30 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/30/2008 08:28:00 PM | 4 comments

KETIKA BEBAN SEMAKIN BERAT

DIA MENGERTI DAN PEDULI

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita merasakan bahwa beban yang kita pikul terasa berat. Seringkali pula kita merasa putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Beban itu antara lain adalah naiknya segala macam kebutuhan hidup kita, untuk sandang, pangan dan papan serta pendidikan.

Kita tidak tahu harus berbuat apalagi karena seiring meningkatnya kebutuhan tersebut, ternyata pendapatan kita tidak bertambah. Dimana lagi harus dicari?

Beban itu terasa lebih kompleks lagi ketika dalam lingkungan pekerjaan pun terjadi apa yang dinamakan saling sikut. Rekan kerja tidak mau bekerja sama, saling menjatuhkan, saling mencari kambing hitam dan menyelamatkan diri sendiri. Tiba-tiba rekan kerja kita tanpa kita ketahui sebabnya tidak menyukai kita lagi, mungkinkah kita di fitnah? Tugas kita sering salah sehingga pimpinan menegur kita. Perasaan kita jadi sensitif. Apa yang harus kita lakukan?

Masalah lain timbul, saudara kita beralih agama karena mengikuti psangannya, padahal sejak kecil ia setia pada agamanya.

Kita dalam dilema, seperti terjebak dalam perangkap yang tidak memiliki jalan keluar. Kita tidak punya pilihan. Mengapa ini terjadi?

Mungkin jalan satu-satunya adalah dengan mencoba untuk berdoa kepada-Nya, mencoba berdoa bagi mereka yang memusuhi dan berusaha menjatuhkan kita, mendoakan pimpinan kita dengan jiwa yang besar. Dan berdoa mohon bimbingan dalam mencari jalan keluar atas segala permasalahan yang kita hadapi. Berdoalah kepada Tuhan dan berusahalah mencari jalan keluar dengan mohon bimbingannya.

Suatu hari ketika mengikuti suatu seminar, saya mendengar seorang pastor melantunkan lagu rohani, tidak hanya lagunya, tapi ternyata liriknya cukup bagus, entah mengapa sepertinya Tuhan berbicara melalui lagu tersebut. Lagu tersebut seperti sebuah nasehat yang baik yang harus kita mengerti dan ikuti. Tanpa terasa mata saya berkaca-kaca.

Lagu itu menyadarkan saya untuk percaya bahwa Tuhan lebih mengerti dan memahami apa yang kita alami, apa yang kita hadapi. Oleh karena itu kita memang harus tetap percaya dan menaruh harapan pada-Nya sebesar apapun permasalahan yang menimpa kita… karena Dia mengerti… dan peduli.

* * *

DIA MENGERTI
Do = C

C G/B Am C/G
Terkadang kita merasa
Dm G/B G
Tak ada jalan terbuka
Gm F Em
Tak ada lagi waktu
G C
Terlambat sudah

C G/B Am C/G
Tuhan tak pernah berdusta
Dm G/B G
Dia s’lalu pegang janji-Nya
Gm F/A G/B
Bagi orang percaya
F/A C G
Mukjizat nyata

Refrein :
C G/B Am
Dia mengerti, Dia peduli
C/G F Dm C/G G
Persoalan yang sedang terjadi
C G/B Am
Dia mengerti, Dia peduli
C/G F Dm C/G G
Persoalan yang kita alami

F G/F
Namun satu yang Dia minta
Em Am
Agar kita percaya
Dm G C
Sampai Mukjizat menjadi nyata

Fm C
Tuhan Mengerti

Dia Mengerti Dia Peduli * ch4r_l1e@yahoo.com * - Delon dan Superkids


Sumber : panjikristo's corner

28 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/28/2008 07:56:00 PM | 1 comment

Minggu, 29 Juni 2008

Minggu, 29 Juni 2008
H.R. S. Petrus dan Paulus.

Bacaan :

Kis 12:1-11;
2Tim 4:6-8,17-18;
Mat 16:13-19.

Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku. Simon diberi nama baru ‘Petrus’ yang berarti ‘batu karang’. Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang. Tentunya bukan sembarang batu karang, melainkan yang kokoh dan bisa diandalkan.

Tapi kalau kita melihat Petrus dari dekat, kita menjadi heran. Batu karang macam apa dia itu? Ia lebih menyerupai batu karang yang retak. Bukankah ia pernah menyangkal Yesus, dan sikapnya plinplan? Tapi begitulah cara Yesus. Ia tidak memilih orang yang sempurna – karena yang sempurna itu tidak ada. Ia memilih orang yang tidak sempurna dan tidak kudus untuk disempurnakan dan dikuduskan.

Kita boleh merasa lega dan terhibur. Kita semua yang dipanggil dan dijadikan pemimpin, dipilih bukan karena sudah sempurna. Asal kita mau dibentuk, Yesus perlahan-lahan membentuk kita menjadi bejana yang indah.


Sumber : Angela Merici Biblical Center
Posted by Ivan Shurex Posted on 6/28/2008 07:38:00 PM | 2 comments

Sikap Hidup

Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan selalu menjawab, ” Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih sukamenjadi orang kembar!”

Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran yang lain. Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya.

Jerry adalah seorang motivator alami. jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana , memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialamai.

Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, “Aku tidak me ngerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu.

Bagaimana kamu dapat melakukannya? ” Jerry menjawab,

Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu. Setiap ada sesorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya.. Aku selalu memilih sisi positifnya.”

“Tetapi tidak selalu semudah itu,” protesku. “Ya, memang begitu,” kata Jerry, “Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan. Kamu memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup.”

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran: membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjata. Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.

Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut.

Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, “Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku? ” Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan.

“Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang,” jawab Jerry. “Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup.”

“Apakah kamu tidak takut?” tanyaku. Jerry melanjutkan, ” Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata ‘Orang ini akan mati’. Aku tahu aku harus mengambil tindakan.”

“Apa yang kamu lakukan?” tanya saya. “Disana ada suster gemuk yang bertanya padaku,” kata Jerry. “Dia bertanya apakah aku punya alergi.
‘Ya’ jawabku..

Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, ‘Peluru!’ Ditengah tertawa mereka aku katakan, ‘ Aku memilih untuk hidup. Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati’.”

Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena sikapnya hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya.

Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah.

Have a positive day n Selamat Memilih…

Salam
Marga de Quelyu,



sumber : Mus@fiR
Posted by Ivan Shurex Posted on 6/28/2008 07:32:00 PM | No comments

Sudah siapkah Anda?

Sebulan yang lalu saya menerima berita kematian seorang anak kecil yang telah saya doakan agar sembuh. Saya terkejut dan sedih. Ia baru berusia 6 tahun. Pengalaman ini bukan yang pertama kali.

Sejak empat tahun lalu, belasan orang lain ikut saya doakan dan “antarkan” dengan petikan gitar karena saya sering pelayanan dengan pendeta yang menangani kematian di gereja kami. Dia berkhotbah dan memimpin pujian, saya yang bergitar.

Lain pula kisah yang terjadi pada sebuah keluarga kaya tiga tahun lalu. Yang meninggal adalah pemimpin keluarga itu, sang ayah. Karena begitu kayanya, peti mati yang digunakan sangat bagus. Di salah satu sisinya terukir dengan indah Perjamuan Terakhir: Yesus dan murid-murid-Nya makan bersama terakhir kali sebelum disalib.

Maut dapat menjemput kapan saja pada setiap orang.
Itu bisa terjadi pada anak kecil, juga pada orang tua. Mungkin saja, hari di mana Anda membaca renungan ini adalah hari terakhir hidup Anda. Bukan untuk menakut-nakuti, namun demikianlah adanya. Setiap orang tak ada yang tahu dengan tepat kapan ia tiada.

Mungkin kita tak diantarkan dengan peti mati yang mahal bila kita dipanggil pulang, seperti yang tadi saya kisahkan. Namun, hidup kita “mahal” dan sangat berharga karena telah dijalani dengan cinta, pengabdian dan pengorbanan bagi-Nya. Saat itu kita akan meninggalkan segala yang fana di dunia dengan tenang dan penuh kepercayaan bahwa kita akan disambut dengan gegap-gempita malaikat surga. Kita begitu berharga saat itu... sangat percaya diri.

Doa: Tuhan, mampukan aku menjalani kehidupan ini seturut kehendak-Mu agar aku dapat bersukacita ketika kembali pulang kepada-Mu.

:: Sidik Nugroho, 2006



di kirim oleh : Emmi Danielly


Posted by Ivan Shurex Posted on 6/28/2008 05:25:00 PM | No comments

On Sainthood

June 29 Solemnity of Sts .Peter and Paul Sunday Reflection

“I have competed well, I have finished the race, I have kept the faith.”
-2 Timothy 4:7


Readings:
Acts 12:1-11
Psalm 34:2-3,4-5,6-7,8-9
2 Timothy 4:6-8,17-18
Matthew 16:13-19

One of my bedside books now is “Asian Saints” by Fr. Francis X. Clark, SJ. This inspiring work narrates the colorful lives of the Asian martyrs. I couldn't help but see ow our verse today resonates loudly in the choices these saints have made. Here are some of their last words...

“Courage, go on. Cut me in as many pieces as you wish, and you will see that every piece is Catholic,” said Blesses Si, an 18-year-old Chinese whose right arm had been cut off because of his faith.

“I profess the religion of the Lord of heaven and earth, I will never deny it.... If you allow me to live, good; it not, I die with pleasure,” said Lawrence Ngon, a Vietnamese layman.

“I am afraid to die, but I am more afraid to deny God,” said Son Cha-son, a 28-year-old Korean who has strangled after he spoke these decisive words.

“You may kill us, but you cannot kill the Church and you cannot kill God,” said Sr. Agnes Phila, 31, who was killed with rifles in Thailand.

“For God I will give many thousand lives if I had them,” said our own Lorenzo Ruiz.
My friend, how have we kept our faith?- Lallaine Gogna

Reflection:
Think of concrete steps on how you can become a “saint” in your own situation.

Prayer:
Lord, give me courage and boldness to run my race and make You proud.


sent by :
ChristianYouth

27 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/27/2008 12:17:00 PM | 1 comment

Kopi Asin

Laki-laki itu datang ke sebuah pesta. Meskipun penampilannya tidak jauh berbeda dengan penampilan laki-laki lain yang datang, namun kelihatannya tidak seorangpun yang tertarik padanya. Ia lalu memperhatikan seorang gadis yang dari tadi dikelilingi banyak orang. Di akhir pesta itu, ia memberanikan diri mengundang gadis itu untuk menemaninya minum kopi. Karena kelihatannya laki-laki itu menunjukkan sikap yang sopan, gadis itupun memenuhi undangannya. Mereka berdua kini duduk di sebuah warung kopi. Begitu gugupnya laki-laki itu hingga ia tidak tahu bagaimaan harus memulai sebuah percakapan.

Tiba-tiba ia berkata kepada pelayan, "Dapatkah engkau memberiku sedikit garam untuk kopiku?"

Setiap orang yang ada di sekitar mereka memandang lelaki itu keheranan. Wajahnya memerah seketika, tetapi ia tetap memasukkan garam itu ke dalam kopinya lalu kemudian meminumnya. Penuh rasa ingin tahu, gadis yang duduk di depannya bertanya, "Bagaimana kau bisa mempunyai hobi yang aneh ini?"

Laki-laki itupun menjawab, "Ketika aku masih kecil, aku hidup di dekat laut, aku suka bermain-main di laut. Jadi aku tahu rasanya air laut, asin seperti rasa kopi asin ini. Sekarang, setiap kali aku meminum kopi asin ini, aku terkenang akan masa kecilku, tentang kampung halamanku, aku sangat merindukan kampung halamanku, aku merindukan orang tuaku yang tetap hidup di sana." Ia mengatakan itu sambil berurai air mata, kelihatannya ia sangat tersentuh.

Gadis itu berpikir, "Apa yang diceritakan oleh laki-laki tersebut adalah ungkapan isi hatinya yang terdalam. Orang yang mau menceritakan tentang kerinduannya akan rumahnya adalah orang yang setia, peduli dengan rumah dan bertanggung jawab terhadap seisi rumahnya". Maka gadis itupun mulai bercerita tentang kampung halamannya yang jauh, masa kecilnya dan keluarganya.

Merekapun berpacaran. Gadis iu menemukan semua yang dia inginkan di dalam diri laki-laki tersebut. Laki-laki itu begitu toleransi, baik hati, hangat dan penuh perhatian. Ia adalah laki-laki yang sangat baik, sehingga ia selalu merindukannya. Singkat cerita, merekapun menikah dan hidup bahagia. Setiap kali, ia selalu membuatkan kopi asin bagi suaminya karena ia tahu suaminya sangat menyukai kopi asin.

Sesudah empat puluh tahun menikah, meninggallah suaminya. Ia meninggalkan surat kepada istrinya,

"Sayangku, maafkan aku, maafkan kebohonganku selama aku hidup. Inilah satu-satunya kebohonganku padamu, yaitu tentang "kopi asin". Ingatkah engkau pertama kali kita bertemu dan berpacaran? Saat itu aku begitu gugup untuk memulai percakapan kita. Karena kegugupanku, aku akhirnya meminta garam padahal yang aku maksudkan adalah gula. Selama hidupku banyak kali aku mencoba untuk mengatakan kepadamu hal yang sebenarnya, sebagaimana aku telah berjanji bahwa aku tidak akan pernah berbohong kepadamu untuk apapun juga. Tetapi aku tidak sanggup mengatakannya. Kini aku sudah mati, aku tidak takut lagi, maka aku memutuskan untuk mengatakan kebenaran ini kepadamu bahwa aku tidak suka kopi asin. Rasanya aneh dan tidak enak. Selama hidupku aku baru meminum kopi asin sejak aku mengenalmu. Meski begitu, aku tidak pernah menyesal untuk apapun yang aku lakukan untukmu. Memiliki engkau merupakan kebahagiaan terbesar yang pernah aku miliki selama hidupku. Jika aku dapat hidup untuk kedua kalinya, aku tetap ingin mengenalmu dan memilikimu selamanya, meskipun aku harus meminum kopi asin lagi".

Air mata wanita itu membasahi surat yang dibacanya. Suatu hari seseorang bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya kopi asin itu?" "Sangat enak", jawabnya.


=================================

Kita selalu berpikir bahwa kita sudah mengenal pasangan kita lebih dari orang lain mengenal mereka. Tetapi mungkin saja ada hal-hal tertentu yang tidak kita ketahui di mana pasangan kita telah rela meminum "kopi asin" (salty coffee) dengan membuang ego, kesombongan, kesenangan dan hobinya untuk menjaga keharmonisan hubungan kita dengannya. Ya, begitulah caranya mengasihi dan mencintai. Bukan menuntut, tetapi berkorban.

Kadang kita merasa mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat kita tentang seseorang itu bukan seperti yang kita gambarkan. Sama seperti kejadian kopi asin tadi.

Membuang kebencian dan mengasihi lebih lagi, menyebabkan rasa garam lebih enak daripada rasa gula.

Filipi 2:4 "Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga".


Sumber : tidak diketahui
di kirim oleh : Gundolo Sosro

26 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/26/2008 07:30:00 PM | No comments

Penjual Nasi Uduk

Di rumah saya tinggal di bekasi, biasanya ada penjual nasi uduk yang selalu laris, kalo sudah diatas jam sembilan pagi nasi uduk dagangannya sudah pasti abis ludes nggak kebagian. Kalau sudah begitu istri saya suka ngomel. Kenapa masih pagi nasi uduknya udah abis....

Hari minggu yang lalu saya punya kesempatan untuk bertanya, kenapa sih nasi uduknya bisa laris banget sepertinya orang pada berebut. Katanya, awal dia jualan selama seminggu dagangannya nggak laku sampe akhirnya dia bosen jualan.

"Oleh ayah" kata si penjual bubur ayam ini, "saya dinasehati, kalau orang jualan itu harus sabar dan dapat dua manfaat. Manfaat pertama jika dagangannya abis dibeli orang, manfaat kedua jika dagangan tidak abis disedekahkan saja kepada orang yang lewat atau orang memang butuh. Dan sejak itu kata sipenjual nasi uduk dengan semangatnya. Dagangan selalu abis, kalo saya keluar jam 7 sampe jam 9 sudah habis. kalo jualan saya nggak laku ya saya bagikan aja ama orang-orang"

"Apa nggak takut rugi pak?" tanya saya.

"Tidak mas, malah saya berasa bersyukur bisa berbagi kepada sesama. Saya memeberikan kasih kepada mereka sedangkan nasi uduk hanya wujud fisik saja, dan saya percaya bahwa Tuhan pasti akan "membayar" setiap nasi uduk yang saya berikan kepada mereka" jawab penjual nasi uduk itu dengan mata bersinar.

"ooohhh......." kata saya sambil mangut-mangut.

* * *

Bagaimana dengan anda??...
Kasih apa yang bisa anda berikan kepada sesama kita?
Nasi uduk hanyalah ungkapan kasih seseorang kepada orang lain yang membutuhkan. Bukankah kita mempunyai lebih dari sekedar nasi uduk untuk diberikan kepada sesama kita di dunia ini?
Dan yakinlah bahwa Tuhan pasti akan membayar setiap "nasi uduk" yang kita berikan kepada sesama kita. Mungkin tidak di dunia ini Tuhan akan membayarnya melainkan di dunia lain yang pasti kita akan membutuhkan "bayaran" setiap nasi uduk yang kita berikan. Dan bayaran itu bernama "amal" yang akan membantu kita di hari penghakiman nanti.

Tuhan Memberkati.


Sumber : tidak di ketahui
di kirim oleh : Gundolo Sosro


=================================
Kis 10:4 Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau.

Lukas 12:33 Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.

Matius 6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."


Posted by Ivan Shurex Posted on 6/26/2008 07:25:00 PM | No comments

Renungan. 27 Juni

“Perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa”

(2 Raj 25:1-12; Mat 8:1-4)

“ Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." (Mat 8:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Para imam Yahudi tidak percaya kepada Yesus sebagai Penyelamat Dunia, pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan dunia, dan kiranya juga tidak mampu ‘menyembuhkan mereka yang sakit’. Maka ketika ada orang sakit kusta disembuhkan oleh Yesus, Ia berpesan kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.". Siapapun yang merasa diri dan menghayati diri sebagai ‘ciptaan Allah’, yang datang dari Allah serta hidup bersama dan bersatu dengan Allah kiranya dapat menyembuhkan mereka yang sedang menderita sakit maupun menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit. Sehat, sembuh dan sakit memang erat kaitannya dengan iman, persembahan diri seutuhnya kepada Tuhan. Maka jika kita mengakui diri sebagai orang beriman, marilah menghayati iman kita secara mendalam dan menjadi nyata dalam perbuatan-perbuatan seperti “kebajikan, pengetahuan,: penguasaan diri, iri ketekunan, kesalehan,kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang” (lih 1Pet 1:5-7). Keutamaan-keutamaan itulah yang menjadi modal atau kekuatan untuk hidup sehat, segar dan tegar serta menyembuhkan aneka macam bentuk penyakit. Yang merasa diri sebagai ‘imam’ atau kita semua sebagai orang beriman memiliki cirikhas ‘imamat umum’, marilah kita perdalam dan tingkatkan serta sebarluaskan keutamaan-keutamaan tersebut. Jika kita sendiri pada saat ini merasa sakit (sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi, sakit tubuh), marilah dengan rendah hati menghadap Tuhan atau sesama kita sambil berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku”.

· Sisa-sisa rakyat yang masih tinggal di kota itu dan para pembelot yang menyeberang ke pihak raja Babel dan sisa-sisa khalayak ramai diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal itu. Hanya beberapa orang miskin dari negeri itu ditinggalkan oleh kepala pasukan pengawal itu untuk menjadi tukang-tukang kebun anggur dan peladang-peladang”(2Raj 25:11-12) Kebanggaan kerajaan dan kota seperti bangunan dan tempat ibadat dihancurkan dan rakyat ‘diangkut ke dalam pembuangan’, ‘beberapa orang miskin dari negeri itu ditingggalkan untuk menjadi tukang kebun anggur dan peladang’, hal ini terjadi karena kebrengsekan atau kebejatan moral para pemimpin atau petinggi serta keserahakan orang kaya. Kasus ini kiranya mirip seperti terjadi di daerah-daerah wisata atau peristirahatan di Negara kita, maupun aneka proyek dan perusahaan. Terjadi penjajahan ekonomi, sehingga warganegara tidak menjadi tuan di negeri sendiri melainkan menjadi buruh atau pekerja. Para pemilik tanah telah menjual tanahnya untuk dibangun dan didirikan tempat peristirahatan atau perusahaan dan kemudian mereka menjadi pembantu/pekerja, yang sangat tergantung pada pemilik tempat peristirahatan maupun perusahaan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua, marilah kita sungguh menjadi ‘tuan di negeri sendiri’, dan untuk itu kita harus memiliki kemauan, ketekunan dan keteguhan hati untuk mengurus dan mengelola sebaik mungkin negeri kita beserta seluruh kekayaannya. Tidak ada kata ‘terlambat’ jika kita mau, antara lain marilah kita upayakan pendidikan yang bermutu bagi anak-anak atau bangsa kita, entah di dalam keluarga, sekolah/perguruan tinggi maupun di dalam masyarakat. Pengalaman dan pencermatan mereka atau bangsa yang terdidik dapat menjadi ‘tuan di negeri sendiri’ dan dengan demikian hidupnya damai dan sejahtera serta bahagia. Maka hendaknya dana dan tenaga dicurahkan ke kegiatan pendidikan. Perhatikan juga mereka yang miskin dan berkekurangan agar dapat menikmati pendidikan bermutu di negeri kita yang tercinta ini.

Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku” (Mzm 137:4-6)



Jakarta, 27 Juni 2008




sumber : Romo Maryo

24 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/24/2008 06:13:00 PM | No comments

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Karena ingin bisa menikmati musik klasik, dia mencoba membiasakan diri untuk mendengarkan musik tersebut. Selama satu bulan dia mendengarkan hanya musik klasik. Pada awalnya timbul penolakan dan kesukaran menikmati musik tersebut, namun lama-kelamaan alunan musik itu mulai bisa diterima di telinganya dan diapun dapat menikmatinya.

Hal tersebut dilakukan oleh pakar Kitab Suci, Steven Leks (pernah mengasuh rubrik 'Semerbak Alkitab' di majalah Hidup beberapa waktu yang lalu), ketika berusaha untuk bisa menikmati musik klasik, dan ternyata cara tersebut bisa diterapkan untuk membiasakan membaca kitab Suci. Bagaimana?

Sebagai ilustrasi saya tambahkan bahwa sebelum menikah dengan seseorang, kita perlu melakukan pendekatan dengan seseorang untuk dapat mengenal dan memahami karakter dan sifat-sifatnya. Ada pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino, cinta bisa tumbuh jika kita bergaul akrab dengannya.

Demikian pula dengan membaca Kitab Suci, hal yang sama perlu kita lakukan terhadapnya. Kita perlu mengenal dan bergaul akrab dengannya untuk bisa memahaminya. Ini adalah resep yang cukup manjur setelah apa yang disarankan oleh Pastor (Dr) C. Groenen, OFM (pada tulisan sebelumnya, Mari Mencoba Resep Dari Romo). Lalu bagaimana caranya:

  • Biasakanlah membaca Kitab Suci, satu perikop setiap hari (cukup banyak buku renungan harian yang bertebaran di toko buku rohani saat ini, atau bagi yang Katolik bisa mengikuti bacaan berdasarkan penanggalan liturgi, cukup banyak pula buku renungan harian yang bacaannya sesuai dengan penanggalan gereja, seperti Ziarah Batin dan lain-lainnya)

  • Tetapkan waktu khusus, namun jika kita terlalu sibuk (?), maka bacalah setiap ada kesempatan. Jika memungkinkan, membaca bersama keluarga itu lebih baik

  • Pada awalnya tetapkan lamanya waktu, cobalah baca setiap hari selama seminggu. Jika pada minggu pertama kita belum bisa menanamkan kebiasaan itu dan menemukan keasikan dan manfaat dalam membaca Kitab Suci, cobalah seminggu lagi. Begitulah seterunya, jika pada minggu kedua, minggu kedua, dan seterusnya.

  • Jika timbul kesulitan dalam pemahaman, biarkanlah, teruslah membaca. Lambat laun kitab suci akan memberikan penerangannya sendiri. Ingat apa yang disampaikan Pastor Groenen (alm), bahwa Kitab Suci memiliki kulit yang tebal, yang hanya bisa di tembus oleh 'Kapak Ketekunan'.

  • Setelah satu bulan, lihatlah hasilnya (jawaban ada dalam diri kita masing-masing).

Sesuatu yang dilakukan terus menerus, biasanya akan menimbulkan rasa cinta, seperti halnya pepatah diatas. Tumbuhkanlah cinta terhadap Kitab Suci. Tak Kenal maka tak sayang. Kenalilah Kitab Suci kita dengan membacanya secara terus menerus. Lambat laun cinta itu akan tumguh dan berkembang dalam diri kita.

Tidak percaya? Buktikan saja.


Sumber : http://panjikristo.multiply.com/


Bacaan terkait :

Mari Mencoba Resep Dari Romo




Posted by Ivan Shurex Posted on 6/24/2008 08:42:00 AM | No comments

Ketika Allah bilang tidak

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah ambillah kesombonganku dariku."
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat."
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kesabaran."
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kebahagiaan."
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan."
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat."
Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, Sebesar cinta-Mu padaku.
Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti .!!"

Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.

Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sementara orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.

Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.

Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.

Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita.
Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa.

Sebab segala sesuatu telah di rancang sesuai dengan rencana-NYA dan bukan rencana kita.



sumber tidak diketahui
di kirim oleh : Gundolo Sosro

================================
Yudas 1:21 Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.



23 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/23/2008 06:08:00 PM | 1 comment

Mari Mencoba Resep Dari Romo

Beberapa waktu yang lalu, di salah satu televisi swasta ada acara yang namanya Resep Oke Rudi. Sebuah acara masak ala Rudi Choirudin yang berbagi resep-resepnya kepada para penonton. Acara tersebut terbilang sukses dan diminati oleh kaum perempuan pada umumnya, walaupun kaum pria banyak juga yang meyukai acara tersebut.

Bicara soal resep, saat saya beres-beres di rumah, saya menemukan tulisan yang ternyata sebuah resep. Judulnya RESEP OKE ROMO (tulisan tersebut memang dibuat saat acara diatas sedang booming) yang pernah saya kirimkan ke warta paroki dan kebetulan masih saya simpan arsipnya. Tidak ada salahnya jika saya membagikan resep itu disini. Sipa tahu ada yang ingin mencobanya.

‘Resep Oke Romo’ tidak berbicara tentang makanan ataupun resep obat-obatan, tapi tentang Kitab Suci. Lho, maksudnya apa ya?

Resep itu berbicara tentang bagaimana caranya agar kita memiliki kebiasaan membaca Kitab Suci yang baik. Ada tiga hal penting yang di singgung disini - khususnya jika kita seorang pemula (wah istilahnya koq lucu ya, ‘seorang pemula’) - yaitu :

“Jika kita berniat untuk membiasakan diri untuk membaca Kitab Suci, mulai saja dengan tekun, karena dari sana akan terbina kebiasaan dan kesenangan membaca sehingga keengganan membaca dapat teratasi.”

“Khususkan waktu beberapa saat sehari. Membacalah dengan hati dan daya khayal daripada dengan otak yang mau mengerti segalanya.”

“Gunakan Kapak.” Lho!

“Karena Alkitab mempunyai kulit yang tebal dan keras, dan tidak serta merta berbunyi. Tidak segera melepaskan hikmatnya. Calon pembaca Kitab Suci harus menggunakan ‘Kapak Ketekunan’ guna menembus kulit kerasnya.”

“Jangan bersikap untung-rugi dalam mendekati Alkitab. Manfaat membaca akan nampak perlahan dan pasti. Hendaklah kita tekun dalam membacanya.”

***

Siapakah Romo yang bijak itu? Dia adalah seorang pakar Kitab Suci, namun asyang dia telah mendahului kita semua untuk berkumpul dengan Bapa di surga. Dia adalah (Romo) Dr C. Groenen, OFM (Alm), pendiri LBI (Lembaga Biblika Indonesia).

***

Siapa mau coba resep itu?



Sumber : http://panjikristo.multiply.com/
Posted by Ivan Shurex Posted on 6/23/2008 11:10:00 AM | 17 comments

Perjuangan Natarini Perangi Leukimia

OPTIMIS BEKAL AWAL KESEMBUHAN

Divonis menderita leukemia, Natarini (22) langsung dibayangi kematian. Akan tetapi, gadis kelahiran Pandeglang, Banten, ini, kembali bersemangat hidup dan berjuang melawan penyakitnya.

Perjuangan tak semudah perkataan. Ikuti pengakuan Natarini.

Saat ini aku masih terdaftar sebagai mahasiswa FISIP Universitas Tirta Yasa di Serang, Banten. Aku merasa fit dan bergairah untuk menyusun skripsi berjudul Pengaruh Pelayanan Prima Terhadap Derajad Kesehatan Masyarakat. Aneh ya, kuliahnya di FISIP tapi skripsinya tentang kesehatan. Sengaja aku menulis hal yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan masyarakat. Sebab, berkat pelayanan yang primalah aku sembuh dari leukemia.

Ya, aku memang lama mengidap leukemia. Namun, aku berhasil melawannya sehingga mendapatkan kesembuhan. Siapa bilang kanker darah atau bahasa mediknya leukemia, tak bisa disembuhkan? Asal tidak putus asa, mau berobat sebelum terlambat , Insya Allah, masih bisa disembuhkan. Modal utama melawan penyakit adalah optimis. Penyakit akan keok begitu kita mau melawannya.

Memang betul, perjuangan tak semudah perkataan. Pengalamanku menyatakan, ada masa terseok-seok saat penyakit menyerang bertubi- tubi. Atau saat kebosanan berobat datang menyergap. Tapi, jangan menyerah! Baiklah, aku akan mengisahkan penggalan hidup yang mesti kulalui tanpa menyerah ini.

KEMATIAN MEMBAYANG

Aku telah melewati masa-masa perjuangan melawan leukemia sejak tahun 1996, ketika aku masih SMP. Sebelum tahu menderita leukimia, aku lebih dulu sering sakit-sakitan.
Biasanya, aku demam selama satu minggu. Setelah dibawa ke dokter, aku memang sembuh. Tapi baru tiga hari, demam datang lagi. Kata dokter cuma pilek, namun kenapa selalu berulang-ulang?

Suatu hari, aku diajak Mama yang berprofesi sebagai guru, menjenguk muridnya yang sakit leukemia. Kebetulan murid itu masih saudara jauh kami. Kondisinya sungguh menyedihkan. Wajahnya begitu pucat dan rambutnya rontok. Awalnya, dia juga mengalami demam dan cepat lelah seperti aku.

Entah karena pernah membesuk muridnya itu atau memang merisaukan penyakitku, begitu aku demam lagi, Mama cepat-cepat membawaku ke dokter spesialis penyakit dalam. Kali ini, Pak Dokter menyarankan agar aku cek darah di Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Tiba di RSCM aku langsung cek darah dan diopname. Meski hasil laboratorium baru diketahui seminggu kemudian, Mama menangis sejadi- jadinya. Mama menebak-nebak dan khawatir aku terkena leukemia. Seminggu pasca cek darah merupakan masa awal penderitaan. Rupanya dugaan kuat Mama memang benar. Hasil cek darah di laboratorium menunjukkan aku menderita leukemia.

"Rin, kamu sakit seperti mereka," kata Mama sembari menunjuk teman- teman satu bangsal di RSCM. Aku yang masih kecil dan lugu waktu itu, cuma bisa terdiam. Aku memang berada satu ruangan dengan anak-anak penderita leukemia. Aku merasa sedih melihat rekan sebayaku yang mukanya pucat akibat sel darah merahnya dimakan sel darah putih di tubuh sendiri.

Pelan tapi pasti, kematian langsung membayang di mataku. Wajah tembem dan pucat, rambut rontok sampai botak seperti teman-teman sebangsal, akankah kualami juga? Apakah nasibku akan seperti murid ibuku yang kemudian meninggal? Aku bergidik takut. "Enggak apa-apa. Bisa sembuh kok. Kamu belum terlambat berobat," kata dokter Jayadiman yang
merawatku. Ungkapannya memberi cahaya harapan.

MOGOK MINUM OBAT

Hari berikutnya terasa suram. Masih kuingat betul, aku diopname pertama kali tanggal 23 Oktober 1996. Artinya tiga hari kemudian aku berulang tahun ke-12. Tak ada pesta ulang tahun. Yang ada hanyalah kesakitan. Aku membayangkan hari-hari ke depanku yang buram dan tak pasti. Namun, setiap kali terngiang kata-kata Dr. Jayadiman tentang peluang sembuh, semangatku timbul kembali.

Itu sebabnya, aku rajin minum obat. Padahal usai minum obat, biasanya rasa sakit di tubuh seakan malah menjadi-jadi. Kadang terasa capek yang tak kepalang. Atau sebagian tubuhku seperti ditusuk-tusuk. Masih ditambah lagi, aku seminggu sekali dikemoterapi. Bukan main sakitnya usai dikemo yang bertujuan mematikan sel kanker. Dampaknya adalah rasa mual yang bukan main kuatnya.

Selama diopname, aku terus-menerus dikemoterapi. Secara tak sadar aku telah mematikan rasa sakit di tubuhku. Jadi, setiap kali harus menjalani pengobatan, aku sudah kebal. Akhirnya, setelah 2,5 bulan dirawat, aku diizinkan pulang. Selama itu, aku sudah ditransfusi darah sebanyak 56 kantong.

Meski sudah diizinkan pulang, bukan berarti aku sudah sembuh. Aku masih harus kontrol seminggu sekali. Hidupku masih bergantung pada obat dan terkadang transfusi darah. Bisa dibayangkan betapa kerasnya perjuangan Mama mempertahankan hidupku. Betapa tidak?

Seminggu sekali kami harus ke RSCM. Padahal, kami tinggal di Kampung Pabrik Pandeglang, tak memiliki alat transportasi pribadi untuk ke Jakarta. Untuk kepentingan ke RS, kami harus seharian di angkutam umum. Selama di jalan, sering aku mesti menahan sakit. Kesehatanku memang belum baik betul.

Aku juga tak pernah lagi bermain bersama teman-teman sebayaku. Sekian tahun aku melewati hari-hariku di dalam rumah. Begitu membosankan. Karena bosan pula, sesekali aku mogok minum obat. Tapi Mama tak pernah jera menyodorkan obat padaku. "Masak kita sudah berjuang sejauh ini, mau dilepas?" kata Mama menyemangatiku. Dilepas, artinya aku berhenti hidup.

Oh tidak. Aku tak mau menyerah! Aku harus sembuh!!

TESTIMONI DI DEPAN PRESIDEN

Aku terus rajin minum obat. Sampai akhirnya terdengar kabar bahagia, tahun 1999 dokter di RSCM menyatakan tubuhku bebas dari leukemia.Aku dinyatakan berhenti minum obat. Horeee aku menang! Hilangnya penyakitku membuatku bersemangat sekolah lagi. Lulus SMP, aku bergairah masuk SMA.

Kendati tidak minum obat lagi, dokter bilang, aku harus menunggu masa lima tahun ke depan untuk dinyatakan benar-benar sembuh. Siapa tahu penyakit itu datang lagi kalau tak hati-hati menjaga pola makan dan pola hidup sehat. Maka itu, aku masih harus kontrol ke rumah sakit.

Penjelasan itu tak urung sempat membuatku waswas. Aku trauma dirawat inap lagi. Akhirnya aku memilih menjaga pola makan. Aku benar-benar menjauhi makanan yang mengandung bahan pengawet dan pewarna. Aku tak mau yang serba instan. Juga tidak minum es. Makanan-makanan seperti itulah yang aku konsumsi di masa kecil. Bisa jadi jajanan anak-anak di sekolah yang tak sehat itu, ikut andil mendatangkan leukimia di tubuhku.

Dengan menjaga pola makan dan hidup yang sehat, hingga sekarang aku tetap sehat. Kesehatan yang kumiliki juga kutopang dengan aktif ikut latihan pernapasan di Perguruan Persaudaraan Caliagra Suci, Pandeglang. Betapa aku sangat bersyukur karena Allah telah menolongku.

Sekarang, aku sering sedih bila mendengar orang mengatakan, leukemia atau kanker pada umumnya, tidak bisa disembuhkan. Lebih sedih lagi, aku pernah mendengar pernyataan seperti ini, dari salah satu pelayan kesehatan di daerahku.

Itu sebabnya, beberapa waktu lalu bersama Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) dan pemerintah provinsi Banten, aku mengadakan seminar dan penyuluhan di daerahku itu. Aku selalu bilang, leukemia bisa sembuh. Atas usaha keras dan rida Allah, nyatanya aku bisa sembuh, kan? Karena itulah pengalamanku ini dengan senang hati kubagi kepada siapa pun yang membutuhkan.

Kegiatanku di YOAI awalnya atas arahan Dr. Jaya yang dulu merawatku. Ceritanya, suatu kali aku melihat acara interaktif di televisi tentang penderita leukimia. Waktu itu, anak yang diwawancarai tidak bisa menceritakan secara rinci betapa sakitnya menderita leukimia. Mungkin karena masih anak-anak, ya. Aku tergerak ingin menceritakan tapi tak bisa terhubung di siaran interaktif itu.

Akhirnya tahun lalu aku menemui Dr. Jaya. Beliau begitu surprise melihat kehadiranku. Beliau nyaris tidak mengenaliku lagi. Maklum, dulu aku masih mungil, kemudian muncul setelah menjelma menjadi gadis dewasa. Dokter Jaya menyarankan aku agar bergabung dengan YOAI. Di sana aku bisa jadi penyuluh untuk masyarakat.

Benar juga, aku diterima YOAI dengan baik. Bahkan beberapa waktu lalu aku diajak testimoni di hadapan presiden. Hampir tiga bulan, aku juga diajak ke berbagai tempat melakukan penyuluhan.

Sebagai perempuan normal dan sudah dewasa, kelak aku juga ingin menikah. Sempat terlintas kekhawatiran bagaimana dengan keturunanku kelak. Sungguh lega ketika dokter mengatakan aku boleh menikah kapan saja. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan penyakit yang pernah bersarang di tubuhmu," kata Dr. Jaya.

Begitulah, di balik kesulitan selalu ada kemudahan . Tentu selagi kita mau berusaha keras keluar dari kesulitan itu. Allah pasti akan menolong.

BISA SEMBUH ASAL.

Penyakit leukemia yang mudah tumbuh pada anak menurut Dr. Pustika Amalia,SpA, 85 persen berasal dari sel limposit, sisanya yang 15 persen berasal dari nonlimposit. Leukemia pada anak ini bisa disembuhkan, asal mau berobat dan rajin kontrol ke dokter bila sudah dinyatakan berhenti dari obat.

"Pengobatannya biasanya dilakukan dengan kemoterapi. Bila sampai dua tahun pertama setelah pengobatan awal dinyatakan bersih dari leukemia, anak itu boleh berhenti minum obat. Meski demikian, si penderita harus tetap waspada untuk masa lima tahun ke depan," kata Amalia.

Maksudnya, lanjut Amalia, enam bulan sekali selama dua tahun, pasien harus periksa tulang sungsum. "Kemudian tiga tahun berikutnya, setahun sekali kontrol tulang sungsum. Setelah lepas lima tahun, diusahakan tujuh atau sepuluh tahun ke depan kontrol lagi."

Kenapa selama lima tahun ke depan harus patuh kontrol? "Dikhawatirkan ada kemungkinan penyakitnya kambuh lagi dengan sel yang sama atau sel yang berbeda," kata Amalia seraya mengatakan, hingga saat ini penyebab leukemia masih terbatas pada dugaan. "Bisa jadi karena polusi udara, bisa juga dikarenakan makanan yang mengandung zat pengawet atau pewarna pada makanan yang tidak semestinya."



Sumber: KCM - Jumat, 17 Maret 2006 www.kompas.co.id
di kirim oleh : Gundolo Sosro


Posted by Ivan Shurex Posted on 6/23/2008 09:00:00 AM | No comments

Sekarang saya mengerti ...

Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka.
Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain.

Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sungguh-sungguh tidak percaya.

"Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih," kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja.


"Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya "

Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka.

"Saya tidak mau menjadi munafik," jawabnya.

"Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang."

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar.

Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka?

Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam. Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya.

Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.

"Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri, "dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman."

Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah.

Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, "Sekarang saya mengerti," bisiknya dengan terisak. "Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia."

Saudaraku, sering kita mengalami kejenuhan untuk pergi ke gereja dan merasa tak ada gunanya, semoga cerita di atas ini bisa lebih meneguhkan kita akan pentingnya ke gereja.


Segala Sesuatu Indah Pada Waktunya

di kirim oleh : taxcnslt[at]centrin.net.id


22 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/22/2008 03:07:00 PM | No comments

No More Secrets

June 22 Sunday Reflection

“Nothing is concealed that will not be revealed, nor secret that will not be known.”
–Matthew 10:26


Readings :
Jeremiah 20:10-13
Psalm 69:8-10,14,17,33-35(14c)
Romans 5:12-15
Matthew 10:26-33



My mom and I were at the supermarket doing our weekly shopping for food and other supplies. Just as we were checking out after paying for our purchases, we saw an uncle of mine. Mom was about to call him but stopped in mid-sentence. Then I realized why. My uncle was with another woman, definitely not my aunt, with a 10-year-old boy in tow. No doubt they were a family. My uncle’s second family, that is. I wondered if my aunt knew. Meanwhile, my mom was way ahead of me- she wanted to tell my aunt about my uncle’s secret as soon as we got home.

No secret can be kept hidden forever- especially with God. Secrets have an uncanny way of revealing themselves at the most unexpected times and unlikely places. If you think nobody’s looking while you indulge in your clandestine affair, think again.

At Judgment Day, there will no longer be secrets. As we come before our Maker, I imagine there’ll be a big screen where our entire life will be shown for everyone to see. Every emotion, every action, every thought and every deed will be revealed.
-Dina PecaƱa

Reflection:
Are there secrets you think can hide from the Lord?

Prayer:
Lord, may You flood the dark recesses of my secret life with the light of Your truth.


sent by : ChristianYouth


Posted by Ivan Shurex Posted on 6/22/2008 11:48:00 AM | No comments

Hello Kyle

Suatu hari, ketika saya masih duduk di kelas satu SMA, saya melihat seorang anak dari kelas saya berjalan pulang dari sekolah. Namanya Kyle. Sepertinya ia menenteng semua bukunya. Lalu saya berpikir, "Kenapa ada orang yang masih mau membawa bukunya pulang pada hari Jumat. Pasti dia anak yang aneh, karena kalau saya, setiap akhir pekan acara saya pasti sudah padat terencana, ya pesta, pertandingan sepak bola, dan lain-lain. Jadi, sambil menggelengkan kepala, aku terus melangkah.

Tiba-tiba saya melihat sekelompok anak kecil berlari ke arahnya, dan dengan sengaja menabraknya. Bukunya berhamburan, dan ia pun jatuh ke tanah berlumpur. Kacamatanya melayang jatuh ke rerumputan, kira-kira 10 kaki jauhnya dari tempat di mana ia jatuh. Ia menatap ke atas, dan kulihat kesedihan yang amat mendalam di wajahnya. Hatiku tergerak, dan merasa kasihan kepadanya.

Aku melangkah perlahan menghampirinya. Sambil merangkak, ia melihat ke sekeliling, mencari kacamatanya. Kulihat matanya berlinang. Kuambil kacamatanya, dan kuberikan kepadanya.

"Anak-anak tersebut memang sangat nakal," kataku kepadanya.

Ia menatapku dan berucap lembut: "Hey, terima kasih" Ia tersenyum lebar.

Itulah senyuman tertulus, tanda ucapan terima kasih, yang pernah kulihat selama ini. Aku bantu dia mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan, sambil kutanya di mana ia tinggal. Ternyata, dia tinggal dekat rumahku. Aku lalu bertanya, kalau dia memang tinggal di dekat rumahku, bagaimana mungkin aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Ia bercerita bahwa sebelumnya, ia sekolah di sebuah sekolah swasta. Aku memang belum pernah bergaul dengan anak dari sekolah swasta sebelumnya.

Sepanjang jalan ia bercerita, sementara buku-bukunya kubawakan. Ternyata, ia anak yang manis juga. Aku tanyai apakah dia mau bermain sepakbola bersama saya, dan ia menjawab :
"Ya," dengan bersemangat.

Kami jalan bersama sepanjang akhir pekan, dan ternyata, semakin kukenal Kyle, semakin suka aku padanya. Teman-temanku juga menyukainya. Hari Senin tiba, dan kulihat Kyle dengan setumpuk bukunya lagi. Kudekati dia dan kukatakan sambil bercanda:

"Gila kamu, Kyle! Kamu bisa mengencangkan otot-ototmu dengan mengangkut buku-bukumu setiap hari." Ia cuma tertawa dan memberikan separuh bukunya kepadaku.

Selama empat tahun kemudian, kami terus bersahabat. Ketika kami sudah duduk di kelas senior, dan kami harus mulai memikirkan tentang universitas, Kyle memutuskan untuk melanjutkan ke Georgetown, dan saya berencana ke Duke. Saat itu saya tahu, bahwa persahabatan kami akan terus abadi, dan bahwa jarak yang memisahkan kami tidak akan menjadi penghalang. Ia akan menjadi seorang dokter, dan saya akan mengambil jurusan bisnis, karena saya mendapatkan beasiswa dari kegiatan sepakbola saya.

Kyle memang seorang bintang kelas dan aku bahkan sering menggodanya sebagai kutu buku. Sebagai bintang kelas, ia harus menyiapkan pidato perpisahannya. Pada saat-saat seperti itu, aku bersyukur, bukan aku yang harus berdiri di mimbar dan berpidato.

Persis pada hari wisuda kami, aku lihat Kyle tampak begitu gagah. Benar-benar seorang anak SMA yang kerja keras dan berhasil yang sungguh patut dicontoh. Teman ceweknya banyak. Dalam hal yang satu ini aku sering iri padanya. Tapi aku juga melihat bahwa ia sangat gelisah menjelang saat pidatonya.

Maka aku dekati dia, dan kutepuk punggungnya: "Hai, kawan! Pasti OK."

Dia terdiam melihatku dengan tatapan yang sungguh penuh terima kasih, lalu katanya dalam-dalam: "Terima kasih."

Ketika hendak memulai pidatonya, dia mengambil nafas dalam-dalam, dan mulai berkata: "Wisuda adalah saat untuk mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu kita melewati masa-masa yang berat. Orangtua kita, guru-guru, teman sekamar, mungkin para tutor, tetapi yang paling banyak adalah teman. Saya berdiri di sini dan akan menceritakan sebuah kisah nyata."

Aku menatapnya dengan rasa tidak percaya pada apa yang kemudian kudengar. Ia bercerita bahwa suatu hari ia merasa sangat berputus asa, hingga ia berniat hendak bunuh diri di akhir minggu. Ia mulai dengan mengosongkan lockernya supaya mamanya tidak perlu repot nantinya, dan ia mengangkut semua bukunya pulang. Sambil terus bercerita, ia menatapku sambil tersenyum.

"Untungnya, saya diselamatkan. Seorang teman saya menyelamatkan saya dari rencana putus asa tersebut."

Saya menangkap getaran dalam suaranya, dan ia terdiam mengambil nafas dan mengatur emosinya kembali. Saya juga menangkap emosi para hadirin, hampir semua menahan nafas dan terhanyut dalam cerita tersebut. Semua mata menatap pemuda pintar dan tampan yang sungguh populer itu menceritakan kenangannya tatakala melewati masa yang paling sulit dalam hidupnya. Saya juga melihat orangtuanya melihat ke arahku dengan tersenyum. Belum pernah aku merasakan rasa haru yang begitu mendalam.

Jadi, jangan sekali-kali meremehkan tindakan yang Anda lakukan. Bahkan dengan tindakan kecil-pun Anda dapat saja mengubah hidup orang lain. Dan ketahuilah, sahabat adalah malaikat yang mengangkat kita tatkala kita lupa bagaimana caranya terbang!


sumber : tidak di ketahui
di kirim oleh : Gundolo Sosro

============================
Amsal 17:17 Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Amsal 3:27 Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.

21 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/21/2008 09:30:00 AM | 1 comment

Marah (Angry)

Beberapa tahun yang lalu, saat saya pulang ke kampung halaman, teman saya disana mengajak saya memancing Kepiting.

Bagaimana cara memancing Kepiting?
Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, diujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil.

Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju Kepiting yang kami incar, kami mengganggu Kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar Kepiting marah, dan kalau itu berhasil maka Kepiting itu akan 'menggigit' tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah.

Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala.

Kami celupkan Kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati Kepiting Rebus yang sangat lezat.

Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.

Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena : MARAH .

Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan anda.

Ingatlah :
Bahwa hari esok yang akan anda hadapi di tentukan dari sikap anda hari ini.



sumber : tidak diketahui
di kirim oleh : Gundolo Sosro


============================

Mazmur 37:8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

Amsal 14:29 Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

Efesus 4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/21/2008 09:25:00 AM | No comments

Titik Es Dalam Hati

Di sebuah perusahaan rel kereta api ada seorang pegawai, namanya Nick. Dia sangat rajin bekerja, dan sangat bertanggung-jawab,tetapi dia mempunyai satu ekurangan, yaitu dia tidak mempunyai harapan apapun terhadap hidupnya, dia melihat dunia ini dengan pandangan tanpa harapan sama sekali.

Pada suatu hari semua karyawan bergegas untuk merayakan ulang tahun boss mereka, semuanya pergi dengan cepat sekali. Yang paling tidak sengaja adalah, Nick terkunci di sebuah mobil pengangkut es yang belum sempat dibetulkan.

Nick berteriak, memukul pintu dengan keras,semua orang di kantor sudah pergi merayakan ulang tahun bosnya,maka tidak ada yang mendengarnya. Tangannya sudah merah kebengkak2an memukul pintu mobil itu, suaranya sudah serak akibat berteriak terus, tetapi tetap tidak ada orang yang mempedulikannya, akhirnya dia duduk di dalam sambil menghelakan nafas yang panjang.

Semakin dia berpikir semakin dia merasa takut, dalam hatinya dia berpikir dalam mobil pengangkut es suhunya pasti di bawah 0 derajat, kalau dia tidak segera keluar dari situ, pasti akan mati kedinginan. Dia terpaksa dengan tangan yang gemetar, mencari secarik kertas dan sebuah bolpen, menuliskan surat wasiatnya.

Keesokkan harinya, semua karyawan pun datang bekerja. mereka membuka pintu mobil pengangkut es tersebut, dan sangat terkejut menemukan Nick yang terbaring didalam. Mereka segera mengantarkan Nick untuk ditolong,tetapi dia sudah tidak bernyawa lagi. Tetapi yang paling mereka kagetkan adalah, listrik mobil untuk menghidupkan mesin itu tidak dibuka, dalam mobil yang besar itu juga ada cukup oksigen untuknya, yang paling mereka herankan adalah suhu dalam mobil itu hanya 28 derajat saja.Tetapi Nick malah mati "kedinginan"!!

Nick bukanlah mati karena suhu dalam mobil terlalu rendah, dia mati dalam titik es di dalam hatinya.Dia sudah menghakimi dirinya sebuah hukuman mati, bagaimana dapat hidup terus?

Percaya pada diri sendiri adalah sebuah perasaan hati.
Orang yang mempunyai rasa percaya diri tidak akan langsung putus asa begitu saja, dia tidak akan langsung berubah sedih terhadap keadaan hidupnya yang jalan kurang lancar.

Tanyalah pada diri kita sendiri, apakah kita sendiri sering langsung memutuskan bahwa kita tidak mampu untuk mengerjakan suatu hal, sehingga kita kehilangan banyak kesempatan untuk menjadi sukses?

Kehilangan banyak kesempatan untuk belajar mandiri? untuk jadi lebih mengerti kehidupan ini?

Yang mempengaruhi semangat kamu bukanlah faktor-faktor dari luar,melainkan hatimu sendiri. Sebelum berusaha sudah dikalahkan oleh diri kita sendiri, biarpun ada banyak bantuan yang tertuju pada dirimu tetap tidak akan membantu...


Sumber : tidak diketahui
dikirim oleh : imoel
==============================
Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Amsal 23:15 Hai anakku, jika hatimu bijak, hatiku juga bersukacita.

Yosua 1:9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi."

20 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/20/2008 10:59:00 AM | No comments

HUBUNGAN HARMONIS

Siapapun dari kita akan menginginkan sebuah hubungan yang harmonis dan menyenangkan entah dengan teman, sahabat karib, tetangga, kerabat, rekan kerja, atasan bahkan keluarga! Dalam hubungan ini tentunya bernuansa satu sama lain untuk saling mempercayai, saling menghargai, saling menolong, saling mendorong untuk segala kebaikan

Tetapi dalam kenyataannya tidaklah demikian, tidak mudah bagi kita untuk melakukannya karena dalam isi kepala kita masih banyak kerikil-kerikil pengganggu berupa pandangan yang sedemikian rupa dari setiap orang hingga sering membuat hati tertutup menerima pemikiran bahwa setiap orang adalah baik.

Dalam keseharian tentunya diantara kita tidaklah mesti selalu menemui jalan mulus dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Dikecewakan, dihianati, disakiti, dibenci, dicemoohkan, dihina yang berimbas putusnya pertalian, meleburnya kepercayaan, mengikisnya rasa kasih, dan runtuhnya pilar-pilar bangunan perhubungan.

Bila kita tak menginginkannya demikian mengapa kita tak mengisi ruang-ruang otak kita dengan pundi-pundi pikiran kepercayaan dasarnya setiap orang itu baik, memberikan lebih banyak dari yang kita terima, menerima orang lain apa adanya, menghormati dan memperlakukan orang lain dengan lebih bermartabat, berbagi dengan orang lain, dan membukaan pintu maaf bila orang lain ataupun sebaliknya.

Dengan demikianlah, tak ada alasan kita membiarkan hati diselimuti rasa benci, sedih, dendam, amarah, kesal, kecewa.

Ingin memiliki hubungan yang harmonis atau tidak adalah sebuah pilihan! Dan kini pilihan itu ada di tangan anda sendiri dan bukan orang lain.



dikirim oleh : Gundolo Sosro


Posted by Ivan Shurex Posted on 6/20/2008 10:44:00 AM | No comments

Makna Kehidupan

Tuhan yang Maha Baik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya. Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kamu tidak akan pernah mulai.

Mulailah sekarang...
mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya.

Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.

Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang juga memiliki suka-duka. Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan mata kamu setengah terpejam sesudahnya.

Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya.

Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah hati seorang wanita.

Begitu juga Persahabatan, persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.

Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya. Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga kita.

Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain... tapi menyesal-lah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu.

Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran.
Dialah hiasan dikala kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah.
Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.

Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa melihat keduanya.

Begitu juga Kebijakan, Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak pada penerapan yang benar, orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal, sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.


Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta.
Tak seorang pun sempurna.
Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.
Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah.

Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.

Kamu tak bisa mengubah masa lalu....
tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan.

Bila Kamu mengisi hati kamu ....
dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri.

Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.



Sumber : tidak diketahui
di kirim oleh : Gundolo Sosro


18 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/18/2008 09:00:00 AM | 2 comments

Ayam atau Bebek

Berikut ini adalah cerita kegemaran guru saya, Tony Wong dari Cina.

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: "Kuek! Kuek!"

"Dengar," kata si istri, "Itu pasti suara ayam."

"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.

"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.

"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu 'kuek! kuek!' Itu bebek, Sayang," kata si suami dgn disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.

"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.

"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

"Dengar ya! Itu a? da? lah? be? bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.

"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.

"Itu jelas-jelas bue? bek, kamu? kamu?."

Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam?."

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."

"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

"Kuek! Ku ek!" terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.


Moral cerita :

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah:
siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek?
Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele?
Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek"?

Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu.Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Banyak hal jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek.

Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek !

Tuhan Memberkati.


Sumber : tidak diketahui
di kirim oleh : Gundolo Sosro

17 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/17/2008 11:51:00 AM | No comments

Lima Pelajaran Berharga

Lima Pelajaran Berharga


Ini lima buah Pelajaran Berharga, yang sangat bagus untuk kita, mari kita renungkan bersama.

1. Pelajaran Penting ke-1 - "Ibu pembersih sekolah"

Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah :

Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ? Saya yakin soal ini cuma “bercanda”. Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya…? Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong.

Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan “dihitung” atau tidak. “Tentu Saja Dihitung !!” kata si Profesor.”Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting!. Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas “halo”! Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah “Dorothy”.


2. Pelajaran Penting ke-2 - Penumpang yang Kehujanan.

Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat.

Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.

Tujuh hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk Seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an!) khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : “Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat… hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu” Tertanda Ny. Nat King Cole.

Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn.60-an di USA.


3. Pelajaran penting ke-3 " Ice cream sundae "

Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani. Di zaman es krim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih dihadapannya.

Anak ini kemudian bertanya “Berapa ya… harga satu ice cream sundae?” katanya.

“50 sen…” balas si pelayan.

Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya… “Wah… Kalau ice cream yang biasa saja berapa?” katanya lagi.

Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak… dan pelayan ini mulai tidak sabar.

“35 sen” kata si pelayan sambil uring-uringan.

Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya. “Bu… saya pesen yang ice cream biasa saja ya…” ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan. Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi.

Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen dan 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat… anak kecil ini tidak bisa pesan ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang “layak”


4. Pelajaran penting ke-4 - Penghalang di Jalan Kita.

Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan. Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut.

Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.Tetapi tidak ada satu pun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu. Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan.

Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan. Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.


5. Pelajaran penting ke-5 - Memberi, ketika dibutuhkan

Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang.

Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu. Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya.

Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata “Baiklah… Saya akan melakukan hal tersebut… asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku”.

Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur, disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang.

Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar… katanya “Apakah saya akan langsung mati dokter…?”

Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya.

Lihatlah… bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya…


Bekerjalah seolah anda tidak memerlukan uang,
Mencintailah seolah anda tidak pernah dikecewakan.


DALAM GELAPNYA MALAM, KITA JUSTRU DAPAT MELIHAT INDAHNYA BINTANG




Sumber : tidak diketahui
Posted by Ivan Shurex Posted on 6/17/2008 10:05:00 AM | 2 comments

Tuhan tahu

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia...
Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Tuhan sudah menghitung airmatamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja...
Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon...
Tuhan selalu berada disampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi...
Tuhan punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Tuhan dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Tuhan sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur...
Tuhan telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Tuhan telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
TUHAN tahu semuanya



di kirim oleh : Linda Lim


Posted by Ivan Shurex Posted on 6/17/2008 09:33:00 AM | 2 comments

Cinta Terakhir

Treat every love as last love ...

Sejak semula, keluarga dari si gadis tidak menyetujui hubungannya dengan sang pemuda. Mereka mengajukan alasan mengenai latar belakang keluarga, bahwa jika si gadis memaksa terus bersama dengan sang pemuda, dia akan menderita seumur hidupnya.....

Karena tekanan dari keluarganya, si gadis jadi sering bertengkar dengan pacarnya. Gadis itu benar2 mencintainya, dan dia terus-menerus bertanya, "Seberapa besar kamu mencintaiku?"

Sang pemuda tdk begitu pandai berbicara, dia selalu membuat si gadis marah. Dan komentar-komentar dari orangtuanya membuatnya bertambah kesal. Sang pemuda selalu menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. Dan sang pemuda selalu membiarkannya melampiaskan kemarahannya kepadanya....

Setelah beberapa saat, sang pemuda lulus dari perguruan tinggi. Ia bermaksud meneruskan kuliahnya ke luar negeri, tapi sebelum dia pergi, dia melamar gadisnya, "Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan kata2 manis, tapi saya tahu bahwa saya mencintaimu. Jika kamu setuju, saya ingin menjagamu seumur hidupmu.

Mengenai keluargamu, saya akan berusaha keras untuk meyakinkan mereka agar menyetujui hubungan kita. Maukah kamu menikah denganku?" Si gadis setuju, dan keluarganya setelah melihat usaha dari sang pemuda, akhirnya merestui hubungan mereka.

Sebelum pemuda itu berangkat, mereka bertungan terlebih dahulu. Si gadis tetap tinggal di kampung halaman dan bekerja, sementara sang pemuda meneruskan kuliahnya di LN. Mereka melanjutkan hubungan mereka melalui surat dan telepon. Kadang-kadang timbul kesulitan, tapi mereka tidak menyerah terhadap keadaan.

Suatu hari, dalam perjalanan ke tempat perhentian bis sepulang dari kerja, si gadis tertabrak mobil hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman, dia melihat kedua orangtuanya dan menyadari betapa beruntungnya dia dapat selamat. Melihat air mata orangtuanya, dia berusaha untuk menghibur mereka.

Tetapi dia menemukan... bahwa dia tidak dapat berbicara sama sekali. Dia bisu..... Menurut dokter kecelakaan tersebut telah mencederai otaknya, dan itu menyebabkannya bisu seumur hidupnya. Mendengar orangtuanya membujuknya, tapi tidak dapat menjawab sepatah kata pun, gadis tersebut pingsan...

Sepanjang hari hanya dapat menangis dan membisu...Ketika akhirnya dia boleh pulang dari RS, dia mendapati rumahnya masih seperti sedia kala. Hanya jika telepon berdering, dia menjadi pilu. Dering telepon telah menjadi mimpi terburuknya. Dia tidak dapat memberitakan kabar buruk tersebut kepada pacarnya dan menjadi bebannya. Dia menulis sepucuk surat untuknya, memberitahukan bahwa dia tdk mau lagi menunggunya. Hubungan antara mereka sudah putus, bahkan dia mengembalikan cincin pertunangan mereka. Mendapat surat dan telepon dari si pemuda, dia hanya bisa menitikkan air mata...

Ayahnya tidak tahan melihat penderitaannya, dan memutuskan untuk pindah. Berharap bahwa dia dapat melupakan segalanya dan menjadi lebih bahagia...

Pindah ke tempat baru, si gadis mulai belajar bahasa isyarat. Dia berusaha melupakan sang pemuda. Suatu hari sahabatnya memberitahukan bahwa pemuda itu telah kembali dan mencarinya ke mana-mana. Dia meminta sahabatnya untuk tidak memberitahukan dimana dia berada dan menyuruh pemuda tsb. untuk melupakannya....

Lebih dari setahun, tidak terdengar lagi kabar pemuda itu sampai akhirnya sahabat si gadis menyampaikan bahwa sang pemuda akan menikah dan menyerahkan surat undangan. Dia membuka surat undangan itu dengan hati pedih, dan menemukan namanya tercantum dlm undangan. Sebelum dia sempat bertanya kepada sahabatnya, tiba-tiba sang pemuda muncul di hadapannya. Dengan bahasa isyarat yang kaku, ia menyampaikan bahwa....

"Aku telah menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk mempelajari bahasa isyarat, agar dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku belum melupakan janji kita, berikan aku kesempatan, biarkan aku menjadi suaramu." "I L O V E Y O U"

Melihat bahasa isyarat tersebut, dan cincin pertunangannya.... Si gadis akhirnya tersenyum.


Perlakukan setiap cinta seakan cinta terakhirmu...
dan baru kamu akan belajar cara memberi.....
Perlakukan setiap hari seakan hari terakhirmu.....
dan baru kamu akan belajar cara menghargai......
Jangan pernah menyerah.

-------------------

Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar, mengandung banyak resiko... Yakinlah pada dirimu ketika kamu berkata: ? Aku mencintaimu..."


sumber : tidak di ketahui
di kirim oleh : admin_pengembangan

16 June 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/16/2008 10:01:00 AM | No comments

Karena Kitapun TIDAK Sempurna

Karena Kitapun TIDAK Sempurna


Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan Saya pasangan, “Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya”, Tuhan menjawab.

Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan, saya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian,pintar, humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu, saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, “HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan.”

Saya bertanya, “Mengapa Tuhan!?” dan Ia menjawab, “Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar.”

Aku bertanya lagi, “Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?”

Jawab Tuhan, “Aku akan menjelaskannya kepadaMu. Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagiKu untukmemenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau.

Tidaklah adil bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni; tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak…”

Kemudian Tuhan berkata kepada saya, “Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.

Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang.

Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.

Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna.
Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu.



Sumber : tidak diketahui

Posted by Ivan Shurex Posted on 6/16/2008 12:22:00 AM | 1 comment

BENANG LAYANG-LAYANG

BENANG LAYANG-LAYANG

Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.
—Yakobus 4:10

Baca:
Yakobus 4:1-10


Ray Bethell adalah juara dunia perlombaan memainkan layang-layang. Dia dapat membuat beberapa layang-layang berputar dan berbalik dengan kecermatan tinggi sehingga tampak semua layang-layang itu bergerak dalam satu perpaduan, seolah-olah hanya ada satu layang-layang. Ketika menyaksikan tayangan video yang sangat mengagumkan tentang Ray dengan tiga layang-layang yang dimainkannya pada saat bersamaan, saya teringat sebuah puisi yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu.

Di perpustakaan milik pendeta Howard Sugden, saya menemukan sebuah buku bersampul bagus yang berisi karya-karya dari John Newton. Di dalamnya terdapat sebuah puisi yang berjudul, "Layang-layang; atau Runtuhnya Kebanggaan Diri." Layang-layang di dalam puisi itu bermimpi jika suatu saat kelak ia akan terbebas dari benangnya. "Seandainya aku bebas, ku kan terbang / menembus awan jauh melampaui pandangan / Namun, ah! Seperti seorang tahanan yang terikat, / benang mengikat semua gerakku." Layang-layang itu akhirnya putus dari benang yang mengikatnya. Alihalih melambung tinggi di langit, ia malah jatuh ke laut.

Analogi ini mengingatkan saya tentang banyaknya "benang" yang membuat saya merasa tidak leluasa, yaitu sumpah, janji, komitmen, dan tanggung jawab yang saya buat. Meskipun hal-hal itu membuat saya merasa terikat, Allah menggunakannya untuk menahan diri saya. Seperti diajarkan Yakobus, ketika kita bersedia untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, Ia akan meninggikan kita (Yak. 4:10).

Sebelum memutuskan benang apapun, pastikan itu bukan benang yang menjadi tempat Anda berpaut. —JAL

Meski aku adalah domba-Nya, aku tetap dapat tersesat,
Namun, Yesus dalam kasih-Nya memberikan penderitaan;
Pelajaran yang diberikan melalui rasa sakit yang mendalam
Akan mengajarku untuk mengikuti Tuhanku sekali lagi!
— Bosch


Orang Kristen dapat bangkit mengatasi terpaan angin kesengsaraan.



sumber : http://www.rbcintl.org/

  • Text Widget