30 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/30/2008 11:56:00 AM | 1 comment

TUJUAN UTAMA

By: Dr. Joyce Brothers
From: HOW TO GET WHATEVER YOU WANT OUT OF LIFE


Kalau anda telah berhasil menemukan lelaki atau perempuan yang merupakan cinta sejati anda, Yang ingin anda jadikan teman hidup anda Yang merupakan inspirasi anda menuju sukses Yang menjadikan hidup ini lebih berarti Yang merupakan pusat kehidupan anda Yang menarik, baik dibidang seks maupun dibidang intelektuil Yang dapat ikut tertawa dengan anda, menangis bersama anda.

Yang mencintai anda
Yang ingin bekerja bersama-sama anda membentuk keamanan, cinta dan kekuatan yang memenuhi diri anda masing-masing Maka anda betul-betul beruntung dan terberkati.

Cinta merupakan sarana yang kuat sekali, sarana phsycologis yang indah, memperkaya kita. Cinta merupakan bentuk kekuatan yang maximal. Cinta merupakan kebalikan dari manipulasi, kita tak memikirkan keinginan kita, tetapi apa yang diinginkan oleh yang lain, apa yang dibutuhkannya dan apa yang membahagiakannya.

Kekuatan Cinta ini tak dimiliki oleh kekuatan apapun juga dibidang lain, baik politik, keuangan ataupun kejayaan duniawi. Inilah kekuatan kemanusiaan yang tak ada bandingnya.

Dimana manipulasi tak berarti lagi, Cinta bersemi. Dimana anda telah memikirkan kepentingan orang yang anda cintai dan tak memikirkan lagi reaksi orang terhadap diri anda. Dimana anda berani membuka, memperlihatkan keadaan diri anda setelanjang mungkin, tanpa tedeng aling.

Inilah rahasia Cinta, tak takut memperlihatkan kejelekan kita dalam arti yang sebenarnya. Inilah syarat untuk dapat mempertahankan dan memperkembangkan Cinta. Memang membutuhkan keberanian, membuka diri sendiri, mempercayai orang lain. Dan banyak yang tak berani melakukannya.

Sebagai seorang pshycolog, seorang ibu dan seorang istri, aku yakin bahwa:
Kita harus mempunyai keberanian untuk menyerahkan diri sepenuhnya, cinta itu tak dapat diperintah ataupun diminta, seperti juga orang tak dapat meminta dan memerintahkan kebahagiaan.

Cinta itu tumbuh dari keberanian memberi, membuka diri pada yang lain, menyayangi dan tak takut ditelanjangi isi hatinya, hasilnya tak terukur oleh nilai manusia. Cinta kita semakin tumbuh, menit demi menit, makin lama semakin dalam dan berisi, sehingga akhirnya merupakan bagian dari diri kita sendiri, sumber keberanian dan hiburan, suatu emosi yang dapat mengatasi kebosanan hidup.

Hanya cintalah yang dapat mewarnai hidup kita begitu indah, sehingga waktu akan mengalir tanpa terasa, mencapai puncak ekstase segala perjalanan hidup.

Semakin dalam cinta itu, semakin kita menyadari bahwa penelanjangan diri kita bukanlah sesuatu yang dipermalukan, karena kita dilindungi, dikuatkan dan diisi oleh Cinta.
Inilah tujuan utama, dan ini dapat menjadi milik anda juga.


===============================================
Telah kuobservasi berpuluh orang yang bahagia, yang sukses, yang kaya dan bahagia, kuadakan research, sejauh mana motivasi dan manipulasi mereka, dalam segala taraf energy dan kemampuan mereka. Konklusinya:

MEREKA SADAR AKAN CITA-CITA HIDUP MEREKA, MEREKA MENDAMBAKAN SESUATU DENGAN SEPENUH HATI DAN BETUL-BETUL BERUSAHA UNTUK MENDAPATKANNYA, AKAN MENDAPATKANNYA.

===============================================



dikirim oleh : Seting Setiawan


29 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/29/2008 11:45:00 AM | No comments

Negeri Orang Bahagia

AKUlah penciptamu.

Aku akan turut campur dalam segala permasalahan hidupmu. Ingat, Aku tidak membutuhkan bantuanmu.

Jika engkau menghadapi situasi sulit yang tidak bisa engkau pecahkan, masukkan ke kotak SFGTD (something for God to do)-mu. Semua masalah akan terselesaikan, namun bukan menurut ukuran waktumu tapi waktuKU.

Sekali engkau masukkan masalah ke dalam kotak SFGTD-mu, engkau tidak perlu lagi melanjutkan kekuatiranmu. Lebih baik engkau terjunkan dirimu melanjutkan peran hidupmu saat ini.

Jika engkau terjebak kemacetan, jangan bringas. Karena ada orang-orang yang memang ditetapkan mendahuluimu untuk kepentingan yang mengungkapkannya saja dia sudah tidak mampu.

Saat engkau merasa hari-hari di kantormu tidak begitu baik, pikirkanlah orang-orang lain yang keluar dari kantor beberapa tahun lalu Ketika hubunganmu memburuk, pikirkanlah orang-orang yang sudah lupa rasa mencintai dan dicintai.

Saat engkau masih bisa menggunakan waktu akhir pekan untuk liburanmu; engkau masih lebih beruntung dari wanita penjahit yang bekerja 12 jam sehari, 7 hari seminggu demi anak-anaknya.
Saat mobilmu rusak, pikirkanlah orang yang bahkan untuk berjalan saja dia sudah tidak mampu lagi.

Ketika engkau berkaca di cermin merapikan rambutmu, pikirkanlah orang yang sedang sakit kanker yang selalu berharap rambutnya segera tumbuh.

Ketika engkau merasa menjadi korban dari kesalahan, kegetiran, pengabaian, ketidak-nyamanan orang lain, ingatlah sesuatu atau seseorang dapat saja salah, dan mungkin engkau salah satunya.

Banyak hal yang dapat kita jadikan sebagai bahan renungan agar senantiasa disamping kita selalu berjuang menuju hidup yang lebih baik, kita selalu mensyukuri hidup ini.

Akankah engkau sampaikan pesan ini ke kawan-kawanmu? Jika ya, paling tidak engkau akan menambah Penghuni Negeri Orang Bahagia.



dikirim oleh : kevin dallish


Posted by Ivan Shurex Posted on 4/29/2008 11:07:00 AM | 1 comment

Kejujuran Belum Mati

Belum lama saya mengenalnya, baru beberapa hari yang lalu saat saya mengantar seorang teman untuk mengganti kacamatanya. Pak Burhan, usianya sudah kepala empat, ia mengaku sudah dua puluh lima tahun menjalani profesi sebagai penjual kaca mata, "Optik berjalan," istilahnya. Tetapi pertemuan yang hanya satu hari dan tidak disengaja itu seolah membuat saya merasa baru saja bertemu teman lama yang teramat saya rindui.

Secara fisik, saya memang baru bertemu kali itu. Dan memang bukan sosoknya yang saya rindui, melainkan apa yang baru saja diutarakannya tentang sekelumit pengalamannya mencari nafkah sebagai penjual kaca mata.

Bermula dari teman saya yang memaksa saya untuk ikut bersamanya memesan kacamata. Saya harus ikut, katanya. Sementara ia tak menjelaskan maksud `paksaannya' itu, kecuali satu kalimat, "kamu akan mendapat satu pelajaran lagi". Tak perlu berpikir lama, saya pun mengiyakan ajakannya.
Jika berkenaan dengan soal pembelajaran, tak ada kata penolakan untuk urusan satu ini.

Enam ratus ribu, biaya yang harus dikeluarkan teman saya untuk satu kacamata barunya. Baginya, angka sebesar itu tidak masalah, karena ia akan mendapat penggantian dari kantornya. "Pak Burhan, kita kan sudah langganan. Tolong dibuatkan kwitansinya satu juta ya pak, nanti saya kasih seratus ribu buat bapak," tak menyangka, kalimat itu yang keluar dari mulut teman saya saat ia menyodorkan enam ratus ribu untuk pembayaran kacamatanya.

Dahinya berkerut, matanya mengerenyit memandang tajam ke arah teman saya. Ia seperti tengah bertanya-tanya, benarkah permintaan barusan keluar dari langganannya yang satu ini? "Apa saya tidak salah dengar pak? Bukankah bapak sudah tahu sikap saya untuk hal ini?" orang di sebelah saya yang baru saja memesan kacamata hanya menyeringai, kemudian terkekeh kecil. Kemudian ia bangkit dan memeluk Pak Burhan, "Ternyata, Pak Burhan sekarang tidak berubah dengan Pak Burhan dua tahun lalu, saat pertama kali saya memesan kacamata lewat bapak," ujar teman saya yang ternyata hanya menguji Pak Burhan.

Dua puluh lima tahun ia menjalani profesinya sebagai optik berjalan, tidak bisa dibilang cukup penghasilan yang bisa diperolehnya. Untuk pesanan satu kacamata, tak jarang ia hanya mendapat keuntungan dua puluh lima ribu rupiah, walau pun sesekali ia merasakan keuntungan empat kali lebih besar dari itu. "Yah, nggak sebulan sekali pak," ujarnya singkat.
Dalam seminggu paling banyak dua pesanan kacamata yang diterimanya, bahkan kadang tak satupun ia mendapat pesanan dalam satu pekan.

Namun, keadaan yang semakin menghimpitnya itu ternyata tak pernah ia jadikan alasan untuk menerima tawaran untuk membuat kwitansi diluar kewajaran. "Banyak pak yang minta saya bikin kwitansi semacam itu, selalu saya tolak. Duitnya nggak seberapa, tapi dosanya itu." menjawab pertanyaan saya, berapa banyak langganannya yang meminta jumlah pembayarannya dilebihkan dalam kwitansi.

"Bapak tidak takut langganannya akan beralih ke yang lain?" tanya saya disambutnya dengan seringai tawanya yang sedikit tertahan. "Yang saya tahu pak, tangan kanan itu tempatnya tetap di kanan, nggak pernah pindah ke kiri." Ia memperjelas kalimatnya, bahwa kebenaran nggak akan pernah ditinggalkan, dan menurutnya, justru semakin banyak pemesan kacamata yang datang kepadanya. Padahal ia tidak pernah mengenal sebelumnya. "Itu di luar langganan, kalau yang sudah langganan sih pasti datang kesini, seperti teman bapak ini," tawanya mulai lepas.

Pak Burhan, dibalik perawakannya yang kecil, kurus dan berkulit hitam itu tersimpan hati yang jernih, yang didalamnya terukir indah kejujuran yang senantiasa terawat indah. Dan teman saya benar, saya baru saja mendapati sebuah kenyataan, bahwa kejujuran ternyata belum benar-benar mati.


dikirim oleh : Gundolo Sosro


28 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/28/2008 11:51:00 AM | No comments

Sahabat

Andiwan dan Robby adalah dua orang anak muda yang bersahabat karib sejak mereka duduk di sekolah dasar. Mereka bekerja sebagai tenaga kurir sparepart di salah satu perusahaan kereta api uap di Eropa. Tugas mereka adalah mengantarkan sparepart-sparepart yang diperlukan dari satu dipo ke dipo yang lain dengan menggunakan kereta kuda.

Suatu sore menjelang senja, mereka berdua ditugaskan mengantar beberapa suku cadang ke dipo lain untuk perbaikan lokomotif yang mogok. Barang tersebut harus diantar malam itu juga karena besok pagi KA harus berangkat. Daerah lintasan yang akan mereka jalani terkenal dengan serigala buas yang dapat memangsa manusia. Akan tetapi, karena tugas dan dedikasi mereka pada perusahaan, akhirnya kedua sahabat ini berangkat juga.

Robby termasuk orang yang sedikit takut dengan kegelapan, apalagi ada binatang buasnya. Namun, Andiwan membesarkan hatinya demi panggilan tugas perusahaan.

Setelah persiapan selesai, mereka pun berangkat dengan kereta yang ditarik oleh lima ekor kuda. Mereka akan melewati lima rimbunan pohon bambu yang menjadi sarang serigala buas tersebut. Begitu melewati rimbunan bambu yang pertama, tampak puluhan mata bercahaya dari balik rimbunan siap menerkam mereka, Robby pun bertanya,"Bagaimana melewati ancaman tersebut?"

Andi dengan tenang melepaskan seekor kuda dan langsung diserbu oleh serigala tersebut. Rimbunan kedua pun demikian, untuk menyelamatkan mereka, terpaksa Andi melepaskan kuda yang kedua. Terus demikian hingga pada rimbunan keempat dan mereka melepaskan kuda yang keempat.

Memasuki rimbunan pohon bambu yang kelima, Robby semakin bingung dan panik, karena kuda tinggal seekor. Jika yang seekor ini dilepaskan , merekapun akan menjadi santapan empuk bagi serigala tersebut. Dalam kepanikannya dia bertanya pada Andi,"Bagaimana melewati ancaman ini?"

Namun, Andi mengajak Robby tetap tenang. "Pasti ada solusinya, yang penting amanah suku cadang ini harus dapat disampaikan dengan baik." ungkap Andi.

"Tapi bagaimana caranya agar kita keluar dari ancaman ini?" tanya Robby dalam kepanikannya.

Andiwan memeluk Robby, dikatakan supaya Robby tetap ke dipo untuk mengantarkan suku cadang tersebut dan biarkan dia saja yang mengurus serigala-serigala tersebut.

Benar saja, begitu mendekat ke rimbunan pohon yang kelima, tali kekang kuda di serahkan kepada Robby untuk dikendalikan. Sementara itu, puluhan mata haus darah siap menerkam mereka. Tiba-tiba, Andiwan menerjunkan dirinya ke arah rimbunan pohon tersebut dan segera menjadi santapan segerombolan serigala. Andiwan pun tewas demi keselamatan sahabat dan amanah yang diberikan perusahaan.

Refleksi :

Nilai suatu persahabatan, sebenarnya dilihat dari ketulusan hati dan kesediaan untuk berkorban bagi orang lain. Andi telah mengorbankan kepentingan bahkan nyawanya bagi sahabat dan perusahaannya.

Sahabat manakah yang telah sedemikian hebat mengorbankan nyawanya untuk kepentingan orang lain? Dunia sudah semakin bertumbuh dalam keegoisannya, hubungan antar manusia semakin kering, tingkat persaingan semakin tinggi dan kemajuan teknologi yang telah memungkinkan manusia untuk tidak berhubungan dengan orang lain tanpa melalui tatap muka atau bersalaman. Diperlukan seorang sahabat yang menjadi teman setia di kala suka dan duka. Bagi mereka-sahabat kita-yang terpaksa harus berpisah dengan keluarga karena penempatan di salah satu daerah, tentu teman-teman satu mes atau sekamar menjadi sahabat sejati mereka. Banyak kejadian rekan-rekan kita yang mengalami musibah atau sakit secara mendadak, sementara ia jauh dari keluarga. Namun, yang melakukan pertolongan pertama justru sahabat-sahabat terdekatnya dan ini dilakukan tanpa pamrih tetapi justru dalam empati yang sangat mendalam.

Menjadi sahabat di kala senang dan berkelimpahan adalah hal yang wajar karena siapa pun bisa melakukan hal ini. Namun, menjadi sahabat justru di kala mereka dalam keadaan susah dan berduka menjadikan nilai persahabatan tersebut begitu tinggi. Dalam dunia yang semakin "bengkok" ini, intisari persahabatan acapkali di bungkus oleh harapan-harapan pamrih untuk jangka panjang. Acapkali persahabatan.

Acapkali persahabatan dibangun supaya orang tersebut ingat kalau ada putaran mutasi, supaya proyek dapat dimenangkan, dan bahkan persahabatan kadangkala dibangun untuk menjatuhkan orang tersebut dikemudian hari.

Persahabatan yang sejati tidak melihat hasil dan buah dari persahabatan tersebut, namu kedua belah pihak menikmati proses yang terjadi sebagai sebagai bagian dari tugas kehidupan. Itulah sebabnya Richard Exley (2002) mengemukakan, "Sahabat sejati adalah orang yang mau mendengar dan mengerti ketika Anda mengungkapkan perasaan Anda yang paling dalam. Ia mendukung ketika Anda tengah berjuang. Ia menegur dengan lembut penuh kasih ketika Anda berbuat salah, dan ia memaafkan ketika Anda gagal. Seorang sahabat sejati melecut Anda untuk pertumbuhan pribadi, mendorong Anda memaksimalkan potensi Anda sepenuhnya. Adapun yang paling menakjubkan, ia merayakan keberhasilan Anda seolah-olah keberhasilannya sendiri."

Ketika sang mentari mulai menampakkan wajahnya hari ini, mari kita merenung,"Sudahkah kita menjadi sahabat sejati bagi orang lain, dan siapakah sahabat sejati kita yang sesungguhnya hingga hari ini?"

Setengah Isi Setengah Kosong
"Half Full-Half Empty"


dikirim oleh : DANANG kurniawan


Posted by Ivan Shurex Posted on 4/28/2008 11:04:00 AM | No comments

Dua serigala

Ada dua ekor serigala di hutan belantara, serigala B menantang serigala A untuk menangkap seekor kelinci yang sedang makan wortel, tidak jauh dari tempat mereka berdiri,

"Ayo Serigala A, kamu bisa ngga tangkap kelinci itu?" tanya serigala B.
"Ah, itu gampang, lihat saja nih!" Jawab serigala A, dan dengan sigap serigala A itupun melompat ke arah kelinci tersebut, dan berlari mengejarnya.

Sedangkan kelinci yang melihat serigala itu, langsung lari terbirit-birit ketakutan, tanpa pikir panjang wortel yang masih dikunyahnya di lemparkan ke arah serigala tersebut, "DUAAAKK!!" begitu suaranya.

Karena serigala adalah binatang yang kuat, maka wortel kecil yang mengenai kepalanya tidak terasa sama sekali, serigala tersebut tetap mengejar kelinci itu, 1 menit.. 2 menit.. 3 menit... sampai 5 menit..

Serigala itu belum dapat menangkap kelinci itu, karena kelinci itu larinya lebih kencang. serigala itupun kelelahan, dan menghentikan pengejarannya.

Dengan perasaan yang sangat malu, dia menunduk berjalan dan kembali ke temannya serigala B.

Setelah sampai di tempat serigala B, maka serigala B itupun bertanya, "Bagaimana? Apakah kamu bisa menangkapnya ?" tanya serigala B, lalu serigala A hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih tertunduk.

Serigala B lalu melanjutkan perkataanya : "Kamu tahu, kenapa kamu tidak bisa menangkap kelinci itu? Kamu kalah, karena kamu tidak serius. Kamu berlari mengejar kelinci hanya untuk pamer saja, sedangkan kelinci itu berlari untuk nyawanya."

Untuk orang yang sudah bekerja, mungkin Anda merasa, Anda sangat lelah, Anda capai dengan pekerjaan, bosan, tidak ada kemajuan sama sekali dalam pekerjaan Anda. Itu dikarenakan karena Anda tidak serius dengan pekerjaan Anda.
Cobalah pikirkan kembali, apakah tujuan sebenarnya Anda bekerja?
Sebab, terkadang ada orang yang bekerja, karena tuntutan orang tua agar mencari uang sendiri, atau kadang juga ada orang yang bekerja, karena mereka merasa 'harus' bekerja untuk membantu orang tua mereka menghidupi keluarganya, atau ada juga orang yang bekerja karena untuk dapat pamer pada teman-temannya, pada sanak saudara, bahwa dia sudah bekerja.

Jadi, apakah tujuan Anda bekerja? Demi rasa bangga pada serigala B.
Atau demi rasa lapar?


dikirim oleh : Gundolo Sosro
This is the rest of the post

27 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/27/2008 12:01:00 PM | No comments

FIRMAN ALLAH YANG MENYEGARKAN

Demikianlah firman-Ku . . . . tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia.
—Yesaya 55:11


Baca: Yesaya 55:8-11

Ketika saya masih kecil, keluarga kami kadang-kadang melakukan perjalanan menyeberangi negara bagian Nevada. Kami sangat menyukai halilintar gurun. Bersamaan dengan sinar kilat dan petir yang saling menyambar, hujan yang sangat lebat mengguyur gurun pasir yang panas sejauh mata memandang. Turunnya air yang sejuk itu menyegarkan bumi—dan juga kami.

Air menghasilkan perubahan-perubahan mengagumkan di daerah-daerah yang gersang. Contohnya, kaktus pincushion menjadi kering selama musim panas. Namun, setelah hujan pertama di musim panas tercurah, tanaman kaktus itu pun berbunga dengan menampilkan kelopak bunga indah bernuansa merah muda, emas, dan putih.

Hal yang sama juga terjadi di Tanah Suci. Setelah hujan badai, tanah kering sepertinya menjadi subur dalam waktu semalam saja. Yesaya menggunakan hujan yang membawa pembaruan itu untuk menggambarkan firman Allah yang menyegarkan: “Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes. 55:10-11).

Alkitab memberikan kesegaran rohani. Karena itulah, firman Allah tidak pernah kembali dengan sia-sia. Di mana saja firman Allah masuk ke dalam hati yang terbuka, firman itu memberikan kesegaran, pertumbuhan, dan hidup baru. —HDF

Firman Allah adalah seperti hujan yang menyegarkan
Yang mengairi tanaman dan benih;
Memberi kehidupan baru kepada hati yang terbuka,
Dan memenuhi apa yang kita butuhkan.
—Sper
----------------------------------------

Alkitab itu menyegarkan jiwa yang haus, bagaikan air yang mengairi tanah yang gersang.


disadur dari : http://www.rbcintl.org/


Posted by Ivan Shurex Posted on 4/27/2008 11:40:00 AM | No comments

Permainan Kentang

Ada salah satu TK (Taman Kanak-kanak), pada suatu hari guru TK tersebut mengadakan "permainan" menyuruh anak-anak muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa...tergantung jumlah orang-orang yg dibenci.

Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5.

Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi bahkan ke toilet sekalipun selama 1 minggu.

Hari berganti hari kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid2 TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Guru:"Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu?" Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut kemanapun mereka pergi.Guru pun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka lakukan.

Guru:"Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain." Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemanapun kita pergi. Itu hanya 1 minggu begitu berat rasanya, jika kita membawa kebencian itu seumur hidup? Alangkah tidaknyamannya....."



dikirim oleh : kevin dallish

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/27/2008 11:35:00 AM | No comments

Renungan Minggu Paskah IV

Minggu Paskah IV, 27 April 2008
Bacaan :
Kis 8:5-8, 14-17;
1 Ptr 3:15-18;
Yoh 14:15-21.

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Yesus kembali dan hadir pada kita dalam Roh-Nya, Roh Kudus. Dengan penumpangan tangan, para rasul menurunkan Roh Kudus ke atas jemaat. Roh Kudus juga telah dicurahkan kepada kita. Mungkin kita tidak bisa bicara ‘bahasa roh’. Tapi bahasa roh bukan cuma mengucapkan bunyi-bunyian yang tidak dimengerti orang. Roh Kudus juga bicara lewat kita bila kita mengucapkan kata-kata yang ramah, menghibur, memberi semangat, mengajak orang berbuat baik dan lebih beriman. Dengan itu kita membangun persaudaraan dan Yesus hadir pada kita dalam Roh-Nya yang memberi hidup..


disadur dari :Angela Merici Biblical Center

26 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/26/2008 11:20:00 AM | 2 comments

PENGLIHATAN DI NERAKA

KISAH nyata ini disaksikan oleh PHILIP MANTOFA


Sahabat,

Tanggal 1 Januari 2000 pukul 05.00 wib pagi, aku dibawa ke suatu daerah GURUN PASIR YANG LUAS, TANDUS, KERING-KERONTANG, SERTA PANAS TERIK SANGAT MENYENGAT.

Aku melihat banyak binatang aneh dan menjijikkan yang tidak pernah aku temui sebelumnya. Aku berjalan setapak demi setapak melewati gurun tersebut hingga sampai pada suatu tempat yang menyeramkan.

Rasa aneh meliputi aku, tulang-tulangku serasa sakit semua, terlebih lagi tidak ada sedikitpun angin berhembus, suasana sunyi mencekam dan mendung menyelimuti daerah tersebut! aku tidak dapat menggambarkan dengan lebih baik lagi sebab hanya kengerian yang ada di sana.

Sebuah pintu gerbang berdiri menjulang dihadapanku dan dengan rasa gelisah namun ingin tahu aku mencoba mem buka gerbang tersebut. Ternyata gerbang tersebut tidak cukup sulit untuk dibuka tetapi membuat aku tersentak sebab dihadapanku masih berdiri sebuah pintu gerbang lagi dan diatas gerbang tersebut terdapat papan palang bertuliskan "valley of torture" (lembah penyiksaan)!!!!

Aku sempat ragu apakah aku harus melanjutkan'perjalanan' ini atau tidak, tetapi aku merasa ada sesuatu yg mendorong aku untuk melanjutkannya.

Dengan jantung berdegup keras aku membuka gerbang berikutnya dan... oh Tuhan!!! aku tidak percaya pada apa yang kulihat tetapi itulah kenyataannya!

Aku melihat suatu lorong yang diliputi oleh kegelapan. Saat itu aku berdiri di pinggir pintu gerbang, aku tidak tahu seberapa luas dan panjang lorong tersebut tetapi aku dapat melihat asap samar2 pada ujungnya dan aku merasa itu adalah lautan api yang dahsyat. Di sepanjang lorong yang gelap itu aku melihat banyak orang disi ksa oleh orang-orang berpakaian hitam-hitam serta bertanduk dan aku melihat mereka sangat bernafsu untuk menyiksa setiap orang yang ada disana sebelum mereka semua dimasukkan dalam lautan api pada ujung lorong tersebut.

Tangis ngilu serta erangan bercampur dengan tertawa yang menjijikkan aku dengar dalam tempat yang sangat kotor tersebut. Di tepi lorong aku melihat seorang wanita muda, tangannya diikat pada sebuah kayu. Banyak sekali orang-orang bertanduk yang mengelilingi dia serta mentertawakannya. Aku melihat wajahnya yang sudah putih pucat itu diliputi oleh rasa ketakutan yang amat sangat, didepan matanya terdapat suatu senjata aneh yang tidak pernah aku jumpai sebelumnya, aku tidak tahu namanya tapi bentuknya sejenis garpu penggaruk dengan mata pisau yang sangat tajam.

Senjata tersebut dibawa oleh salah sat u iblis bertanduk yang sedang mengerubuti wanita tersebut, aku mendengar si iblis mengancam wanita malang itu "ayo berdusta !!! ayo berdusta!!!" aku melihat wanita muda itu makin ketakutan dan dia sudah sepenuhnya jatuh dalam kuasa para iblis bertanduk itu sehingga ia mau menuruti kemauan mereka. Jawab wanita itu, "Ya!! Ya!! aku berdusta!! aku berdusta!!!" Para iblis yang mengancam itu tertawa terbahak-bahak dan mereka merasa puas akan jawaban wanita muda tersebut. aku menyangka setelah wanita itu menuruti apa yang mereka mau maka ia akan dilepaskan tapi apa yang terjadi?

Para iblis jahat itu malah menyorongkan garpu penggaruk dengan mata pisau yang tajam-tajam itu kedalam wajahnya dan darah segar menyembur keluar dari wajah wanita yang telah hancur dan tidak berbentuk itu. Pada saat itu aku mendengar wanita itu berteriak kesakitan, "AAAAAHHHH ToLong!!!!!" aku langsung berteriak "Stopp!!! hentikan...!" aneh ! mereka tidak mendengar teriakanku dan bahkan aku tidak terlihat oleh mereka walaupun aku ada disana. aku merasa muak melihat pemandangan yang mengerikan dan suara-suara itu tapi ternyata masih banyak lagi pemandangan yang lebih mengejutkan.

Berikutnya aku melihat seorang laki-laki, rambutnya sudah hangus, wajahnya tinggal tengkorak yang membusuk dan ulat-ulat yang tidak dapat terbakar oleh api keluar dari lubang-lubang tengkoraknya. Laki-laki tersebut disusung dari ujung lorong yang mendekati api, aku rasa mereka telah lama menyiksa orang tersebut, orang tersebut telah hangus dan dagingnya meleleh karena telah diletakkan dekat api yang tidak terhingga panasnya.

Iblis-iblis yang mengusungnya tertawa-tawa mengejek laki-laki diatas usungan tersebut dan tidak ada yang dilakukan laki-laki tersebut selain pasrah. Ia sekarat! tetapi tid ak bisa mati. mulutnya megap-megap seolah ingin memohon belas kasihan. Salah seorang dari iblis itu berteriak "Ayo masturbasi !!!! ayo masturbasi!!!!" Jawab pria itu dengan bergetar, "ya aku masturbasi!! aku masturbasi!!" "AHHHHH!!!!!!" aku melihat ulat-ulat ya ng amat sangat banyak keluar dari dalam tubuhnya .. seluruh tubuhnya!!!!! aku makin jijik melihat semua itu apalagi mendengar teriakannya ! aku merasa ngeri!!!!!!

Masih banyak lagi teriakan dan perintah2 yang aku dengar, "ayo minum! ayo mabuk! ayo judi! ayo menipu!!!" dan para iblis itu tertawa tawa, menikmati erangan dan tangisan seolah-olah mereka sedang mendengar musik yang indah.

Aku tidak berani berjalan masuk lebih dalam. aku hanya melihat sejauh mata memandang dan aku yakin masih banyak lagi jenis2 penyiksaan yang dilakukan sebab lorong tersebut lebih pas kalo disebut barak pen yiksaan. aku menemukan suatu pemandangan yang amat sangat mengagetkan, aku melihat banyak orang saleh beragama disana ! Aku tidak percaya....!!!!!
tapi aku tidak berkuasa untuk menyangkalnya!!! aku mendengar teriakan mereka saat disiksa, mereka menyebut nama Tuhan, "Tuhan tolong aku!!!!!
Tuhan bukankah aku selalu bersama dengan Engkau? Engkau mengajar di kota-kota kami, aku melayani Engkau Tuhan !!!!!"

Mereka memohon-mohon pada Tuhan tetapi mereka sudah tidak mendapat kesempatan itu, sampai pada akhirnya aku mendengar mereka menghujat Tuhan.
Hancur hatiku melihat hal ini. Setelah itu aku betul2 berada di puncak kengerian dan shock berat meliputi aku !!! aku sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan 'perjalanan' ini dan jika dilanjutkan kemungkinan besar aku akan 'mati' secara jasmani. "Tuhan, tolong bawa aku untuk keluar dari sini....
tolong Tuhan.....!!!!" seketi ka itu juga aku....... aku tersadar! semua yg terjadi tadi adalah sebuah vision, sebuah penglihatan ....... penglihatan yang sangat mengerikan..... penglihatan tentang neraka.... !!!!!!!

Aku senang menemukan diriku berada dirumah meski setelah itu aku harus mengalami sakit berhari-hari. Tulang dan sendiku ngilu semua, penyakit maagku kambuh dan shock masih membayangiku !!! aku berdoa pada Tuhan, apa arti semua ini? dan apa yang Tuhan mau terhadap pengalamanku itu Tuhan memberiku suatu pengertian dan beban yang sangat mendalam bagi orang-orang di sekelilingku. Tuhan mau aku memberitakan apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi kepada semua orang. saat ini banyak dari mereka sedang bersenang-senang, makan-minum, pesta pora, free sex, narkoba dan banyak kesenangan lain yang seolah-olah mereka bisa nikmati selamanya, tetapi mereka tidak sadar bahwa neraka ada di depan mereka dan iblis2 bertanduk sedang menanti mereka untuk menjadi mangsa berikutnya !!!!!

Penutup:

Aku tahu Tuhan Yesus sangat mengasihimu oleh sebab itu Ia masih mau memberi kesempatan kepadamu!!! Untuk bertobat melalui 'penglihatan' yang telah ditunjukkannya kepadaku. Sahabatku, aku HARUS MENULIS SURAT INI kepadamu untuk mengingatkan mu sebab aku tidak mau kamu mengalami hal yang sama dengan mereka di sana. Sungguh, aku mengasihimu !!
dan aku harap kamu mau MERENUNGKAN semuanya ini dan benar2 bertobat, terima Tuhan Yesus secara pribadi, HIDUP BARU, dan jangan keluar dari jalan yang telah Tuhan khusus TETAPKAN.

PS. forward-LAH pesan ini ke semua orang yg saudara kasihi selagi masih ada waktu tersisa !! atau anda akan menyesal bila suatu saat anda akan melihat
orang2 yg saudara cintai berada pada "valley of torture!!""

GOD BLESS US

HOPE AND PRAY !!

KEEP THE FAITH THAT HE ALWAYS BE WITH US AND TRUST IN HIM THAT HE REALLY KNOWS YOU !!

"The LORD bless you and keep you; the LORD make his face shine upon you and be gracious to you; the LORD turn his face toward you and give you peace."



dikirim oleh : kevin dallish

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/26/2008 12:53:00 AM | No comments

HORMAT

Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
—Mazmur 8:6



Baca: Ester 1:1-5,9-12

Pada tahun 1967, vokalis asal Amerika Serikat, Aretha Franklin, menempati puncak tangga lagu dengan lagunya yang berjudul Respect (Hormat). Lagu tersebut menjadi lagu kebangsaan dari gerakan hak azasi manusia dan bagi mereka yang menuntut untuk diperlakukan dengan hormat.

Lama sebelum lagu Aretha tersebut menjadi terkenal, Ratu Wasti menempati peringkat tertinggi di Persia dengan versi Respect-nya sendiri. Kitab Ester dimulai dengan kisah Raja Ahasyweros yang mengadakan perayaan besar. Tidak cukup hanya menunjukkan kekuasaan dan kekayaannya, ia juga ingin memamerkan kecantikan istrinya. Oleh karena itu, ia memerintahkan Ratu Wasti untuk tampil di hadapan dirinya dan para tamu.

Jika Ratu Wasti mematuhinya, ia berarti membiarkan raja merendahkan dirinya dan tidak menghormatinya. Jika ia menolak, ia dapat kehilangan nyawanya. Ratu Wasti pun memilih untuk menolak permintaan raja. Sungguh tindakan yang berani! Wasti menolak untuk mengkompromikan kehormatannya demi direndahkan seperti sebuah barang. Keinginan Wasti untuk dihormati menyebabkan dirinya diasingkan. Kita tidak mengetahui apakah Wasti takut akan Allah. Namun, keberaniannya menunjukkan bahwa ia memahami tentang harga diri yang diberikan Allah kepada setiap manusia.

Allah menciptakan kita sesuai dengan gambar-Nya dan memahkotai kita dengan kemuliaan dan hormat, karena kita dibuat “hampir sama seperti Allah” (Mzm. 8:6). Karena kita mengasihi dan menghormati Allah, marilah kita memperlakukan diri kita sendiri dan orang lain dengan rasa hormat dan penghargaan. —MLW

Kemuliaan manusia yang sebenarnya adalah:
Allah membuat kita serupa dengan-Nya;
Tiada makhluk lain yang memiliki anugerah ini
Atau makhluk hidup lain yang sebanding dengan manusia.
—D. De Haan

-------------------------------------------------

Bahkan orang-orang yang kita kenal dengan karakter yang sulit pun diciptakan menurut gambar Allah.


disadur dari : http://www.rbcintl.org/

25 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/25/2008 11:10:00 AM | No comments

HUKUM TABUR TUAI

Ada dua orang India sedang mengarungi badai salju di pegunungan Himalaya. Mereka berjalan dengan susah payah karena udara yang sangat dingin terasa sampai ke sumsum tulang dan terpaan angin dingin juga menambah beratnya perjalanan mereka.

Di tengah perjalanan tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang tergeletak di pinggir jalan. Karena kasihan melihat keadaan orang itu, orang India yang pertama berkata kepada temannya, " Orang ini masih hidup. Kasihan sekali kalau dia dibiarkan tergeletak di sini, dia pasti akan meninggal, mari kita tolong dia." Tapi temannya menjawab," Bagaimana kita bisa menolongnya kalau membawa diri sendiri saja sudah sangat susah di tengah badai seperti ini. Kalau kau ingin membawanya, silahkan, tapi aku tidak akan menolongmu."

Maka orang yang pertama dengan sangat susah payah memanggul tubuh orang yang tak berdaya itu sedangkan temannya lebih dulu melanjutkan perjalanan sendirian. Orang India yang pertama memang pada awalnya merasa perjalannya sangat berat karena beratnya tubuh orang yang dipanggulnya itu, tapi lama kelamaan ia tidak terlalu merasa kedinginan lagi karena kehangatan tubuh orang yang dipanggulnya itu juga menjalar ke tubuhnya, maka ia terus berjalan dengan pelan-pelan.

Kemudian di tepi perjalanan, dia melihat satu orang lagi yang tergeletak di tengah jalan, ketika ia memperhatikan lebih dekat orang itu sudah meninggal dunia dan dia adalah teman seperjalanannya tadi.

Jadi karena tidak tahan terhadap cuaca yang sangat dingin itu, temannya itu akhirnya meninggal dunia karena kedinginan, sedangkan ia tertolong oleh panas tubuh orang yang ditolongnya itu.

Maka Anda lihat bukan, bahwa karena niatnya untuk menolong orang lain, sebenarnya dia telah menolong dirinya sendiri, jadi banyak-banyaklah berbuat baik terhadap siapa saja tak peduli betapa sulit pun keadaan kita. Karena kita tidak pernah tahu apa yang menanti kita di depan sana. (Lucia Andriani)


dikirim oleh : Gunawan Kurniawan

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/25/2008 12:50:00 AM | No comments

HIDUP BUKAN PERMAINAN

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
—Markus 8:34



Baca: Markus 8:31-38

Tetangga saya yang dahulu sering membicarakan tentang “permainan hidup” dan saya dapat mengerti mengapa ia mengatakannya. Adalah bagian dari sifat alami manusia untuk menganggap hidup sebagai satu permainan besar yang terdiri dari banyak permainan kecil. Persaingan dapat menyenangkan, menarik, dan menggairahkan.

Namun, hidup itu jauh melebihi sebuah permainan belaka—khususnya bagi pengikut Yesus Kristus. Ketika seorang percaya merasa butuh memiliki rumah terbesar, mengendarai mobil termewah, mendapatkan promosi paling awal, dan memenangkan setiap perdebatan, dari kacamata Allah ada sesuatu yang salah tentang hal ini. Sungguh tidak benar untuk mengabaikan perasaan orang lain, melanggar peraturan, dan bersuka atas kemalangan orang lain.

Menjalani hidup sebagai satu permainan besar yang harus selalu Anda menangi berarti hidup dalam fantasi dan angan-angan yang sia-sia. Meskipun harta milik, pekerjaan yang sukses, dan kemenangan pribadi adalah hal yang menyenangkan, hal-hal tersebut hanya bertahan selama kita hidup saja. Setelah itu, semuanya itu akan kita tinggalkan.

Yesus mengajar para murid-Nya untuk menyangkal diri, memikul salib-Nya, dan mengikuti-Nya dalam penyangkalan diri, dan terkadang hal tersebut bahkan berarti kematian (Mrk. 8:34-35). Ia menyatakan secara jelas kepada murid-murid-Nya bahwa kemenangan palsu dalam “permainan hidup” tidaklah terlalu berarti. Yang benar-benar berarti adalah apa yang telah dilakukan bagi Tuhan. —DCE

Jika aku tidak memiliki apapun kecuali Yesus, hanya Yesus—
Tidak ada hal lain yang kuinginkan lagi di dunia—
Oh, segalanya adalah milik aku dalam Yesus;
Karena semua kebutuhanku akan Ia sediakan.
—Olander
--------------------------------------------------------

Semua orang yang hidup bagi Allah adalah para pemenang sejati dalam kehidupan.


disadur dari : http://www.rbcintl.org/


24 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/24/2008 12:44:00 AM | No comments

KAPAL YANG BERLAYAR

Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.
—2 Korintus 5:8


Baca: 2 Korintus 5:1-10

Dorothy, seorang wanita lanjut usia, sedang menjelang ajal. Ia mengasihi Tuhan dan rindu untuk segera bersama dengan-Nya. Seorang perawat memberitahu keluarganya bahwa Dorothy mungkin akan bertahan sampai ia dapat berjumpa dengan anak perempuannya yang sedang dalam perjalanan untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Perawat itu berkata, “Seolah- olah Dorothy memijakkan satu kakinya di bumi dan kaki lainnya di surga. Ia ingin segera menyelesaikan langkah terakhirnya.”

Saya teringat pada gambaran indah dari Henry van Dyke tentang proses kematian:

“Aku sedang berdiri di tepi pantai. Sebuah kapal di sampingku mengembangkan layar putihnya di pagi hari yang teduh dan mulai mengarungi lautan biru. Aku berdiri dan memerhatikannya, sampai di kejauhan, kapal itu tampak seperti setitik awan putih, tepat pada garis laut dan langit saling menyatu. . . . Dan pada saat ketika seseorang di sebelahku berkata: ‘Kapal itu telah pergi!’, ada sepasang mata lain yang melihat kedatangan kapal itu, dan terdengar suara-suara lain yang meneriakkan dengan gembira: “Lihat, kapal itu sudah datang!’ Seperti itulah proses kematian.”

Bahkan yang lebih menghibur bagi seseorang yang kehilangan orang percaya yang dikasihinya adalah perkataan dari Rasul Paulus: “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia” (2 Kor. 5:1). Kita dapat bersukacita di dalam dukacita yang kita alami karena kita mengetahui bahwa orang yang kita kasihi sekarang ada bersama dengan Tuhan (ay.8). —AMC

Kematian orang-orang yang kita kasihi

Membawa kesedihan dan kepedihan yang mendalam;
Tetapi jika orang-orang yang kita kasihi telah mengenal Tuhan,
Rasa kehilangan kita menjadi keuntungan mereka.
—Sper

-----------------------------------------

Karena Kristus hidup, kematian bukanlah tragedi melainkan kemenangan.

disadur dari : http://www.rbcintl.org/



23 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/23/2008 11:00:00 AM | No comments

MENERIMA KEADAAN APAPUN YANG TERJADI

Ada dongeng cina kuno tentang seorang lelaki tua yang pandangan hidupnya sangat berbeda dari orang lainnya disebuah desa.

Orang itu memiliki seekor kuda dan pada suatu hari kuda tersebut minggat.
Tetangganya datang dan merasa prihatin kepadanya atas kejadian yang menimpanya itu. Jawabannya mengejutkan mereka “ Tapi bagaimana kalian tau kejadian ini jelek?” Ia bertanya. Beberapa hari kemudian kudanya kembali, malah bersama dengan dua ekor kuda liar. Kini lelaki tua itu memiliki 3 ekor kuda. Pada saat itu, para tetangganya memberikan ucapan selamat atas nasib baiknya itu. “Tapi bagaimana kalian tahu kejadian ini bagus?”.

Katanya pula. Dan esoknya ketika putranya sedang mencoba menunggangi salah satu kuda liar itu, dia terpelanting dan patah tulang kakinya.

Lagi-lagi tetangganya berdatangan menghibur pak tua atas kemalangan yang menimpa putranya. “Tapi bagaimana kalian tau kejadian itu jelek?”. Ia menimpali. Sejak saat itu, para tetangganya memutuskan tak akan memperdulikan dan tak ingin berurusan dengannya. Akan tetapi kemudian datanglah jenderal melalui desa itu dan mengajak semua kaum muda yang berbadan tegab untuk maju kemedan perang dan putra lelaki itu tdak ikut serta karena tubuhnya tak memungkinkan.

Kita semua akan menuju kehidupan yang jauh lebih tenteram, jika berlaku sabar melalui segala keadaan yang terjadi. Bahkan mungkin akan tersinggung dan tertekan kenangan pahit bila teringat kembali, namun kejadian itu mungkin bermanfaat dalam kehidupan anda kelak.

Barangkali saat menoleh kebelakang, anda akan tampak bahwa pengalaman itu justru yang membangkitkan kemajuan. Pengalaman itu membuat anda lebih “Anda” yang sekarang. Tanpa pengalaman lama yang dibenci, anda tak akan memperoleh kepribadian seperti sekarang.


dikirim oleh : seting


Posted by Ivan Shurex Posted on 4/23/2008 12:38:00 AM | No comments

DIGERAKKAN OLEH SYUKUR

Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
—1 Korintus 15:58


Baca: Kisah Para Rasul 20:22-24

Novel terbagus apakah yang pernah ditulis? Banyak orang akan memilih novel karya Leo Tolstoy, War and Peace (Perang dan Perdamaian), yang tebalnya lebih dari 1000 halaman. Bahkan setelah novel itu selesai ditulis, Tolstoy tetap terus menulis— seringkali sampai ia hampir mengalami kelelahan, tidak dapat tidur, dan nyaris jatuh sakit.

Suatu hari seorang teman bertanya pada Tolstoy mengapa ia tetap menulis dan membuat dirinya begitu kelelahan. Ia mengingatkan Tolstoy bahwa ia adalah seorang bangsawan Rusia kaya raya yang memiliki banyak pembantu yang siap melayaninya, dan bahwa ia memiliki masa depan yang cerah.

Tolstoy menjelaskan bahwa ia tetap menulis karena ia adalah budak dari dorongan kuat yang ada dalam dirinya dan ia memiliki hasrat kuat yang telah mendarah daging. Ia merasa bahwa ia harus terus menulis. Jika tidak menulis, ia akan menjadi gila.

Rasul Paulus mengalami dorongan yang serupa, tetapi yang mendorongnya adalah motivasi dari Allah. Seperti yang dijelaskannya kepada teman-temannya di Korintus, “Kasih Kristus yang menguasai kami” (2 Kor. 5:14). Bagi Paulus, gairah yang menyala-nyala, semangat yang membara, dan kekuatan rohanilah yang membuatnya menceritakan kabar baik tentang Yesus, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya.

Semangat yang penuh dedikasi semacam itulah yang telah menjadi ciri dari para pengikut Tuhan kita dari tahun ke tahun. Kiranya percikan dari api semangat itu membakar juga hati kita. —VCG

Isilah hidupku dengan Engkau, oh, Tuhan Allahku,
Dalam segala keadaan, ku senantiasa memuji,
Sehingga seluruh keberadaanku dapat menyatakan
Keberadaan-Mu dan jalan-Mu.
—Bonar
----------------------------------------------------------

Kabar baik itu terlalu baik untuk disimpan bagi diri sendiri.


disadur dari : http://www.rbcintl.org/

20 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/20/2008 11:02:00 AM | No comments

FIRMAN ALLAH YANG KEKAL

Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.
—Markus 13:31

Baca: 1 Petrus 1:17-25

Di Kastil Dublin di Irlandia, terdapat Perpustakaan Chester Beatty. Namanya ini diambil dari nama dari seorang industriawan yang punya hati pemurah dan suka memberikan sumbangan. Perpustakaan yang cantik ini memiliki kedai kopi yang menarik dan menjadi ajang beragam pameran.

Pameran yang menarik perhatian saya adalah pameran naskah-naskah kuno. Saya berjalan menyusuri area pameran dan melihat fragmen-fragmen Injil Perjanjian Baru yang berasal dari abad ketiga sesudah Masehi. Gulungan naskah itu adalah salah satu dari tulisan alkitabiah terkuno yang pernah ada sampai ditemukannya gulungan naskah Laut Mati pada pertengahan abad ke-20. Firman Allah telah terpelihara selama bertahun- tahun!

Ketika melihat bagian-bagian dari tulisan Kitab Suci itu, hati saya tersentuh oleh tidak berubahnya firman Allah. Karena sifat firman Allah yang kekal itu, kita dapat memiliki keyakinan penuh terhadap pesan yang tercantum di dalamnya. Yesus berkata, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Mrk. 13:31). Setelah itu Petrus, salah satu dari murid Yesus, juga menuliskan, “Semua yang hidup adalah seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama- lamanya” (1 Ptr. 1:24-25).

Firman Tuhan, yang tetap bertahan dari zaman ke zaman, adalah petunjuk yang paling dipercaya bagi hidup. —WEC

Alkitab bertahan, dan akan selamanya demikian
Ketika dunia telah berlalu;
Melalui inspirasi itu telah diberikan—
Atas semua perintahnya ku ‘kan taat.
—Lillenas



-------------------------------------------------------
Seperti kompas, Alkitab selalu mengarahkan Anda ke arah yang benar.


disadur dari : http://www.rbcintl.org/

19 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/19/2008 08:04:00 PM | No comments

Renungan Minggu Paskah V

Minggu Paskah V, 20 April 2008
Bacaan:
Kis 6:1-7;
1 Ptr 2:4-9;
Yoh 14:1-12.

Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Seperti biasanya waktu makan, Ibu mengambilkan nasi untuk bapak. Kali ini bapak protes, “Selama 32 tahun pernikahan kita, ibu selalu kasih bapak nasi kerak.

Bapak tidak tahan lagi!” Ibu heran. “Ibu kira ini kesukaan bapak. Ibu sendiri paling suka, tapi berkurban demi bapak.” Ah, kasihan betul. Sesudah 32 tahun menikah, ternyata mereka belum juga saling mengenal, belum tahu kesukaan masing-masing.

Filipus baru tiga tahunan bersama Yesus. Sedangkan kita mungkin sudah jauh lebih lama. Apa yang dikatakan Yesus tentang relasiku dengan Dia? Apakah Dia akan berkata, “Sudah sekian tahun kita bersama, tapi engkau belum juga mengenal Aku...” ?


disadur dari :Angela Merici Biblical Center
Posted by Ivan Shurex Posted on 4/19/2008 08:00:00 PM | No comments

EMPAT BIARAWAN

EMPAT BIARAWAN

Salam damai....
Nggak ada komentar deh buat joke dibawah ini....Tapi kayaknya sih bisa
bikin "perut mules"....(karena kebanyakan ketawa).
==============================

Empat orang biarawan diijinkan untuk pergi bermalam minggu oleh
Pastur, namun harus melaporkan hal apa saja yang telah mereka lakukan.
Keesokannya ....

Biarawan I : "Pastur semalam saya telah berdosa karena menonton film,
yang tidak sepantasnya di tonton"
Pastur : "Dosamu telah diampuni, karena kamu telah mengaku,
Sekarang pergi dan minumlah air suci!"

Mendengar hal itu si Biarawan IV, yang berada di urutan paling
belakang, tersenyum kecil.

Biarawan II : "Pastur, semalam saya berdosa karena saya tidak hati-
hati mengendarai motor sehingga menabrak seekor anjing
dan membunuhnya!"
Pastur : "Dosamu telah diampuni, karena kamu telah mengaku,
Sekarang pergi dan minumlah air suci!"

Biarawan IV, kembali tersenyum, diikuti dengan tertawa "he..he..
he...he...he..."

Biarawan III: "Pastur semalam saya berdosa karena tidak sengaja
melihat tetangga saya sedang mandi"
Pastur : "Dosamu telah diampuni, karena kamu telah mengaku,
Sekarang pergi dan minumlah air suci!"

Biarawan IV tidak tahan lagi tertawa makin keras, "Hua...ha...ha..."

Pastur : "Mengapa kamu tertawa seperti itu, Apa yang kamu
lakukan semalam?"
Biarawan IV : "Saya buang air kecil di tempat air suci, Pastur!"

---------------------------------------------------------------------
Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari,
jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan
dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. (Roma 13:13)
---------------------------------------------------------------------
Kiriman dari Totok (christianto(at))


disadur dari : www.sabda.org (177)

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/19/2008 11:55:00 AM | No comments

April 20 Sunday Reflection: Your Real Worth

“But you are a chosen people, a royal priesthood…a people belonging to God…”
-1Peter2:9

Readings :
Acts 6:1-7
Psalm 33:1-2, 4-5, 18-19(22)
1 Peter 2:4-9
John 14:1-12

If you were a commodity, how much do you think you’d be worth? Fifty million? One hundred thousand? Or just enough to buy two movie tickets with a popcorn and a drink?

In accounting, there’s a term called net worth. It’s simply the difference between total assets and total liabilities. Assets- like cash, stocks, bonds and properties- are things you own. Liabilities- like loans, credit card balances and mortgage- are those that you owe.

We are living in a world that measures success and the value of a person in terms of net worth. According to Forbes.com, in 2006, Henry Sy had a total net worth of $1.5 billion: Lucio Tan, $1.7 billion; and Jaime Zobel de Ayala, $1.3 billion(Filipino billionaires).

Do you sometimes feel that you are less of a person because you have a small bank account? Or because you drive a 2—year-old, run-by-faith vehicle? Or wear clothes bought in U.K. (ukay-ukay -used clothes)? As children of God, we are worth more than the most expensive jewelry, car or mansion that money can buy. We are priceless. God has chosen us as His very own. Our worth is based on what God does and not on what we have or what we do.
-Judith Concepcion

Reflection:
How much is your worth? Remember that your value comes from being one of God’s children, not from what you own or have achieved.

Prayer:
Thank you, Lord, for calling me Your own


sent by :
ChristianYouth
Posted by Ivan Shurex Posted on 4/19/2008 10:59:00 AM | No comments

BERPURA-PURA

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kan ak . . . sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
—1 Korintus 13:11


Baca: Yohanes 17:6-19

Cucu laki-laki kami yang berumur 4 tahun senang bermain berpura-pura dengan neneknya. Ia datang ke rumah kami seminggu sekali dan Ma-Ma (caranya memanggil neneknya) membawanya ke pasar swalayan, ke taman untuk memberi makan ikan dan kura-kura, dan naik kereta bawah tanah— semuanya itu dilakukan tanpa meninggalkan rumah kami! Begitu seriusnya ia menganggap permainan berpura-pura ini sebagai milik mereka hingga suatu hari pada saat kami naik kereta yang sebenarnya, ia bertanya, “Mengapa ada orang lain di kereta kita?”

Pura-pura adalah tindakan normal bagi seorang anak kecil. Namun, beberapa orang membawa kebiasaan berpura-pura itu sampai mereka dewasa ketika beribadah di gereja. Apa yang mereka peroleh di gereja tidak tercermin dalam perbuatan mereka di hari- hari lain. Pada hari Minggu mereka memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh, tetapi pada hari Senin mereka menjadi orang yang berbeda. Apa yang dinyatakan dalam ibadah tidak tercermin dalam perbuatan mereka.

Tuhan Yesus Kristus mengetahui bahwa kita dapat jatuh ke dalam perangkap ini dengan mudah. Itulah mengapa dalam doa-Nya kepada Bapa-Nya, Ia berkata, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” (Yoh. 17:15).

Tuhan telah menempatkan kita di dunia untuk membuat suatu perubahan di dalamnya. Sebagaimana Allah menjaga kita supaya tidak terjatuh dalam perangkap si jahat, Ia menginginkan kita untuk hidup dengan standar konsistensi yang sama di dalam setiap aspek kehidupan kita—bukan hanya pada hari Minggu. —CPH

Konsistensi! Betapa kita butuh untuk
Berjalan dengan hati-hati,
Menjalani hidup sesuai dengan ucapan kita,
Hingga kita bertemu muka dengan-Nya.
—NN.

---------------------------------------------------------
Beberapa orang memiliki ucapan surgawi di mulutnya, tetapi keinginan duniawi ada di dalam hatinya.



disadur dari : http://www.rbcintl.org/

18 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/18/2008 10:23:00 PM | No comments

The hug of a child

We can always learn from the children
how sincere and pure their heart


By Victoria Harnish Benson

As we drove across town, I prepared my two children for what they were about to see. A lady from our new church was dying of cancer, and I had volunteered to help her with the housework. "Annie has a tumor in her head, which has disfigured her face," I cautioned them.

Annie invited me to bring my children with me one day, as I had told her so much about them. "Most children are frightened by my appearance," she said. "But I will understand if they don't want to meet me."

I struggled for the words to describe Annie's appearance to my son and daughter. Then I remembered a movie I'd seen two years earlier with my son, when he was ten. I wanted him to understand that disabled people are like anyone else - their feelings can be hurt, too.

"David, remember the movie Mask about the boy with the facial deformity?"

"Yes, Mom. I think I know what to expect." His tone told me it was time to stop mothering him so much.

"What does a tumor look like?" Diane asked me.

Answering my nine-year-old daughter would be tricky. In order to prevent Diane's revulsion when she met Annie, I needed to prepare her just enough but not too much. I didn't want to frighten the child.

"Her tumor looks like the skin on the inside of your mouth. It sticks out from under her tongue and makes it hard for her to talk. You'll see it as soon as you meet her, but there's nothing to be afraid of. Remember, don't stare. I know you'll want to look at it . . . that's all right . . . just don't stare." Diane nodded. I knew she was trying to picture a tumor in her mind.

"Are you kids ready for this?" I asked as we pulled up to the curb.

"Yes, Mom," David said, sighing as only a preteen can.
Diane nodded and tried to reassure me. "Don't worry, Mommy. I'm not scared."

We entered the living room, where Annie was sitting in her recliner, her lap covered with note cards for her friends. I stood across the room with my children, aware that anything could happen next.

At the sight of my children, Annie's face brightened. "Oh, I'm so glad you came to visit," she said, dabbing a tissue at the drops of saliva that escaped from her twisted mouth.

Then it happened. I watched David stride across the room to Annie's chair, wrap his arms around her shoulders and press his cheek to her misshapen face. Smiling, he looked into her eyes and said, "I'm happy to meet you."

Just when I didn't think I could be more proud, Diane copied her big brother and gave Annie the precious, accepting hug of a child.

My throat tightened with emotion as I saw Annie's eyes well up with grateful tears. I had nothing to worry about.

http://touching-inspiringstory.blogspot.com/





Posted by Ivan Shurex Posted on 4/18/2008 10:55:00 AM | No comments

DIAMPUNI!

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!
—Mazmur 32:1



Baca: Mazmur 103:1-12

Seorang anak laki-laki baru saja diantar mamanya ke kamar tidur dan diselimuti. Si mama kemudian menanti untuk mendengar doa anaknya. Karena telah berbuat nakal sepanjang hari, anak itu merasa tidak nyaman. Lalu ia berkata kepada ibunya, “Mama keluar saja dan tinggalkan aku sendiri. Aku ingin berdoa sendirian.”

Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, mamanya bertanya, “Bobby, apakah ada sesuatu yang ingin kau ceritakan pada Mama?” “Tidak, Mama,” jawab Bobby. “Pasti Mama akan memarahiku, tetapi Allah akan mengampuniku dan melupakan kesalahanku itu.”

Anak kecil tersebut memahami salah satu keuntungan terbesar dari keselamatan—kenyataan tentang dosa-dosanya telah diampuni. Alkitab menyatakan bahwa di dalam Kristus “kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa” (Kol. 1:14). Kita yang telah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat menikmati kemerdekaan dari penghukuman kekal atas dosa (Rm. 8:1), dan kita juga dapat mengalami pengampunan dan disucikan setiap hari (1 Yoh. 1:9).

Rasul Paulus mengatakan bahwa keselamatan juga memberikan tambahan keuntungan lainnya: kita telah dibenarkan (Rm. 3:24) dan kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah (5:1).

Kita tidak boleh berpikir bahwa dosa-dosa kita dianggap enteng oleh Allah. Namun ketika kita mengaku kesalahan kita dan bertobat dengan sungguh-sungguh, Allah siap untuk mengampuni berdasarkan apa yang telah Yesus lakukan di kayu salib. Pilihan ada di tangan kita, apakah kita akan menerimanya. —RWD

Andaikan jagat milikku,
Dan kuserahkan pada-Nya,
Tak cukup bagi Tuhanku,
Diriku yang diminta-Nya.
—Watts

Ketika Allah mengampuni dosa, Ia tidak pernah mengungkitnya lagi.

disadur dari : http://www.rbcintl.org/


Posted by Ivan Shurex Posted on 4/18/2008 10:21:00 AM | No comments

TANDA - TANDA BAHAYA!!

1. Jika kehidupan batiniah Anda jarang bersukacita, tidak ada damai sejahtera, dan kacau, berarti Anda tidak hidup menurut Kitab Suci

2. Jika orang-orang yang dekat dengan Anda (pasangan, anak-anak, dan mereka yang mengharapakan dukungan rohani dan emosional dari Anda) kerap merasa kesepian, berkecil hati, atau kecewa, barangkali itu karena Anda tidak bersedia dipakai Allah dalam kehidupan mereka.

3. Jika memikirkan suatu aktivitas membuat Anda diliputi emosi yang meluap-luap atau tertekan secara fisik (perut terasa menegang, tubuh menjadi sangat letih, sakit kepala). Mungkin Allah memakai tanda-tanda fisik dan emosional ini untuk menunjukkan bahwa suatu roh palsu tengah mendorong Anda melakukan sesuatu.

4. Jika And tidak punya waktu untuk mendoakan suatu aktivitas, berarti Anda tidak akan punya waktu untuk mengerjakannya.

5. Jika Anda tidak punya waktu untuk menangani suatu hal yang mendadak atau hal darurat yang bersifat insidentil, berarti Anda benar-benar sangat sibuk.


dikirim oleh : kevin dallish
Posted by Ivan Shurex Posted on 4/18/2008 10:05:00 AM | No comments

Boneka untuk Adikku

jangan pernah mencintai karena uang. Anda tak tahu kapan hari terakhir anda atau kapan mereka meninggalkan anda.

Catatan: ini adalah kisah nyata

Hari terakhir sebelum Natal, aku terburu-buru ke supermarket untuk membeli hadiah-hadiah yang semula tidak direncanakan untuk dibeli. Ketika melihat orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan waktu selamanya, sedang masih banyak tempat yang harus kutuju" "Natal benar-benar semakin menjengkelkan dari tahun ke tahun. Kuharap aku bisa berbaring, tidur, dan hanya terjaga setelahnya" Walau demikian, aku tetap berjalan menuju bagian mainan, dan di sana aku mulai mengutuki harga-harga, berpikir apakah sesudahnya semua anak akan sungguh-sungguh bermain dengan mainan yang mahal.

Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut boneka itu dan terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa boneka itu. Anak itu mendekati seorang perempuan tua di dekatnya: 'Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya cukup uang?' Perempuan tua itu menjawab: 'Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, sayang.' Kemudian Perempuan itu meminta anak itu menunggu di sana sekitar 5 menit sementara ia berkeliling ke tempat lain. Perempuan itu pergi dengan cepat. Anak laki-laki itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.

Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada siapa dia ingin memberikan boneka itu. 'Ini adalah boneka yang paling disayangi adik perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada Natal ini. Ia yakin Santa Claus akan membawa boneka ini untuknya' Aku menjawab mungkin Santa Claus akan membawa boneka untuk adiknya, dan supaya ia jangan khawatir. Tapi anak laki-laki itu menjawab dengan sedih 'Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke tempat dimana adikku berada saat ini. Aku harus memberikan boneka ini kepada mama sehingga mama dapat memberikan kepadanya ketika mama sampai di sana.' Mata anak laki-laki itu begitu sedih ketika mengatakan ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan. Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap Tuhan, maka kukira mama dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku.' Jantungku seakan terhenti.

Anak laki-laki itu memandangku dan berkata: 'Aku minta papa untuk memberitahu mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk menunggu hingga aku pulang dari supermarket.' Kemudian ia menunjukkan fotonya yang sedang tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku juga ingin mama membawa foto ini supaya tidak lupa padaku. Aku cinta mama dan kuharap ia tidak meninggalkan aku tapi papa berkata mama harus pergi bersama adikku.' Kemudian ia memandang dengan sedih ke boneka itu dengan diam.

Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil beberapa catatan dan berkata kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita periksa lagi, kalau-laki uangmu cukup?' 'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku cukup.' Kutambahkan uangku pada uangnya tanpa setahunya dan kami mulai menghitung. Ternyata cukup untuk boneka itu, dan malah sisa. Anak itu berseru: 'Terima Kasih Tuhan karena memberiku cukup uang' Kemudian ia memandangku dan menambahkan: 'Kemarin sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk memastikan bahwa aku memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini sehingga mama bisa memberikannya kepada adikku. DIA mendengarkan aku. Aku juga ingin uangku cukup untuk membeli mawar putih buat mama, tapi aku tidak berani memohon terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA memberiku cukup untuk membeli boneka dan mawar putih.' 'Kau tahu, mamaku suka mawar putih'

Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku berlalu dengan keretaku. Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati yang sepenuhnya berbeda dari saat memulainya. Aku tidak dapat menghapus anak itu dari pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di koran lokal dua hari yang lalu, yang menyatakan seorang pria mengendarai truk dalam kondisi mabuk dan menghantam sebuah mobil yang berisi seorang wanita muda dan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal seketika, dan ibunya dalam kondisi kritis. Keluarganya harus memutuskan apakah harus mencabut alat penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak akan mampu keluar dari kondisi koma. Apakah mereka keluarga dari anak laki-laki ini?

Dua hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca di koran bahwa wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat menghentikan diriku dan pergi membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke rumah duka tempat jenasah dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang-orang untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu di sana, dalam peti matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang cantik dengan foto anak laki-laki dan boneka itu ditempatkan di atas dadanya. Kutinggalkan tempat itu dengan menangis, merasa hidupku telah berubah selamanya. Cinta yang dimiliki anak laki-laki itu kepada ibu dan adiknya, sampai saat ini masih sulit untuk dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria mabuk mengambil semuanya dari anak itu.


dikirim oleh : kevin dallish

17 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/17/2008 10:17:00 AM | 1 comment

TIADA YANG ABADI

Teman, apakah engkau pernah merasakan saat-saat yang begitu pedih hingga rasanya hampir tak tertahankan? Aku pernah, misalnya ketika badai masalah datang bertubi-tubi seperti tiada hentinya dalam hidupku. Atau ketika kehilangan seseorang yang sangat aku cintai.

Pernahkah engkau juga merasakan kebahagiaan yang begitu menyenangkan hingga rasanya ingin meloncat-loncat kegirangan bak anak kecil yang mendapat mainan baru? Aku juga pernah mengalaminya, misalnya ketika orang yang aku kasihi menyatakan bahwa dia juga mencintaiku, peduli akan diriku, atau ketika berkat tak terhingga menghampiri diriku.

Tapi kemudian apa yang terjadi? Bukankah semua rasa, apakah itu duka yang paling pedih atau kebahagiaan yang paling membahagiakan sekali pun hanya sesaat kita rasakan, dan setelah itu hanya kenangan yang tersisa? Yah, sesaat itu entah berapa lama, tapi tetap hanya sesaat. Untuk apa terlalu lekat pada masalah yang tak bisa kita selesaikan? Lebih baik berusaha dan melakukan yang terbaik setelah itu lepaskan, biarkan Tuhan yang bekerja selanjutnya. Tak ada yang abadi di dunia ini. Pesta yang paling meriah sekali pun pasti akan berlalu, demikian juga dengan badai yang paling ganas, lihatlah akhirnya hari akan kembali cerah. Semuanya pasti akan berlalu. Pada akhirnya hanyalah Tuhan yang abadi, hanya Dia yang hakiki

Jadi untuk apa kita terlalu lekat pada satu hal, entah itu seseorang yang berarti dalam hidup kita, apa lagi benda materi, pekerjaan, kedudukan atau apa pun itu, kalau hanya sesaat saja kita nikmati? Lebih baik kita nikmati apa yang sekarang ada tanpa terlalu melekat padanya. Nikmati kebahagiaan, nikmati pula masalah yang datang menjelang. Karena segala sesuatu yang datang dalam hidup kita, suka duka yang silih berganti, apa pun itu, tidak ada yang kebetulan. Tuhan sudah mempunyai rencana indah atas semuanya itu, yang hanya dimaksudkan-Nya untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita. Jika demikian adanya bukankah lebih baik kita mencari harta surgawi yang jelas tidak dapat dicuri dan tidak termakan oleh rayap? God Bless You all.(Lucia)


dikirim oleh : Gunawan

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/17/2008 09:43:00 AM | No comments

SALING MEMBERI SEMANGAT

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
—Ibrani 10:24


Baca: Ibrani 10:19-25

Satu mil dari garis finis lomba maraton London, ribuan penonton yang memegang papan-papan slogan berbaris di sepanjang jalur lomba. Ketika penonton melihat seorang anggota keluarga atau teman mereka yang mengikuti lomba sudah tampak dari kejauhan, mereka meneriakkan nama orang itu, melambaikan tangan, dan memberikan semangat: “Tinggal sedikit lagi! Teruslah berlari! Sudah hampir mencapai finis.” Setelah berlari 25 mil, banyak peserta lomba tidak lagi berlari dan mulai berjalan, bahkan bersiap-siap untuk menyerah. Sungguh menakjubkan ketika melihat para pelari yang kehabisan tenaga itu mulai bersemangat lagi dan mempercepat langkahnya ketika mereka melihat seseorang yang dikenalnya atau mendengar nama mereka dipanggil.

Dorongan semangat! Kita semua membutuhkannya, khususnya dalam perjalanan iman kita. Kitab Ibrani memberitahu kita untuk saling mendorong. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan- pertemuan ibadah kita, . . . tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (10:24-25).

Perjanjian Baru penuh dengan kepastian bahwa Kristus akan segera datang. “Tuhan sudah dekat!” (Flp. 4:5). “Kedatangan Tuhan sudah dekat!” (Yak. 5:8). “Sesungguhnya Aku datang segera” (Why. 22:12).

Ketika “menjelang hari Tuhan yang mendekat,” marilah kita saling memberi semangat dalam iman. “Teruslah berlari! Sudah hampir sampai! Garis finis sudah terlihat.” —DCM

Tolong aku, Tuhan, untuk meyakinkan dan menguatkan
Orang lain dengan kata-kata yang kuucapkan hari ini;
Aku akan selalu mencoba untuk memberi semangat,
Ketika jalan hidupku bertemu dengan jalan hidup orang lain.
—Hess


Bahkan jika Anda tidak memiliki apapun untuk diberikan, Anda tetap dapat memberikan semangat.


disadur dari : http://www.rbcintl.org/

16 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/16/2008 10:06:00 AM | No comments

Hanya titipan

Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"

(WS Rendra).


dikirim oleh : Gunawan


Posted by Ivan Shurex Posted on 4/16/2008 09:32:00 AM | No comments

HADIAH YANG TIDAK SEMPURNA

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak perubahan atau bayangan karena pertukaran.
—Yakobus 1:17

Baca: Yakobus 1:2-18

Di masa kanak-kanak, saya bertanya-tanya mengapa harus berterima kasih kepada Tuhan untuk makanan yang tidak saya sukai. Dalam pikiran saya yang belum dewasa, berterima kasih adalah tanggapan setelah menerima sesuatu yang diinginkan—seperti hamburger dan kentang goreng, dan bukan asparagus. Jadi mengapa saya harus berterima kasih untuk sesuatu yang tidak saya inginkan?

Secara manusiawi, cara pikir saya masuk akal. Tidak semua yang diberikan orang lain adalah demi kebaikan kita. Tentu juga tidak semua hal yang kita inginkan adalah baik.

Namun, dengan Allah, hal ini sungguh berbeda. Seperti yang diingatkan Kristus kepada kita, orangtua yang penuh kasih tidak akan memberi anaknya batu ketika meminta roti, atau ular ketika mereka meminta ikan. Dan Tuhan lebih mengasihi kita dibandingkan orangtua kita yang di bumi (Mat. 7:9-11).

Hal itu tidak berarti bahwa anak-anak Allah dapat mengharapkan hidup yang bebas dari penderitaan dan tekanan. Yakobus mengatakan bahwa bukan hanya setiap pemberian yang baik datangnya dari Bapa Surgawi (1:17), tetapi kita juga harus “menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan” apabila kita “jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Ujian terhadap “iman kita itu menghasilkan ketekunan,” dan ketekunan itu bekerja menjadikan kita “sempurna dan utuh, dan tak kekurangan suatu apapun” (ay.2-4).

Bahkan ketika menerima sesuatu yang tampaknya tidak baik, kita dapat bersyukur karena kita mengetahui bahwa ada sesuatu yang lebih di balik apa yang dapat kita lihat. Apa yang kelihatannya seperti pemberian yang tidak sempurna mungkin merupakan sarana yang dipakai Allah untuk menyempurnakan kita. —JAL

Keindahan ganti abu, emas ganti barangku yang tak berharga;
Sukacita ganti kesedihanku, mahkota ganti salibku;
Damai mengatasi sakit hatiku, penyembuh bagi penderitaanku;
Mentari menghalau bayang, pelangi muncul setelah hujan.
—Widmeyer

Pencobaan kemungkinan adalah karunia indah yang tersembunyi dari Allah.

disadur dari : http://www.rbcintl.org/


15 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/15/2008 09:50:00 AM | 1 comment

Bagian Tubuh Terpenting

Ibuku selalu bertanya padaku apa bagian tubuh yang paling penting.

Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar.

Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu."
Jawabnya, "Bukan. Banyak orang yang tuli.
Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakanmu lagi nanti."

Beberapa tahun kemudian sebelum dia bertanya padaku lagi.
Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar.
Jadi, kali ini aku memberitahukannya,
"Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita." Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku."

Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal.
Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis.
Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis.
Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.

Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"

Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.

Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup".
Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting."

Dia memandangku dengan wajah keibuan.
Aku melihat matanya penuh dengan air mata.
Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu."

Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?"

Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis.
Kadang-kandang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."

Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan...
Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan...
Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.


dikirimi oleh : Gunawan Kurniawan
Posted by Ivan Shurex Posted on 4/15/2008 09:32:00 AM | No comments

TITIK KRITIS

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan . . . yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. —Kejadian 50:20

Baca: Kejadian 50:15-21

Setahun yang lalu, orang di seluruh dunia dikejutkan oleh tragedi penembakan yang menyebabkan 32 orang meninggal di kampus Universitas Virginia Tech. Setelah kejadian itu, ibu dari seorang korban yang terluka sangat parah namun akhirnya selamat, mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadikan kejadian buruk itu sebagai titik kritis dalam hidup anak laki-lakinya. Namun, sebaliknya, ia berharap hal itu dapat menjadi sesuatu yang positif, suatu perayaan yang luar biasa terhadap kehidupan anak laki-lakinya.

Saat peristiwa tak terpikirkan terjadi, mungkin kelihatannya tidak masuk akal untuk percaya bahwa luka emosi dapat diatasi oleh apapun juga. Akan tetapi, kehidupan Yusuf memberikan ilustrasi dashyat tentang kuasa Allah yang mengubahkan (Kej. 37–50). Saudara-saudaranya yang menjual Yusuf sebagai budak yakin bahwa ia akan membalas dendam pada mereka (50:15-17). Namun Yusuf berkata pada mereka, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (ay.20).

Saat kita meletakkan keinginan untuk membalas dendam ke dalam tangan Allah, kita terlibat di dalam proses luar biasa, yang digambarkan oleh Paulus: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Rm. 12:21).

Titik kritis dalam hidup kita tidaklah ditentukan oleh kejahatan yang menimpa kita, tetapi oleh tanggapan kita melalui anugerah dan kuasa Allah.
—DCM

Ketika jalan dari hari ke hari menjadi sukar,
Ketika kesedihan membuat air mata kita merebak,
Keputusan kita untuk menemukan harapan kita dalam Kristus
Dapat menghibur jiwa dan meredakan ketakutan kita.
—D. De Haan

Biarkan rasa bahaya mengarahkan Anda kepada Yesus.


disadur dari : http://www.rbcintl.org/

14 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/14/2008 05:07:00 PM | No comments

Ketika Ragu

“Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”
—Matius 11:3

Baca: Matius 11:1-6

Yohanes Pembaptis sedang merana dalam penjara dan meragukan imannya. Dia mungkin sedang bertanya-tanya: Apakah Yesuslah Mesias itu? Apakah firman-Nya benar? Apakah sia-sia saja saya percaya dan bekerja untuk Tuan saya? Apakah tempat gelap ini adalah upah terakhir saya karena saya telah menjawab panggilan Allah?

Mungkin kita juga mempunyai banyak pertanyaan di benak kita: Apakah Yesus benar-benar Sang Juruselamat? Sungguhkah dosa saya telah diampuni? Dapatkah saya memercayai Alkitab? Akankah saya dibangkitkan dari kematian? Apakah surga itu ada? Apakah semua yang saya percayai hanyalah suatu ilusi yang kejam?

Kebanyakan dari kita menanyakan hal-hal itu dari waktu ke waktu. Saya juga menanyakannya—terutama di hari-hari kelam ketika keadaan hidup membawa kesedihan dan kekecewaan yang pahit, ketika tampaknya tidak ada akhir indah dari kisah hidup kita.

Mempertanyakan hal-hal itu bukanlah bentuk kegagalan iman tetapi suatu ujian terhadap iman dan dapat dijawab dengan cara Yohanes Pembaptis: Kita harus menyatakan keraguan kita kepada Yesus. Sesuai dengan waktu-Nya dan dengan cara-Nya sendiri yang bijaksana, Dia akan memulihkan keyakinan yang dirindukan oleh hati kita. Yesus tidak mengabaikan Yohanes dalam keraguannya. Dia menyampaikan perkataan tentang mukjizat yang diperbuat-Nya dan pengharapan yang dikhotbahkan-Nya (Mat. 11:4-6). Seperti yang dikatakan George MacDonald tentang kesetiaan Allah: “Anda mungkin juga mengatakan bahwa seorang ibu pun masih dapat menjauh dari anaknya yang berbaring merintih dalam kegelapan.” —DHR

Namun, dalam kegelapan hatiku malah terberkati;
Ya, di kesuraman jiwaku memperoleh istirahat;
Karena walaupun malam, aku menyaksikan Tuhan yang Maha Tinggi
Ada di dekat jiwa yang berduka, di manapun Ia berada.
—H. Frost

Jangan pernah meragukan dalam kegelapan apa yang telah Allah tunjukkan kepada Anda dalam terang.


disadur dari : http://www.rbcintl.org/

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/14/2008 12:36:00 PM | No comments

Nilai Seikat Kembang

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum.

Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata,

"Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak, karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!"

Penjaga kuburan itu menganggukan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata,

"Saya Ny. Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya."

"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda." jawab pria itu.

"Apa, maaf?" tanya wanita itu denga gusar.

"Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang.

Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya,"
jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.

"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny. Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal.

Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia.

Sampai saati ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!"

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong diri sendiri.


dikirim oleh : Gunawan

13 April 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/13/2008 11:43:00 AM | No comments

Cinta Sejati

Pada suatu kota,hiduplah sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak.Keluarga itu tidak kaya dan tidak kekurangan.Hidupnya berkecukupan.Sepasang suami istri itu sudah 20 tahun menikah tetapi belum juga mendapat momongan.Suatu kali mereka berdoa Adorasi,karena pada saat itu baru dibangun kapel Adorasi di Paroki mereka.Dan dalam Adorasi tersebut mereka menyerahkan diri kepada-Nya.Mereka berkata dalam hatinya:"Ya Tuhan kalau Engkau menghendaki kami hidup seperti romo dan suster yang tidak mempunyai anak,yo wis ga papa.Pokoknya kami serahkan nasib kami dalam tangan-Mu.Pokoknya pasrah wis....."

Dan pada saat itu juga perut sang istri mulai mules dan mual mau muntah-muntah.Sang suami ketakutan,ia cemas hal buruk terjadi pada istrinya.dengan tergesa-gesa penuh kecemasan mereka meninggalkan kapel Adorasi tersebut,dan bergegas menuju ke dokter.Dan sesampai ke dokter sang istri diperiksa,sang dokter tidak menemukan penyakit apapun pada sang sitri.Tetapi sang dokter mengatakan bahwa ada indikasi kehamilan.Dan mendengar hal itu pasangan suami istri itu sungguh gembira sekali.sungguh hal yang tak terduga,awalnya cemas sang istri mengidap penyakit yang parah ternyata malah mendapat calon momongan...!

Keluarga itu langsung bergegas menuju Gereja dimana tempat mereka bar-Adorasi.Dan setelah tiba mereka langsung ber-Adorasi mengucapkan syukur dan mereka ingin menceritakan kepada pastor paroki mereka.sungguh terkagum dan gembira pastor itu terhadap iman mereka.Bagaimana tidak sudah 20 tahun keluarga itu menikah dan belum dikaruniai anak dan bahkan pernah divonis tidak akan pernah hamil!Tetapi mereka langsung menyerahkan dirinya kepada-Nya.

Dan pada saat waktu melahirkan,sang istri mengalami berbagai rintangan.Ia mendapat dilema yang sangat pelik antara memiliki momongan yang mengakibatkan hilangnya salah satu organ vital yang mengatur salah satu fungsi multiorgan yang bisa mengancam nyawanya atau tidak akan memiliki momongan sama sekali.Setelah berpikir panjang akhirnya sang istri memilih untuk mempunyai anak dan konsekuensinya salah satu organ vitalnya hilang.

Setelah melahirkan bayi itu dirawatnya dan diasuhnya hingga remaja.

Pada masa remaja,seseorang akan berusaha mencari jati dirinya dan menentukan jalannya sendiri dan tidak jarang jalan pilihan mereka bertentangan dengan pilihan orang tuanya.Hal tersebut terjadi pada anak ini.Ia menentukan jalannya sendiri dan tidak sesuai dengan kehendak orang tuanya.Dan Ayahnya paling menentang keras.Ayahnya pun tak jarang bertengkar dengan sang anak.Dan marahnya itu pun bisa menusuk hati dan dapat melukai batin.Bayangkan saja:sang ayah ingin mempunyai momongan dan itu sulit sekali terwujud.Setelah terwujud dan sudah dibesarkan kok malah kurang ajar.Ayahnya pun merasa kecewa,sehingga terlontarlah kata-kata itu.Setiap hari mereka berbeda presepsi.Setiap hari mereka berantem.Sang ibu pun hanya bisa tabah dan sabar.Dia sabar menahan pedih,dan tak jarang ibu itu menangisi hatinya.Dan pada akhirnya anak itu pun sudah tidak tahan juga.Anak itu pun pergi meninggalkan rumah dan memututskan tidak kembali dan tidak menganggap mereka anggota keluarganya.

Dalam menentukan jalannya sendiri sang anak pun akhirnya memilih jalan yang tidak baik dan menjurus kepada pergaulan bebas.Mereka membuat genk dan sering pesta sabu-sabu bersama.Pada suatu ketika polisi mengetahui mereka sedang berpesta sabu-sabu dan polisi itu pun menggerebeknya.Teman-teman anak itu pun berhasil ditangkap tetapi anak itu pun berhasil kabur dan lolos.Dan anak it uterus dikejar dan ia memutuskan untuk pulang kerumahnya.Dan saat penggerebekan itu terjadi bentrok senjata.Baku tembak pun tak dapat dihindarkan.Dan pada saat anak itu sudah kehabisan peluru dan tidak dapat berkutik dan mau ditembak di tempat,tiba-tiba ada sosok pria tua yang berlari menuju anak itu dan akhirnya tertembak peluru dari polisi yang mau menembak anak itu.Dan pria itu adalah sosok ayahnya.Dan ayahnya pun sudah tidak dapat diselamatkan lagi karena sudah terlalu tua dan tertembak pada bagian kepala.Sang Ayah akhirnya tewas di tempat.

Sang anak pun akhirnya dapat kabur dan hidup bebas.Dan ia pun akhirnya menjadi pengedar sabu-sabu.Dan akhirnya anak itu kaya raya dan tetap tidak mau pulang kerumah.

Pada suatu ketika ada saingan bisnisnya yang juga Bandar narkoba ingin menghancurkan dia karena sering kalah dalam menjual narkoba itu.Narkobanya sering tidak laku karena dia.Dan si pesaing merencanakan sesuatu untuk membunuhnya.Suatu ketika anak buah pesaing itu mau mengahajar dia.Tetapi dia sedang pergi dan tiba-tiba mobil mereka bertemu di jalan.Kejaran-kejaran pun tidak dapat dihindarkan.Dalam kejar-kejaran itu,ia mengalami kecelakaan yang parah,ia masuk ke jurang.Dan untung saja ia segera ditolong dan masih hidup,tetapi kondisinya kritis.Ia mengalami luka bakar yang parah karena mobilnya meledak dan salah satu ginjalnya mengalami gagal ginjal.Ia perlu mendapatkan ginjal dan segera ditolong.Dan pencarian pendonor pun dicantumkan dalam media masa.

Suatu ketika ada seorang ibu tua mebacanya dan bersedia mendonorkan ginjalnya dan konsekuensinya nyawa ibu itu pun tidak tertolong.Dan ia bersedia.Proses penacangkokan pun dimulai.Dan setelah diambil dan diberikan ke anak itu,anak itu pun kembali sehat dan sadar ketika ia sadar,ia diberitahu kalau yang mendonorkannya itu sudah meninggal dan ada disebelahnya.Dan setelah melihatnya anak itu pun menangis keras sekali.Perasaannya pun hancur.Karena yang mendonorkan itu adalah ibunya.Ia menyesal sekali karena ia belum sempat berterima kasih dan meminta maaf kepada ibunya yang telah lama menanti-nantikan momongan dan harus merelakan organ vitalnya untuk melahirkan anak itu dan merelakan ginjalnya dengan nyawanya untuk menyelamatkan hidup anak yang sering melawannya dan tidak lagi menganggapnya sebagai ibu.

Ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana nyawa dikorbankan untuk menyelamatkan seseorang.Seorang bapak dan ibu yang rela mengorbankan nyawanya bagi seorang anak yang sudah tidak menganggap orang tuanya.Coba bayangkan,sudah mau mempunyai anak saja susah,dan melahirkannya juga susah karena menghadapi dilema yang pelik dan parahnya tidak lagi menganggap orang tua .Bagaimana perasaan mereka?Tentu sakit sekali.Coba anda menjadi mereka,maukah anda mengorbankan nyawa anda?

Dalam menyelamatkan kita,Yesus juga mengalami hal seperti itu.Ia adalah Tuhan.Lalu Ia rela menjadi manusia,sudah itu Ia rela ditolak di Negeri asalnya.Perjalanan-Nya tidak selalu mulus,dan sering sekali mendapat rintangan yang begitu berat dari orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya.Tidak hanya iatu,Ia juga dikhianati oleh murid-Nya sendiri dan diserahkan kepada orang-rang saduki.Sesudah itu Ia disiksa sangat berat sekali bahkan sampai tidak lagi terlihat sebagai manusia..Ia dicambuk jauh melebihi aturan.Ia diolok-olok,diludahi lalu disalib.Mati dengan cara disalib ialah mati yang hina menurut orang Yahudi.Mengapa Yesus mau melakukan itu semua?

Karena Ia sangat mencintai manusia.Ia sangat mencintai kita semua.Walaupun Ia disiksa seperti itu,Ia tetap mendoakan dan mengampuni orang yang menyiksa-Nya.Bayangkan,Ia sudah disiksa begitu hebat,tetapi Ia tetap mengampuni.Bandingkan dengan kita.Kita hanya dibilang “Eh kamu pacarnya si A!” ;“Eh kamu pacarnya si B!” ; “eh kamu bodoh!” ; “eh kamu jelek!”

sudah tidak mau mengampuni,malah mendendam.

Lalu bagaimanakah tindakan kita dalam berterima kasih atas pengorbanan Yesus untuk menyelamatkan kita?Apakah kita rela mengorbankan waktu kita untuk pergi ke Gereja?Apakah kita jika ke Gereja sudah tidak perlu disuru lagi,bahkan malah mengingatkan orang tua?Apakah kita mau pergi ke Gereja sendiri tanpa dengan orang tua yang tidak bisa ke Gereja karena malas atau ada keperluan atau bahkan ikut-ikutan malas?Apakah kita sudah menjadikan Allah Tritunggal Mahakudus sebagai puncak hidup kita atau malah menganggap tidak penting?Apakah kita bersedia meluangkan waktu bagi Yesus?Apakah kita bersedia berkonban untuk Yesus?Dan mungkin jika Yesus memangilmu,apakah engkau mau mengikuti-Nya setulus hatimu dan rela meninggalkan segala kehidupan duniawi dan bersatu dengan keabadian?

Pada masa Retret Agung ini,kita diminta mengubah habitus lama yang buruk menjadi habitus yang baru lebih baik.Kita diminta untuk bisa mengampuni satu sama lain.Kita diminta berkorban satu sama lai.Kita diminta untuk melayani satu sama lain.Bisakah kita?

Dan tidak hanya itu,sebelum kita menyambut misteri penyelamatan dan kemenangan ini,kita diminta untuk mengakui kesalahan-kesalahan kita.Kita diminta untuk tidak menyembunyikannya di hadapan Allah Bapa.Melainkan kita diminta untuk memberitahukannya secara jujur,karena Allah Bapa sudah mengetahui semuanya.Kita diminta untuk memohon ampun atas segala dosa-dosa yang telah kita lakukan.Jika kita sudah mengakuinya secara jujur dan memohon ampun secara tulus,dosa kita akan diampuni.Tidak peduli seberapa besar dosa anda.Tetapi yang Allah butuhkan adalah kejujuran kita dan keterbukaan kita.Karena Allah sungguh baik.Ia bahkan rela mengorbankan Putra-Nya yang tunggal untuk ke dunia lalu menebus kita dengan Nyawa-Nya.

Dan dalam mencintai Allah,kita bisa mencontoh Yesus.Yesus sudah meberikan teladan bagaimana mencintai Allah yang benar yaitu melalui tindakan kasih kepada sesama.Kita diminta untuk menjadi pembawa damai di tengah peperangan.Kita diminta menjadi pembawa kejujuran di tengah kebohongan.Memang dalam hal tersebut memang sulit kita wujudkan.Tetapi mari kita coba.Jika ada orang yang mengajak berkelahi atau berperilaku kurang menyenangkan,diamkan saja d.Jangan termakan omongannya,jangan termakan tantangannya,dan jangan terpengaruh bila ia mengatakan diri kita takut.Melainkan doakan saja supaya tidak seperti itu lagi dan ampuni dia.Atau contoh lain jika ada yang mengajak berkelahi dan tidak mau menyelsaikan masalah secara damai laporkan saja ke pihak yang berwajib,jangan terpengaruh bila dianggap penakut,karena dengan hanya cara itulah semuanya agar ditangani bersama sampai beres.Dengan melakukan seperti itu kita sudah bisa membuktikan cinta kita kepada Tuhan yang menyelamatkan kita;yaitu dengan mengasihi sesama.

Oleh karena itu,marilah kita memulai hidup baru dengan mengubah habitus lama kita menjadi habitus yang baru.Sehingga kita pun bisa mendalami bagimana Cinta Yesus kepada kita dalam menyelamatkan kita.

Semoga Damai Tuhan kita Yesus Kristus dan Cinta kasih Allah dan Persekutuan Roh Kudus selalu beserta kita.

Amin.

Selamat Paskah.

dikirim oleh :
Stefano O.Carm.

  • Text Widget