10 June 2008

Posted by ShureX Posted on June 10, 2008 | No comments

Cinta Ini Milikmu Mama

Cinta Ini Milikmu Mama

“RYN, bangun.. Sarapanmu udah mama siapin di meja.” Tradisi ini sudah berlangsung 22 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat tapi kebiasaan mama tak pernah berubah,meskipun aku hanya pulang sekali2 menjenguknya

“Mama sayang… ga usah repot-repot ma, aku sudah dewasa.” pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.

Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. tapi entahlah..
Niatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Ma, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?” Kutatap sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata, “Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kamu sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kamu, mama tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa kamu lakukan sendiri”

Ah, Ya Tuhan, ternyata buat seorang Ibu.. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya.

Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putrinya?

Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kamu berikan pada mama. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kamu mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.”

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Tuhan kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama menginginkan sesuatu.” Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan..

Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Ah, maafin kami mama….. 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat mama lelah..
Sanggupkah aku ya Tuhan?

— +++ —

“Ryn, bangun nak.. sarapannya udah mama siapin di meja.. ”
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan.. “Terimakasih mama, aku beruntung sekali memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama.” Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan..

Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu.. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

— +++ —

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “Aku sayang padamu.” Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai..

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu.. Walau mereka tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia..

— +++ —

“Ya Tuhan, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama selagi ENGKAU mengizinkan aku hidup. Dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMu.. Titip mamaku ya Tuhan..”

Untuk dan oleh semua Mama yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Mamanya..

Love u mom….!

Posting Catarina Angie di Mailing List Single Katolik


Sumber : tidak di ketahui


09 June 2008

Posted by ShureX Posted on June 09, 2008 | 1 comment

Cobalah Renungkan ...

"Jangan kehilangan nyali menghadapi sikap pesimis orang lain terhadap Anda. Kenikmatan terbesar dalam hidup adalah mengerjakan apa yang dikatakan orang lain bahwa Anda tidak mampu melakukannya"

"Nikmati proses belajar. Adalah hebat menjadi bagus di bidang tertentu. Adalah hebat belajar menjadi bagus di bidang tertentu"

"Keceriaan merupakan senjata pamungkas memerangi frustasi, bosan, rasa bersalah, iri, dan masih banyak lagi"

"Janganlah bekerja hanya karena alasan bertahan hidup, tetapi nikmatilah bekerja sebagai tujuan mendulang sukses"

"Tiada orang yang luput dari kesalahan dan janganlah merasa gundah oleh kesalahan yang telah kita perbuat, karena satu-satunya orang yang tidak berbuat kesalahan adalah orang yang tidak pernah mengerjakan sesuatu."

"Janganlah menyalahkan orang jika Anda tidak bahagia, ingatlah bahwa Anda lah penentu kebahagian itu sendiri"

"Lakukan lah sesuatu terus menerus secara konsisten dan penuh kesabaran, yakinlah kepada apa-apa yang Anda anggap tidak mungkin akan menjadi mungkin"



di kirim oleh : Gundolo Sosro
Posted by ShureX Posted on June 09, 2008 | 1 comment

KEBENARAN YANG MEMBEBASKAN

KEBENARAN YANG MEMBEBASKAN

Supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.
—Efesus 1:6



Baca: Efesus 1:3-10


Seorang misionaris wanita yang masih lajang merasa rendah diri. Dia merasa tidak senang dengan hidupnya secara keseluruhan, tetapi dia terutama tidak puas karena dia merasa pertumbuhan rohaninya amatlah lambat.

Suatu pagi dia mengamati dirinya sendiri di depan cermin. Lalu, dengan perlahan dia berkata, "Allah, saya bersyukur kepada-Mu karena saya menjadi diri saya sendiri dan tak pernah dapat menjadi orang lain."

Pada saat itulah, misionaris wanita itu mengalami penerimaan diri yang membebaskannya. Dia menyadari bahwa Allah telah merancang dirinya menjadi seorang pribadi yang amat unik, seorang pribadi yang telah ditebus Kristus, dan dirinya tak pernah dapat digantikan atau digandakan.

Apakah Anda menyalahkan diri sendiri karena berpikir bahwa Anda tidak serohani seperti yang seharusnya? Apakah Anda memandang diri sendiri sebagai murid Kristus kelas kedua, kurang memiliki talenta dan karunia bila dibandingkan dengan saudara-saudara seiman yang sepertinya menjadi panutan dalam hal berdoa, bersaksi, dan melayani? Kita dapat bangkit dari sikap hati yang menolak diri sendiri dan menikmati penerimaan diri dengan penuh syukur ketika kita memercayakan hidup kita ke dalam tangan Yesus yang pernah terpaku itu. "Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya" (Ef. 1:7). Kita telah diterima dan dipilih oleh Allah (ay. 4-6).

Jika Tuhan telah menerima kita, tentunya kita dapat menerima diri kita sendiri! Itulah kebenaran yang membebaskan. —VCG

Segala puji bagi Sang Domba, aku diterima-Nya,
Melalui iman dalam nama Juruselamat yang mengagumkan;
Pada-Nya kupercaya, darah-Nya tercurah;
Bagiku Dia telah menderita, bagiku Dia telah mati.
—Wesley


Menerima anugerah keselamatan yang cuma-cuma dari Yesus membebaskan kita untuk menerima diri sendiri.


di sadur dari : http://www.rbcintl.org/

08 June 2008

Posted by ShureX Posted on June 08, 2008 | No comments

Where Mercy Dwells

June 8 Sunday Reflection

“I desire mercy and not sacrifice.”
–Matthew 9:13


Readings :

Hosea 6:3-6
Psalm 50:1,8,12-13,14-15,(23b)
Romans 4:18-25
Matthew 9:9-13

It was a family meeting. Everyone was gathered around Maria, listening to her explain why and how she got involved in the scam. Many questions were thrown at her, and she had to answer each one truthfully, including why she had to include the family’s money in the venue. Recriminations and insults were thrown at her and she had to swallow all of them because everything they said was true.

After a while, she bowed her head, and apologized to everyone. She told them how sorry she was for using their money, sorry for involving them in the scam and for besmirching the family name.

The silence was deafening. Maria kept her head bowed, trying to control her tears in anguish and shame. Suddenly, she felt a hand on her shoulder, and then she felt all her brothers and sisters, with their wives and husbands around her, wanting to hug and kiss her. There was so much love flowing, and forgiveness, too. There were no words said. The hugs and kisses said it all.

Sometimes it’s easy to say that we love someone. But our readiness to extend help when a person is in trouble takes our love one step further.
How do you love?
-Chelle Crisanto

Reflection:
“Where mercy, love and pity dwell, there God is dwelling too.” (William Blake)

Prayer:
Lord, teach me to be merciful.



sent by : ChristianYouth
Posted by ShureX Posted on June 08, 2008 | No comments

Minggu Biasa X, 8 Juni 2008

Minggu Biasa X, 8 Juni 2008
Bacaan :
  • Hos 6:3-6;
  • Rm 4:18-25;
  • Mat 9:9-13.

Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? Orang Farisi mencari-cari kesalahan Yesus, maka apa saja dijadikan alasan untuk mengeritik Dia. Yesus memakai kesempatan itu untuk menyatakan kepedulian-Nya kepada orang miskin, berdosa, tertindas dan terbuang.

Ia ada di pihak mereka untuk membela mereka. Keselamatan adalah untuk semua orang, terlebih bagi yang tidak berdaya dan mengharapkan belaskasih Tuhan. Makan bersama orang berdosa adalah tanda solidaritas Yesus dengan mereka. Dia yang tidak berdosa menanggung hukuman dosa supaya orang berdosa diselamatkan.

Itulah belaskasih Allah. Maka tiada yang lebih diinginkan Allah dari para pemimpin agama selain belaskasih. Dengan itu mereka mencerminkan wajah Allah.


di sadur dari : http://www.ambicen.org/

05 June 2008

Posted by ShureX Posted on June 05, 2008 | No comments

MENGASAH KAPAK

Alkisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat. Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik. Karenanya sang penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.

Sang majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, "Bagus, bekerjalah seperti itu!"

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari sang penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. "Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku", pikir penebang pohon itu.

Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. "Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?" sang majikan bertanya.

"Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon," katanya.

Catatan:
Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. "Di masa sekarang ini, banyak orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka lebih tidak berbahagia dari sebelumnya. Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam?

Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras. Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi, menyediakan waktu untuk membaca, dan lain sebagainya.

Kita semua membutuhkan waktu untuk tenang, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan bertumbuh. Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas. Jadi mulailah dari sekarang, memikirkan cara bekerja lebih efektif dan menambahkan banyak nilai ke dalamnya.



di kirim oleh : Gundolo Sosro
Posted by ShureX Posted on June 05, 2008 | No comments

Guru Terbaik

Tiap hari jum'at sore selepas kerja, Kami para pengajar di biasanya mendiskusikan banyak hal. Agenda kami diantaranya bagaimana menyikapi siswa yang bermasalah.

Ada salah satu siswa yang membuat kegaluan para guru, ada guru yang memberlakukannya seperti teman bahkan terkadang di istimewakan. hal ini membuat guru-guru yang lain sering mempertanyakan kenapa diberlakukan seperti teman sendiri. Suka diajak ngobrol, makan bareng dikantin.

Sampai pada suatu hari saya berkesempatan untuk ngobrol dengan sang guru itu. "Pak, kenapa sih anak ini diperlakukan istimewa?"

Dia menjawab,"Pak Daniel, sebenarnya siswa ini adalah guru terbaik buat kita semua, dari dia kita bisa belajar sabar, kita juga bisa belajar ikhlas dan memahami orang lain, bahkan dia mengajarkan dari apa yang tidak bisa kita ajarkan"


Setiap orang yang kita jumpai adalah guru, dan setiap tempat kita kunjungi adalah sekolah.



di kirim oleh : Gundolo Sosro
  • Text Widget