05 August 2008

Posted by ShureX Posted on August 05, 2008 | No comments

KISAH SI BEJO

Salah satu kota di Jakarta yang bernama kota Depok, tinggallah sepasang suami istri yang sangat kaya raya, sebut saja pak dan bu Rejo. Pasangan suami istri ini di karuniai seorang anak lelaki yang di beri nama oleh mereka BEJO. Karena sewaktu bu Rejo hamil, berkat yang di terima keluarga ini berlimpah ruah dan usaha pembuatan cendol pak Rejo maju luar biasa, sehingga mampu mengangkat keluarga ini di jajaran elite orang2 kaya di Jakarta. Apalagi sesudah anak ini lahir, usaha mereka semakin sukses dan mendunia, bahkan bisa mendirikan perusahaan Cendol dengan skala eksport / dunia.

Maka anak yang lahir ini di beri nama Bejo (dalam bahasa jawa artinya : beruntung, dlm bahasa inggris : Lucky) Seiring dengan bertumbuhnya si Bejo yang sekarang sudah menjadi pemuda yang super keren dan tajir, kemana – mana bawa mobil Mercedes Bens seri terbaru, hapenya saja communicator bak direktur, kemana – mana juga menenteng laptop bak orang penting, baju dan seluruh accecoriesnya bermerk semua, badannya tegap atletis,tinggi, putih bersih, sayang perut agak buncit karena kebanyakan makan2an ala luar negeri, apalagi si Bejo ini lulusan luar negeri pula, bukan dari Amerika atau Eropa, tapi dari Universitas Ethiopia di Afrika, kata si Bejo kurang keren kalau kuliah di Amerika / Eropa gitu loh.

Karena kesibukan kedua orang tua si Bejo ini dalam mengurus perusahaan dan terlebih pasangan suami istri ini juga ikut kegiatan / pelayanan di Gereja, mereka tidak begitu tanggap dengan masalah2 yang sedang dihadapi oleh anaknya, yang terpenting dalam prinsip pak dan bu Rejo mereka akan selalu menuruti semua yang di minta anaknya, mau beli mobil, hape, dan segala macam pakaian2, sepatu, bahkan celana dalam merek terkenal pun akan di belikan.

Itu yang menjadikan keluarga ini tidak pernah bertemu muka meski mereka bertiga satu rumah. Pagi saat si Bejo masih tidur, pak dan bu Rejo udah berangkat ke kantor, malam pak dan bu Rejo pulang, gantian si Bejo pergi dengan teman2nya pulang sampai malam. Paling2 bu Rejo telpon anaknya sekedar tanya atau memberi nasehat basi, "Bejo jangan mabuk2an yah, apalagi narkoba, ati2 di jalan, cepetan pulang," Hanya kata2 itu terus yang sering dan berulang –ulang si Bejo dengerin dari ibunya.

Sebetulnya ada ganjelan dalam hati si Bejo, terkadang dia merenung seorang diri sambil melihat ke arah cermin, dia pemuda kaya, keren, tinggi tegap, putih bersih, cuman ada satu yang membuat dia kurang pede yaitu bentuk hidungnya yang bak jambu monyet terbalik. Sehingga dia merasa kemanapun dia pergi, tak ada seorang cewe pun yang menengok kepadanya, paling2 yang di tengok kalau bukan mobil, atau hapenya saja, plus dompetnya. Paling cewe2 pada berbisik-bisik bila si Bejo ini lewat, "Ihhh ganteng2 kok hidungnya kaya jambu monyet yah,"

Semakin lama semakin risau hati si Bejo ini, dia kemudian menyalahkan orang tuanya, terutama pak Rejo, karena bentuk hidung jambu monyet itu turun dari bapaknya (like father, like Bejo) heheheheheh.

"Aduhhhhh ini semua gara2 bapak, punya hidung aja kok ya jelek banget sih," begitu setiap si Bejo melihat ke cermin.

Tetapi si Bejo tidak ada tempat untuk melampiaskan kerisauan hatinya, kedua orang tuanya sibuk sendiri2. Oh ya si Bejo ini tidak pernah mau ke gereja, karena buat apa dia ke gereja, emang gereja bisa memberikan kekayaan seperti orang tuanya, begitu di dalam pikiran si Bejo. Apalagi pernah ada tamu dari gereja yang hadir dalam acara pembukaan kantor cabang baru, sedang berbisik-bisik dengan tamu yang lain mengenai kejelekan hidung si Bejo, dan ini kedengaran ama si Bejo, membuat dia memiliki akar kepahitan dengan orang – orang gereja. Sampai2 si Bejo punya niat akan operasi plastik hidungnya, tapi dia mengurungkan niatnya karena biaya terlalu mahal.(kalau mau cari murah ya pakai plastik kresek kata temannya, hehehehehhe).

Di hari sabtu tak kala si Bejo hendak pulang dari berenang, dia memacu mobilnya dengan kencang kearah jln Sudirman, dan berniat makan di daerah Thamrin. Karena jalanan agak macet, maka si Bejo pelan2 mengendarai mobilnya. Sambil tengok kanan tengok kiri mencari ruang kosong untuk mobilnya, tatapan mata si Bejo tertegun tak kala dia melihat seorang gadis cantik,anggun dan kalem (bukan *Ka*ya*Lem*bu loh) sedang berdiri dihalte bis, namun tiba – tiba bunyi klakson mobil belakang yang kencang membuat si Bejo tersentak kaget dari lamunannya, dan buru2 si Bejo menghentikan mobilnya di jalur lambat. Setelah dia parkir mobilnya dia cepat2 menghampiri gadis yang sedang menunggu di halte.

Dengan perasaan deg2an campur malu, campur takut, si Bejo memberanikan diri untuk berkenalan dengan gadis tersebut, dan si Bejo benar2 sudah lupa akan bentuk hidungnya (karena sudah tersepona),

"Eeee, anu, eeeeee, " tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut si Bejo ketika dia sudah didekat dengan gadis itu.

"Ih ngapain sih anak ini, kok seperti orang bingung, " begitu pikir si gadis.

"Anu, eeeee, "si Bejo masih terkunci mulutnya, dan terdengar keras detak jantung si Bejo.

"Ada apa sih mas?" tanya si gadis.

Blarrrrr, seakan meledak dan terbuka sudah mulut si Bejo, dia langsung memberanikan diri untuk mengajak kenalan.

"My name is Bejo"

dan gadis itu menjawab, "Liana"

sewaktu si Bejo menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman, alangkah kagetnya si Bejo tak kala si Liana menyodorkan tangan kanannya pula, sbab lengan itu tidak ada pergelangan tangannya, alias bunting eh buntung. Karena si Bejo sudah terlanjur menyodorkan tangannya, dan tidak mau membuat gadis ini tersinggung, si Bejo tetap meremas pergelangan gadis itu, sambil berkata

"maaf saya tidak tahu"

Tapi jawaban si gadis ini membuat hati si Bejo semakin tersepona dan seakan dia tertemplak begitu mendengar jawaban si gadis ini.

"Oh ga papa kok, memang dari sejak lahir saya tidak memiki pergelangan tangan kanan, tapi Puji Tuhan saya masih memiliki tangan kiri dan sepasang kaki, sepasang mata, sepasang telinga, dan organ2 tubuh lainya yang masih berfungsi,"

Bak kesiram air panas, mulut si Bejo hanya bisa ternganga dan terbuka lebar, sampai seekor lalat pun bisa masuk ke dalamnya. Singkat cerita, Si Bejo mengantar gadis ini ke rumahnya di daerah Karawaci, sepanjang perjalanan Liana mengenalkan kasih Tuhan Yesus kepada si Bejo, dan dengan rela hati dan tulus si Bejo mau bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamatnya. Singkat cerita mereka berdua resmi berpacaran. Si Bejo merasa beruntung memiliki Liana sebagai pacarnya, karena diam2 rupanya Liana tertarik dengan si Bejo bukan karena dia kaya, tapi karena bentuk hidung si Bejo yang bikin gemes dan bikin susah tidur. Akhirnya mereka berdua di berkati Tuhan menjadi sepasang suami istri dan mereka di berkati pula dengan dua orang anak, yang pertama cewe manis persis ibunya di beri nama Myke, yang kedua cowo persis bapaknya, apalagi hidung yang mirip jambu monyet, di beri nama Jammon (alias JambuMonyet) hehehehehehehhe :D


Pesan Moral

1. Bersyukurlah dengan bentuk tubuh yang Tuhan sudah berikan pada kita, entah hidung kita spt hidung si Bejo, atau mancung ke dalam, dll karena kita itu di ciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Jadi semua itu baik adanya.

2. Mengucap syukurlah dengan berkat yang Tuhan sudah berikan, jangan bersungut-sungut dan menggerutu kepada Tuhan.

3. Bagi yang sudah menikah dan melayani Tuhan, bagilah waktu anda sebaik mungkin antara pelayanan dan keluarga, karena Tuhan itu mengutamakan keutuhan keluarga. Pelayanan berhasil tapi kalau keluarga berantakan, itu sama saja menjadi orang yang munafik.

4. Jangan pernah memilih calon suami atau istri berdasarkan bentuk fisik, siapa tahu justru kekurangan fisik anda itu menjadi daya tarik yang mengagumkan (seperti Liana yang justru tertarik dengan bentuk hidung jambu monyet, jadi gemes bokk)

5. Dan jangan pernah memiliki akar kepahitan, sbab bisa membuat hidup kita menderita dan sengsara di siksa oleh kebencian.

6. Dan jangan pernah lupa ceritakan kebaikan Tuhan di dalam hidup kita kepada orang lain, sehingga orang lain juga mendapat kebaikan yang sama.

GBU ALL

di kirim oleh : Johan Huang

------------------------------

Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Mazmur 118:29 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Mazmur 43:5 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Mazmur 28:7 TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.

Mazmur 9:2 Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;

Posted by ShureX Posted on August 05, 2008 | No comments

Renungan 5 Agustus 2008

"Hai orang yang kurang percaya mengapa engkau bimbang?"
(Yer 30:1-2.12-15.18-22; Mat 14:22-36)


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

“Hidup adalah petualangan…beranilah.Hidup adalah misteri…kuaklah.Hidup adalah permainan…mainkanlah .Hidup adalah perjuangan…hadapilah “ (Dr.Anthony D’Souza SJ: Proactive Visioner)
=> Menjalani hidup atau menghayati panggilan serta melaksanakan tugas perutusan dengan baik pada masa kini memang tidak akan terlepas dari tantangan dan hambatan. Tidak sedikit orang menjadi bimbang dan ragu berhadapan dengan aneka tantangan dan hambatan, dan kemudian ada yang tidak berani melakukan apa-apa atau ada yang bertindak seenaknya, asal-asalan.

Marilah kita imani dan hayati bahwa hidup, panggilan maupun tugas perutusan merupakan anugerah Tuhan, dan jika Tuhan menganugerahi senantiasa juga membekali rahmat untuk menghayati atau memfungsikan anugerah tersebut, bahkan Ia senantiasa mendampingi perjalanan dan langkah-langkah kita. Kehadiran dan pendampingan Tuhan antara lain dapat kita lihat dan nikmati dalam apa yang baik, indah, mulia dan luhur dalam semua ciptaanNya, terutama dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Kehadiran dan pendampinganNya juga menjadi nyata dalam keutamaan-keutamaan yang hidup dan dihayati dalam diri sesama kita seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”(Gal 5:22-23). Temukan dan hayati kehadiran atau pendampingan.Tuhan tersebut dalam saudara-saudari kita maupun ciptaan lainnya, maka kita tidak akan menjadi takut menghadapi aneka tantangan dan hambatan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita senantiasa akan mampu mengatasi aneka tantangan dan hambatan.

“Kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu.”(Yer 30:22)
=> Kutipan ini hendaknya sungguh kita renungkan dan hayati di dalam hidup sehari-hari. Kita semua adalah umat Allah, milik Allah dan segala sesuatu yang menyertai kita maupun kita kuasai dan nikmati adalah anugerah Allah, yang dianugerahkan kepada kita agar kita setia menjadi umatNya atau milikNya. Maka baiklah kita senantiasa setia melaksanakan kehendak Allah serta memfungsikan aneka macam anugerah (keterampilan, kecakapan, kesehatan, kekayaan, harta benda, uang, dst..) sesuai kehendak Allah atau ‘maksud pemberi’ (intentio dantis).

Dengan demikian diharapkan bahwa siapapun yang semakin kaya dalam berbagai hal juga semakin suci, semakin mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya, ia semakin memiliki banyak sahabat dalam perjalanan hidup di dunia ini. Kami berharap kepada mereka kaya akan macam-macam anugerah Allah untuk meneruskan anugerah tersebut kepada sesamanya atau saudara-saudarinya lebih-lebih bagi mereka yang miskin dan berkekurangan, hendaknya juga tidak menjadi semakin materialistis atau pelit, tidak sosial. Sebagai sesama umat Allah hendaknya kita juga saling memuji, menghormati dan melayani, karena Allah hadir dan berkarya dalam diri kita masing-masing. Memuji, menghormati dan melayani Allah harus menjadi nyata atau terwujud juga dalam memuji, menghormati dan melayani sesama manusia. Iman harus menjadi nyata dalam perbuatan atau tindakan konkret.

“Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh “(Mzm 102:19-21)


Jakarta, 5 Agustus 2008


Sumber : Romo maryo

04 August 2008

Posted by ShureX Posted on August 04, 2008 | 1 comment

SELALU ADA JALAN KELUAR

Suatu masalah itu jika menyempit, maka biasanyanya ia menjadi meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar. Itulah tanda kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yang pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk merelakan kondisinya. Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang musim penghujan.

Mungkin saja betapa banyak kesedihan yang engkau keluhkan. Tapi permudahlah urusanmu. Lapangkanlah pikiranmu. Tidakkah engkau membaca firman Tuhan Tidakkah engkau berbahagia karena di dunia ini masih terhampar banyak harapan. Di dunia ini masih banyak kemudahan.

Wahai yang berkeluh-kesah tentang banyak urusan. Lalu menjalani hidup serasa dalam kurungan. Sementara air matanya terus mengalir karena sedih.

Sesungguhnya untuk rasa sakit, ada kesembuhan.
Untuk penyakit, ada obat.
Untuk haus, ada air.
Untuk kesulitan, ada kelapangan.
Dalam kesempitan, ada kebahagiaan.
Dalam gelap, pasti akan ada cahaya terang.
Sesungguhnya Tuhan bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita.
Sebagaimana Dia telah menghimpun kita.

Katakanlah kepada orang yang tenggelam dalam putus asa dan telah terjatuh.
Kepada orang yang telah patah arang dan terpuruk.
Kepada orang yang bimbang pemahamannya dalam masalah iman.
Bekerjalah dan beramallah, sesungguhnya Tuhan justru menurunkan hujan setelah manusia putus ada terhadap hujan.

Tuhan pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yang Tuhan berikan setelah kesulitan?

Siapapun yang mengingat nama-NYA, maka Tuhan akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesulitannya. Tuhan yang akan memberinya jalan penyesalan terhadap setiap kegundahannya. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Tuhan Dengan pengharapan itu, segala beban mampu terpikul, semua kengerian bisa terlewati, seluruh keadaan bisa lebih baik, lebih melapangkan pikiran dan menambahkan rasa pasrah kepada Tuhan.

Beritakanlah kegembiraan kepada malam, dengan datangnya pagi yang menyapu gelap dari puncak gunung-gunung.

Beritakanlah kegembiraan kepada musim semi dengan turunnya limpahan air hujan hingga air itu masuk ke sela-sela pasir.

Beritakanlah kegembiraan kepada orang sesat dengan harta yang bisa mengusir kematian.

Ketahuilah, di setiap kesulitan itu ada jeda.
Di setiap kebutuhan itu ada pertolongan.

Sesungguhnya Tuhan menghilangkan bencana dengan ketulusan doa dan kebersihan harapan.
Ketahuilah, himpitan dan kesulitan itu menghilangkan kesombongan dan terus menerus mendorong kepada ampunan, syukur dan kewaspadaan berpikir. Maka tenangkanlah hatimu jika kegalauan menerpamu. Lapangkanlah dadamu jika kesulitan menyerangmu. Jangan putus asa terhadap apa yang telah terjadi dan telah hancur. Ketahuilah, karena tidak ada sesuatu yang abadi selama alam semesta ini berputar.

Semoga kesulitan menjadi lebih ringan bagimu, dan musibah bisa memberikan kebaikan untukmu. Jika hidupmu telah terhimpit dan tak ada lagi alasan yang bisa engkau angkat. Kembalilah kepada Tuhan. Ketahuilah bahwa kesulitan tak pernah berlangsung terus menerus. Tuhan pasti memandangmu dengan pandangan kasih dan sayang. Karena dunia ini tidak berada dalam satu keadaan. Karena dunia ini berwarna-warni dan beragam bentuknya. Tidak ada kengerian yang tak pernah selesai. Belenggu akan terbuka dan ikatan akan terlepas. Bersabarlah, berdoalah dan nantikanlah jalan keluar dari Tuhan.

Ketahuilah, sesungguhnya kesulitan itu akan mampu membuka kejernihan telinga dan mata, serta menajamkan pikiran.
Kesulitan bisa memberi hikmah dan pelajaran.
Kesulitan mengajarkan kemampuan untuk memikul beban dan bertahan.
Kesulitan menghapuskan dosa.
Kesulitan memperbanyak pahala.

Maka, mintalah perlindungan dan pertolongan Tuhan. Setiap musibah itu mempunyai tujuan.

Berapa kali kita merasa takut, lalu kita berdoa dan meminta kepada Tuhan. Kemudian Tuhan menyelamatkan dan melindungi kita.

Berapa kali kita di lilit lapar, lalu Tuhan memberi makan dan minum untuk kita.

Berapa kali kita diterpa kebimbangan dan keresahan, lalu tuhan memberikan kebahagiaan dan kesenangan.

Berapa kali kita terjerat dan kita hampir terjatuh dalam kehancuran.
Kemudian tuhan memberikan jalan untuk bangkit dan berjalan.

Ketahuilah, engkau berhubungan dengan Yang Maha Lembut terhadap hamba-Nya.
Yang Terkenal dengan Pemberiannya.
Yang Maha Meberi untuk kebahagiaan hamba-Nya.
Yang Maha Kuasa atas segala keinginan-Nya.


di kirim oleh : Gundolo Sosro

===================================
ayat emas :
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? (Matius 6:25)

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:34)

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (I Petrus 5:7)




03 August 2008

Posted by ShureX Posted on August 03, 2008 | No comments

Di Dunia Ini, Hanya Ibu Seorang Yang Baik (bagian 2)


Shi Sang Chi You Mama Hau

(bagian 2)

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.

Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota , dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

……………………………………………………….

Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.

Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota , bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak.

Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu. “Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi”, sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 “Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga??..

………………………………………………………….

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tsb, menangis “Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.”

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar. Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya.

Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah????..

………………………………………………………..

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi hasilnya nihil.

Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?”

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak ibu?”. Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi???.

Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila?.

………………………………………………………

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya?..

Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ?

Tidak diragukan lagi
“Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini”


sumber : http://krenungan.org/

02 August 2008

Posted by ShureX Posted on August 02, 2008 | No comments

Renungan Minggu 03 Agustus 2008

Mg Biasa XVIII

Bacaan :

Yes 55:1-3;
Rm 8:35.37-39;
Mat 14:13-21

“Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka.”


“Bless in disguise” , Rahmat terselubung, itulah kata-kata yang mungkin layak dikenakan terkait dengan bencana alam tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta dan Klaten, dst.. Di satu sisi terjadi penderitaan yang dialami oleh para korban bencana alam dan di sini lain banyak orang ‘tergerak hatinya oleh belas kasihan kepada mereka yang menjadi korban bencana alam’. Mereka yang tergerak oleh belas kasihan selain mereka yang langsung menyaksikan para korban tetapi juga mereka yang hanya mendengar atau menyaksikan berita di media massa, entah televisi atau media cetak.

Di tingkat dunia, entah sebagai Negara atau LSM begitu tanggap untuk segera mengulurkan bantuan bagi para korban Demikian juga rekan-rekan yang berada di Jakarta: mereka yang mungkin dalam hidup sehari-hari bekerja di kantor di depan meja atau hanya tinggal perintah kepada bawahan, tergerak oleh belas kasihan pada korban bencana alam, tidak hanya menyumbangkan sebagian kekayaan tetapi juga bekerja keras, berpartisipasi entah menurunkan atau menaikkan barang-barang(dos dll) dari atau ke mobil/truk, yang akan diteruskan ke para korban. Penderitaan, korban dst..rasanya memang menyentuh atau menggelitik hati orang-orang baik untuk menghayati keutamaan belas kasihan kepada mereka yang menderita atau menjadi korban.
“Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit” (Mat 14:14)
Yesus datang ke dunia memang bertugas untuk membahagiakan atau menyelamatkan manusia, menyelamatkan dunia. Maka ketika melihat orang kelaparan, sakit atau menderita hatiNya tergerak untuk menolong mereka. Dalam kisah Warta Gembira hari ini diceriterakan ada banyak orang lelah, letih dan kelaparan, yang sungguh membutuhkan pertolongan.

Melihat orang banyak itu para murid minta kepada Yesus agar ‘mengusir’ mereka karena hari menjelang malam, janganlah mereka menjadi beban, sementara itu Yesus tergerak hatiNya untuk memberi makan kepada mereka. Suatu kesempatan yang baik untuk menyingkapkan jati driNya: Ia membuat mujizat dengan menggandakan ‘lima roti dan dua ikan’ untuk memberi makan ribuan orang. Mujizat terjadi: ribuan orang makan kenyang bahkan berkelimpahan.

Apa yang dikerjakan oleh Yesus ini kiranya layak kita renungkan atau refleksikan. Di sekitar hidup bersama atau kerja kita kiranya ada atau banyak orang yang memerlukan bantuan karena kelaparan, sakit atau menderita atau mungkin ada orang lapar, sakit atau menderita pada suatu saat mendatangi rumah, kantor atau tempat kerja kita. Marilah kita buka hati, jiwa, akal budi dan tubuh atau harta benda kita untuk menolong mereka.

Kami percaya bahwa masing-masing dari kita memiliki hati, yang tergerak oleh belas kasihan, maka hendaknya diwujudkan dalam tindakan. Marilah memberi dalam kekurangan bukan dalam kelimpahan, karena memberi dari atau dalam kelimpahan berarti membuang sampah alias menjadikan orang lain tempat sampah atau melecehkan yang lain, melanggar hak asasi atau harkat martabat manusia. Percayalah, imanilah jika kita berani memberi dari atau dalam kekurangan, pasti akan terjadi mujizat, sebagaimana terjadi ketika Yesus menggandakan ‘lima roti dan dua ikan’ untuk ribuan orang yang kelaparan.
“Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak” (Mat 14:20-21)
demikian berita dari peristiwa penggandaan roti dan ikan, Hemat saya Tuhan menganugerahi kita semua, manusia di dunia ini, makanan dan minuman yang memadai atau cukup bagi semua. Namun karena ada sementara orang atau kelompok yang serakah, mengumpulkan dan menikmati makanan dan minuman begitu banyak bagi dirinya sendiri atau kelompoknya, maka masih ada yang berkekurangan atau kelaparan. “Berilah kami hari ini rejeki secukupnya”, demikian bagian dari doa Bapa Kami yang kiranya setiap hari kita doakan. Kami percaya jika masing-masing dari kita menghayati doa tersebut akan terjadilah kelimpahan makanan dan minuman dan tidak ada lagi orang yang kelaparan.

“Aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39)

Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Roma ini kiranya layak menjadi permenungan atau refleksi kita. Masing-masing dari kita diciptakan, dikandung dan dilahirkan, dibesarkan dan dididik dalam dan oleh kasih Allah yang menjadi nyata dalam atau melalui orangtua kita masing-masing serta mereka yang telah berbuat baik kepada kita. Dengan kata lain kasih Allah telah kita terima secara melimpah ruah, sebagaimana sisa makanan dalam penggandaan roti yang diwartakan hari ini.

Allah mengasihi kita tanpa syarat, dalam keadaan atau kondisi macam apapun, maka selayaknya kasih Allah tersebut kita teruskan kepada sesama dan saudara-saudari kita dalam keadaan atau kondisi apapun. Kasih Allah diberikan atau diteruskan ke yang lain tidak akan berkurang, justru terjadi sebaliknya akan semakin mendalam, kuat dan melimpah ruah.

Sebaliknya bagi siapapun yang merasa terbatas atau kekurangan dalam hal uang, marilah kita tanggapi dan refleksikan seruan Tuhan melalui nabi Yesaya ini:
“Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.”(Yes 55:1-2).
Saya dengar dari sana-sini di era atau massa tehnologi canggih seperti HP (Hand Phone), cukup banyak pelajar, mahasiswa atau generasi muda yang memiliki HP sering lebih menggunakan uang saku untuk membeli tambahan pulsa daripada membeli makanan bergizi, atau sementara generasi muda bahkan menggunakan uang untuk membeli ganja atau narkoba, yang sungguh merusak tubuh maupun pribadi yang bersangkutan.

Makanan bergizi sangat penting untuk kesehatan tubuh kita, yang juga berdampak dengan kecerdasan kita, maka marilah kita perhatikan untuk menikmati makanan bergizi, syukur menghayati motto ‘empat sehat lima sempurna’ serta diiringi dengan olahraga yang memadai.

Kasih Allah memang harus menjadi nyata dalam kesehatan dan kebugaran tubuh dan pribadi kita masing-masing.
"Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu” (Kej 1:29)
demikian sabda Tuhan kepada kita semua, Semoga sabda ini menyentuh dan menggerakkan hati kita untuk bertindak. Kami berharap aneka usaha penghijauan, entah di kebun rumah maupun di jalan-jalan, hendaknya diusahakan tanaman yang menghasilkan buah, yang berguna bagi manusia. Tanaman yang memadai untuk itu antara lain ‘pohon mangga’, yang tahan terhadap aneka macam jenis cuaca. Maka tanamilah lahan kosong maupun usaha penghijauan jalan dengan ‘pohon mangga’. Ada ketakutan atau kekhawatiran, katanya pohon mangga akan menimbulkan kejahatan, yaitu anak-anak atau siapapun akan mencuri. Jika semua menanam pohon mangga kiranya tidak akan ada pencuri mangga, dan mungkin kita akan menjadi produsen mangga.

“TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” (Mzm 145:8-9)


Jakarta, 3 Agustus 2008


Sumber : Romo maryo

Posted by ShureX Posted on August 02, 2008 | No comments

Di Dunia Ini, Hanya Ibu Seorang Yang Baik (bagian 1)

Shi Sang Chi You Mama Hau

Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan2.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah. Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.

Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

………………………………………….

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya?

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu???.

………………………………………..

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius.

Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2. Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan ?”. “Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.

“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya.

Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya. Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya.

Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu?.”Maafkan saya, Nak.” “Tidak Bu, saya yang bersalah”???..


01 August 2008

Posted by ShureX Posted on August 01, 2008 | No comments

Bijak dalam Berjanji

"Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam."
(Yer 26:11-16.24; Mat 14:1-12)


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Yesus semakin populer dan dikasihi oleh banyak orang/rakyat, maka secara sosio-politis hal ini kiranya menjadi ancaman bagi penguasa yang gila akan kedudukan/jabatan, pangkat, kehormatan maupun harta benda seperti Herodes. Ketika Herodes mendengar perihal Yesus ia berkata kepada pegawai-pergawainya :”Inilah Yohanes Pembaptis;ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalamNya”.

Herodes telah membunuh Yohanes Pembaptis karena ‘jaga gengsi’, tidak sedia dirinya dipermalukan di muka umum, meskipun dirinya salah bicara. Maka sebenarnya ia senang dengan Yohanes Pembaptis, namun karena kurang hati-hati dalam berbicara atau berjanji, ia terpaksa menghabisi yang disenangi.

Pengalaman Herodes ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri bagi para orangtua, petinggi atau atasan dan pemimpin: hendaknya dengan bijak dan hati-hati dalam menyampaikan janji-janji, tidak hanya mengikuti selera pribadi sesaat. Para orangtua hendaknya tidak menjanjikan sesuatu yang tidak jelas dan tak mungkin dapat dilaksanakan pada anak-anaknya, sebagaimana dikatakan oleh Herodes kepada anak perempuan Herodias “Apapun yang kau minta kepadaku akan kuberikan kepadamu”, demikian pula para pemimpin, atasan atau petinggi masyarakat, bangsa dan Negara. Kepada para tokoh politik, yang kiranya sudah mulai berkampanye untuk pemilu 2009, hendaknya juga tidak berjanji yang muluk-muluk kepada rakyat, demikian pula para calon kepala daerah. Ingatlah dan sadarilah bahwa rakyat pada saat ini sudah luntur kepercayaannya pada para elite politik, yang begitu pandai berbicara namun tak pernah menghayati apa yang dibicarakan atau dikatakan.

"Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita.” (Yer 26:16), demikian kata para pemuka dan seluruh rakyat tentang Yeremia, setelah mereka mendengarkan kesaksian Yeremia “ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu." Para pemuka rakyat yang baik dan rakyat pada umumnya lebih jujur, terbuka hati, jiwa dan akal budinya daripada para penguasa atau pemimpin. “Vox populi, vox Dei”= “Suara rakyat, suara Tuhan”, demikian kata pepatah bahasa Latin.

Maka baiklah jika kita mengaku diri sebagai orang beriman, marilah kita dengarkan dengan rendah hati ‘suara rakyat’, dambaan, kerinduan dan harapan rakyat. “Gereja mendengarkan”, demikian seruan Sidang Umat Katolik tahun 2000, suatu ajakan agar para pemimpin Gereja mendengarkan dambaan, kerinduan dan harapan umat Allah. Menjadi pemimpin yang baik pada masa kini berarti menghayati kepemimpinan partisipatif, mendengarkan dan menanggapi dambaan, kerinduan dan harapan yang dipimpin. Maka juga menghayati atau memfungsikan kepemimpinan dengan semangat melayani, sebagaimana juga dihayati oleh Yesus, yang datang untuk melayani bukan dilayani. Untuk itu pemimpin hendaknya sering ‘turba’, turun ke bawah untuk mendengarkan, menyapa mereka yang dipimpin. Jauhkan semangat atau mental dictator, yang gila akan kuasa, jabatan, pangkat, kedudukan atau kehormatan duniawi.


“Aku ini tertindas dan kesakitan, keselamatan dari pada-Mu, ya Allah, kiranya melindungi aku! Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan” (Mzm 69:30-31.33-34)



Jakarta, 2 Agustus 2008



Sumber : Romo Maryo
  • Text Widget