mungkin mengungkapkan atau mewujudkan keluhan atau kemarahannya kepada yang menyebabkan ia marah atau mengeluh, kemudian mengarahkan keluhan dan kemarahannya dengan memuaskan diri sendiri, yang nikmat dan enak untuk sesaat, misalnya berbuat cabul atau mabuk-mabukan atau pesta pora? Maka matikanlah, hapuslah aneka macam bentuk keluhan atau kemarahan yang ada dalam diri anda!. Ketrampilan atau kebiasaan untuk tidak mengeluh atau marah ini hemat saya perlu diusahakan dan dihayati dalam kehidupan bersama yang mendasar, yaitu di dalam keluarga atau komunitas, dan kemudian di tempat kerja dengan rekan kerja. Marilah kita hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, meneladan cara hidup dan cara bertindak atau menghayati sabda-sabda Yesus dalam hidup sehari-hari.

“Kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”

Sabda Yesus yang terkait dengan marah adalah “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:43-44). Menghayati sabda Yesus ini hemat saya sama dengan melakukan apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Galatia, yaitu hidup dalam Roh sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23)

Dari buah-buah Roh di atas ini rasanya yang baik kita renungkan atau refleksikan adalah “penguasaan diri”. Diri kita masing-masing adalah ciptaan Allah yang diciptakan sesuai dengan gambar dan citraNya, maka ajakan untuk menguasai diri harus dihayati bersama Allah, sesuai dengan kehendak Allah. Kehendak Allah bagi kita semua adalah agar kita senantiasa hidup suci, baik, berbudi pekerti luhur, sehingga tumbuh berkembang semakin dikasihi oleh Allah maupun sesama manusia. Dengan kata lain orang yang mampu menguasai diri berarti semakin dikasihi oleh banyak orang, semakin memiliki banyak kenalan berarti semakin banyak sahabat.

Untuk membantu keterampilan penguasaan diri antara lain hendaknya senantiasa berpikir positif terhadap diri sendiri maupun orang lain, sebagai tanda bahwa kita hidup dari dan oleh Roh. Maka warta gembira malaikat kepada para perempuan di makam“ Pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu” dapat kita hayati dengan berkata-kata perihal apa yang baik dan benar dan kita senantiasa bersikap dan bertindak untuk melihat dan mengakui apa yang benar dan baik. Bukankah dengan melihat dan mengakui apa yang benar dan baik akan tumbuh berkembang “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan, penguasaan diri” dalam diri kita?

Mengenangkan dan mengimani misteri Paskah, wafat dan kebangkitan Yesus, berarti kita dipanggil untuk bekerjasama atau bergotong royong dalam melakukan apa yang baik dan benar. Memang untuk melakukan apa yang baik dan benar pada masa kini tidak akan terlepas dari aneka macam tantangan dan hambatan Jangan takut dan gentar menghadapi aneka tantangan dan hambatan, dan marilah meneladan para perempuan yang “pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur” tanpa takut dan gentar. Dari peristiwa kebangkitan Yesus dari mati ini kiranya kita dapat mawas diri bahwa kelemahan dapat menjadi kekuatan dan sebaliknya kekuatan dapat menjadi kelemahan. Dalam situasi genting pada umumnya yang berani tampil bebas merdeka adalah mereka yang dipandang atau dinilai lemah dalam situasi normal atau biasa, sedangkan yang dinilai kuat bersembunyi, tidak berani tampil. Bukankah untuk membersihkan apa yang kotor dan amburadul kita sering lebih minta bantuan dari mereka yang dinilai lemah seperti para pembantu atau pekerja kasar? Kuburan atau makam sering menjadi tempat yang menakutkan untuk sementara orang. Dalam arti tertentu juga ada orang yang menakutkan alias disikapi sebagai kuburan atau makam, maka marilah kita dekati dan sikapi orang-orang yang menakutkan dengan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh, yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan, penguasaan diri”!


“SELAMAT PASKAH,

MARILAH KITA BANGKIT DAN BERGAIRAH DALAM KASIH, SUKACITA, DAMAI SEJAHTERA, KESABARAN, KEMURaHAN, KEBAIKAN, KESETIAAN, KELEMBUTAN DAN PENGUASAAN DIRI”


Jakarta, 11 April 2009
Romo Maryo



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

23 March 2009

Posted by ShureX Posted on March 23, 2009 | No comments

"Pergilah, anakmu hidup!"

(Yes 65:17-21; Yoh 4:43-54)

“Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Maka setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup.Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang." Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya.Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.” (Yoh 4:43-54), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Sabda Yesus memang kuat dan kuasa, maka siapapun yang percaya akan sabdaNya serta melaksanakan sabda-sabdaNya akan selamat, damai sejahtera, sebagimana dialami oleh seorang pegawai istana yang mohon penyembuhan kepadaNya bagi anaknya yang sakit keras, hampir mati. “Pergilah, anakmu hidup!”, demikian sabdaNya kepada sang pegawai istana, dan pada saat itu juga anaknya yang berada di rumah sembuh dari penyakitnya. Sabda Yesus atau Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci antara lain dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita bersama ‘diterjemahkan’ ke dalam aneka tatanan dan aturan. Maka marilah ,jika kita sungguh menghendaki hidup bahagia, damai sejahtera dan selamat, dengan rendah hati kita hayati atau laksanakan aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan, tugas pengutusan, jabatan atau kedudukan serta fungsi kita masing-masing.

Maka baiklah jika kita atau saudara kita ‘hampir mati’ alias sedang menderita sakit atau berkurang kesehatan dan kebugarannya atau berdoa, hendaknya mohon penyembuhan antara lain dengan merenungkan sabda Tuhan atau kembali setia pada aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusannya. Segala macam bentuk penyakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi dan sakit tubuh, hemat saya terjadi karena pelanggaran atau ketidak-setiaan pada aturan dan tatanan hidup. “Pergilah’, demikian sabda Yesus, kiranya antara lain berarti berjalanlah di jalan aturan atau tatanan hidup, telusurilah aneka petunjuk dan arahan yang baik dan benar, jangan hanya mengikuti keinginan atau kemauan sendiri alias hidup seenak sendiri, menurut selera pribadi.


· "Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati. Tetapi bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan,” (Yes 65:17-18). Ajakan untuk “bergiranglah dan bersorak-sorailah untuk selamanya atas apa yang Kuciptakan” kiranya baik menjadi permenungan atau refleksikan. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan baik adanya, maka jika ada yang tidak baik berarti berasal dari setan yang hidup dan bekerja dalam diri pendosa. Dalam kenyataan hidup kita masa kini memang ada yang tidak baik, tetapi juga ada yang baik, dan kiranya yang baik lebih banyak daripada yang tidak baik. Maka bagi yang baik marilah bergotong-royong atau bekerjasama untuk memperbaiki apa yang tidak baik dalam lingkungan hidup kita.

Bergirang dan bersorak-sorai berarti senantiasa bergairah, dinamis dan tak kenal putus asa, dan dengan demikian ada kekuatan luar biasa di dalam diri orang yang bergirang dan bersorak-sorai. Kita dipanggil untuk bergairah, dinamis dan tak kenal putus asa dalam rangka memperbaiki apa yang tidak baik atau bertobat atau memperbaharui diri. Dalam semangat yang demikian berarti ‘otak bawah sadar’ kita bekerja seratus persen (100%), dan apa yang kita dambakan atau impikan akan terwujud, tentu saja harus disertai dengan penyerahan diri yang ditandai oleh pengorbanan dan perjuangan. Dalam rangka bertobat atau memperbaharui diri hendaknya juga tidak mengingat-ingat dalam hati kegagalan atau keterbatasan atau kekurangan yang ada; dan dengan bergairah, dinamis dan tak kenal putus asa dalam bertobat atau memperbaharui diri kiranya segala kelemahan dan kekurangan kita akan sembuh dengan sendirinya.

“Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur. Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus” (Mzm 30:2.4-5)


Jakarta, 23 Maret 2009


oleh : Romo Maryo



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

17 January 2009

Posted by ShureX Posted on January 17, 2009 | 2 comments

Marilah dan kamu akan melihatnya

Mg Biasa II
Bacaan : 1Sam 3:3b-10.19; IKor 6:13c-15a.17-20; Yoh 1:35-42

Sebut saja namanya ‘Harjo’ (samaran). Pak Harjo adalah seorang pengusaha yang cukup terkenal di daerah pedesaannya, ia berdagang aneka kebutuhan hidup sehari-hari di pasar dan memang usaha atau dagangannya sangat diminati banyak orang/para pembeli. Dari rumah ke pasar dan sebaliknya setiap hari Pak Harjo menumpang ‘andong’(kereta berkuda), sarana kendaraan yang umum di daerah tersebut.

Pada suatu hari dalam perjalanan pulang dari pasar ke rumah, ketika sendirian menumpang ‘andong’, pak Harjo terkesan pada kusir ‘andong’ yang senantiasa nampak ceria dan gembira, padahal ia tidak kaya akan harta benda /uang seperti dirinya. Nama kusir tersebut ‘Pak Suto’ (samaran).

“Pak Suto, saya perhatikan sejak tadi bapak nampak ceria dan gembira terus menerus, apa sedang memperoleh hadiah besar? Atau apa rahasianya kok nampak ceria dan gembira tersebut menerus?”, demikian pertanyaan Pak Harjo kepada Pak Suto.

“Kalau mau tahu rahasianya, besok Jum’at sore silahkan datang ke rumah saya, ada orang yang dapat membuat saya bahagia dan ceria seperti ini”, jawaban Pak Suto.

Jawaban Pak Suto ini mirip dengan jawaban Yesus atas pertanyaan para murid ”Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?": “Marilah dan kamu akan melihatnya”.

Hari Jumat sore, sebagaimana dikatakan pak Suto, Pak Harjo datang ke rumah Pak Suto, dan ternyata di rumah pak Suto telah hadir beberapa orang dan seorang pastor berkebangsaan Belanda, yang dengan fasih berbahasa Jawa, sedang mengajar agama alias menjelaskan Kabar Baik, Injil atau ajaran Yesus. Pak Harjo begitu terkesan atas apa yang sedang terjadi, dan pada suatu saat Pak Harjo mohon kepada pastor tersebut ke rumahnya untuk semua anggota keluarganya.

Tidak lama kemudian memang Pak Harjo dan semua anggota keluarga mohon dibaptis, menjadi murid-murid atau pengikut-pengikut Yesus. Rahasia hidup damai , bahagia, ceria dan gembira telah diperolehnya, yaitu Yesus, yang datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia. Kesaksian hidup Pak Suto memang menjadi ‘sarana merasul’ yang baik, sehingga mereka yang melihatnya tergerak untuk lebih lanjut ingin mengenal dan mengikuti Yesus, yang diimaninya.


"Marilah dan kamu akan melihatnya.”
(Yoh 1:39)

Ketika Yesus lewat Yohanes Pembaptis memberitahu kepada dua muridnya sambil berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!", maka dua murid itupun, antara lain Andreas, tergerak untuk mengikutiNya. Andreas akhirnya hidup bersama dengan Yesus dan kemudian berceritera kepada saudaranya, Simon, dan kepada Simon yang juga tergerak mengikutiNya, Yesus bersabda: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).". Melihat, tertarik, terpesona dan akhirnya tergerak hidup bersama dengan serta menjadi murid-murid Yesus itulah yang terjadi. Kita semua dipanggil untuk meneladan Yesus, dimana mereka atau siapapun yang melihat cara hidup dan carta bertindak kita juga tergerak untuk menjadi murid-murid Yesus.

Kita semua dipanggil untuk menjadi ‘anak-anak domba Allah’, yaitu orang-orang yang taat dan setia kepada kehendak dan perintah Allah alias setia pada panggilan, tugas pengutusan dan pekerjaan kita masing-masing. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr.Edi Sedyawati/edit. : Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Maka marilah kita ingat, kenangkan dan refleksikan aneka perjanjian yang telah kita ikrarkan. Salah satu janji yang mendasari hidup dan panggilan kita sebagai murid-murid Yesus adalah janji baptis, dimana kita pernah berjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak aneka macam godaan setan’. Godaan-godaan setan pada masa kini ada di mana-mana, di dalam hidup sehari-hari, di dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya, antara lain masalah seksual, maka baiklah kita renungkan dan refleksikan apa yang diingatkan oleh Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini.

“Tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya. Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus” (1Kor 6:13-15a)

“Selingkuh di kalangan selebritis atau kelas menengah atas sudah sering didengar, bahkan hal itu dianggap bagian dari gaya hidup. Akan tetapi ternyata jumlah perselingkuhan lebih banyak dilakukan masyarakat kelas bawah daripada masyarakat menengah dan atas” (Artikel Selingkuh),

Masing-masing dari kita diciptakan dalam dan oleh kasih Allah melalui orangtua/bapak-ibu kita masing-masing serta menjadi gambar atau citra Allah, maka Paulus mengingatkan bahwa “tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, …dan tubuhmu adalah anggota Kristus”. Maka marilah kita menjaga dan merawat tubuh kita agar tetap bersih dan suci, dan untuk itu kiranya penting sekali menjaga kesucian indera penglihatan dan pendengaran disamping indera-indera lainnya.

Yang terkait dengan indera penglihatan antara lainnya aneka gambar atau hiasan rumah, dinding, kantor, dst..; hendaknya dipasang gambar-gambar atau hiasan yang mendidik dan membina suara hati agar tetap jernih dan bersih, jauhkan dan hindari pemasangan gambar atau hiasan yang berbau porno, yang mengundang orang untuk berpikiran dan berbuat jahat. Senada dengan penglihatan atau yang dilihat adalah pendengaran atau yang didengar; hendaknya tidak omong-omong atau berbicara yang menyerempet atau berbau porno, tetapi sopan. Menghadirkan diri baik dalam dan melalui kata-kata maupun phisik hendaknya juga sopan, hindari cara berpakaian yang mengundang atau merangsang orang lain untuk berpikir dan bertindak jahat.

Apa yang dilihat dan didengarkan orang akan sangat mempengaruhi kwalitas kepribadian yang bersangkutan atau kedewasaan baik jasmani atau rohani. Pengalaman Samuel dalam mendengarkan suara atau kehendak Tuhan kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua; di mana dalam tidur ia mendengarkan panggilan atau suara Tuhan. Apa yang terjadi dalam diri Samuel adalah kejernihan dan kebersihan suara hati atau hati nurani, yang menjiwai kebersihan dan kesucian tubuhnya juga. Karena kebersihan dan kesuciannya “Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur” (1Sam 3:9) Firman Tuhan bagi kita semua antara lain ada dalam aneka rumus janji-janji yang pernah kita ikrarkan: janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, sumpah jabatan dst… Jika apa yang pernah kita janjikan atau ikrarkan tidak kita biarkan gugur atau luntur, maka Tuhan senantiasa menjertai kita dan dengan demikian tubuh kita seutuhnya untuk Tuhan, dalam keadaan bersih dan suci.

Secara konkret saya mengajak dan mengingatkan kita semua untuk setia pada jati diri dan panggilan kita masing-masing, tidak selingkuh atau menyeleweng. Memang persilingkuhan atau penyelewengan panggilan atau tugas pengutusan dapat terjadi pada umumnya karena tidak setia dan taat dalam hal pengurusan atau pengelolaan uang / harta benda. Jika terhadap uang dan harta benda tidak bersih dalam pengurusan atau pengelolaannya, kiranya dapat diduga yang bersangkutan juga tercemar dalam hal panggilan maupun tugas pengutusan, entah selingkuh dalam hal seksual atau kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya yang dapat merusak tubuh.

“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN“ (Mzm 40:7-10)


Jakarta, 18 Januari 2009
Romo Maryo.


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

03 January 2009

Posted by ShureX Posted on January 03, 2009 | No comments

Baptisan Air dan Roh Kudus

“Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus”


Bacaan :
[1Yoh 2:29-3:6; Yoh 1:29-34]

“Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel." Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Yohanes Pembaptis adalah ‘bentara Yesus Kristus’, orang yang mempersiapkan jalan bagi sesamanya untuk bertemu dan bersatu dengan Yesus Kristus. Yohanes membaptis hanya dengan air, sedangkan “Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus”. Kita semua yang telah dibaptis telah menerima baptisan baik dengan air maupun Roh Kudus. Air merupakan symbol pembersihan atau penyucian, sedangkan Roh Kudus menggerakkan dan memberdayakan untuk hidup dinamis, ceria dan bahagia dalam Tuhan. Maka baiklah sebagai orang yang telah dibaptis saya mengajak anda sekalian mawas diri: sejauh mana hidup kita sungguh dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh, yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23)?

Jika kita sungguh hidup dari Roh Kudus yang menghasilkan keutamaan-keutamaan tersebut diatas ini, maka cara hidup dan cara bertindak kita secara otomatis akan menjadi ‘bentara atau petunjuk’ bagi siapapun yang kita jumpai untuk bertemu dengan Tuhan, semakin beriman dan suci. Kita menjadi saksi-saksi warta gembira bagi siapapun juga, dan kiranya dimana perlu kita juga berani berkata seperti Yohanes: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” . Kita yang telah dibaptis memiliki tugas missioner atau pengutusan untuk mewartakan apa yang baik kepada siapapun , pertama-tama dan terutama melalui cara hidup dan cara bertindak kita alias teladan berbuat baik, dan baru kemudian dengan kata-kata atau omongan.

· “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah” (1Yoh 3:3-4), demikian kutipan dari surat Yohanes. Rasanya kita semua mendambakan hidup suci, bahahgia, damai sejahtera sehingga pada suatu saat ketika dipanggil Tuhan alias meninggal dunia langsung masuk sorga, menikmati hidup bersama Allah di sorga selama-lamanya. Syarat untuk mewujudkan dambaan tersebut adalah ‘menaruh pengharapan kepadaNya’ , menaruh pengharapan kepada Tuhan maupun sesama yang berkehendak baik. Orang yang berpengharapan pada umumnya bersemangat, gigih serta kreatif.

“Bersemangat adalah sikap dan perilaku yang selalu dapat bertahan dan bergairah dalam melakukan sesauau; gigih adalah sikap dan perilaku tidak gampang menyerah pada keadaan apa pun dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi segala kesulitan untuk mencapai cita-cita atau tujuan, kreatif adalah sikap dan perilaku yang menggunakan daya cipta di luar kebiasaan umum, menemukan hal-hal baru yang mempunyai nilai tambah” (Lih.: Prof Dr.Edi Sedyawati: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997).. Marilah kita hayati iman, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing dengan bersemangat, gigih dan kreatif. Tiga keutamaan ini kiranya nampak dalam diri orang yang hidup dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga orang yang bersangkutan senantiasa diperbaharui cara hidup dan cara bertindaknya menuju ke pemenuhan penghayatan kehendak Tuhan tanpa cacat dan kerut sedikitpun.

Kita masih berada dalam masa Natal, masa untuk bergembira dan damai. Sebaliknya kepada mereka yang masih melanggar hukum Allah alias berbuat jahat kami harapkan bertobat. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat atau memperbaharui diri, saat ini juga mulailah bertobat dan memperbaharui diri.

“Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah! Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN!” (Mzm 98:3c-6)



Jakarta, 3 Januari 2009

By : Romo Maryo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


06 December 2008

Posted by ShureX Posted on December 06, 2008 | No comments

Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma

"Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma"


Bacaan :
[Yes 30: 19-21.23-26; Mat 9:35-10:1.6-8]

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma."(Mat 9:35-10:1.6-8)

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hidup kita adalah anugerah Tuhan, yang kita terima secara cuma-cuma melalui orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing, maka hemat saya segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini tidak lain adalah juga anugerah Tuhan yang kita terima secara cuma-cuma melalui orang-orang yang telah berbuat baik dan mengasihi kita. "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma", demikian sabda Yesus. Mungkin tidak ada atau jarang yang memberikan dengan cuma-cuma apa yang telah kita terima, maka baiklah sabda ini kita hayati secara lain, yaitu jika kita belajar atau bekerja hendaknya sungguh-sungguh, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tubuh.

Dengan kata lain marilah di masa Adven ini kita tingkatkan dan perdalam ‘lakutapa atau matiraga’ secara positif, yaitu dengan setia dan taat pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Kepada para pelajar atau mahasiswa yang sedang belajar kami harapkan sungguh belajar sehingga terampil dalam belajar dan dengan demikian akan berhasil atau sukses dalam belajar, dan kemudian siap sedia untuk menjadi “pekerja-pekerja yang handal”., sedangkan kepada para pekerja, entah pekerjaan, tugas atau jabatan apapun, kami harapkan untuk sungguh bekerja sehingga terampil dalam bekerja.

Percayalah dan imanilah jika kita terampil dalam belajar maupun bekerja, maka kita juga akan semakin menerima lebih banyak aneka macam anugerah Tuhan dalam berbagai bentuk. Hendaknya, entah selama belajar atau bekerja, senantiasa menghayati semangat persaudaraan sejati, solidaritas dan keberpihakan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan, yang bodoh atau kurang beruntung, dst..

· “TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak. Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang besar, apabila menara-menara runtuh”(Yes 30:23-25), demikian hiburan yang penuh harapan dari Yesaya.

Apa yang diimpikan Yesaya tersebut kiranya juga akan menjadi nyata dalam diri kita, jika kita sungguh belajar atau bekerja sesuai dengan tugas dan pengutusan kita masing-masing, sesuai dengan aneka tatanan dan aturan hidup yang terkait dengannya. Maka baiklah di hari-hari awal masa Adven ini kita mawas diri aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. “Jer basuki mowo beyo” (= Untuk hidup bahagia, damai sejahtera harus berjuang dan berkorban), demikian kata pepatah Jawa. Rasanya untuk setia dan taat terhadap aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, kita harus berani berjuang dan berkorban.

Apa yang diterima atau diperoleh dengan dan dalam perjuangan dan pengorbanan sejati sungguh merupakan kebahagiaan dan kenikmatan sejati yang tak tergoyahkan dan tahan lama atau bahkan sampai mati. Maka jauhkan aneka bentuk budaya atau cara hidup dan cara bertindak ‘instant’. Ingat dan renungkan juga pepatah ini :”Berrakit-rakit ke hulu, berrenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”, jangan dibalik atau terjadi "bersenang-senang dahalu bersakit-sakit kemudian".


“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.” (Mzm 147:3-6)


Jakarta, 6 Desember 2008


Sumber : Romo Maryo



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


24 November 2008

Posted by Klinik Rohani Posted on November 24, 2008 | 1 comment

Memberi dari Kekurangan

"Janda ini memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."


Bacaan Hari ini :
[Why 14:1-3.4b-5; Luk 21:1-4]

"Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."(Luk 21:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Andreas Dung Lac, imam dan kawan-kawannya, martir Vietnam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Dalam tradisi Yahudi dan kiranya diteruskan oleh orang Kristen atau Katolik ada kebiasaan yang disebut persembahan/persepuluhan, yaitu mempersembahkan sepersepuluh (10%) dari pendapatan untuk keperluan Gereja, hidup para petugas Gereja maupun karya-karya pelayanan pastoral Gereja. Orang kaya mempersembahkan sepersepuluh (10%) dari pendapatannya berarti masih tersisa 90% dan kiranya dalam jumlah nominal cukup besar; sementara itu jika orang miskin mempersembahkan pendapatan sehari rasanya secara nominal lebih kecil dari persembahan 10% dari orang kaya, namun secara persentase pendapatan lebih besar karena mempersembahkan 100% pendapatannya alias ‘seluruh nafkahnya atau hidupnya’.

Maka Yesus mengatakan bahwa janda miskin lebih banyak memberi persembahan dari pada orang-orang kaya. Andreas Dung Lac dan kawan-kawan awam lainnya, para martir Vietnam, yang kita kenangkan hari ini telah mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dengan melayani sesamanya setiap hari. Maka baiklah kita meneladan para martir yang kita kenangkan hari ini atau janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya/hidupnya. Memang kiranya mustahil jika kita menyerahkan seluruh pendapatan kepada Gereja atau kepentingan umum, maka baiklah segala usaha dan kerja kita senantiasa terarah pada kesejahteraan umum, bukan hanya diri sendiri atau kelompoknya sendiri.

Mereka yang memiliki pembantu atau pegawai/buruh alias para pengusaha saya ajak untuk menjamin kesejahteraan mereka bersama keluarganya selayaknya, sebaliknya mereka yang merasa miskin dan berkekurangan hendaknya senantiasa juga berbuat baik kepada sesamanya dari kelemahan dan kekurangannya, dan mungkin dengan mempersembahkan tenaga demi sesamanya. “Memberi dari kelimpahan atau kelebihan” berarti membuang sampah alias menjadikan orang lain/yang diberi ‘tempat sampah’ dan dengan demikian melecehkan atau merendahkan yang lain. “Memberi dari kekurangan” itulah persembahan yang sejati dan benar.

· "Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela" (Why 14:4b-5) “Di dalam mulut tidak terdapat dosa dan tidak bercela”, itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua sebagai orang beriman. Memang apa yang keluar melalui mulut dengan kata-kata merupakan cermin apa yang ada di dalam hati alias mencerminkan jati diri pribadi yang bersangkutan. Kata-kata yang keluar dapat menyakitkan atau menimbulkan kebencian, tetapi juga dapat menawan, memikat dan mempesona. Yang menawan, memikat dan mempesona pun juga belum tentu benar dan dapat dusta sebagaimana dilakukan oleh para penjahat.

Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk tidak berdusta alias jujur dalam berkata-kata. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Marilah kita jujur terhadap diri sendiri, sesama maupun Tuhan. Jujur merupakan nilai atau keutamaan nurani, artinya bernilai pada dirinya sendiri: dengan menghayati nilai atau keutamaan kejujuran orang akan bermutu dalam hal kepribadian, sehingga ia menarik dan memikat bagi siapapun yang bergaul dengannya. Memang pertama-tama dan terutama kita harus jujur terhadap diri sendiri, dan kemudian baru dapat jujur terhadap sesama.

Jika kita bertindak tidak jujur mungkin untuk sementara tidak ketahuan orang lain, namun pada waktunya akan ketahuan juga, sebagaimana dikatakan dalam pepatah “sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh juga”. Entah kita jujur atau tidak jujur Tuhan tahu segalanya dan kita tidak mungkin menyembunyikan diri dari Tuhan. Memang ada rumor dalam bahasa Jawa “jujur kojur” (= jujur hancur), tetapi sadari dan hayati bahwa kehancuran tersebut merupakan ‘korban persembahan kepada Allah’, sebagaimana telah dihayati oleh Yesus, Tuhan dan Guru kita.


“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai."Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia” (Mzm 24:1-5).


Jakarta, 24 November 2008

Sumber : Romo Maryo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


08 November 2008

Posted by ShureX Posted on November 08, 2008 | No comments

Allah dan Mamon

"Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara-perkara besar”.


Baca : (Flp 4:10-19; Luk 16:9-15)

“Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah”(Luk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah menghasilkan aneka alat atau instrument yang sangat kecil dan penting, antara lain yang terkait dengan serat optic. Apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari juga perkara kecil dan sederhana, misalnya: makan, minum, tidur, istirahat, omong-omong, duduk bersama dengan mesra, dst.. Dalam hal makan, minum dan tidur misalnya, jika orang mengalami kesulitan dalam hal ini kiranya ia juga akan mengalami kesulitan yang lebih besar terhadap hal-hal besar, sulit dan berbelit-belit.

Maka marilah kita dengan rendah hati dan bekerja keras untuk setia dalam perkara-perkara kecil, pekerjaan tugas yang kecil dan sederhana. Dengan kata lain marilah kita sungguh hidup mendunia, terlibat dan berparsipasi dalam seluk-beluk dunia mulai dari yang kecil dan sederhana; mencari dan mengusahakan kesucian hidup dengan mendunia. Kita tidak dapat memisahkan hal-hal duniawi atau Mamon dari Allah, dan mungkin hanya dapat membedakan. Sebagai orang beriman kita menerima tugas perutusan dari Allah : "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."(Kej 1:28)

Bukankah untuk ‘beranak cucu’ maupun menguasai ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan segala binatang yang merayap di bumi kita harus setia pada perkara-perkara kecil dan sederhana? Memang dalam hidup sehari-hari perkara-perkara kecil dan sederhana itu pada umum diurus atau dikelola dan dikerjakan oleh orang-orang kecil dan sederhana juga, para buruh atau pembantu rumah tangga; namun kiranya seperti ketika pada masa Liburan Lebaran/Idul Fitri yang baru saja berlalu kita semua menyadari betapa pentingnya perkara-perkara kecil dan sederhana, yang kita butuhkan dalam hidup kita sehari-hari.

• “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:11b-13), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, inilah kiranya yang juga layak menjadi pegangan atau acuan hidup dan kesibukan pelayanan kita.

Tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman tidak akan terlepas dari aneka perkara, dan semakin tumbuh berkembang berarti semakin banyak menghadapi perkara, entah besar atau kecil.. Kita imani dan hayati bahwa pertumbuhan dan perkembangan kita karena dan oleh Tuhan, maka hadapilah juga aneka perkara yang muncul ‘di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku’. Menanggung semua perkara dalam Tuhan berarti dengan dan dalam iman kita hidup bermasyakat, berbangsa dan bernegara. Iman adalah anugerah Tuhan, maka percayalah menghadapi aneka perkara dengan iman berarti Tuhan sendiri yang akan berkarya atau bekerja dalam dan melalui diri kita yang lemah dan rapuh ini.

Dalam iman juga kita dipanggil untuk ‘mencukupkan diri dalam segala keadaan’, artinya antara lain senantiasa bersyukur dan berterima kasih dalam situasi maupun kondisi apapun. Tiada rahasia bagiku, semua saya buka dan serahkan kepada Tuhan melalui saudara-saudari dan sesama kita. Baik dalam kenyang atau lapar, berkelimpahan atau kekurangan kita tetap hidup penuh syukur dan terima kasih.

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya” (Mzm 112:1-2.5-6)


Jakarta, 8 November 2008

Oleh : Romo Maryo

06 November 2008

Posted by Klinik Rohani Posted on November 06, 2008 | 1 comment

Anak Dunia dan Anak Terang

“Anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak terang.”

Baca : (Flp 3:17-4:1; Luk 16:1-18)

“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.”(Luk 16:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Orang bodoh dapat menjadi pandai karena uang, sebaliknya orang pandai dapat menjadi bodoh juga karena uang”, demikian kiranya yang sering terjadi di dalam kehidupan bersama kita. Namun yang juga terjadi adalah orang pandai membodohi sesamanya demi uang atau demi keuntungan sendiri. Kepandaian atau kecerdikan macam itu dapat kita lihat atau cermati dalam diri para penipu atau penjahat yang dengan halus dan sabar mengelabui korban-korbannya. Maka benarlah yang disabdakan oleh Yesus bahwa “Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang”. Karena pendidikan dan pembinaan memang kita semua mendambakan diri sebagai orang yang pandai, cerdik dan cerdas, namun hendaknya juga sekaligus beriman alias menjadi anak-anak terang, sehingga menjadi cerdas beriman. Sebagai orang yang cerdas beriman kiranya ketika diberi tugas menjadi bendahara atau pengelola / pengurus harta benda duniawi, ia akan mengurus dan mengelolanya dengan baik sebagaimana diharapkan. 

Kesuksesan atau keberhasilan mengurus atau mengelola harta benda dengan baik pada masa kini hemat saya merupakan salah satu bentuk penghayatan iman kemartiran yang mendesak dan up to date, mengingat masih maraknya korupsi hampir di semua bidang kehidupan bersama di masyarakat pada saat ini. Untuk itu hemat saya kita masing-masing harus mulai dari diri kita sendiri: berapa besar atau banyaknya harta benda atau uang yang diserahkan kepada kita, marilah kita urus atau kelola sebaiknya mungkin, sesuai dengan maksud pemberi (ad intentio dantis). Jika kita berhasil dengan baik mengurus atau mengelola yang menjadi milik kita atau kita kuasai maka kiranya kita memiliki modal kekuatan untuk mengrurus atau mengelola milik orang lain yang lebih besar. Harta benda/uang adalah ‘jalan ke neraka atau jalan ke sorga’, marilah kita jadikan ‘jalan ke sorga’.

· “Saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!”(Flp 4:1), demikian sapaan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman. “Berdiri dengan teguh dalam Tuhan” adalah cirikhas orang cerdas beriman, ia tidak mudah tergoyahkan oleh berbagai rayuan atau godaan kenikmatan duniawi yang membuatnya ‘menjauh dari Tuhan maupun sesama atau saudara-saudarinya’. Kita semua adalah ciptaan Tuhan, dan hanya dapat hidup, tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman jika kita setia berdiri dengan teguh dalam Tuhan. 

Memang untuk itu kita perlu membiasakan diri terus menerus berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun; semakin banyak berbuat baik kepada sesama berarti akan semakin teguh berdiri dalam Tuhan, sebaliknya orang yang jarang berbuat baik kepada sesamanya pasti mudah jatuh atau berdosa terus menerus. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku universal dan bersifat menyelamatkan, khususnya keselamatan jiwa. Yang ideal memang ‘mens sana in corpore sano’, pengertian/akal budi/jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat, maka marilah kita serentak merawat, menjaga dan memperkuat pengertian/akal budi/jiwa dan tubuh kita menjadi segar bugar, sehat wal’afiat sebagai tanda bahwa kita dengan rendah hati berusaha setia ‘berdiri dengan teguh dalam Tuhan’. Orang yang demikian senantiasa dinamis dan proaktif dalam berbuat baik bagi sesamanya dimanapun dan kapanpun.

“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN."
(Mzm 122:1)


Jakarta, 7 November 2008

Oleh : Romo Maryo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


16 October 2008

Posted by ShureX Posted on October 16, 2008 | No comments

Renungan 17 Oktober 2008

“Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi”.

Bacaan :
  1. Ef 1:11-14;
  2. Luk 12:1-7
“Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”(Luk 12:1-7), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

* Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah dan sedang terus bergiat membongkar korupsi yang dilakukan oleh para pejabat atau pemimpin bangsa dan Negara. Apa yang dulu disimpan rapat-rapat akhirnya tercium dan terbongkar juga, maka benarlah apa yang disabdakan oleh Yesus :”Apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah”. Rasanya tidak ada orang yang menginginkan tindakan korupsi atau jahatnya terbongkar, dan dengan berbagai cara berusaha menyembunyikannya, namun kebenaran dan kejujuran pada waktunya menang dan mampu membongkar apa yang tersembunyi tersebut. Korupsi masih terjadi dimana-mana, di dalam berbagai bidang kehidupan di Indonesia saat ini, maka dengan ini kami mendukung dan mendorong KPK dengan dan anggotanya untuk terus berjuang memberantas koruspi; dan kepada anda sekalian kami berharap untuk tidak melakukan korupsi dan jika melihat ada korupsi di tempat kerja atau kantor anda hendaknya tidak takut membongkar dan memberantas atau melaporkannya ke KPK.”

Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka”, demikian pesan Yesus. Tuhan hadir dan berkarya dimana-mana dan kapan saja, tidak terbatas ruang dan waktu, maka jika kita sungguh beriman hendaknya takut berbuat jahat atau korupsi tetapi berani memberantas aneka kejahatan dan korupsi. Percayalah dan imanilah bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan mendampingi kita. Marilah kita hayati kemartiran hidup beriman dengan hidup benar dan jujur serta berani memberantas aneka kebohongan, korupsi dan kejahatan dalam hidup sehari-hari, di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja.

* “Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef 1:14), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat Efesus, kepada kita semua. Kita adalah ciptaan Allah, milik Allah dan hanya dapat hidup, tumbuh berkembang menuju ke kebahagiaan atau keselamatan sejati jika kita hidup dijiwai oleh Roh Kudus, sesuai dengan kehendak dan perintah Allah. Jika kita hidup dijiwai oleh Roh Kudus maka cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23), yang menjadi bekal dan kekuatan untuk menghayati kemartiran hidup beriman masa kini. Maka hendaknya mempercayakan diri sepenuhnya kepada bimbingan dan suara Roh dalam hidup sehari-hari, agar kita tidak takut dan gentar menghadapi aneka tantangan dan hambatan dalam menghayati buah-buah Roh tersebut di atas.

Dengan keutamaan-keutamaan tersebut di atas kita akan mampu mengatasi berbagai macam bentuk korupsi dan kejahatan yang masih marak dalam kehidupan bersama saat ini. “Kuasailah diri anda” untuk tetap setia pada iman, panggilan, tugas perutusan dan fungsi dalam goncangan godaan kejahatan atau rayuan-rayuan manis untuk berbuat jahat. Salah satu bentuk penghayatan kemartiran hidup beriman antara lain ‘tetap bertahan setia pada iman’ dalam berbagai goncangan dan gelombang kejahatan.
“Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.” (Mzm 33:1-2.4-5)


Jakarta, 17 Oktober 2008.

Oleh : Romo Maryo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


24 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 24, 2008 | No comments

"Ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus"

“Ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus”


Bacaan :
Pkh 1:2-11;
Luk 9:7-9

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus” (Luk 9:7-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Pemimpin atau pejabat tinggi yang gila akan kekuasaan, pangkat, kedudukan, kehormatan duniawi serta harta benda pada umumnya cemas ketika muncul tokoh-tokoh alternatif yang dinilai mengancam dirinya. Rasanya hal ini pernah terjadi di Indonesia, pada masa Orde Baru, dimana ketika ada tokoh-tokoh demokratis dan vocal maka dengan atau melalui berbagai macam cara tokoh-tokoh tersebut segera dihabisi, disingkirkan; pada masa Reformasi pun juga masih terjadi antara lain dengan kasus Munir, yang sampai kini masih menjadi bahan pengadilan yang sungguh menyita waktu dan perhatian. Dalam warta gembira hari ini diceriterakan bahwa Herodes merasa cemas ketika mendengar bahwa muncul tokoh baru yang lebih besar daripada Elia atau Yohanes Pembaptis, yaitu Yesus, “lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus”.

Entah apa yang menjadi motivasi Herodes untuk bertemu dengan Yesus, apakah ia juga akan menghabisi atau menyingkirkan-nya?.Apakah keingingan tahunya merupakan bagian usaha untuk mencari strategi bagaimana menyingkirkan Yesus? Jika mengingat dan memperhatikan bahwa ia berani membunuh Yohanes Pembaptis demi gengsi dan nama dirinya sebagai raja atau pemimpin, kiranya ia juga bermaksud sama terhadap Yesus. Bercermin dari kisah ini saya mengajak dan mengingatkan para pemimpin atau pejabat tinggi: ketika muncul tokoh-tokoh baru sebagai pembaharu, hendaknya didengarkan dan diterima dengan hati terbuka, jiwa besar dan rela berkorban.

Pembaharuan-pembaharuan cara hidup dan cara bertindak bersama kiranya dibutuhkan, mengingat dan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan yang sedang terjadi. Marilah kita beri kesempatan kepada generasi muda, tokoh-tokoh baru, karena jika tidak memberi kesempatan kepada mereka maka generasi pendahulu hemat saya ‘salah’. Munculnya tokoh-tokoh baru hemat saya merupakan keberhasilan generasi pendahulu, yang dengan kerja keras berusaha mendidik dan membina generasi penerus/muda. Maka jika para pemimpin atau pejabat tinggi masa kini juga ada keinginan tahu perihal munculnya tokoh-tokoh muda sebagai pembaharu, hendaknya keinginan tahu tersebut sungguh tulus , yang berarti pada suatu saat siap mengundurkan diri serta mempercayakan kepemimpinan kepada generasi penerus. Marilah kita hayati pepatah Jawa ini: “Kebo nyusu gudel” (=Kerbau menyusu pada anaknya), artinya orangtua/generasi tua berani belajar dari anak-anak/ generasi muda/penerus.

· “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.”(Pkh 1:2-4). Kutipan ini rasanya bagus untuk kita renungkan atau refleksikan. Yang dimaksudkan dengan ‘segala sesuatu’ disini kiranya adalah ‘harta benda/uang, kedudukan/pangkat atau jabatan dan kehormatan duniawi’ yang menjadi pujaan dari mereka yang bersikap mental materialistis atau duniawi. Ingat, sadari dan hayati bahwa semuanya itu tidak abadi dan sementara sifatnya, termasuk hidup kita sendiri yang hanya sementara, sebagaimana dikatakan oleh pepatah Jawa “urip iku koyo mampir ngombe” (= Hidup itu bagaikan singgah sejenak untuk minum).

Jika hidup saja hanya sementara, apalagi ‘harta benda/ uang, pangkat/kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi’. Kesia-siaan belaka jika orang mendewa-dewakannya. Hidup, harta benda/uang, pangkat/kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi adalah sarana dan bersifat fungsional, maka hendaknya dihayati dan difungsikan sedemikian rupa sehingga kita semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan maupun sesama kita. Marilah kita hayati dua motto hidup beriman atau menggereja, yaitu “solidaritas dan keberpihakan pada atau dengan yang miskin dan berkekurangan’.

Jika dalam hidup bersama, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini masih ada yang miskin dan berkekurangan berarti para pemimpin atau pejabat tinggi ‘berusaha dengan jerih payah di bawah matahari’ demi kepentingan sendiri, berarti mengejar kesia-siaan. “Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang” , demikian peringatan pengkotbah. Peringatan ini hendaknya diperhatikan dan dihayati oleh orangtua, generasi pendahulu, antara lain siap sedia ‘untuk pergi’ sambil mempersiapkan anak-anak, generasi penerus untuk mengambil alih sesuai dengan tuntutan zaman.

Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu” (Mzm 9:3-6)

Jakarta, 25 September 2008

@Romo Maryo







Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


18 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 18, 2008 | No comments

Renungan 19 September 2008

“Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.”

Bacaan :
1Kor 15:12-20;
Luk 8:1-3
“Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat,Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.”(Luk 8:1-3), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Dalam tradisi Jawa ada istilah ‘konco wingking’ (teman di belakang), yang tidak lain dikenakan pada para isteri atau perempuan. Istilah ini muncul dari cara berjalan suami-isteri yang tidak berdampingan, melainkan isteri berjalan di belakang suami, mengikutinya. Dalam praksis, terutama dalam acara bersama (pesta atau perayaan) memang pada umumnya para perempuan bekerja giat ‘di belakang’ alias mempersiapkan atau memasak kebutuhan-kebutuhan untuk pesta, maka rasanya peran mereka senada dengan apa yang diwartakan hari ini: “perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka”.

Peran tersembunyi ini hemat saya penting sekali, sebagaimana juga dikatakan dalam pepatah ‘the man behind the gun’ (manusia yang berada di balik senjata). Peran mereka tidak lain adalah memberdayakan rombongan, sehingga rombongan dapat melaksanakan tugas perutusan atau pekerjaannya, dan rombongan ini pada umumnya terdiri dari kaum lelaki. Maka baiklah pada kesempatan ini saya mengajak anda sekalian untuk bersyukur dan berterima kasih kepada mereka, entah kaum perempuan atau laki-laki, yang dengan kekayaan mereka, kerja keras tanpa kenal lelah, bekerja di balik layer, melayani kebutuhan bersama. Mungkin peran ini di kota-kota saat ini dikerjakan oleh para pembantu di dalam rumah tangga atau keluarga atau pekerja dalam berbagai acara atau kepentingan.

Yang terjadi dalam hidup sehari-hari kiranya adalah para pembantu, maka baiklah kita bersyukur dan berterima kasih kepada para pembatu rumah tangga kita, yang melayani rombongan/seluruh anggota keluarga/komunitas. Pada hari-hari ini kiranya anda yang memiliki pembantu akan merasa pentingnya peran mereka ketika mereka ‘cuti untuk mudik dalam rangka merayakan Idul Fitri’. Semoga peristiwa tahunan ketika para pembantu rumah tangga, yang kebanyakan perempuan, sedang cuti saat ini, mengingatkan dan menyadarkan kita untuk senantiasa berterima kasih dan bersyukur atas pelayanan dan peran mereka, dan selanjutnya memperlakukan pembantu rumah tangga sebaik mungkin.


· “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal”(1Kor 15:19-20), demikian kesaksian atau peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua. Kesaksian ini mengajak kita untuk tidak hanya berharap pada Tuhan selama hidup, tetapi juga dalam kematian.

Mungkin belum ‘mati sepenuhnya’ melainkan setengah atau seperempat mati alias berada di dalam penderitaan, sakit atau kesengsaraan, inilah yang kiranya layak menjadi permenungan kita. Artinya agar kita dapat berharap pada Tuhan dalam kematian, hendaknya dalam berbagai derita, sakit atau kesengsaraan di dunia ini, karena harus melayani dengan kerja keras tanpa kenal lelah, marilah kita tetap berharap kepada Tuhan. Ketika tidak ada orang yang memuji dan menghargai kerja keras pelayanan kita hendaknya tidak menjadi putus asa atau frustrasi, melainkan tetap bergairah dan bergembiralah. Dengan kata lain jangan hanya bekerja keras melayani ketika dipuji atau dihargai oleh sesama dan saudara-saudari kita saja, melainkan entah dipuji atau tidak dipuji, dihargai atau tidak dihargai kita tetap bekerja keras melayani demi kebahagiaan atau kesejahteraan bersama.

Mereka yang dalam derita, sakit dan sengsara di dunia ini tetap bergairah dan bergembira, maka ketika dipanggil Tuhan tetap bergairah dan bergembira, sehingga ketika telah mati, terbaring tidur sebagai mayat, nampak senyum dan ceria, nampak lebih cantik atau tampan. Saat-saat terakhir hidupnya, menjelang dipanggil Tuhan, ceria dan gembira, maka pada saat dipanggil Tuhan tetap ceria dan gembira serta nampak ceria dan gembira terus sebagai jenazah, ia percaya bahwa “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal”

“Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak.”(Mzm 17:6-7)
Jakarta, 19 September 2008

Sumber : Romo Maryo



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


06 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 06, 2008 | No comments

Renungan 06 September 2008

Minggu Biasa XXIII

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata”

Bacaan :
  • Yeh 33:7-9;
  • Rm 13:8-10;
  • Mat 18:15-20
“Negative thinking” dan kebiasaan ngrumpi atau ‘ngrasani’ rasanya cukup marak dalam kehidupan kita masa kini. Ngrumpi atau ‘ngrasani’ pada umum membicarakan kekurangan, kejahatan atau kelemahan orang lain dan orang lain tersebut tidak ada dihadapan mereka alias mendengarkan apa yang sedang dibicarakan tentang dirinya. Sebagai contoh:

(1) bus, kereta api atau pesawat terbang terlambat berangkat atau kedatangan kemudian membicarakan berbagai kekurangan dan kelemahan dari pengelola transportasi atau pemerintah,

(2) merasa dikecewakan oleh saudara-saudarinya, rekan kerja dst.. kemudian dengan leluasa menjelek-jelekan orang yang bersangkutan,

(3) makanan atau minuman tidak enak kemudian ngrasani yang memasak atau yang menyediakan, dst…

Mereka yang suka ngrasani atau ngrumpi hemat kami berarti orang yang tidak pernah bahagia di dalam hidupnya, memboroskan pikiran dan tenaga yang tiada guna. Ngrasani atau ngrumpi juga melecehkan harta martabat orang lain alias melanggar hak azasi manusia. Orang yang memiliki hobby ngrasani atau ngrumpi juga tidak ksatria. Maka marilah kita renungkan dan refleksikan sabda-sabda atau warta gembira hari ini.

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata” (Mat 18:15a)

Sabda Yesus di atas inilah kiranya yang menjiwai St.Ignatius Loyola, sebagaimana ia nasihatkan bagi siapapun yang menghendaki tumbuh berkembang sebagai orang beriman, cerdas spiritual: “Setiap orang kristiani yang baik tentu lebih bersedia membenarkan pernyataan sesamanya daripada mempersalahkanya. Jika tak dimengerti, yang menyatakan hendaklah ditanya apakah yang dimaksudkan; dan jika dia salah hendaklah dibetulkan dengan cintakasih; dan jika itu belum cukup hendaklah digunakan segala upaya yang sesuai, supaya sampai pada pemahaman yang benar, dan dengan demikian dijauhkan dari kesalahan” (St.Ignatius Loyola, LR no 22). . Jika kita berani mawas diri dengan benar dan cermat, kiranya masing-masing dari kita telah memiliki pengalaman ini, yaitu ketika kita masih anak-anak diberi nasihat oleh orangtua senantiasa membenarkan dan melaksanakan nasihat tersebut, ketika kita sedang belajar di sekolah (TK, SD, SMP, dst..) senantiasa membenarkan dan menerima apa yang diajarkan atau dikatakan oleh guru atau dosen kita. Dengan kata lain masing-masing dari kita memiliki modal atau kekuatan untuk menghayati sabda Yesus di atas.

“Menegor saudara kita yang bersalah di bawah empat mata” berarti ketika kita melihat saudara kita bersalah maka kita ajak saudara tersebut berduaan atau curhat. Didalam menyampaikan tegoran hendaknya dengan rendah hati dan lemah lembut: mohon kejelasan atas apa yang kita lihat sebagai yang salah, tanpa menuduh atau mengadilinya. Baiklah perjumpaan atau curhat tersebut diawali dengan doa bersama, agar pembicaraan atau curhat ada di dalam Tuhan.

Dengan kata lain pembicaraan berdua menjadi pembicaraan rohani, atau ‘bimbingan rohani’, dimana masing-masing pihak membuka diri atas bisikan dan sentuhan Roh Kudus dan Roh Kuduslah yang akan menunjukkan atau memperlihatkan kebenaran-kebenaran serta apa yang harus kita katakan atau bicarakan berdua/bersama. Jika dengan cara demikian gagal maka baiklah baru melangkah ke cara berikutnya, yaitu “bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan “ (Mat 18:16), dan jika masih gagal baru melangkah cara terakhir, yang kiranya tidak kita kehendaki atau harapkan, yaitu: “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”(Mat 18:17)

Cara lain menegor mereka yang berbuat salah antara lain mendoakannya, sebagaimana pernah saya dengar sharing dari seorang bapak. Bapak tersebut membiasakan adanya doa bersama di dalam keluarga, serta melatih anak-anaknya untuk berdoa dan memimpin doa bersama. Bapak tersebut setiap hari berangkat ke kantor/tempat kerja dengan mengendarai sepeda motor: pada awal ia setia mengenakan helm tetapi kemudian, entah karena apa ia enggan lagi mengenakan helm ketika mengendarai sepeda motor. Di dalam doa bersama, salah seorang anaknya berdoa bagi sang bapak demikian: “Ya Tuhan kami berterima kasih atas bapak-ibu yang baik, lebih-lebih bapak yang bekerja keras untuk kami.

Semoga bapak senantiasa mengenakan helm dalam mengendarai sepeda motor agar selamat di perjalanan. Amin”. Sang bapak tersebut memang pernah berkata kepada anak-anaknya perihal pemakaian helm demi keselamatan, maka ketika mendengar doa anaknya ia melelehkan air mata, merasa ditegor dengan keras oleh anaknya. Ia bertobat dan kemudian tidak lupa mengenakan helm ketika mengendarai sepeda motor. Silahkan berdoa bagi siapapun yang kita nilai bersalah atau telah menyakiti kita.
“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat “(Rm 13:8-10)
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”, demikian peringatan atau nasihat Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua orang beriman. “Mengasihi diri sendiri” antara lain berarti senantiasa menjaga atau merawat diri agar tetap sehat wal’afiat lahir dan batin, cerdas spiritual: hati, jiwa, akal budi dan tubuh senantiasa segar bugar. Yang paling mudah, dalam arti kelihatan, namun belum tentu dilakukan oleh semua orang, adalah menjaga kesehatan tubuh: makan dengan berpedoman ‘empat sehat lima sempurna’, tidur/istirahat cukup, sering berolahraga, misalnya erobik(jalan kaki, lari atau berenang), dst… Kesehatan dan kesegar-bugaran tubuh akan mendukung kesehatan jiwa, hati dan akal budi. Jika diri kita sehat wal’afiat maka kiranya kita dengan mudah untuk mengasihi sesama dan saudara-saudari kita. Sehat bugar antara lain memang ‘tidak berzinah, tidak membunuh atau melecehkan yang lain, tidak mencuri’.

“Mengasihi sesama manusia” berarti mengajak, mendampingi atau mengingatkan sesama manusia untuk menjaga dan merawat dirinya agar tetap dalam keadaan segar bugar jiwa, hati, akal budi dan tubuh. Marilah kita renungkan dan hayati firman Tuhan yang disampaikan melalui nabi Yeheskiel ini: “Jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu” (Yeh 33:9). Firman ini baik menjadi permenungan bagi yang memperingatkan maupun yang diingatkan. Hendaknya baik yang memperingatkan maupun yang mengingatkan senantiasa bersikap rendah hati. Bagi ‘yang memperingatkan’ rendah hati berarti menyapa ‘yang diingatkan’ dengan lembut dan sabar, sedangkan bagi ‘yang diingatkan’ rendah hati berarti membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh alias siap sedia untuk ‘disakiti’ hati, jiwa, akal budi maupun tubuhnya. Untuk bertobat, tumbuh dan berkembang atau memperbaharui diri hemat saya harus siap sedia untuk ‘sakit’, dan menderita.
“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku” (Mzm 95:6-9)

Jakarta, 7 September 2008
Sumber : Romo maryo



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


03 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 03, 2008 | No comments

Renungan 3 September 2008

"Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."

Bacaan :
  • 1Kor 3:1-9;
  • Luk 4:38-44
"Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.

Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea" (Luk 4:38-44),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Gregorius Agung adalah gembala umat dan negarawan ulung. Ia mendirikan biara-biara serta mengutus anggota-anggota tarekat yang bersangkutan menjadi misionaris, menulis buku dan homili yang bagus, mendamaikan yang bermusuhan, dst.. Ia sungguh memberitakan Injil Kerajaan Allah' di dalam melaksanakan dan menghayati panggilan serta tugas perutusannya. Gregorius Agung juga gembala yang menghayati panggilannya sebagai `servus servorum Dei' ( hamba dari para hamba Tuhan), yang kemudian menjadi motto dari para paus berikutnya sampai kini. Kiranya kita semua juga dipanggil untuk "memberitakan Injil Kerajaan Allah", dengan rendah hati, semangat melayani tanpa kenal lelah. `Injil Kerajaan Allah' berarti warta atau kabar gembira, maka melalui hidup dan kerja kita semua dipanggil untuk senantiasa menggembirakan orang lain, siapapun yang hidup bersama kita atau kita jumpai. Memang untuk itu pertama-tama kita sendiri harus selamat atau gembira; dalam keadaan gembira berarti sehat wal'afiat, bergairah, penuh harapan, dinamis, selalu senyum dst.., dan dengan demikian kita akan tahan atau kebal terhadap aneka ancaman dan serangan virus penyakit.

Kegembiraan ini sangat penting dalam proses pendidikan atau pembelajaran baik di dalam keluarga maupun di sekolah. "Para guru hendaknya menjadikan ruangan kelas lebih menyenangkan. Mereka cukup membantu para siswa agar mengetahui bagaimana caranya belajar dan menganalisa, belajar secara mandiri, , mengatur pengalaman-pengalamannya yang nyata, dan memberikan respons pada apa yang ingin dipelajari oleh para siswa dan kebutuhan belajar mereka" (Rung Kaewdang Ph.D: Suatu Cara Reformasi Pembelajaran yang mangkus, BELAJAR DARI MONYET, Grasindo – Jakarta 2002, hal 71). Untuk itu guru atau pendidik memang harus rendah hati, berjiwa melayani; hal yang sama hemat saya juga perlu dihayati oleh orangtua dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya.

• "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan" (1Kor 3:6-7), demikian kesaksian Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua. Yang menanam atau menyiram, bapak atau ibu, guru/pendidik, gembala (pemimpin, pastor, ketua dst..) adalah pelayan-pelayan atau pekerja-pekerja yang hina, pekerjasama-pekerjasama Allah yang menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan. `Menanam' dalam arti hanya menaruh atau menancapkan kiranya mudah tetapi `menyiram'dalam arti merawat dan mengurus rasanya sulit, sarat dengan tantangan dan hambatan.

Banyak orang dengan mudah menanam (membeli, menghamili, dst..) tetapi tidak dapat merawat atau mengurus dengan baik apa yang telah ditanam. Merawat dan mengurus segala sesuatu, lebih-lebih yang hidup seperti manusia, tanaman dan binatang, hemat saya perlu dijiwai oleh cintakasih dan kerendahan hati. Entah manusia, tanaman atau binatang `diadakan' dalam dan oleh cintakasih dan kerendahan hati, maka hanya akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik jika senantiasa `disirami' dengan cintakasih dan kerendahan hati. Pengalaman `menyiram' (merawat dan mengurus) dengan baik kiranya telah terjadi dalam diri para ibu dalam mengandung, melahirkan dan merawat anak-anaknya, maka baiklah jika para ibu atau perempuan dapat menjadi teladan dalam perawatan dan pengurusan segala sesuatu dengan baik. Perawatan dan pengurusan yang baik antara lain akan berbuah `penghematan' serta aneka macam keutamaan yang pada gilirannya akan mendukung untuk menjadi perawat atau pengurus yang handal.

"Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka" (Mzm 33:12-15)

Jakarta, 3 September 2008


Sumber : rm_maryo

  • Text Widget