26 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/26/2008 01:42:00 PM | 4 comments

Semua milikmu

Penghinaan yang kau berikan kepadaku, walaupun aku tidak menghina dirimu.
Ejekan yang kau lontarkan kepadaku, walaupun aku tidak mengejek dirimu.
Cacian yang kau muntahkan kepadaku, walaupun aku tidak mencaci dirimu.
Semua tidak aku ambil darimu. Semua itu masih milikmu. Semua milikmu !


di kirim oleh : shane sunpei
Posted by Ivan Shurex Posted on 12/26/2008 10:52:00 AM | 3 comments

Keindahan Tangan Seorang Ayah

Suatu ketika, ada seorang anak perempuan bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.

Anak itu bertanya kepada Ayahnya ketika sedang santai di beranda:

"Ayah , mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?"

Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya.

Anak itu berguman : " Aku tidak mengerti."

Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan :

"Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, membuat anak itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak itu menghampiri Ibunya dan bertanya :

"Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"

Ibunya menjawab:"Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban Sang Bunda.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran. Hingga pada suatu malam, anak perermpuan itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. "

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. "

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. "

"Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. "

"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani. & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia & badan yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. "

"Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia & Akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya. "AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH."

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah.

Berbahagialah yang masih memiliki Ayah. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya.

Berbahagialah yang merasa sebagai ayah. Dan lakukanlah yang terbaik buat keluarga kita.


With Love to All Father

Sumber : pancaroba.com


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


24 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/24/2008 09:25:00 AM | 2 comments

Kecantikan seorang wanita

Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?"

"Karena aku seorang wanita", kata sang ibu kepadanya.

"Aku tidak mengerti", kata anak itu

Ibunya hanya memeluknya dan berkata, "Dan kau tak akan pernah mengerti"

Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?"

"Semua wanita menangis tanpa alasan" hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.

Akhirnya ia menghubungi Tuhan dan ia bertanya: "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?"

Tuhan berkata:

"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "

"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "

"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh "

"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "

"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "

"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu "

"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.

Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."

Tahukah anda bahwa :

Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."

"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada."

sumber : gendutahu.multiply.com


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

22 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/22/2008 04:37:00 PM | 8 comments

Kisah Pohon Apel


Suatu ketika, hiduplah pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di bawah teduh dan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang; tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. "

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah ." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian."Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

sumber : conectique.com


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

20 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/20/2008 04:02:00 PM | No comments

Berkata-kata dengan kasar

Saya bersenggolan dengan seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.

“Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya.

Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.”

Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.

"Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur.

Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang.

Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu. "Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya,

"Bangun, nak, bangun," kataku. "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?"

Ia tersenyum, "Aku menemukannya jatuh dari pohon. Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."

Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."

Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."

Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari?

Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka. Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas?
Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA? Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = ( F )ather ( A )nd ( M )other, ( I ), ( L )ove, ( Y )ou.

Diterjemahkan dari : HARSH WORDS SPOKEN
disadur dari : riskaworld.com



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

18 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/18/2008 03:52:00 PM | 3 comments

Pelayan yang baik hati

Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam.

"Dapatkan anda memberi kami sebuah kamar disini ?" tanya sang suami.

Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota.

"Semua kamar kami telah penuh," pelayan berkata. "Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya ?

Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini."
Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. "Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja," kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju.

Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, "Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda." Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa. Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut. Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia kesudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit.

"Itu," kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola".

"Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda.

"Saya jamin, saya tidak," kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.

Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

Pelajarannya adalah; perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat, dan anda tidak akan gagal.

"Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu,jika kamu melakukannya." (Yohanes 13:13-17)

"Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan." (Lukas 22:26)

Sumber : Mailinglist
Author : Unknown



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


17 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/17/2008 06:18:00 PM | No comments

PENCARIAN DAN PENEMUAN

Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh.
—1 Korintus 2:10


Baca : 1 Korintus 2:6-16

Bayangkan bila pagi Natal tanpa kertas pembungkus hadiah! Sukacitanya pasti hanya bertahan sebentar, karena sebagian besar serunya Natal adalah rasa ingin tahu akan apa yang ada di dalam kertas pembungkus hadiah itu.

Rupanya Allah menciptakan kita dengan tatanan "normal" yang menyebabkan kita begitu menikmati proses mencari dan menemukan, karena menemukan sesuatu sering terasa lebih menyenangkan daripada memilikinya. Itulah alasannya mengapa kita membungkus hadiah-hadiah kita.

Banyak cerita di dalam Alkitab yang menggunakan konsep ini. Dalam Amsal kita membaca tentang kebijakan: "Dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku." (8:17). Nabi Yeremia menuliskan tentang Tuhan: "Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati" (29:13).

Allah bisa saja menyatakan seluruh kebenaran kepada semua orang sejak awal, tetapi Dia memilih untuk menyatakan diri-Nya secara bertahap (1 Kor. 2:7-8). Kemungkinan hal itu karena kita memang lebih menghargai sesuatu apabila kita harus mencari dan menunggunya.

Allah tidak sedang bermain petak umpet dengan kita. Dia mengizinkan kita menikmati proses pencarian dan penemuan tentang siapakah Dia dan apa yang dilakukan-Nya di jagat raya ini.

Jadi, janganlah menjadi putus asa jika Anda belum mengetahui banyak tentang Allah. Sebaliknya, bersukacitalah pada saat Anda menyingkapkan segala hal baru yang belum Anda temukan. —JAL

Ajariku lebih lagi tentang Yesus,
Kehendak-Nya yang kudus lebih kumengerti;
Roh Allah, yang mengajarku,
Memperlihatkan perkara Kristus padaku. —Hewitt


Tuhan memberikan diri-Nya kepada kita sebagai hadiah yang tidak akan habis-habisnya untuk kita singkapkan.


Sumber : rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

16 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/16/2008 02:45:00 PM | No comments

HIDUP bukanlah sebuah VCD PLAYER

Cerita ini adalah "kisah nyata" yang pernah terjadi di Amerika.

Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain. Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya tergores.

Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul Tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman. Setelah sang ayah tenang kembali, Dia segera membawa anaknya ke rumah sakit.

Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak yang hancur tersebut, tetapi ia tetap gagal. Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, "Papa, aku minta maaf tentang trukmu." Kemudian, ia bertanya, "tetapi kapan jari-jariku akan tumbuh kembali?" Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Renungan cerita di atas.

Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai. Truk dapat diperbaiki. Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki. Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan
perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya. Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan lainnya. Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan ada waktu untuk mencintainya waktu tidak dapat kembali; hidup bukanlah sebuah VCD PLAYER, yang dapat di Backward dan Forward.

HIDUP hanya ada tombol PLAY dan STOP saja.

Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat membayangi kehidupan kita kelak; yang berperan besar dalam kehidupan kita adalah "HATI" yang penuh dengan belas kasih dan cinta kasih. Jadikanlah CINTA KASIH sebagai nafas kehidupan kita yang sesungguhnya.


Sumber : www.santamaria.or.id



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

13 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/13/2008 06:07:00 PM | 1 comment

Si Tukang Cukur

Ada seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".

"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.

"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.

Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,
Adakah yang sakit??,
Adakah anak terlantar??
Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.

Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, "Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."

Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".

"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"

"Tidak!" elak si konsumen.

"Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana ", si konsumen menambahkan.

"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.

" Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

"Cocok!" kata si konsumen menyetujui.

"Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !
Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

Si tukang cukur terbengong !!! Shocked

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. ~ Matius 11:28

Sumber : Friendster Bulletin


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/13/2008 04:55:00 PM | 1 comment

A Room With A View

Two men, both seriously ill, occupied the same hospital room. One man was allowed to sit up in his bed for an hour each afternoon to help drain the fluid from his lungs. His bed was next to the room’s only window.

The other man had to spend all his time flat on his back. The men talked For hours on end. They spoke of their wives and families, their homes, their jobs, their involvement in the military service, where they had been on vacation. And every afternoon when the man in the bed by the window could sit up, he would pass the time by describing to his roommate all the things he could see outside the window.

The man in the other bed began to live for those one-hour periods where his world would be broadened and enlivened by all the activity and color of the world outside. The window overlooked a park with a lovely lake. Ducks and swans played on the water while children sailed their model boats. Young couples walked arm in arm amidst flowers of every color of the rainbow. Grand old trees graced the landscape, and a fine view of the city skyline could be seen in the distance.

As the man by the window described all this in exquisite detail, the man on the other side of the room would close his eyes and imagine the picturesque scene. One warm afternoon the man by the window described a parade passing by.

Although the other man couldn’t hear the band , he could see it in his mind’s eye as the gentleman by the window portrayed it with descriptive words. Then unexpectedly, a sinister thought entered his mind. Why should the other man alone experience all the pleasures of seeing everything while he himself never got to see anything? It didn’t seem fair.

At first thought the man felt ashamed. But as the days passed and he missed seeing more sights, his envy eroded into resentment and soon turned him sour. He began to brood and he found himself unable to sleep. He should be by that window - that thought, and only that thought now controlled his life.

Late one night as he lay staring at the ceiling, the man by the window began to cough. He was choking on the fluid in his lungs. The other man watched in the dimly lit room as the struggling man by the window groped for the button to call for help. Listening from across the room he never moved, never pushed his own button which would have brought the nurse running in. In less than five minutes the coughing and choking stopped along with that the sound of breathing. Now there was only silence–deathly silence.

The following morning the day nurse arrived to bring water for their baths. When she found the lifeless body of the man by the window, she was saddened and called the hospital attendants to take it away. As soon as it seemed appropriate, the other man asked if he could be moved next to the window. The nurse was happy to make the switch, and after making sure he was comfortable, she left him alone. Slowly, painfully, he propped himself up on one elbow to take his first look at the world outside. Finally, he would have the joy of seeing it all himself. He strained to slowly turn To look out the window beside the bed. It faced a blank wall.

The man asked the nurse what could have compelled his deceased room mate had described such wonderful things outside this window. The nurse responded that the man was blind and could not even see the wall. She said, “Perhaps he just wanted to encourage you.”

(author unknown)


Sumber : http://krenungan.org/ 21



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


11 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/11/2008 01:34:00 PM | 1 comment

Perumpamaan Pensil

Pembuat Pensil itu menaruhnya kesamping sebentar, sebelum ia memasukkannya kedalam kotak.

Ada 5 hal yang perlu kau ketahui, katanya pada pensil, sebelum kau kukirim keseluruh dunia. Hendaknya kau mengingat-ingat selalu dan jangan sampai kau lupakan, dan kau bakal berhasil menjadi pensil terhebat.

*PERTAMA
Kau bakal bisa melakukan banyak hal-hal yang hebat, tetapi hanya bila kau mau membiarkan dirimu dipegang dalam tangan seseorang.

*KEDUA
Kau akan menderita tiap kali diruncingkan, tapi kau butuh itu agar bisa menjadi pensil yang lebih baik.

*KETIGA
Kau bakal bisa mengoreksi tiap kesalahan yang mungkin kau lakukan.

*KEEMPAT
Bagian terpenting dirimu tetap adalah apa yang ada didalam.

*KELIMA
Pada tiap permukaan dimana kau dipakai, tinggalkanlah jejakmu. Apapun kondisinya, kau harus terus lanjutkan menulis.

Pensil itu angguk mengerti dan berjanji akan mengingat nasihat tersebut. Dan memasuki kotak yang akan dieksport itu dengan suatu tekad kuat dalam hatinya.

Renungan :

Bertukar tempatlah dengan pensil itu; ingatlah nasihat yang sama tadi dan yakinlah, kaupun pasti akan berhasil menjadi orang terbaik.

*PERTAMA
Kau bakal bisa berbuat banyak hal-hal besar, tetapi hanya apabila kau membiarkan dirimu dipegang dalam tanganNya. Dan mengizinkan orang-orang lain mengaksesmu dengan talenta-talenta milikmu.

*KEDUA
Engkaupun akan menderita saat diruncingkan, yaitu dalam proses melewati macam-macam problem, tapi kau butuh itu agar jadi lebih kuat.

*KETIGA
Kau bakal mampu memperbaiki kesalahan apapun yang mungkin kau lakukan.

*KEEMPAT
Bagian terpenting dari dirimu adalah apa yang ada didalam, yakni hati nuranimu.

*KELIMA
Dalam setiap peristiwa dan lembaran hidup yang kau jalani, kau harus meninggalkan jejakmu. Tidak peduli bagaimanapun situasinya, kau harus tetap melanjutkan tugas-tugasmu. Jadilah garam dan terang bagi dunia.

Dengan mengerti, menghayati dan mengingatnya, marilah kita lanjutkan hidup kita, berbekalkan suatu tujuan untuk memberi arti bagi hidup kita.

sumber : unitedfool.com



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


Posted by Ivan Shurex Posted on 12/11/2008 01:12:00 PM | No comments

RITUAL DOA

Komunikasi Langsung Dengan Allah Bapa di Surga

"Maka naiklah asap kemenyan bersam-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah." Wahyu 8:4

Allah sangat menghargai doa. Sebab hanya melalui doa Allah dapat berkomunikasi dengan kita. Tanpa doa hubungan kita dengan Allah terputus.

Tetapi doa sendiri sepertinya tidak lagi menjadi bagian yang penting dalam kehidupan rohani kita. Kita menganggap doa itu suatu kewajiban yang harus dilaksanakan, sebab kalau tidak.... kita akan berpikiran bahwa dengan muka merah Allah akan mendatangi dan menghukum kita. Dahulu, saat masih kanak-kanak, kalau tidak berdoa sebelum makan, khawatir nasinya keluar masih tetap jadi nasi. Jadi berdoa membawa kita pada ketakutan.

Tetapi setelah dewasa kita sadar bahwa doa bukan sekedar KEWAJIBAN, tetapi juga sarana untuk berkomunikasi dengan Allah dan alat untuk membawa kita semakin INTIM denganNya. Banyak orang Kristen yang frustasi dengan kehidupan doanya. Mereka merasa doa-doa mereka tertiup angin, sehingga jawabannya tidak kunjung tiba. Anda pasti merasakan hal yang demikian manakala permintaan Anda tidak datang-datang juga. akhirnya Anda patah semangat lalu tidak berdoa lagi. Itu salah !

Dalam kitab Wahyu ini tuhan berkenan menyingkapkan suatu rahasia. Dan Alkitab menyebutkan tentang asap kemenyan yang dipersembahkan bersama doa-doa orang kudus. Ayat 4 seperti pada pembacaan di atas disebutkan tentang naiknya asap tersebut BERSAMA doa-doa orang kudus lainnya.

Tidak ada doa yang sia-sia ! Asalkan Anda melakukannya dengan iman dan segenap hati Anda, maka doa itu adalah asap yang akan naik ke tahta Allah. Jauh sebelum kitab Wahyu ditulis, Daud sudah mengungkapkan kebenaran ini, "Biarlah doaku adalah bagiMu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang." (Mazmur 141:2)

Anda lihat, doa bukan sekedar perkara meminta saja, tetapi suatu persembahan yang menyenangkan hati Tuhan. Apabila Anda berdoa yakinlah bahwa Anda sedang melakukan ritual penting dalam peribadahan Anda kepada Allah. Di dalam Perjanjian Lama seluruh acara peribadahan bangsa Israel dilakukan dengan segenap hati. Maka Anda juga harus melakukan hal yang sama. Ketika Anda sedang berada di dalam kamar dan berlutut, lakukanlah dengan segenap hati. Sebab Anda sedang membakar ukupan yang berisi doa-doa Anda. Jadi janganlah mengira bahwa doa itu bernilai rendah. Jangan anggap enteng perihal doa ini.

Renungan:
Mulailah giat untuk berdoa. Semakin banyak Anda berdoa, maka Anda semakin sering mempersembahkan ukupan kepada Allah. Dan saya yakin Anda akan berubah menjadi manusia yang mencerminkan rupa Kristus.

DOA ADALAH RITUAL MEMPERSEMBAHKAN KORBAN UKUPAN KEPADA ALLAH.

sumber : renungan.com


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


06 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/06/2008 05:21:00 PM | No comments

Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma

"Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma"


Bacaan :
[Yes 30: 19-21.23-26; Mat 9:35-10:1.6-8]

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma."(Mat 9:35-10:1.6-8)

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hidup kita adalah anugerah Tuhan, yang kita terima secara cuma-cuma melalui orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing, maka hemat saya segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini tidak lain adalah juga anugerah Tuhan yang kita terima secara cuma-cuma melalui orang-orang yang telah berbuat baik dan mengasihi kita. "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma", demikian sabda Yesus. Mungkin tidak ada atau jarang yang memberikan dengan cuma-cuma apa yang telah kita terima, maka baiklah sabda ini kita hayati secara lain, yaitu jika kita belajar atau bekerja hendaknya sungguh-sungguh, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tubuh.

Dengan kata lain marilah di masa Adven ini kita tingkatkan dan perdalam ‘lakutapa atau matiraga’ secara positif, yaitu dengan setia dan taat pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Kepada para pelajar atau mahasiswa yang sedang belajar kami harapkan sungguh belajar sehingga terampil dalam belajar dan dengan demikian akan berhasil atau sukses dalam belajar, dan kemudian siap sedia untuk menjadi “pekerja-pekerja yang handal”., sedangkan kepada para pekerja, entah pekerjaan, tugas atau jabatan apapun, kami harapkan untuk sungguh bekerja sehingga terampil dalam bekerja.

Percayalah dan imanilah jika kita terampil dalam belajar maupun bekerja, maka kita juga akan semakin menerima lebih banyak aneka macam anugerah Tuhan dalam berbagai bentuk. Hendaknya, entah selama belajar atau bekerja, senantiasa menghayati semangat persaudaraan sejati, solidaritas dan keberpihakan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan, yang bodoh atau kurang beruntung, dst..

· “TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak. Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang besar, apabila menara-menara runtuh”(Yes 30:23-25), demikian hiburan yang penuh harapan dari Yesaya.

Apa yang diimpikan Yesaya tersebut kiranya juga akan menjadi nyata dalam diri kita, jika kita sungguh belajar atau bekerja sesuai dengan tugas dan pengutusan kita masing-masing, sesuai dengan aneka tatanan dan aturan hidup yang terkait dengannya. Maka baiklah di hari-hari awal masa Adven ini kita mawas diri aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. “Jer basuki mowo beyo” (= Untuk hidup bahagia, damai sejahtera harus berjuang dan berkorban), demikian kata pepatah Jawa. Rasanya untuk setia dan taat terhadap aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, kita harus berani berjuang dan berkorban.

Apa yang diterima atau diperoleh dengan dan dalam perjuangan dan pengorbanan sejati sungguh merupakan kebahagiaan dan kenikmatan sejati yang tak tergoyahkan dan tahan lama atau bahkan sampai mati. Maka jauhkan aneka bentuk budaya atau cara hidup dan cara bertindak ‘instant’. Ingat dan renungkan juga pepatah ini :”Berrakit-rakit ke hulu, berrenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”, jangan dibalik atau terjadi "bersenang-senang dahalu bersakit-sakit kemudian".


“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.” (Mzm 147:3-6)


Jakarta, 6 Desember 2008


Sumber : Romo Maryo



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


05 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/05/2008 01:40:00 PM | No comments

Buta dan Pelita

Seorang pelajar yang karena ilmunya, menghina orang yang tidak pernah bersekolah. Adalah sama seperti orang yang buta dalam kegelapan, menenteng pelita yang tidak bisa dilihatnya.


di kirim oleh : shane sunpei

03 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/03/2008 03:11:00 PM | No comments

Membahagiakan Orang Lain

Ada seorang pemuda terkena penyakit yang mengharuskan usus kecilnya dipotong sepanjang satu meter. Setelah operasi dilakukan, ternyata penyakit yang dideritanya tidak juga hilang. Operasi itu dilakukan sekedar membuang bagian ususnya yang sudah rusak.

Selama proses penyembuhan dari operasi, pemuda itu harus berpuasa selama 10 hari. Tidak makan dan tidak minum. Dia mendapatkan cairan tubuhnya hanya dari infus. Sesudah itu barulah dia bisa menerima minuman dan setelah beberapa hari kemudian mulai bisa makan makanan cair.

Selama berpuasa setelah operasi, saat masih terbaring di rumah sakit, istrinya menghubungi saya dan menceritakan keadaan suaminya. Lewat istrinya saya menganjurkan agar pemuda itu mengembangkan pikiran yang penuh cinta kasih.

Setelah keluar dari rumah sakit, pemuda itu datang menemui saya. Dia mengatakan bahwa saat terbaring di rumah sakit - saat merasakan kesakitan yang besar dan merasa sedih karena ternyata penyakitnya tidak bisa disembuhkan - sulit bagi dirinya untuk mengembangkan pikiran penuh cinta kasih.

Dia berkata "Saya sendiri sangat membutuhkan pertolongan. Keadaan saya sangat buruk. Bagaimana mungkin saya bisa mengembangkan pikiran cinta kasih? Bukankah saya sendiri yang sebenarnya harus dikasihani?"

Saya berkata, "Sejak Anda mulai memikirkan diri sendiri, sejak Anda mulai menuntut, maka pada saat itulah Anda mulai merasa menderita. Sebaliknya, sejak Anda mulai memikirkan orang lain, mengharapkan orang lain bahagia, justru pada saat itulah Anda mulai merasa bahagia. Dengan mengembagnkan pikiran penuh cinta kasih, saya berharap semoga penderitaan yang Anda rasakan bisa berkurang."

Pemuda-pemudi ketika masih berpacaran, mereka sangat memperhatikan pasangannya. Mereka berusaha saling membahagiakan pasangannya. Oleh karena ingin membahagiakan pasangannya, perasaan mereka dipenuhi kebahagiaan. Tetapi setelah menikah, biasanya mereka mulai banyak berharap kepada pasangannya.

Mereka menuntut pasangannya untuk ini dan itu, menuntut pasangannya untuk bersikap begini dan begitu. Ketika mereka mulai memikirkan diri sendiri dan mulai banyak menuntut, pada saat itulah penderitaan mulai datang.

Penderitaan datang saat kita menuntut orang lain untuk membahagiakan kita. Sebaliknya, kebahagiaan datang justru saat kita ingin membahagiakan orang lain.

(Dikutip dari buku : Bersahabat Dengan Kehidupan – Sri Pannyavaro)
sumber : kaskus.us



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


02 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/02/2008 02:24:00 PM | No comments

Bersyukur setiap saat

Buku Telepon

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang Pak Guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.

"Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah disini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuat kalian bahagia ?. Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini ?"

Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara lagi dari Pak Guru, "Ya, ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidup kalian ..."

Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan Pak Guru itu menunjuk pada seorang murid.

"Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui ? Berbagilah dengan teman-temanmu ..."

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, "Seminggu yang lalu, adalah saat-saat yang sangat besar buat saya. Orang tua saya, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang saya impikan selama ini."

Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu. "Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu !"

Pak Guru tersenyum.
Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya.
Maka, terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir.

Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil.
Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri.
Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung.

Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara,hingga terdengar suara dari arah belakang.

"Pak Guru ... Pak, saya belum bercerita."

Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil.

Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

"Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua," ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu.

"Apa hal terbesar yang kamu dapatkan ?" ujar Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

"Keberhasilan terbesar buat saya, dan juga buat keluarga saya adalah ... saat nama keluarga kami tercantum dalam Buku Telepon yang baru terbit 3 hari yang lalu."

Sesaat senyap.

Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu.
Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar
cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, "Ha ? Saya sudah sejak lahir menemukan nama keluarga saya di Buku Telepon.

Buku Telepon ?
Betapa menyedihkan ... hahaha ..."

Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, "Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu ?"

Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan.
Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan.

"Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak ..."

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara.

"Ya, memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah saya dapatkan.
Dulu, Papa saya bukanlah orang baik-baik.
Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah.
Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi."

Matanya tampak menerawang.
Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan.

" Tapi, kini Papa telah berubah.
Dia telah mau menjadi Papa yang baik buat keluarga saya.
Sayang, semua itu tidak butuh waktu dan usaha.

Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja. Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Papa saya.

Dan kini, Papa berhasil.
Bukan hanya itu, Papa juga membeli sebuah rumah kecil buat kami.
Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi."

"Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluarga saya ada di Buku Telepon?

Itu artinya, saya tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan Papa untuk terus berlari. Itu artinya, saya tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang saya sayangi.

Itu juga berarti, saya tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, saya, dan juga keluarga saya, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya."

Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir.

" Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang saya dapatkan nanti ..."

Kelas terdiam.
Pak Guru tersenyum haru.
Murid-murid tertunduk.

Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan.

Mereka juga belajar satu hal :
" Bersyukurlah dan berbahagialah setiap kali kita mendengar keberhasilan orang lain.Sekecil apapun ...Sebesar apapun ..."


sumber : pentholdjkn.multiply.com

Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku. ~ Mzm 118:21

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. ~ Mzm 139:14


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


01 December 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 12/01/2008 05:56:00 PM | No comments

Malaikat Pelindung

Suatu ketika ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka ia bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, engkau akan mengirimkan aku ke bumi. Tapi aku takut, aku masih sangat kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku disana?”

Tuhanpun menjawab, “Diantara semua malaikat-Ku, Aku akan memilih seseorang yang khusus untukmu, dia akan merawat dan mengasihimu.”

Si kecil bertanya lagi, “Tapi disini disurga ini aku tak berbuat apa-apa, kecuali tersenyum dan bernyanyi. Semua itu sudah cukup untuk membuatku bahagia.”

Tuhanpun menjawab, “Taka apa, Malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang, dan itu semua pasti akan membuatmu bahagia.”

Namun Si kecil bertanya lagi, “Bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, jika aku tak tahu bahasa yang mereka pakai?

Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu itu akan membisikkanmu kata-kata yang indah, dia akan selalu sabar berada disampingmu. Dan dengan kasihnya dia akan mengajarkanmu berbicara dengan bahasa manusia.

Si kecil bertanya lagi, “Lalu bagaimana jika aku ingin berbicara padamu Ya Tuhan?”

Tuhanpun kembali menjawab, “Malaikatmu itu akan membimbingmu, dia akan menengadahkan tangannya bersamamu dan mengajarkanmu untuk berdo’a.”

Lagi-lagi Si kecil menyelidik, “Namun aku mendengar disana banyak sekali orang jahat, siapakah nanti yang akan melindungiku?”

Tuhanpun menjawab, “Tenang, malaikatmu akan terus melindungimu walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering akan melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu.”

Namun Sikecil kini malah menjadi sedih, “Tuhan tentu aku akan menjadi sedih jika tak melihat-Mu lagi.”

Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu akan selalu mengajarkan keagungan-Ku, dan dia akan mendidikmu bagaimana agar selalu patuh dan taat kepada-Ku. Dia akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Walau begitu aku akan selalu ada disisimu.”

Hening. Kedamaianpun kembali menerpa surga. Suara-suara panggilan dari bumi mulai sayup-sayup terdengar. “Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang, tolong sebutkan nama dari malaikat pelingdungku itu…”

Tuhan kembali menjawab, “Nama malaikatmu itu tak begitu penting… Hanya saja kamu akan sering menyebutnya dengan panggilan: Ibu…”


Oleh: Tidak Diketahui
sumber : heartnsouls.com




Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


Posted by Ivan Shurex Posted on 12/01/2008 05:45:00 PM | No comments

MENANTIKAN SUKACITA

Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.
—Mazmur 30:6


Baca: 2 Korintus 4:8-18

Sebagian besar hidup kita berpusat pada masa-masa penantian. Kita akan sangat merasa kehilangan jika pada suatu pagi kita bangun dan tiba-tiba mendengar pengumuman tak terduga: "10 menit lagi Natal!" Sukacita dalam banyak peristiwa hidup dialami karena kita memiliki waktu untuk menantikannya.

Hari Natal, acara liburan, perjalanan misi, pertandingan olahraga. Semuanya menjadi semakin bernilai disebabkan oleh jam-jam yang kita habiskan untuk menanti datangnya saat-saat itu—semua kesenangan, tantangan, dan kegembiraan yang akan datang dari pengalaman itu silih berganti memenuhi benak kita.

Saya terpikir akan nilai dari sebuah penantian dan perasaan menggebu-gebu yang menyertainya di dalam hati manusia saat saya membaca Mazmur 30:6, "Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar soraksorai." Sang pemazmur sedang menyatakan suatu pemikiran yang memberikan penghiburan, yaitu bahwa kesusahan duniawi hanya terasa sesaat saja jika dibandingkan dengan sukacita yang kita nantikan akan terjadi di surga hingga selamaselamanya. Rasul Paulus menuliskan pemikiran yang serupa dalam 2 Korintus 4:17. Dalam ayat tersebut, kita menemukan bahwa "penderitaan ringan" akan menuntun kita pada kemuliaan kekal.

Untuk saat ini, sebagian dari kita yang berdukacita dapat terus memiliki pengharapan daripada tenggelam dalam keputusasaan dan memiliki sikap hati yang menantikan daripada terus berduka. Mungkin saja hati kita mengalami kelamnya malam hari, tetapi di hadapan kita terbentang fajar kekekalan. Dan seiring fajar itu, Allah menjanjikan sukacita yang tak akan pernah berakhir dari pagi surgawi. —JDB

Kesengsaraan, dukacita, dan penderitaan
Tidak lain adalah batu loncatan surga
Menuju hari esok yang cerah dan penuh sukacita
Tempat di mana tidak ada lagi kesedihan. —Glass

Kita mampu menghadapi pencobaan dalam hidup ini karena adanya janji sukacita di kehidupan mendatang.


Sumber : rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


24 November 2008

Posted by Klinik Rohani Posted on 11/24/2008 10:25:00 AM | 1 comment

Memberi dari Kekurangan

"Janda ini memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."


Bacaan Hari ini :
[Why 14:1-3.4b-5; Luk 21:1-4]

"Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."(Luk 21:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Andreas Dung Lac, imam dan kawan-kawannya, martir Vietnam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Dalam tradisi Yahudi dan kiranya diteruskan oleh orang Kristen atau Katolik ada kebiasaan yang disebut persembahan/persepuluhan, yaitu mempersembahkan sepersepuluh (10%) dari pendapatan untuk keperluan Gereja, hidup para petugas Gereja maupun karya-karya pelayanan pastoral Gereja. Orang kaya mempersembahkan sepersepuluh (10%) dari pendapatannya berarti masih tersisa 90% dan kiranya dalam jumlah nominal cukup besar; sementara itu jika orang miskin mempersembahkan pendapatan sehari rasanya secara nominal lebih kecil dari persembahan 10% dari orang kaya, namun secara persentase pendapatan lebih besar karena mempersembahkan 100% pendapatannya alias ‘seluruh nafkahnya atau hidupnya’.

Maka Yesus mengatakan bahwa janda miskin lebih banyak memberi persembahan dari pada orang-orang kaya. Andreas Dung Lac dan kawan-kawan awam lainnya, para martir Vietnam, yang kita kenangkan hari ini telah mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dengan melayani sesamanya setiap hari. Maka baiklah kita meneladan para martir yang kita kenangkan hari ini atau janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya/hidupnya. Memang kiranya mustahil jika kita menyerahkan seluruh pendapatan kepada Gereja atau kepentingan umum, maka baiklah segala usaha dan kerja kita senantiasa terarah pada kesejahteraan umum, bukan hanya diri sendiri atau kelompoknya sendiri.

Mereka yang memiliki pembantu atau pegawai/buruh alias para pengusaha saya ajak untuk menjamin kesejahteraan mereka bersama keluarganya selayaknya, sebaliknya mereka yang merasa miskin dan berkekurangan hendaknya senantiasa juga berbuat baik kepada sesamanya dari kelemahan dan kekurangannya, dan mungkin dengan mempersembahkan tenaga demi sesamanya. “Memberi dari kelimpahan atau kelebihan” berarti membuang sampah alias menjadikan orang lain/yang diberi ‘tempat sampah’ dan dengan demikian melecehkan atau merendahkan yang lain. “Memberi dari kekurangan” itulah persembahan yang sejati dan benar.

· "Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela" (Why 14:4b-5) “Di dalam mulut tidak terdapat dosa dan tidak bercela”, itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua sebagai orang beriman. Memang apa yang keluar melalui mulut dengan kata-kata merupakan cermin apa yang ada di dalam hati alias mencerminkan jati diri pribadi yang bersangkutan. Kata-kata yang keluar dapat menyakitkan atau menimbulkan kebencian, tetapi juga dapat menawan, memikat dan mempesona. Yang menawan, memikat dan mempesona pun juga belum tentu benar dan dapat dusta sebagaimana dilakukan oleh para penjahat.

Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk tidak berdusta alias jujur dalam berkata-kata. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Marilah kita jujur terhadap diri sendiri, sesama maupun Tuhan. Jujur merupakan nilai atau keutamaan nurani, artinya bernilai pada dirinya sendiri: dengan menghayati nilai atau keutamaan kejujuran orang akan bermutu dalam hal kepribadian, sehingga ia menarik dan memikat bagi siapapun yang bergaul dengannya. Memang pertama-tama dan terutama kita harus jujur terhadap diri sendiri, dan kemudian baru dapat jujur terhadap sesama.

Jika kita bertindak tidak jujur mungkin untuk sementara tidak ketahuan orang lain, namun pada waktunya akan ketahuan juga, sebagaimana dikatakan dalam pepatah “sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh juga”. Entah kita jujur atau tidak jujur Tuhan tahu segalanya dan kita tidak mungkin menyembunyikan diri dari Tuhan. Memang ada rumor dalam bahasa Jawa “jujur kojur” (= jujur hancur), tetapi sadari dan hayati bahwa kehancuran tersebut merupakan ‘korban persembahan kepada Allah’, sebagaimana telah dihayati oleh Yesus, Tuhan dan Guru kita.


“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai."Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia” (Mzm 24:1-5).


Jakarta, 24 November 2008

Sumber : Romo Maryo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


22 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/22/2008 04:52:00 PM | 1 comment

A Letter to a ‘Silent’ Brother

Dear Patrick,

I was then an only child
who had everything I could ever want. But even a pretty,
spoiled and rich kid could get lonely once in a while
so when Mom told me that she was pregnant,
I was ecstatic.
I imagined how wonderful you would be
and how we’d always be together
and how much you would look like me.
So, when you were born, I looked at your tiny hands and feet
and marveled at how beautiful you were.
We took you home and I showed you proudly to my friends.
They would touch you and sometimes pinch you,
but you never reacted.
When you were five months old,

some things began to bother Mom.
You seemed so unmoving and numb,
and your cry sounded odd — almost like a kitten’s.

So we brought you to many doctors.
The thirteenth doctor who looked at you quietly said
you have the “cry du chat” (pronounced kree-do-sha) syndrome,
‘cry of the cat’ in French.
When I asked what that meant,
he looked at me with pity and softly said,
“Your brother will never walk nor talk.”
The doctor told us that it is a condition
that afflicts one in 50,000 babies,
rendering victims severely retarded.
Mom was shocked and I was furious.
I thought it was unfair. When we went home,
Mom took you in her armsand cried.
I looked at you and realized that word will get around
that you’re not normal.
So to hold on to my popularity,
I did the unthinkable … I disowned you.
Mom and Dad didn’t know but
I steeled myself not to love you as you grew.

Mom and Dad showered you with love
and attention and that made me bitter.
And as the years passed,
that bitterness turned to anger, and then hate.
Mom never gave up on you.
She knew she had to do it for your sake.
Every time she put your toys down,
you’d roll instead of crawl.
I watched her heart break every time she took away your toys
and strapped your tummy with foam so you couldn’t roll.
You’d struggle and you’d cry in that pitiful way,
the cry of the kitten. But she still didn’t give up.
And then one day,
you defied what all your doctors said — you crawled.
When Mom saw this, she knew that you would eventually walk.
So when you were still crawling at age four,
she’d put you on the grass with only your diapers
on knowing that you hate the feel of the grass your skin.
Then she’d leave you there.
I would sometimes watch from the window
and smile at your discomfort.
You would crawl to the sidewalk and Mom would put you back.
Again and again, Mom repeated this on the lawn.
Until one day,
Mom saw you pull yourself up and toddle off the grass
as fast as your little legs could carry you.
Laughing and crying, she shouted for Dad and I to come.
Dad hugged you crying openly.
I watched from my bedroom window this heartbreaking scene.
Over the years, Mom taught you to speak, read and write.
From then on, I would sometimes see you walk outside,
smell the flowers, marvel at the birds, or just smile at no one.
I began to see the beauty of the world around me,
the simplicity of life and the wonders of this world,
through your eyes.
It was then that I realized that you were my brother
and no matter how much I tried to hate you, I couldn’t,
because I had grown to love you.
During the next few days,
we again became acquainted with each other.
I would buy you toys and give you all the love that
a sister could ever give to her brother.
And you would reward me by smiling and hugging me.

But I guess, you were never really meant for us.
On your tenth birthday, you felt severe headaches.
The doctor’s diagnosis — leukemia.Mom gasped and Dad held her,
while I fought hard to keep my tears from falling.
At that moment, I loved you all the more.
I couldn’t even bear to leave your side.
Then the doctors told us that your only hope was
to have a bonemarrow transplant.
You became the subject of a nationwide donor search.
When at last we found the right match, you were too sick,
and the doctor reluctantly ruled out the operations.
Since then, you underwent chemotherapy and radiation.

Even at the end, you continued to pursue life.
Just a month before you died,
you made me draw up a list of things you wanted to do
when you got out of the hospital.
Two days after the list was completed,
you asked the doctors to send you home.
There, we ate ice cream and cake, run across the grass,
flew kites, went fishing, took pictures of one another
and let the balloons fly.

I remember the last conversation that we had.
You said that if you die, and if I need of help,
I could send you a note to heaven
by tying it on the string any a balloon and letting it fly.
When you said this, I started crying. Then you hugged me.
Then again, for the last time, you got sick.
That last night, you asked for water,
a back rub, a cuddle.
Finally, you went into seizure with tears streaming down your face.
Later, at the hospital,
you struggled to talk but the words wouldn’t come..
I know what you wanted to say.
“I hear you,” I whispered.
And for the last time, I said,
“I’ll always love you and I will never forget you.
Don’t be afraid. You’ll soon be with God in heaven.”

Then, with my tears flowing freely,
I watched the bravest boy
that I had ever known finally stop breathing.
Dad, Mom and I cried until
I felt as if there were no more tears left.
Patrick was finally gone, leaving us behind.

From then on, you were my source of inspiration.
You showed me how to love life and live life to the fullest.
With your simplicity and honesty,
you showed me a world full of love and caring.
And you made me realize
that the most important thing in this life is
to continue loving without asking
why or how and without setting any limit.
Thank you, my little brother, for all these.

Your Sister

Sumber : http://krenungan.org/ 21


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


21 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/21/2008 01:38:00 PM | No comments

Tidak hanya Jari

Aku tidak hanya menunjukkan jalan dengan jari saja, sebaliknya, dengan sikap menghormat, merentangkan lengan dengan pantas, aku akan menunjukkan jalan ke depan.


di kirim oleh : shane sunpei

14 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/14/2008 11:01:00 AM | 9 comments

Cinta Kupu-kupu

Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia.

Mereka saling mengasihi satu sama lain Namun pada suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tidak sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang perempuan menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-memanggil kekasih yang tidak sadar sedikitpun.

Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan Agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari.

Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur seperti dulu, sedangkan si perempuan telah berubah menjadi pucat pasi dan lesu tidak terkira, namun ia tetap dengan susah payah bertahan dan akhirnya pada suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan perempuan yang setia dan teguh itu, lalu Ia memutuskan memberikan kepada perempuan itu sebuah pengecualian kepada dirinya. Tuhan bertanya kepadanya "Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menukarnya?". Si perempuan tanpa ragu sedikitpun menjawab "Ya".

Tuhan berkata "Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu harus berjanji menjelma menjadi kupu-kupu selama 3 tahun. Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?". Si perempuan terharu setelah mendengarnya dan dengan jawaban yang pasti menjawab "saya bersedia!".

Hari telah terang. Si perempuan telah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Ia mohon Diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara dengan seorg dokter. Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu.

Dengan di sekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri. Beberapa hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak bahagia. Ia mencari keberadaan sang perempuan pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu sebenarnya sang perempuan telah pergi kemana.

Sang lelaki sepanjang hari tidak makan dan istirahat terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih, namun sang perempuan Yang telah berubah menjadi kupu-kupu bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya? Hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam-diam. Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut lalu terakhir kali ia terbang dan hinggap di atas bahu sang lelaki.

Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya. Namun tubuhnya yang kecil dan lemah benar-benar tidak boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat di dengar oleh kupu-kupu itu sendiri dan mau tidak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yang jauh dengan membawa harapan.

Dalam sekejap telah tiba musim semi yang kedua, sang kupu-kupu dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yang lama di tinggalkannya. Namun di samping bayangan yang tak asing lagi ternyata telah berdiri seorang perempuan cantik. Dalam sekilas itu sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa.Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri. Lebih tidak percaya lagi dengan omongan yang di bicarakan banyak orang. Orang-orang selalu menceritakan ketika hari natal, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter perempuan itu. Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka dan tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia seperti dulu kala .

Sang kupu-kupu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa perempuan itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yang pernah di milikinya dahulu dalam sekejap tokoh utamanya telah berganti seorang perempuan lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa.

Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dengan perempuan itu, ia dan suara tawa bahagianya sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir, karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu-kupu telah terbang berlalu. Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini.

Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si perempuan, mencium lembut wajah perempuannya sendiri. Sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu.

Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir dan pada saat hari yang terakhir, kekasih si kupu-kupu melaksanakan pernikahan dengan perempuan itu.

Dalam kapel kecil telah dipenuhi orang-orang. Sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yang berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan dengan mengatakan "saya bersedia menikah dengannya!". Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan perempuan itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu.

Dengan pedih hati Tuhan menarik napas "Apakah kamu menyesal?". Sang kupu-kupu mengeringkan air matanya "Tidak". Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan "Besok kamu sudah dapat kembali menjadi dirimu sendiri". Sang kupu-kupu menggeleng-gelengkan kepalanya "Biarkanlah aku menjadi kupu-kupu seumur hidup".

Ada beberapa kehilangan merupakan takdir. Ada beberapa pertemuan adalah yang tidak akan berakhir selamanya. Mencintai seseorang tidak mesti harus memiliki, namun memiliki seseorang maka harus baik-baik mencintainya.


Sumber : conectique.com


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

12 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/12/2008 01:06:00 PM | No comments

WILAYAH BEBAS GOSIP

Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam. —Amsal 25:18


Baca: Amsal 25:8-18

Di banyak kantor, Anda dapat dipecat karena bergosip. Menurut survey di tahun 2002, rata-rata karyawan bergosip selama 65 jam dalam setahun. Sebuah perusahaan di Chicago memutuskan untuk menjadi "wilayah bebas gosip". Para karyawan tidak boleh membicarakan hal-hal buruk tentang rekanrekan kerjanya secara sembunyi sembunyi. Jika ada yang tertangkap basah bergosip, ia akan kehilangan pekerjaannya.

Sebuah lembaga pelayanan bagi orang-orang yang bekerja di dunia hiburan menerapkan langkah alternatif untuk mengatasi gosip. Mereka melawannya dengan doa. Alih-alih membicarakan keburukan orang-orang terkenal yang sedang bermasalah karena keputusan mereka yang salah, pelayanan ini mendorong banyak orang untuk berdoa bagi mereka.

Salah satu dari perintah-perintah Allah bagi umat-Nya adalah "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu" (Kel. 20:16). Walaupun hal ini terutama mengacu pada kesaksian dusta di pengadilan, gosip dapat juga termasuk dalam perintah ini karena gosip melanggar hukum yang meminta kita untuk memiliki kasih terhadap sesama kita. Amsal menggunakan bahasa yang keras untuk menggambarkan dampak dari gosip yang keluar dari mulut kita. Gosip itu seperti "gada, atau pedang, atau panah yang tajam" terhadap sesama (25:18).

Gosip memuaskan sifat alami kita untuk merasa lebih baik daripada orang lain, merasa lebih disukai atau lebih diterima oleh orang lain. Akibatnya, mengatasi gosip dalam kehidupan pribadi kita dapat menjadi sebuah tantangan. Namun, bila kita memilih untuk mengasihi melalui doa, hidup kita dapat menjadi wilayah bebas gosip. —AMC

Tuhan, ampuni kami karena telah berkata-kata dengan ceroboh
tentang orang lain untuk membuat diri kami tampak lebih baik.
Tolong kami untuk berpikir sebelum berbicara. Ajarlah kami
untuk berkata-kata dengan penuh kasih. Amin.


Anda tidak dapat pernah membenarkan gosip.

Sumber : rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


10 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/10/2008 01:00:00 PM | No comments

Anjing Yang Rakus

Ada seekor anjing yang terasa bingung saking laparnya, seharian penuh tidak mendapatkan makanan. Saat senja tiba, akhirnya dengan penuh gairah ia melihat sepotong daging yang lezat di atas tanah, ia bergegas menggondol daging itu dan berlari ke tempat tinggalnya.

Dalam hati dia merenung

"sungguh beruntung sekali, di luar dugaan bisa mendapatkan daging besar ini, saya harus menikmati dengan sepuasnya."

Sambil berjalan ia berpikir, dan tanpa disadari tiba di sebuah sungai, jika sudah melewati jembatan kecil berarti tempat tinggalnya sudah dekat, berpikir sampai di situ ia lantas menggigit lebih erat lagi daging itu, dan berjalan di atas jembatan penyeberangan. Ia berjalan dengan sangat hati-hati, ketika sampai di tengah jembatan, tanpa sengaja ia memandang ke sungai, dan begitu melihat ke sungai bukan main kagetnya, ia melihat ada seekor anjing di sungai itu, menggondol sepotong daging yang besar dan sedang menatapnya.

Dalam hati ia mulai berpikir

"wah, daging yang digondolnya itu tampaknya lebih besar dibanding daging saya ini! Jika saya sedikit lebih galak terhadapnya, siapa tahu mungkin ia akan melepaskan daging itu dan lari!"

Makin dipikir ia semakin gembira, lalu mulai galak terhadap anjing di sungai itu. Namun, anehnya, anjing itu sepertinya tidak takut sedikit pun terhadapnya. Ia memelototkan mata, dan anjing itu juga memelototkan matanya; ia berbalik, anjing itu juga berbalik, ia menghentakkan kaki, anjing itu juga ikut menghentakkan kakinya.

Akhirnya, ia benar-benar marah, dalam hati berpikir

"lebih baik aku menggigitnya, ia pasti akan lari, dengan begitu aku bisa mendapatkan daging itu,"

lalu, ia membuka moncongnya dan menggonggong dengan keras

"Auh. auh.auh..."

Begitu ia membuka moncongnya, daging dalam gigitannya lalu tiba-tiba terjatuh ke sungai, menghancurkan tubuh anjing yang berada di sungai itu, dan dalam sekejap tenggelam di dalam air lenyap tak berbekas. Percikan air yang dalam menghancurkan semua mimpi si anjing yang rakus ini, dan ia baru menyadari bahwa ternyata anjing itu adalah bayangan dirinya dalam air. Lalu dengan sedih ia menangis "kalau tahu begini aku tidak akan sedemikian rakus, namun kini, saya harus menahan lapar lagi, ke mana aku harus mencari makan?"

Banyak orang ingin bisa hidup dengan lebih baik, harus mendapatkan lebih banyak, maka disadari atau tidak dapat mencelakakan kepentingan orang lain, tidak puas dengan apa yang sudah diperolehnya. Bahkan ada yang tak segan-segan merampas barang milik orang lain. Anjing yang rakus ini demi untuk mendapatkan sepotong daging lebih banyak, malah kehilangan makanan lezatnya, lantas apa yang hilang pada manusia yang rakus? Persaudaraan, persahabatan, hati nurani atau ketenangan hati? Ya, ini semua baru merupakan harta benda yang paling berharga dalam kehidupan! Hargailah semua yang kita miliki, tidak memaksakan sesuatu yang tidak bisa diperoleh, jangan karena rakus lantas malah kehilangan sesuatu yang sudah ada. "Kalau memang milik kita, pasti akan kita miliki, kalau bukan jangan memaksakan kehendak", orang yang tahu menikmati hidup apa adanya, itulah orang yang benar-benar kaya.

Oleh: Tidak Diketahui
sumber : heartnsouls.com



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


08 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/08/2008 04:59:00 PM | No comments

Allah dan Mamon

"Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara-perkara besar”.


Baca : (Flp 4:10-19; Luk 16:9-15)

“Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah”(Luk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah menghasilkan aneka alat atau instrument yang sangat kecil dan penting, antara lain yang terkait dengan serat optic. Apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari juga perkara kecil dan sederhana, misalnya: makan, minum, tidur, istirahat, omong-omong, duduk bersama dengan mesra, dst.. Dalam hal makan, minum dan tidur misalnya, jika orang mengalami kesulitan dalam hal ini kiranya ia juga akan mengalami kesulitan yang lebih besar terhadap hal-hal besar, sulit dan berbelit-belit.

Maka marilah kita dengan rendah hati dan bekerja keras untuk setia dalam perkara-perkara kecil, pekerjaan tugas yang kecil dan sederhana. Dengan kata lain marilah kita sungguh hidup mendunia, terlibat dan berparsipasi dalam seluk-beluk dunia mulai dari yang kecil dan sederhana; mencari dan mengusahakan kesucian hidup dengan mendunia. Kita tidak dapat memisahkan hal-hal duniawi atau Mamon dari Allah, dan mungkin hanya dapat membedakan. Sebagai orang beriman kita menerima tugas perutusan dari Allah : "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."(Kej 1:28)

Bukankah untuk ‘beranak cucu’ maupun menguasai ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan segala binatang yang merayap di bumi kita harus setia pada perkara-perkara kecil dan sederhana? Memang dalam hidup sehari-hari perkara-perkara kecil dan sederhana itu pada umum diurus atau dikelola dan dikerjakan oleh orang-orang kecil dan sederhana juga, para buruh atau pembantu rumah tangga; namun kiranya seperti ketika pada masa Liburan Lebaran/Idul Fitri yang baru saja berlalu kita semua menyadari betapa pentingnya perkara-perkara kecil dan sederhana, yang kita butuhkan dalam hidup kita sehari-hari.

• “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:11b-13), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, inilah kiranya yang juga layak menjadi pegangan atau acuan hidup dan kesibukan pelayanan kita.

Tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman tidak akan terlepas dari aneka perkara, dan semakin tumbuh berkembang berarti semakin banyak menghadapi perkara, entah besar atau kecil.. Kita imani dan hayati bahwa pertumbuhan dan perkembangan kita karena dan oleh Tuhan, maka hadapilah juga aneka perkara yang muncul ‘di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku’. Menanggung semua perkara dalam Tuhan berarti dengan dan dalam iman kita hidup bermasyakat, berbangsa dan bernegara. Iman adalah anugerah Tuhan, maka percayalah menghadapi aneka perkara dengan iman berarti Tuhan sendiri yang akan berkarya atau bekerja dalam dan melalui diri kita yang lemah dan rapuh ini.

Dalam iman juga kita dipanggil untuk ‘mencukupkan diri dalam segala keadaan’, artinya antara lain senantiasa bersyukur dan berterima kasih dalam situasi maupun kondisi apapun. Tiada rahasia bagiku, semua saya buka dan serahkan kepada Tuhan melalui saudara-saudari dan sesama kita. Baik dalam kenyang atau lapar, berkelimpahan atau kekurangan kita tetap hidup penuh syukur dan terima kasih.

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya” (Mzm 112:1-2.5-6)


Jakarta, 8 November 2008

Oleh : Romo Maryo
Posted by Ivan Shurex Posted on 11/08/2008 04:50:00 PM | No comments

Apple Tree

A long time ago, there was a huge apple tree.

A little boy loved to come and play around it everyday. He climbed to the tree top, ate the apples, took a nap under the shadow… He loved the tree and the tree loved to play with him. Time went by… the little boy had grown up and he no longer played around the tree everyday.

One day, the boy came back to the tree and he looked sad. “Come and play with me,” the tree asked the boy. I am no longer a kid, I don’t play around trees anymore.” The boy replied, “I want toys. I need money to buy them.” Sorry, but I don’t have money… but you can pick all my apples and sell them. So, you will have money.” The boy was so excited. He grabbed all the apples on the tree and left happily. The boy never came back after he picked that apples. The tree was sad.

One day, the boy returned and the tree was soexcited. “Come and play with me” the tree said. “I don’t have time to play. I have to work for my family. We need a house for shelter. Can you help me?” “Sorry, but I don’t have a house. But you can chop off my branches to build your house.” So the boy cut all the branches of the tree and left happily. The tree was glad to see him happy but the boy never came back since then. The tree was again lonely and sad.

One hot summer day, the boy returned and the tree was delighted. “Come and play with me!” the tree said. I am sad and getting old. I want to go sailing to relax myself. Can you give me a boat?” “Use my truck to build your boat. You can sail far away and be happy.” So the boy cut the tree truck to make a boat. He went sailing and never showed up for a long time.

Finally, the boy returned after he left for so many years. “Sorry, my boy. But I don’t have anything for you anymore. No more apples for you… “the tree said.

“I don’t have teeth to bite” the boy replied. “No more truck for you to climb on” “I am too old for that now” the boy said. “I really can’t give you anything … the only thingleft is my dying roots” the tree said with tears. “I don’t need much now, just a place to rest. I am tired after all these years.” The boy replied. “Good! Old tree roots is the best place to lean on and rest. Come, Come sit down with me and rest.”

The boy sat down and the tree was glad and smiled with tears……. This is a story of everyone. The tree is our parent. When we were young, we loved to play with Mom and Dad… When we grown up, we left them… only came to them when we need something or when we are in trouble.

No matter what, parents will always be there and give everything they could to make you happy. You may think the boy is cruel to the tree but that’s how all of us are treating our parent. Please enlighten all you friend by forward this to them. And love your parent.


Sumber : http://krenungan.org 22


Lihat dalam Bahasa Indonesia : Kisah Pohon Apel

Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


07 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/07/2008 01:36:00 PM | 1 comment

Pemberian Tulus

Memberi adalah ekspresi tertinggi niat baik mereka yang berkuasa, sekalipun debu, jika diberikan dengan setulus hati, akan menjadi pemberian yang baik karena efeknya yang demikian agung, tak ada hadiah yang menjadi kecil jika diberikan sepenuh hati kepada penerima yang pantas.


di kirim oleh : shane sunpei

06 November 2008

Posted by Klinik Rohani Posted on 11/06/2008 05:14:00 PM | 1 comment

Anak Dunia dan Anak Terang

“Anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak terang.”

Baca : (Flp 3:17-4:1; Luk 16:1-18)

“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.”(Luk 16:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Orang bodoh dapat menjadi pandai karena uang, sebaliknya orang pandai dapat menjadi bodoh juga karena uang”, demikian kiranya yang sering terjadi di dalam kehidupan bersama kita. Namun yang juga terjadi adalah orang pandai membodohi sesamanya demi uang atau demi keuntungan sendiri. Kepandaian atau kecerdikan macam itu dapat kita lihat atau cermati dalam diri para penipu atau penjahat yang dengan halus dan sabar mengelabui korban-korbannya. Maka benarlah yang disabdakan oleh Yesus bahwa “Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang”. Karena pendidikan dan pembinaan memang kita semua mendambakan diri sebagai orang yang pandai, cerdik dan cerdas, namun hendaknya juga sekaligus beriman alias menjadi anak-anak terang, sehingga menjadi cerdas beriman. Sebagai orang yang cerdas beriman kiranya ketika diberi tugas menjadi bendahara atau pengelola / pengurus harta benda duniawi, ia akan mengurus dan mengelolanya dengan baik sebagaimana diharapkan. 

Kesuksesan atau keberhasilan mengurus atau mengelola harta benda dengan baik pada masa kini hemat saya merupakan salah satu bentuk penghayatan iman kemartiran yang mendesak dan up to date, mengingat masih maraknya korupsi hampir di semua bidang kehidupan bersama di masyarakat pada saat ini. Untuk itu hemat saya kita masing-masing harus mulai dari diri kita sendiri: berapa besar atau banyaknya harta benda atau uang yang diserahkan kepada kita, marilah kita urus atau kelola sebaiknya mungkin, sesuai dengan maksud pemberi (ad intentio dantis). Jika kita berhasil dengan baik mengurus atau mengelola yang menjadi milik kita atau kita kuasai maka kiranya kita memiliki modal kekuatan untuk mengrurus atau mengelola milik orang lain yang lebih besar. Harta benda/uang adalah ‘jalan ke neraka atau jalan ke sorga’, marilah kita jadikan ‘jalan ke sorga’.

· “Saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!”(Flp 4:1), demikian sapaan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman. “Berdiri dengan teguh dalam Tuhan” adalah cirikhas orang cerdas beriman, ia tidak mudah tergoyahkan oleh berbagai rayuan atau godaan kenikmatan duniawi yang membuatnya ‘menjauh dari Tuhan maupun sesama atau saudara-saudarinya’. Kita semua adalah ciptaan Tuhan, dan hanya dapat hidup, tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman jika kita setia berdiri dengan teguh dalam Tuhan. 

Memang untuk itu kita perlu membiasakan diri terus menerus berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun; semakin banyak berbuat baik kepada sesama berarti akan semakin teguh berdiri dalam Tuhan, sebaliknya orang yang jarang berbuat baik kepada sesamanya pasti mudah jatuh atau berdosa terus menerus. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku universal dan bersifat menyelamatkan, khususnya keselamatan jiwa. Yang ideal memang ‘mens sana in corpore sano’, pengertian/akal budi/jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat, maka marilah kita serentak merawat, menjaga dan memperkuat pengertian/akal budi/jiwa dan tubuh kita menjadi segar bugar, sehat wal’afiat sebagai tanda bahwa kita dengan rendah hati berusaha setia ‘berdiri dengan teguh dalam Tuhan’. Orang yang demikian senantiasa dinamis dan proaktif dalam berbuat baik bagi sesamanya dimanapun dan kapanpun.

“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN."
(Mzm 122:1)


Jakarta, 7 November 2008

Oleh : Romo Maryo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


  • Text Widget