26 January 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/26/2008 11:54:00 AM | No comments

Dua Kotak

Ada ditanganku dua buah kotak yang telah Tuhan berikan padaku untuk dijaga. Kata-Nya, " Masukkan semua penderitaanmu kedalam kotak yang berwarna hitam. Dan masukkan semua kebahagiaanmu kedalam kotak yang berwarna emas. "

Aku melakukan apa yang Tuhan katakan. Setiap kali mengalami kesedihan maka aku letakkan ia kedalam kotak hitam. Sebaliknya ketika bergembira maka aku letakkan kegembiraanku dalam kotak yang berwarna emas.

Tapi anehnya, semakin hari kotak berwarna emas semakin bertambah berat, sedangkan kotak berwarna hitam tetap saja ringan seperti semula. Dengan penuh rasa penasaran, aku membuka kotak berwarna hitam. Kini aku tahu jawabannya. Aku melihat ada lubang besar di dasar kotak berwarna hitam itu, sehingga semua penderitaan yang aku masukkan kesana selalu jatuh keluar.

Aku tunjukkan lubang itu pada Tuhan dan bertanya, " Kemanakah perginya semua penderitaanku? " Tuhan tersenyum hangat padaku. " Anakku, semua penderitaanmu berada padaku.."

Aku bertanya kembali, " Tuhan, mengapa Engkau memberikan dua buah kotak, kotak emas
dan kotak hitam yang berlubang ?"

" Anakku, kotak emas Kuberikan agar kau senantiasa menghitung rahmat yang Aku berikan
padamu, sedangkan kotak hitam Kuberikan agar kau melupakan penderitaanmu. "

Ingat-ingatlah semua kebahagiaanmu agar kau senantiasa merasakan kebahagiaan.
Campakkanlah penderitaanmu agar kau melupakannya....

23 January 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/23/2008 05:46:00 PM | No comments

Menggali Pesan Kitab Suci

Ada banyak rumusan tentang Kitab Suci. Dalam Seminar Dasar Alkitab dikata-kan bahwa Alkitab itu ?Sabda Allah dalam bahasa manusia yang ditulis untuk kita, untuk keselamatan kita.?
Untuk itu perlu bahwa Alkitab:
  1. dibaca dan dimengerti,
  2. dijadikan doa yang memupuk relasi kita dengan Allah,
  3. dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.
Ada banyak cara untuk ?menggali? pesan Kitab Suci. Salah satunya ialah dengan ?Pendekatan 4 arti?, yang sudah berabad-abad dipakai dalam Gereja dan sangat dianjurkan dalam Katekismus Gereja Katolik.

Langkah-langkahnya:

A. DOA
Membuka hati bagi karya Roh Kudus. Siap untuk mendengarkan Allah melalui sabda-Nya. Mohon terang untuk mengerti, serta kekuatan untuk melaksanakan apa yang dimengerti.

  1. MENCARI ARTI SASTRA
    Arti sastra adalah arti yang dimaksud oleh pengarang. Ada baiknya menyalin teks itu secara kolometris. Teks dibaca berulang-ulang, lalu kita jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
    1. Di mana terjadi?
    2. Kapan terjadi?
    3. Siapa tokoh-tokoh yang diceritakan?
    4. Apa yang dikatakan dan dilakukan masing-masing?
    5. Bagaimana interaksi antara tokoh-tokoh itu?
    6. Perkembangan atau perubahan apa yang terjadi?
    7. Apa pesan pokok dari teks?
    Alat bantu: Alkitab dengan peta, catatan kaki, ayat-ayat referensi. Ada baiknya membandingkan beberapa terjemahan, misalnya teks BIS.

  2. MENCARI PESAN IMAN
    Tujuannya: Untuk makin mengenal Kristus dan memahami misteri Allah. Teks dibaca lagi dalam konteks yang lebih luas.
    Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu:
    1. Di mana tempatnya dalam buku itu, bahkan dalam seluruh kitab suci dan dalam liturgi Gereja?
    2. Apa yang dapat kita ketahui dari teks ini tentang Allah Bapa, tentang Yesus Kristus dan tentang Roh Kudus?
    3. Di mana tempat peristiwa itu dalam sejarah keselamatan?
    4. Adakah peristiwa-peristiwa serupa itu dalam kitab suci dan dalam kehidupan Gereja?
    Alat bantu: Buku-buku tentang sejarah keselamatan, Teks-teks paralel dalam Kitab Suci, Konkordansi.

  3. MENCARI PESAN KASIH
    Memahami makna dan tujuan hidup kita dalam kasih Allah. Kitab suci merupakan cermin yang membuat kita melihat diri sendiri. Kita lebih mengerti hidup kita dengan membandingkannya dengan apa yang dikatakan dalam teks. Kita coba mengenali siapa kita, dan apa yang dapat atau harus kita lakukan. Di sini terjadi konfrontasi antara teks dan kita yang hidup di zaman ini.
    Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu;
    1. Saya mirip tokoh yang mana dalam cerita itu?
    2. Dari apa yang dikatakan dalam teks, manakah yang secara khusus menyentuh aku?
    3. Sabda Allah ini mempunyai arti khusus bagi situasi hidup yang bagaimana?
    4. Bagaimana hidup dan pelayananku? Alat bantu: Surat kabar, Mengamati dunia kita dan pengalaman kita sehari-hari.

  4. MENCARI PESAN HARAPAN
    Memandang ke masa depan untuk melihat tujuan sejarah dan tujuan hidup kita. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu:
    1. Apa arti sabda Allah ini dengan latar belakang masalah-masalah kita, dan apa artinya bagi masa depan?
    2. Dalam teks ini alasan-alasan apa yang dapat kita temukan untuk berharap?

B. BERDOA
Membaca Kitab Suci membawa kita kepada doa, kepada perjumpaan dengan Allah yang hidup.

disalin dari :
Angela Merici Biblical Center
Posted by Ivan Shurex Posted on 1/23/2008 10:55:00 AM | No comments

Perempuan dan Fiksi

Seorang pria memasuki toko buku dan bertanya pada seorang perempuan yang berada di belakang meja, "Punyakah Anda buku berjudul Laki-Laki, penguasa Perempuan?"

"Cobalah di bagian fiksi", jawabnya.


dikirim oleh : yulinda widianti

21 January 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/21/2008 12:14:00 PM | No comments

Ibu Bermata Satu

Ibu bermata satu

Ibuku hanya memiliki satu mata.
Aku membencinya… dia sungguh membuatku menjadi sangat memalukan.

Dia bekerja memasak buat para murid dan guru di sekolah… untuk menopang keluarga. Ini terjadi pada suatu ketika aku duduk di sekolah dasar dan ibuku datang. Aku sungguh dipermalukan. Bagaimana bisa ia tega melakukan ini padaku? Aku membuang muka dan berlari meninggalkannya saat bertemu dengannya.

Keesokan harinya di sekolah…

"Ibumu bermata satu?!?!?…. eeeee ejek seorang teman. Akupun berharap ibuku segera lenyap dari muka bumi ini.

Jadi kemudian aku katakan pada ibuku, "Ma… kenapa engkau hanya memiliki satu mata?! Kalau engkau hanya ingin aku menjadi bahan ejekan orang-orang , kenapa engkau tidak segera mati saja?!!!?

Ibuku diam tak bereaksi.

Aku merasa tidak enak, namun disaat yang sama, aku rasa aku harus mengatakan apa yang ingin aku katakan selama ini… Mungkin ini karena ibuku tidak pernah menghukumku, akan tetapi aku tidak berfikir kalau aku telah sangat melukai perasaannya.

Malam itu…Aku terjaga dan bangun menuju ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Ibuku sedang menangis disana terisak-isak, mungkin karena khawatir akan membangunkanku. Sesaat kutatap ia, dan kemudian pergi meninggalkannya.

Setelah aku mengatakan perasaanku sebelumnya padanya, aku merasa tidak enak dan tertekan. Walau demikian, aku benci ibuku yang menangis dengan satu mata. Jadi aku bertekad untuk menjadi dewasa dan menjadi orang sukses .

Kemudian aku tekun belajar. Aku tinggalkan ibuku dan melanjutkan studiku ke Singapore. Kemudian aku menikah. Aku membeli rumahku dengan jerih payahku. Kemudian, akupun mendapatkan anak-anak, juga. Sekarang aku tinggal dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggal ini karena tempat ini dapat membantuku melupakan ibuku.

Kebahagiaan ini bertambah besar dan besar, ketika…

Apa ?! Siapa ini?!

Ini adalah ibuku… Masih dengan mata satunya. Aku merasa seolah-olah langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku lari ketakutan melihat ibuku yang bermata satu.

Aku bertanya padanya, "Siapa kamu?!. Aku tidak mengenalmu!! !? kukatakan seolah-olah itu benar. Aku memakinya, "Berani sekali kamu datang ke rumahku dan menakut-nakuti anak-anakku! KELUAR DARI SINI!!
SEKARANG JUGA!!!?.

Ibuku hanya menjawab, "Oh, maafkan aku. Aku mungkin salah alamat.?Kemudian ia berlalu dan hilang dari pandanganku.

Oh syukurlah… Dia tidak mengenaliku. Aku agak lega. Kukatakan pada diriku kalau aku tidak akan khawatir, atau akan memikirkannya lagi. Dan akupun menjadi merasa lebih lega…

Suatu hari, sebuah undangan menghadiri reuni sekolah dikirim ke alamat rumahku di Singapore. Jadi, aku berbohong pada istriku bahwa aku akan melakukan perjalanan dinas. Setelah menghadiri reuni sekolah, aku mengunjungi sebuah gubuk tua, dulu merupakan rumahku… Hanya sekedar ingin tahu saja.

Di sana , aku mendapati ibuku terjatuh di tanah yang dingin. Tapi aku tidak melihatnya ia mengeluarkan air mata. Ia memegang selembar surat ditangannya… Sebuah surat untukku.

"Anakku…
Aku rasa hidupku cukup sudah kini…
Dan… aku tidak akan pergi ke Singapore lagi…
Tapi apakah ini terlalu berlebihan bila aku mengharapkan engkau yang datang mengunjungiku sekali-kali? Aku sungguh sangat merindukanmu…

Dan aku sangat gembira ketika kudengar bahwa engkau datang pada reuni sekolah . Tapi aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolahan. Demi engkau …

Dan aku sangat menyesal karna aku hanya memiliki satu mata, dan aku telah sangat memalukan dirimu.

Kau tahu, ketika engkau masih kecil, engkau mengalami sebuah kecelakaan, dan kehilangan salah satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa tinggal diam melihat engkau akan tumbuh besar dengan hanya memiliki satu mata. Jadi kuberikan salah satu mataku untukmu…

Aku sangat bangga akan dirimu yang telah dapat melihat sebuah dunia yang baru untukku, di tempatku, dengan mata tersebut. Aku tidak pernah merasa marah dengan apa yang kau pernah kau lakukan… Beberapa kali engkau memarahiku…

Aku berkata pada diriku, 'Ini karena ia mencintaiku …'

Pesannya, ya kadang2 kita tidak mengerti seberapa besar pengorbanan ibu (ortu) kita selama kita hidup. Karena itu hargai n hormatilah ibu (ortu) kita selama mrk msh hidup. Jangan sampai kita menyesal pada saat mereka meninggal, kita blm sempet membalas pengorbanan mereka. Dan selalu bawa mereka di dlm doa2 kita.

kiriman e-mail dari : Mariska Nara
Thu, 9 Aug 2007 16:55:36

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/21/2008 06:58:00 AM | 1 comment

Mengapa wanita selalu dipakai untuk berbagai iklan?




















































































































































































































































































































































































17 January 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/17/2008 07:59:00 PM | No comments

Tahukah Anda ?

Dear My Friends,

Tahukah anda kalau orang yang kelihatan begitu tegar hatinya, adalah orang yang sangat lemah dan butuh pertolongan?

Tahukah anda kalau orang yang menghabiskan waktunya untuk melindungi orang lain adalah justru orang yang sangat butuh seseorang untuk melindunginya?

Tahukah anda kalau tiga hal yang paling sulit untuk diungkapkan adalah : Aku cinta kamu, maaf dan tolong aku

Tahukah anda kalau orang yang suka berpakaian warna merah lebih yakin kepada dirinya sendiri?

Tahukah anda kalau orang yang suka berpakaian kuning adalah orang yang menikmati kecantikannya sendiri?

Tahukah anda kalau orang yang suka berpakaian hitam adalah orang yang ingin tidak diperhatikan dan butuh bantuan dan pengertian anda?

Tahukah anda kalau anda menolong seseorang, pertolongan tersebut dikembalikan dua kali lipat?

Tahukah anda bahwa lebih mudah mengatakan perasaan anda dalam tulisan dibandingkan mengatakan kepada seseorang secara langsung?

Tapi tahukah anda bahwa hal tsb akan lebih bernilai saat anda mengatakannya di hadapan orang tsb? --> setuju!

Tahukah anda kalau anda memohon sesuatu dengan keyakinan, keinginan anda tsb pasti dikabulkan?

Tahukah anda bahwa anda bisa mewujudkan impian anda, seperti jatuh cinta, menjadi kaya, selalu sehat, jika anda memintanya dengan keyakinan, dan jika anda benar2 tahu, anda akan terkejut dengan apa yang bisa anda lakukan.

kiriman email dari : irma
Sat, 22 Sep 2007 10:09:29 +0800

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/17/2008 07:47:00 PM | No comments

Membeli Waktu Papa

Steven adalah seorang karyawan perusaah an yang cukup terkenal diJakarta, memiliki dua putra. Putra pertama baru berusia 6 tahun bernama Leo dan putra ke dua berusia dua tahun bernama Kristian. Seperti biasa jam 21.00 Steven sampai di rumahnya di salah satu sudut Jakarta, setelah seharianpenuh bekeja di kantornya. Dalam keremangan lampu halaman rumahnya diamelihat Leo putra pertamanya di temani bik Yati pembantunya menyambut digerbang rumah.

"Kok belum tidur Leo?" sapa Steven sambil mencium anaknya. Biasanya Leo sudah tider ketika Steven pulang dari kantor dan baru bangun menjelang Steven berangkat ke kantor keesokan harinya.
"Leo menunggu Papa pulang, Leo mau tanya, gaji Papa itu berapa sih Pa?"
kata Leo sambil membuntuti papanya.
"Ada apa nih kok tanya gaji papa segala?"
"Leo Cuma pingin tahu aja kok Pah?
"Baiklah coba Leo hitung sendiri ya. Kerja papa sehari di gaji Rp 600.000,-, nah selama sebulan rata-rata dihitung 25hari kerja. Nah berapa gaji papa sebulan?"
"Se hari Papa kerja berapa jam Pa?" tanya Leo lebih lanjut.
"Seha ri papa kerja 10 jam Leo, nah hitung sana, Papa mau melepas sepatu dulu."
Leo berlari ke meja belajarnya dan sibuk mencoretco ret dalam kertasnya menghitung gaji papanya. Sementara Steven melepas sepatu dan meminum teh hangat buatan istri tercintanya.
"Kalau begitu, satu bulan Papa di gaji Rp 15.000.000,-, ya Pah? Dan satu jam papa di gaji Rp. 60.000,-." Kata Leo setelah mencorat-coret sebentar dalam kertasnya sambil membuntuti Steven yang beranjak menuju kamarnya.
"Nah, pinter kamu Leo. Sekarang Leo cuci kaki lalu bobok." Perintah Steven, namun Leo masih saja membuntuti Steven sambil terus memandang papanya yang benrganti pakaian .
"Pah, boleh tidak Leo pinjam uang Papa Rp. 5.000,- saja?" tanya Leo dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Leo, nggak usah macam-macam, untuk apa minta uang malam-malam begini.
Kalau mau uang besok saja, Papa kan capek mau mandi dulu. Sekarang Leo tidur supaya besok tidak terlambat ke sekolah!"
"Tapi Pah.."
"Leooo !! Papa bilang tidur!"bentak Steven mengejutkan Leo.
Segera Leo beranjak menuju kamarnya. Setelah mandi Steven menengok kamar anaknya dan menjumpai Leo belum tidur. Leo sedang terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang. Steven nampak menyesal dengan bentakannya.

Dipegangnyalah kepala Leo pelan dan berkata: "Maafkan Papa ya nak. Papa sayang sekali pada Leo." ditatapnya Leo anaknya dengan penuh kasih sambil ikut berbaring di sampingnya.
" Nah katakan pada Papa, untuk apa sih perlu uang malam-malam begini. Besok kan bisa, jangankan Rp. 5.000,-, lebih banyak dari itupun akan Papa kasih."
"Leo nggak minta uang Papa kok, Leo cuma mau pinjam. Nanti akan Leo kembalikan, kalau Leo udah menabung lagi dari uang jajan Leo."

"Iya, tapi untuk apa Leo?" tanya Steven dengan lembut.
"Leo udah menunggu Papa dari sore tadi, Leo nggak mau tidur sebelum ketemu Papa. Leo pingin ngajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang bahwa waktu papa berharga. Jadi Leo ingin beli waktu Papa."
"Lalu. " tanya Steven penuh perhatian dan kelihatan belum mengerti.

"Tadi Leo membuka tabungan, ada Rp 25.000,-. Tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 60.000,-, maka untuk setengah jam berarti Rp. 30.000,-. Uang tabungan Leo kurang Rp. 5.000,-. Maka Leo ingin pinjam pada Papa. Leo ingin membeli waktu Papa setengah jam saja, untuk menemani Leo main ular tangga. Leo rindu pada Papa." Kata Leo polos dengan masih menyisakan isakannya yang tertahan.

"Steven terdiam, dan kehilangan kata-k ata. Bocah kecil itu dipeluknya erat-e rat, bocah kecil yang menyadarkan bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kat a belaka namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.


kiriman e-mail dari : Rini
Mon, 8 Oct 2007 09:08:24
Posted by Ivan Shurex Posted on 1/17/2008 07:41:00 PM | No comments

Doa Malam ... diinterupsi oleh Tuhan

Bapa di surga
Ya?

Jangan menyela. Aku sedang berdoa.
Tapi kamu memanggil-Ku.

Memanggil-Mu?
Aku tidak memanggil-Mu. Aku sedang berdoa.

Bapa di surga
Nah, ya'kan, kamu melakukannya lagi.

Melakukan apa?
Memanggil-Ku. Kamu bilang, "Bapa di surga. EAku di sini. Apa yang ada dalam benakmu?

Lho, aku tidak bermaksud apa-apa, kok. Aku ini'kan cuma sekedar mengucapkan doa malamku. Aku selalu berdoa sebelum tidur. Itu merupakan kewajibanku.
Oh, baiklah. Teruskan.

Aku mengucap syukur atas segala berkat-Mu.
Sebentar. Berapa besar rasa syukurmu?

Apa?
Berapa besar rasa syukurmu atas segala berkat-Ku?

Aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Bukankah itu memang bagian dari doa? Begitulah mereka mengajarku berdoa.
Oh, baiklah. Teruskan
Teruskan?
Ya, teruskan doamu.
Oh, ya. Berkatilah mereka yang sakit, yang miskin dan yang menderita
Apakah kamu bersungguh-sungguh?
Ya, tentu saja.
Apa yang telah kamu lakukan untuk itu?
Lakukan? Siapa, aku? Tidak ada, kurasa. Aku hanya berpikir bahwa semua akan menjadi baik jika Engkau yang berkuasa atas segala sesuatu di sini seperti Engkau berkuasa di atas sana, jadi manusia tidak perlu lagi menderita.

Apakah Aku berkuasa atasmu?
Hmmm, aku pergi ke gereja, aku memberi kolekte, aku tidak...
Bukan itu yang Aku minta. Bagaimana dengan tingkah lakumu? Teman-temanmu dan juga keluargamu menderita karena ulahmu. Juga caramu memboroskan uang semuanya hanya untuk kepentingan dirimu sendiri saja. Dan bagaimana dengan buku-buku yang kamu baca?
Berhentilah mencelaku. Aku ini sama baiknya dengan orang-orang lain yang pergi ke gereja setiap hari Minggu.
Ah, maaf. Aku pikir engkau meminta-Ku untuk memberkati mereka yang berkekurangan. Agar hal itu terjadi, Aku perlu bantuan dari mereka yang memintanya, seperti kamu misalnya.
Tolong, Bapa. Aku perlu menyelesaikan doaku. Ini sudah jauh lebih lama dari biasanya.
Berkatilah para misionarismu agar mereka dapat menolong orang-orang yang menderita.
Maksudmu orang-orang seperti Dion?
Dion?
Ya, anak yang tinggal di ujung jalan itu.

Dion, tapi dia itu suka merokok dan mabuk-mabukan, dan tidak pernah pergi ke gereja.
Pernahkah kamu melihat ke dalam hatinya?
Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin
Aku melihatnya. Hatinya adalah salah satu dari hati yang paling pedih dan menderita.
Baiklah, kiranya Engkau mengutus misionaris-Mu ke sana, ya Tuhan.
Bukankah kamu yang harus menjadi misionaris-Ku, utusan-Ku? Aku rasa Aku telah menyatakannya dengan amat jelas dalam setiap Misa.
Hei, sebentar. Apa-apaan ini. Apakah ini hari "Pengkritikan- ku"? Aku ini sedang melakukan kewajibanku, melaksanakan perintah-Mu untuk berdoa. Dan tiba-tiba saja Engkau menyerobot masuk dan mulai membeberkan semua kesalahanku.
Ah, kamu memanggil-Ku. Jadi, Aku di sini. Teruskan doamu. Aku tertarik dengan bagian selanjutnya. Kamu belum mengubah susunan doamu'kan? Ayo...

Aku tidak mau.
Kenapa tidak mau?

Aku tahu apa yang akan Engkau katakan.
Ayo, coba dan lihatlah.

Ampunilah segala dosaku dan bantulah aku untuk mengampuni sesamaku.
Bagaimana dengan Billy?
Nah, betul'kan. Sudah kuduga. Aku tahu Engkau akan mengungkit-ungkit masalah itu. Dengar Tuhan , ia berbohong tentang aku sehingga aku dikucilkan. Semua temanku menyangka bahwa aku ini seorang pembohong besar, padahal aku tidak melakukan apa-apa. Lihat saja, akan kubalas dia!
Tetapi, doamu? Bagaimana dengan doamu?
Aku tidak bersungguh-sungguh.
Baiklah, setidak-tidaknya kamu berkata jujur. Aku pikir kamu memang senang membawa dendammu itu kemana-mana, ya'kan?
Tidak, aku tidak suka. Tetapi aku akan segera merasa puas begitu dendamku itu terbalaskan.
Kamu mau tahu suatu rahasia?Rahasia apa?
Kamu tidak akan merasa puas, malahan akan semakin parah. Dengarkan Aku, kamu mengampuni Billy dan Aku akan mengampunimu.
Tapi Tuhan, aku tidak dapat mengampuni Billy.
Kalau begitu, Aku juga tidak dapat mengampunimu.
Sungguh, apa pun yang terjadi?
Sungguh, apa pun yang terjadi.
Ah, kamu belum selesai dengan doamu. Teruskanlah.
Oh, ya Eantulah aku untuk menguasai diriku dan jauhkanlah aku dari pencobaan.
Bagus, bagus. Aku akan melakukannya. Tetapi kamu sendiri, jauhilah tempat-tempat di mana kamu dapat dengan mudah dicobai.
Apa maksud-Mu, Tuhan(I¡©(B
Berhentilah berkeliaran di rak-rak majalah dan menghabiskan waktumu disana . Sebagian dari yang ditawarkan di sana , cepat atau lambat akan mempengaruhimu. Tiba-tiba saja kamu akan sudah terjerumus dalam hal-hal yang mengerikan Edan jika itu terjadi, jangan memperalat-Ku sebagai pintu
keluar darurat.

Pintu keluar darurat? Aku tidak mengerti.
Tentu kamu mengerti. Kamu telah melakukannya berulang kali kamu terjerumus dalam situasi gawat, kemudian kamu datang kepada-Ku. "Tuhan, bantulah aku untuk keluar dari masalah ini dan aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Sungguh mengherankan, kekhusukan dan kesungguhan doamu meningkat drastis apabila kamu ditimpa masalah. Ingatkah kamu sebagian dari tawar-menawar yang kamu coba lakukan dengan-Ku?
Hmmm, aku tidak.Oh ya, Eketika guruku memergokiku menonton film tentang .....
Astaga! Ingatkah kamu bagaimana kamu berdoa? "Ya Tuhan. Jangan biarkan dia melaporkannya pada ibuku. Aku berjanji mulai sekarang tidak akan lagi menonton film tujuh belas tahun ke atas. Dia tidak melaporkannya kepada ibumu, tetapi kamu tidak menepati janjimu, ya'kan?

Tuhan, aku melanggar janjiku. Aku sungguh menyesal.
Baik, lanjutkan doamu.

Sebentar, Bapa. Aku ingin bertanya sesuatu kepada-Mu. Apakah Engkau selalu mendengarkan doa-doaku?
Ya, setiap kata; setiap saat.

Kalau begitu, mengapa Engkau tidak pernah menjawabku sebelumnya?
Berapa banyakkah kesempatan yang kamu berikan pada-Ku? Tidak ada cukup waktu antara kata "Amin-mu dan kepalamu menumbuk bantal. Bagaimana Aku dapat menjawabmu?
Engkau dapat, jika saja Engkau sungguh menghendakinya.
Tidak. Aku dapat hanya jika "kamu sungguh menghendakinya.
Anak-Ku, Aku selalu rindu untuk berbicara denganmu.

Bapa, maafkan aku. Maukah Engkau mengampuniku?
Sudah kuampuni. Dan terima kasih, sudah mengijinkan Aku menginterupsimu.
Kadang-kadang Aku begitu rindu untuk dapat berbicara denganmu.
Selamat malam. Aku mengasihimu.

Selamat malam, Bapa. Aku mengasihi-Mu juga.

kiriman e-mail dari : Mariska Nara
Thu, 29 Nov 2007 15:33:38

Thu, 29 Nov 2007 15:33:38 +0800
Posted by Ivan Shurex Posted on 1/17/2008 07:16:00 PM | No comments

Biarlah Tuhan Yang MENGEMUDIKAN HIDUP KITA

Kita tidak pernah mempertanyakan kemana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, kemana Dia akan membawa hidup kita ?

Seorang ayah mengajak puterinya, Asa, 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum. Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah : "Ayah tahu tempatnya?", tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.


"Tahu, jangan kuatir ...", jawab Ayah sembari tersenyum.


"Emang Ayah tahu jalan-jalannya?"


"Tahu, jangan kuatir ..."


"Benar, tidak kesasar Ayah?"


"Benar, jangan kuatir ...", jawab Ayah tetap dengan sabar.


"Nanti kalau Asa haus, bagaimana?"


"Tenang, nanti Ayah beli air mineral ..."


"Terus kalau lapar?"


"Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran ..."


"Emang ayah tahu tempat restorannya?"

"Tahu, sayang ..."

"Emang ayah bawa cukup uang?"

"Cukup, sayang ..."

"Kalau Asa pengin ke kamar kecil?"

"Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ..."

"Emang di musium ada toiletnya?"

" Ada , jangan kuatir ..."

"Ayah bawa tissue juga?"

"Bawa, jangan kuatir ...", kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.

"Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?"

"Ayah cari jalan yang lebih cepat ... supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti ..."

Tidak berapa lama, Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung,
"Kenapa Asa diam, sayang?"

"Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!"

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini. Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita. Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi. Padahal sesungguhnya Tuhan "sedang mengemudi" buat kita semua.

Kadang Ia membawa ke "gang sempit" yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain. Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya.

Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya. Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikanT hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.



Kiriman email dari : mariska nara
Sat, 1 Dec 2007 15:30:55 +0800
Posted by Ivan Shurex Posted on 1/17/2008 07:02:00 PM | No comments

Tuhan Tahu

My dear friends.....
Beberapa Hal Yang Dapat Mendorongmu Untuk Tetap Bertahan !

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinyasia-sia...
Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Tuhan sudah menghitung airmatamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja...
Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon.
Tuhan selalu berada disampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu Hendak berbuat apa lagi...
Tuhan punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Tuhan dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Tuhan sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur..
Tuhan telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Tuhan telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
TUHAN TAHU

Kiriman e-mail dari : mariska nara
Tue, 8 Jan 2008 18:47:44
Posted by Ivan Shurex Posted on 1/17/2008 06:55:00 PM | 1 comment

Keranjang Arang dan Kitab Suci

Seorang Kakek hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky (Amerika) dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Alkitab di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.

Suatu hari sang cucu nya bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?"

Dengan tenang sang Kakek dengan mengambil keranjang tempat arang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, " Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air."

Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,"

Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, " Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang arang itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu.

Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi.

Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat Kek, percuma!"
" Jadi kamu pikir percuma?" Jawab kakek. Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya.
"Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda.

Keranjang itu TELAH BERUBAH dari keranjang arang yang tua kotor dan kini BERSIH LUAR DAN DALAM. "Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu MEMBACA ALKITAB. Kamu TIDAK BISA MEMAHAMI atau INGAT segalanya, tetapi KETIKA kamu MEMBACANYA LAGI, kamu AKAN BERUBAH, luar dalam. Itu adalah KARUNIA dari ALLAH di dalam hidup kita."

Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.

Sepenggal kata mutiara:
"Teman yang baik adalah seseorang yang dapat berkata BENAR kepada kita, dan bukan orang yang selalu MEMBENAR-BENARKAN perkataan kita, tanpa memberi NASIHAT dan KOREKSI"

Nah teman, jadilah BERKAT bagi yang lain, dan TEMAN YANG SEJATI.
Tuhan Yesus memberkati.



Kiriman email dari : Yori Sahanaya.

12 January 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/12/2008 09:12:00 PM | No comments

8 Januari 2008

Mutiara Iman:
“Setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah kelangit dan mengucap berkat…”
(Mrk 6:41)


Lectio:
1Yoh. 4:7-10; Mzm. 72:1-2,3-4b,7-8; Mrk. 6:34-44.

Meditatio:
Pada suatu hari, seorang petani tua mengunjungi sebuah keluarga kaya untuk urusan bisnis. Di rumah itu dia diundang ikut makan siang bersama. Setiap orang yang hadir begitu duduk di meja itu langsung mengambil makanan, namun tidak demikian halnya dengan petani tua itu. Sebelum mulai makan, ia sejenak menundukan kepala dan bersyukur atas makanan yang tersedia. Ketika usai berdoa dan mengangkat kembali kepalanya, tuan rumah tersenyum kepadanya dan bertanya,”Apakah di sekitar daerah ini masih ada orang yang mengikuti kebiasaan lama seperti itu?” Orang tua itu sejenak terdiam. Lalu jawabnya,”Yah ada beberapa yang tidak pernah bersyukur atas makanan yang mereka terima.” Tuan rumah tersenyum bangga. “Pasti mereka itu orang terpelajar?” “Bukan tuan,” kata petani itu. “Mereka itu babi-babi yang kami pelihara.”

Cerita di atas mau menyampaikan pesan supaya kita tidak lupa bersyukur atas segala pemberian Allah, betapapun sederahananya pemberian itu. Dalam Injil hari ini Yesus tampak tenang dan tidak mengeluh kendati para murid hanya membawa lima roti dan dua ikan ke hadapanNya, padahal ada banyak orang yang sedang membutuhkan makanan. Atas makanan yang sedikit tersebut, Yesus tetap bersyukur kepada Allah. Karena diiringi rasa syukur dan semangat kebersamaan, rejeki yang tampaknya sangat sederhana itu dapat memberikan kelegaan dan kegembiraan. Apakah aku ini seorang yang selalu ingat bersyukur atas segala kebaikan Allah?

Contemplatio:
Pejamkan mata beberapa menit. Bayangkanlah Anda salah satu dari orang banyak yang berbondong-bondong untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Anda terkesan melihat Yesus yang berdoa atas lima roti dan dua ikan itu.

Missio:
Dalam perkerjaan mapun perjumpaan dengan orang-orang hari ini, aku tidak akan ragu untuk berbagi, entah perhatian, kemapuan/keterampilan, tenaga dan lain-lain.

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/12/2008 09:10:00 PM | No comments

7 januari 2008

Mutiara Iman:
Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu”
(Mat 4:23)

Lectio:
1Yoh. 3:22 – 4:6; Mzm. 2:7-8, 10-11; Mat. 4:12-17, 23-25

Meditatio:
Pada suatu hari, di sebuah ruang tunggu dokter, banyak pasien sedang menunggu giliran periksa. Salah satunya adalah seorang bapak yang sudah berusia lanjut. Bapak itu sebentar-sebentar melihat ke arah arlojinya. Akhirnya dia berdiri dan mendekati resepsionis. Dengan sopan dia berkata,”Nak, janji untuk saya adalah jam 10. Sekarang sudah jam 11. Saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dapatkah engkau menentukan waktu lain untuk saya selain hari ini?” Salah seorang pasien lainnya, yang mendengar percakapan itu, berbisik kepada teman yang duduk di sebelahnya. “Paling tidak bapak ini sudah berusia 70 tahun. Urusan apa yang dimiliki sampai-sampai ia tidak dapat menunggu lagi?” Bapak itu rupanya mendengar gosip yang terjadi di belakang punggungnya dan sambil membungkukkan diri, ia berkata,”Usia saya 87 tahun nak. Justru karena itulah saya tidak dapat menyia-nyiakan sekalipun hanya 1 menit dari waktu saya yang begitu berharga yang masih saya punyai.”

Cerita di atas mau menyampaikan bahwa setiap saat hidup kita ini berarti dan berguna bagi siapa saja yang ada disekitar kita. Dalam Injil hari ini, kita melihat bahwa Yesus pun mempunyai kegiatan harian yang padat berisi. HidupNya begitu berarti bagi karya perutusan Allah maupun demi kebaikan sesama. Kegiatan-kegiatan rutin seperti apakah yang mewarnai hidup harianku selama ini? Kegiatan apa yang perlu kutambahkan supaya hidupku lebih berarti bagi Tuhan maupun sesamaku?

Contemplatio:
Pejamkan mata beberapa menit. Bayangkanlah Anda salah seorang murid Yesus. Anda dapat melihat hampir semua aktivitas Tuhan Yesus dalam sehari. Di satu pihak Anda merasa kagum, di pihak lain Anda mulai berpikir bagaimana caranya agar tidak hanya menjadi seorang “penonton”.

Oratio:
Tuhan Yesus, bantulah Aku untuk membuat hidupku lebih berarti bagiMu dan bagi sesamaku. Amin.

Missio:
Dalam pekerjaan maupun perjumpaan dengan sesama hari ini, aku akan bersikap lebih peka akan kebutuhan mereka. Aku akan menjadi pendengar yang baik dan orang yang ringan tangan dalam membantu.

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/12/2008 09:07:00 PM | No comments

6 Januari 2008

Hari Raya Penampakan Tuhan

Mutiara Iman:
“…Masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibuNya, lalu sujud menyembah Dia…”
(Mat 2:11b).

Lectio:
Yes. 60:1-6; Mzm. 72:2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a.5-6; Mat. 2:1-12.

Meditatio:
Pada suatu hari Sokrates Mengunjungi seorang sederhana yang bernama Aeschines. “Tuan, saya orang miskin,” kata Aeschines. “Saya tidak mempunyai apa-apa. Saya hanya bisa memberikan diri saya kepada Anda.” Sokrates tersenyum. “Tahukah kamu,” kata Sokrates, “Kamu justru memberikan kepadaku hal yang paling penting.”

Cerita pendek di atas mau mengatakan bahwa memberikan diri sendiri adalah sebuah pemberian terbaik. Pesan yang sama juga mau diangkat pada hari raya penampakan Tuhan ini. Sementara para majus itu memberikan persembahan yang berharga dalam rupa emas, kemenyan dan mur untuk kanak-kanak Yesus, adakah persembahan lain yang lebih berharga yang dapat kita persembahkan kepada Yesus selain diri kita sendiri ini?

Contemplatio:
Pejamkan mata beberapa menit. Bayangkanlah Anda juga menjadi salah seorang yang berkunjung ke tempat Yesus dilahirkan. Anda bukan seorang raja, Anda seorang majus, Anda hanya seorang yang biasa saja. Anda tidak membawa apa-apa. Namun di dekat bayi yesus, Anda berbisik,”Tuhan, yang bisa saya persembahkan kepadaMu hanyalah segenap hatiku.”

Oratio:
Tuhan Yesus, yang bisa saya persembahkan kepadamu hanyalah diriku ini. Amin.

Missio:
Dalam perjumpaan dengan orang-orang disekitarku hari ini, aku akan lebih menghargai dan peka akan kebutuhan orang lain. Aku akan berusaha semampuku untuk tidak mengecewakan orang lain yang membutuhkan perhatian atau bantuanku.

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/12/2008 09:03:00 PM | No comments

5 Januari 2008

Mutiara Iman:
“Lihatlah, inilah seorang Israel sejati. Tidak ada kepalsuan di dalamnya…”
(Yoh 1:47b).

Lectio:
1Yoh. 3:11-21; Mzm. 100:1-2,3,4,5; Yoh. 1:43-51.

Meditatio:
Ketika bertemu dengan Natanael, Tuhan Yesus berkata,” “Lihatlah, inilah seorang Israel sejati. Tidak ada kepalsuan di dalamnya…” Dengan komentarNya ini, Tuhan mau memuji Natanael sebagai orang yang berani jujur, terus terang sekaligus hati-hati. Natanael tidak mudah percaya pada pendapat orang lain sebelum ia membuktikan sendiri. Namun sikap Natanael ini sekarang juga dapat mengingatkan kita pada salah satu murid Tuhan yang lain, yaitu Thomas. Di dalam Injil, salah satu kisah tentang Thomas yang paling terkenal adalah Thomas yang ingin melihat dengan matanya sendiri bekas paku pada tangan Tuhan sebelum ia dapat percaya bahwa Tuhan memang telah bangkit.

Maka salah satu pertanyaan yang dapat direnungkan sesuai Injil hari ini adalah dalam hal beriman kepada Tuhan Yesus, aku ini termasuk tipe orang beriman yang seperti apa? Aku akan tetap beriman kepada Tuhan sejauh hidupku serba berkecukupan? Apakah aku juga akan tetap beriman kepada Tuhan jika hidupku diliputi berbagai kesusahan, kegagalan dan penderitaan?

Contemplatio:
Pejamkan mata beberapa menit. Bayangkanlah diri Anda sedang duduk sambil memikirkan masa depan Anda yang belum terlalu jelas atau memikirkan beberapa masalah dalam hidup Anda yang belum beres. Lalu Yesus datang, duduk di dekat Anda dan berkata kepada Anda, “Janganlah pesimis. Aku selalu ada disampingmu…”

Oratio:
Tuhan Yesus, Engkaulah Andalan seluruh hidupku. Bantulah aku untuk tetap percaya kepadaMu dalam situasi seburuk apa pun. Amin.

Missio:
Dalam perjumpaan dengan orang-orang disekitarku hari ini, aku akan peka terhadap kebutuhan sesama dan sedapat mungkin menawarkan bantuan.

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/12/2008 09:00:00 PM | No comments

4 Januari 2008

Mutiara Iman:
“Apakah yang kamu cari?”
(Yoh 1:38b).

Lectio:
1Yoh. 3:7-10; Mzm. 98:1,7-8,9; Yoh. 1:35-42.

Meditatio:
Pada suatu hari, seorang sahabat melihat Sokrates sedang berada di sebuah toko barang-barang mewah. Ia merasa terkejut dengan kenyataan itu. Selama ini ia mengenal Sokrates sebagai seorang yang paling hemat. Maka ia bertanya kepada Sokrates, “Sobatku, kok kamu ada di sini, apa yang sedang kamu cari?” Sokrates tersenyum dan menjawab, “Aku ke sini untuk melihat-lihat betapa banyak barang yang tidak aku butuhkan.”

Pesan yang mau dikatakan adalah sadarilah bahwa di sekitar kita ada banyak barang atau hal yang sebenarnya tidak kita perlukan. Pesan senada juga diperlihatkan dalam Injil hari ini yang mengisahkan perjumpaan Yesus dengan beberapa murid yang pertama. Kepada mereka Yesus mengajukan satu pertanyaan yang paling mendasar “Apakah yang sebetulnya paling kamu cari dalam hidup ini?” Setelah beberapa waktu mereka menemukan sendiri jawabannya sehingga mereka bisa berkata, “Kami telah menemukan Mesias (bdk. Yoh 1:41).” Dengan kata lain, sebetulnya yang paling pantas dicari atau dimiliki dalam hidup kita adalah Tuhan Yesus sendiri. Dialah “harta” paling berharga dalam hidup kita. “Apa sih yang sebetulnya aku cari di dalam hidup ini?” Apakah “menemukan Kristus” juga menjadi jawabanku? Ataukah ada hal lain yang lebih penting dan berharga dari pada Kristus?

Contemplatio:
Pejamkan mata beberapa menit. Bayangkanlah diri Anda adalah Andreas. Anda amat bersukacita karena bertemu dengan Kristus. Sukacita itu mendorong Anda untuk mewartakan Kristus kepada setiap orang yang Anda kenal.

Oratio:
Tuhan Yesus, Engkau adalah “harta” yang paling berharga bagiku. Amin.

Missio:
Hari ini, aku akan berusaha menjadi orang yang sabar dan berpikir positif tentang orang lain. Aku ingin menyadair bahwa di dalam diri setiap orang yang ada di sekitaku itu Kristus sendiri yang hadir.

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/12/2008 08:57:00 PM | No comments

3 Januari 2008

Mutiara Iman:

“…Ia inilah Anak Allah”

(Yoh 1:34)

Lectio:
1Yoh. 2:29 – 3:6; Mzm. 98:1,3c-4,5-6; Yoh. 1:29-34.

Meditatio:
Kisah dalam Injil hari ini merupakan kelanjutan dari episode Injil kemarin. Dalam Injil hari ini Yohanes akhirnya bisa menunjukkan kepada muridnya, siapa yang dimaksudkan dalam pewartaan sebelumnya. Ia pernah berkata, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasutNyapun aku tidak layak (lih. Yoh 1:26-27).” Yang Yohanes maksudkan tidak lain adalah Yesus. Ketika melihat Yesus datang kepadanya di sungai Yordan itu, Yohanes berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia…”

Sebutan “Anak Domba” akan mengingatkan orang israel pada domba paskah yang telah membebaskan mereka dari malaikat maut. Sebutan itu juga mengingatkan mereka akan nubuat Yesaya perihal Hamba Allah yang mati “bagaikan seekor anak domba yang dibawa ke pembantaian” demi menyelamatkan kita (bdk. Yes 53:1-12). Dengan kata lain, Injil mau mengatakan bahwa pada Yesus terletak seluruh harapan keselamatan kita di masa depan. Kita menyadari hal ini ketika kita memasuki tahun baru ini. Kita boleh punya banyak rencana namun diatas segala-galanya semua rencana itu tidak akan berjalan jika tanpa restu dari Tuhan. Maka apapun yang (akan) terjadi pada tahun ini, entah menggembirakan atau menyedihkan, aku akan tetap percaya kepada Yesus. Aku yakin Dia adalah Anak Allah. Aku yakin Ia selalu Setia. Aku yakin bahwa beriman kepadaNya bukanlah hal yang sia-sia.

Contemplatio:
Pejamkan mata beberapa menit. Bayangkanlah Anda sedang bercakap-cakap dengan Yesus tentang segala rencana Anda di masa depan. Cobalah dengarkan pendapat Yesus tentang masing-masing rencana Anda itu. Barangkali ada yang masih perlu ditinjau lagi atau bahkan dibatalkan.

Oratio:
Tuhan Yesus kuletakkan seluruh harapan dan masa depanku padaMu. Amin.

Missio:
Hari ini, aku akan menjadi pembawa damai bagi setiap orang dan di mana pun aku berada.

09 January 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/09/2008 02:14:00 PM | No comments

2 Januari 2008

Pw. St. Basilius Agung dan Gregorius dr Nazianze


Mutiara Iman :
"...Luruskanlah jalan Tuhan!..."
(Yoh 1:23).

Lectio:
1 Yoh. 2:22-28; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Yoh. 1:19-28.

Meditatio:
Injil hari ini memperlihatkan Yohanes Pembaptis yang sungguh menyadari panggilan hidup dan perutusannya di dunia ini. Ia bukanlah Mesias itu. Ia adalah pembuka jalan bagi kedatangan sang Mesias. Tugas itu dijalankannya dengan ringan hati, penuh semangat dan sukacita.

Kesadaran diri sebagaimana yang dimiliki oleh Yohanes Pembaptis ini sepantasnya juga menjadi kesadaran kita di awal tahun baru ini. Segala rencana dan cita-cita kita untuk tahun 2008 hanya akan sungguh berarti sejauh rencana itu membuat Kristus makin mudah masuk ke dalam hidup kita dan membuat relasi kita dengan diriNya makin akrab. Maka pada hari ini kita bisa merenungkan pertanyaan sbb: Apakah yang hendak kulakukan supaya Tuahan mudah "memasuki" atau mengambil peranan di dalam hidupku? Manakah gaya hidup lama (dari tahun 2007) yang perlu kuubah? Apakah gaya hidup baru yang baik yang perlu kupraktekkan sejak awal tahun 200 ini?

Contemplatio :
Pejamkan mata beberapa menit. Bayangkalah di rumah Anda sedang sibuk mempersiapkan penyambutan seorang tamu yang sangat penting dan terhormat. Tamu itu tidak lain adalah Tuhan Yesus sendiri. Bayangkalah segala hal yang Anda lakukan untuk memberi penyambutan yang sepantasnya bagi Tamu istimewah itu.

Oratio:
Tuhan Yesus, datanglah ke dalam rumahku, kedalam keluargaku, kedalam hatiku. Amin.

Missio:
Hari ini, dalam percakapan dengan teman-teman, aku akan lebih menjadi pendengar yang baik. Aku juga akan memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya karena aku meyakini bahwa di dalam diri orang lain Kristus hadir.

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/09/2008 12:44:00 PM | No comments

1 Januari 2008

Hari Raya SP Maria Bunda Allah
Mutiara Iman :
"Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya" (Luk 2:19)

Lectio/Bacaan:
Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3.5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk 2:16-21.

Meditatio/Renungan:
Pada suatu pagi, seorang gadis desa yang cantik sedang berjalan membawa seember susu dikepalanya. Sambil berjalan, dia berpikir bahwa semua mata pemuda di desanya akan terpesona memandangnya. "Aku akan menjual susu ini ke kota. Kemudian aku akan membeli empat lusin telur dan membawanya pulang. Lalu kuletakkan telur itu biar dierami si upik (=sebutan untuk seekor induk ayam). Setelah tiga minggu, aku akan punya 48 anak ayam yang akan kupelihara sampai tahun baru. Lalu aku akan menjualnya dan mendapatkan banyak uang. Dengan uang itu, aku akan membeli beberapa potong baju baru. Dan semua pemuda desa akan berkata, : 'Oh, Susi, betapa cantiknya dirimu, maukah kau berdansa denganku?' Dan aku akan segera menarik kepalaku ke belakang seperti ini... dan berkata kepada mereka... "

Tetapi mereka tidak pernah tahu apa yang akan dikatakan oleh si Susi itu. Karena dengan tarikan kepalanya itu, ember pun jatuh ketanah dan tumpahlah susunya... Susi menangis kecewa dan berkata, "Betapa bodohnya aku karena telah menghitung jumlah ayam sebelum telurnya dierami."

Satu pesan yang dapat dipetik adalah mempunyai banyak rencana didalam hidup itu baik-baik saja, namun pada saat yang sama kita perlu bersikap tenang dan sabar. Pesan diatas mirip dengan pesan Injil hari ini. Pada awal tahun baru ini, kita bersyukur atas segala kebaikan Tuhan di tahun yang telah berlalu, memang baik kita buat beberapa rencana. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa masa depan mengandung hal-hal yang samar-samar, yang mungkin tidak terduga dan diluar kemampuan kita untuk mengontrolnya. Untuk itu mari kita belajar pada Bunda Maria yang begitu tenang menghadapi segala sesuatu.

Contemplatio/Kontemplasi:
Pejamkan mata, bayangkanlah Anda adalah seorang dari gembala yang berkunjung ke tempat Yesus dilahirkan. Anda terpesona dengan sang Bunda yang duduk dengan tenang di dekat bayinya sambil membelai Sang Bayi.

Oratio/Doa:
O Bunda Maria, ajarlah aku untuk mempunyai ketenangan seperti dirimu. Doakanlah kami selalu. Amin.

Missio/Perutusan:
Di hari pertama, tahun yang baru ini aku akan berusaha semakin dekat dengan Bunda Maria yang selalu menjagaku.
  • Text Widget