14 April 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/14/2009 03:29:00 PM | 7 comments

FOTOGRAFER

Hai...gimana kabar hari ini?? Mudah-mudahan anda dalam keadaan baik dan sehat.... Mari kita cek humor kita untuk hari ini....

Seorang fotografer dari sebuah surat kabar terkenal ditugaskan kantornya untuk meliput peristiwa kebakaran di sebuah hutan. Dia diperintahkan oleh atasannya untuk mengambil beberapa gambar yang memperlihatkan keberanian para pemadam kebakaran dalam usaha memadamkan api.

Pada waktu si fotografer tiba di tempat kejadian, ternyata dia tidak bisa mengambil gambar yang bagus karena asap yang begitu tebal dan banyaknya kerumunan orang. Dia berpikir bahwa mustahil bisa melakukan tugasnya dengan baik. Akhirnya dia mengajukan permohonan kepada atasannya untuk menyewa sebuah pesawat kecil agar dia dapat mengambil gambar dengan leluasa dari atas. Sang atasan menyetujui. Fotografer tersebut diberitahu untuk segera menuju ke bandara karena di sana pesawat sudah menunggunya.

Setibanya di bandara, dia melihat sebuah pesawat kecil yang sedang dipanaskan mesinnya. Dia langsung naik ke dalam pesawat itu dan berkata kepada pilotnya, "Ayo, kita berangkat!" Pilot langsung menerbangkan pesawat kecilnya dan beberapa menit kemudian mereka sudah berada di udara.

Fotografer berkata, "Terbanglah di atas hutan yang terbakar itu kemudian rendahkanlah pesawat ini, jadi aku bisa mengambil beberapa gambar yang bagus."

"Mengapa?" si pilot bertanya.

"Ya .., karena aku adalah seorang fotografer dan memotret adalah tugasku." si fotografer menjelaskan.

Selama beberapa saat si pilot terdiam sampai akhirnya dia berkata, "Berarti ... anda bukan pelatih terbang saya!!?"


"Hal itu tidak dapat dibantah, karena itu hendaklah kamu tenang dan janganlah terburu-buru bertindak." (Kisah Para Rasul 19:36)

@ sabda.org (208)



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/
Posted by Ivan Shurex Posted on 4/14/2009 12:45:00 PM | 2 comments

Mencari Yang Hilang

Yesus menceritakan banyak perumpamaan tentang orang-orang yang mencari apa yang telah hilang, seperti seorang gembala yang memiliki sembilan puluh sembilan domba di padang dan pergi di tengah hujan untuk mencari satu yang tersesat, juga seorang ayah yang menunggu di penghujung jalan, menatap horison setiap hari demi anaknya laki-laki yang telah hilang. Semua ilustrasi alkitabiah menunjukkan betapa penting arti dari pencarian manusia.

Pada sebuah acara World Forum di San Fransisco, saya bertemu dengan seorang biksu Budha Katolik dari Kamboja. (Menurut penjelasannya, tidak ada k
onflik dalam menjadi seorang Katolik dan sekaligus seorang Budha, karena “Kekatolikan adalah sebuah agama, sementara Budha adalah sebuah ilmu pengetahuan.”)

Pada saat kami sedang berbincang-bincang, saya bertanya kepadanya bagaimana ia akhirnya dapat tiba di Kamboja. Tampaknya bahwa sementara ia sedang berjalan menuju kantor imigrasi di San Fransisco, ia melewati sebuah perkemahan pengungsi Kamboja. Seorang wanita sedang menangis meraung-raung dan memukul-mukulkan dirinya sendiri ke arah pagar, lalu ia pergi untuk melihat apakah permasalahannya.

Ia menarik sebuah foto anak kecil berumur 2 tahun dan di sela-sela isakannya ia menjelaskan bahwa desakan dan tubrukan orang banyak yang berlarian menuju kapal-kapal boat telah membuatnya terpisah dari anak gadisnya yang masih kecil.

Setelah melakukan pencarian di sekitar perkemahan, ia mengetahui bahwa anaknya tidak berada di sana, dan ia tidak tahu apakah ia sendirian akan mampu menemukan anaknya lagi.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya saya kepadanya.

Ia berkata, “Saya berjanji bahwa saya akan menemukannya.”

“Kamu lakukan itu?” tanya saya.

“Ya,” jawabnya.

“Di mana?” tanya saya lagi. “Di Kamboja.”

“Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk menemukannya?” lanjut saya.

“Dua tahun,” jawabnya.

“Dua tahun!” pekik saya.

“Bagaimana kamu dapat menemukannya?”

“Saya membawa foto anak itu, dan berjalan dari desa ke desa.”

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya saya.

“Itulah pekerjaan saya,” dengan tenang ia menjawab. Kemudian ia berbalik dan memperkenalkan saya pada seorang teman yang duduk di sebelahnya, dan itulah akhir dari perbincangan kami.

Saya bertanya-tanya mengenai jenis tugas apakah yang akan kita miliki, apabila “mencari yang hilang” adalah satu-satunya pekerjaan kita. Apa yang akan kita cari? Mencari Yang Hilang

Yesus berkata, “Selama Aku bersama mereka, aku memelihara mereka dalam namaMu, ... Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa ...” (Yohanes 17:12)

Yesus pergi untuk mencari yang hilang.

(Laurie Beth Jones - Jesus in Blue Jeans)
sumber : http://www.mkif-online.de/



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

12 April 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/12/2009 12:24:00 PM | 2 comments

Semua Butuh "Proses…."

Dalam satu tandan pisang, tak semua buahnya matang secara serentak. Ada diantaranya yang masih berwarna hijau tua. Maka, sang petani ada kalanya harus menyimpannya kembali beberapa saat menunggu hingga matang semuanya.

Pisang yang telah matang dan pisang yang terlambat matang, kelak akan memiliki rasa yang sama yakni memiliki rasa pisang. Meskipun waktu untuk menjadi matang pada pisang berbeda-beda…

Begitulah kita tak mungkin semuanya sama. Ada kalanya menurut ukuran kita, suatu masalah dapat diselesaikan hanya dengan beberapa
menit saja. Tapi bagi orang lain belum tentu, ia butuh waktu untuk menyelesaikannya. Bahkan belum sampai pada kesempurnaan. Namun pada akhirnya, hasil yang didapatkan tetap dapat dirasakan.

Dalam hidup ini tak seorang pun sempurna pada bingkai kemampuannya. Karena di antara kita memang tidak sama dan serupa, kita dilahirkan berbeda, hidup di lingkungan berbeda, pada kondisi yang berbeda dan segala hal yang berbeda. Yang mesti diingat adalah bahwa setiap orang memiliki kesamaan keinginan dan memiliki hak yang sama dalam mendapat kesempatan, betapapun itu harus dipergilirkan. Karenanya, percuma saja memperdebatkan suatu ketidaksamaan, perbedaan, dan ketidakcocokan dengan orang lain, karena kita tak akan mendapat titik temu.

Sungguh tak ada yang sempurna di antara kita, maka janganlah rendah diri…semua butuh proses menjadi lebih baik.

I Yohanes 2:5 Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.

Filipi 3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.


Sumber : http://www.krenungan.org/


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

11 April 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/11/2009 11:28:00 AM | 1 comment

Renungan Malam Paskah

Renungan Malam Paskah: Kej 1:1-2:2; Kel 14:15-15:1; Yeh 36:16-17a.18-28; Rm 6:3-11; Mrk 16:1-7

“Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan, Ia telah bangkit”

"Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu." (Mrk 16:6-7)

“Rahasia Paskah mempunyai dua sisi: Dengan kematianNya Kristus membebaskan kita dari dosa, dengan kebangkitanNya Ia membuka pintu masuk menuju kehidupan baru. Hidup baru ini pada tempat pertama adalah pembenaran, yang menempatkan kita kembali dalam rahmat Allah. ‘supaya seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati…demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Pembenaran terletak dalam kemenangan atas kematian yang disebabkan oleh dosa dan dalam keikutsertaan dalam rahmat. Ia melaksanakan penerimaan menjadi anak Allah, karena orang-orang menjadi saudara-saudara Kristus. Yesus sendiri, sesudah kebangkitanNya, menyapa murid-muridNya dengan perkataan saudara: ‘Pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu…’ (Mat 28:10; Yoh 20:17). Kita adalah saudara-saudariNya bukan atas dasar kodrat kita, melainkan oleh anugerah rahmat, karena hidup sebagai anak angkat ini benar-benar menyertakan kita dalam kehidupan PuteraNya yang tunggal, hidup yang nyata sepenuhnya dalam kebangkitanNya” (Katekismus Gereja Katolik 1993, no 654).

Kematian dan kebangkitan bagaikan mata uang bermuka dua

Kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya dari mati bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Saat Ia wafat, mempersembahkan Diri seutuhnya kepada Allah Bapa yang mengutus pada saat itu juga Ia masuk ke dalam hidup baru, hidup mulia kembali di sorga, sebagaimana pernah Ia sabdakan kepada salah satu penjahat yang disalibkan bersamaNya dan bertobat: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43). Penjahat yang bertobat itu pada saat ia meninggal dunia/mati pada saat itu juga memperoleh anugerah Allah, hidup mulia di dalam Firdaus, di dalam sorga.

“Dengan kematianNya Kristus membebaskan kita dari dosa, dengan kebangkitanNya Ia membuka pintu masuk menuju kehidupan baru”. Pada malam ini kita mengenangkan kebangkitanNya, yang berarti kita bersama-sama diundang untuk memasuki kehidupan baru, sebagai ‘anak-anak Allah’, meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus. Kita dipanggil untuk memperbarui hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, yang telah dicemari atau dikotori oleh dosa-dosa kita. “Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu” (Yeh 36:23-24). Kita dipanggil untuk menanggaapi secara positif ajakanNya untuk berkumpul kembali ke ‘tanah terjanji’, hidup bahagia dan mulia di sorga.

Hidup bahagia dan mulia di sorga yang dijanjikan kepada kita tersebut kiranya telah dapat kita cicipi atau nikmati selama hidup di dunia ini, yaitu dengan membebaskann diri dari dosa dan memeluk kehidupan baru, sesuai dengan kehendak dan panggilan Tuhan. Secara liturgis hal ini di dalam Perayaan Malam Paskah dikenangkan dengan liturgi pembaharuan janji baptis , dimana kita bersama-sama memperbarui janji untuk “hanya mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan”. Mengabdi Tuhan Allah dan menolak semua godaan setan bagaikan mata uang bermuka dua, seperti mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan Allah dan menolak untuk berbuat jahat atau berbuat dosa. Jika hati kita sepenuhnya diarahkan kepada Tuhan Allah pasti secara otomatis dikuasai atau dirajai, dan dengan demikian “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”(Yeh 36:26). Hati kita akan meneladan Hati Yesus yang lemah lembut, rendah hati serta terbuka lebar bagi siapapun yang merindukan atau mendambakan Tuhan. Kita akan menjadi orang yang bermurah hati, memberi perhatian kepada saudara-saudari kita.

“Sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu." (Mrk 16:7)

“Demenyar” adalah singkatan dari ‘demen sing anyar’ = suka apa-apa yang baru. Apa-apa yang baru pada umumnya menarik perhatian dan memikat, demikian juga ketika kita memiliki apa-apa yang baru pada umumnya juga tergerak untuk menceriterakan atau menyebarluaskan kepada saudara-saudari kita. Kita telah dianugerahi hati baru, kehidupan baru dan seperti para wanita yang menjadi saksi kebangkitan Yesus kita juga diundang “Pergilah, katakanlan kepada murid-muridNya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu di Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakanNya kepada kamu”

Galilea adalah tempat tinggal para murid, dimana mereka hidup dan mengerjakan tugas pekerjaan sehari-hari. Galilea kita adalah rumah/keluarga dan tempat kerja/belajar, dimana mayoritas waktu dan tenaga kita boroskan di dalamnya. Ia mendahului kamu masuk ke dalam keluarga atau tempat kerja/ belajar, maka “Jangan takut masuk ke dalam atau pulang kembali ke keluarga dan sebaliknya meninggalkan keluarga menuju ke tempat kerja/belajar”. Marilah kita buka hati kita lebar-lebar dan juga mata kita untuk melihat dan menangkap kehadiran Tuhan yang telah mendahului perjalanan dan keberadaan kita di dalam keluarga maupun tempat kerja/belajar, tanpa takut dan gentar, was-was atau curiga. Dengan kata lain hendaknya dengan gemibra, ceria, dinamis serta penuh harapan memasuki rumah/keluarga, tempat kerja atau belajar. Mulailah, awalilah segala sesuatu dengan gembira, ceria dan penuh harapan.

Dalam dan dengan hati baru, gariah, ceria dan penuh harapan marilah kita “memandang bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-ciptaanNya: dalam unsur-unsur , memberi ‘ada’nya; dalam tumbuh-tumbuhan, memberi daya tumbuh; dalam binatang-binatang, daya rasa; dalam manusia, memberi pikiran; jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran. Bahkan dijadikan olehNya aku bait-Nya, karena aku telah diciptakan serupa dan menurut citra yang Mahaagung” (St Ignatius Loyola, LR no 235). Dengan kata lain kita dipanggil untuk menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan, dan dengan demikian kita akan mampu meneladan Yesus yang menyapa dan memperlakukan para murid sebagai saudara-saudariNya, kita dapat menyikapi dan memperlakukan siapapun dan apapun sebagai saudara dan saudari. Jika kita telah mampu menyikapi dan memperlakukan siapapun dan apapun sebagai saudara atau sahabat, maka tidak ada ketakutan sedikitpun untuk meninggalkan rumah/keluarga pergi ketempat kerja/belajar dan sebaliknya pulan dari kerja/belajar untuk pulang ke rumah/keluarga.

“Allah tinggal dan berkarya dalam seluruh ciptaanNya, dan tentu saja terutama dan pertama-tama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan citra atau gambar Allah. Maka marilah kita sikapi dan perlakukan diri kita maupun saudara-saudari kita sebagai citra atau gambar Allah. Sebagai gambar atau citra Allah berarti Roh Allah hidup dan bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23). Marilah kita hayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut dalam diri kita sendiri serta kita cermati dan imani buah-buah Roh tersebut dalam diri saudara-saudari kita.

“Kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm 6:10-11)

Pembaruan janji baptis yang kita ikrarkan bersama-sama pada Malam Paskah ini merupakan ajakan atau panggilan untuk menghayati peringatan Paulus “bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”. Ini dari janji baptis adalah “hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan”. Mengabdi Tuhan Allah berarti kita senantiasa hidup dalam dan oleh “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan, penguasaan diri”, sedangkan godaan setan antara lain berupa “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (lihat Gal 5:20-23). Maka baiklah kutipan surat Paulus kepada umat di Roma di atas kita renungkan atau refleksikan dengan bantuan kutipan surat Paulus kepada umat di Galatia di atas ini.

“Kamu telah mati bagi dosa”

Dosa-dosa seperti percabulan dst.. sebagaimana dikatakan Paulus di atas rasanya masih marak dilakukan orang pada masa kini. Sebagai contoh adalah marah, mengingat marah ini rasanya menjadi sumber dari dosa-dosa lainnya. Marah berarti melecehkan atau merendahkan yang lain, bahasa marah yang paling lembut adalah mengeluh/menggerutu, sedangkan paling kasar adalah membunuh. Yang menjadi dorongan atau alasan mengeluh adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pribadi, dengan kata lain orang hidup menurut selera pribadi atau berpedoman like and dislike, sehingga segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pribadi adalah musuh.

Bukankah ketika orang tidak berani atau tidak mungkin mengungkapkan atau mewujudkan keluhan atau kemarahannya kepada yang menyebabkan ia marah atau mengeluh, kemudian mengarahkan keluhan dan kemarahannya dengan memuaskan diri sendiri, yang nikmat dan enak untuk sesaat, misalnya berbuat cabul atau mabuk-mabukan atau pesta pora? Maka matikanlah, hapuslah aneka macam bentuk keluhan atau kemarahan yang ada dalam diri anda!. Ketrampilan atau kebiasaan untuk tidak mengeluh atau marah ini hemat saya perlu diusahakan dan dihayati dalam kehidupan bersama yang mendasar, yaitu di dalam keluarga atau komunitas, dan kemudian di tempat kerja dengan rekan kerja. Marilah kita hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, meneladan cara hidup dan cara bertindak atau menghayati sabda-sabda Yesus dalam hidup sehari-hari.

“Kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”

Sabda Yesus yang terkait dengan marah adalah “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:43-44). Menghayati sabda Yesus ini hemat saya sama dengan melakukan apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Galatia, yaitu hidup dalam Roh sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23)

Dari buah-buah Roh di atas ini rasanya yang baik kita renungkan atau refleksikan adalah “penguasaan diri”. Diri kita masing-masing adalah ciptaan Allah yang diciptakan sesuai dengan gambar dan citraNya, maka ajakan untuk menguasai diri harus dihayati bersama Allah, sesuai dengan kehendak Allah. Kehendak Allah bagi kita semua adalah agar kita senantiasa hidup suci, baik, berbudi pekerti luhur, sehingga tumbuh berkembang semakin dikasihi oleh Allah maupun sesama manusia. Dengan kata lain orang yang mampu menguasai diri berarti semakin dikasihi oleh banyak orang, semakin memiliki banyak kenalan berarti semakin banyak sahabat.

Untuk membantu keterampilan penguasaan diri antara lain hendaknya senantiasa berpikir positif terhadap diri sendiri maupun orang lain, sebagai tanda bahwa kita hidup dari dan oleh Roh. Maka warta gembira malaikat kepada para perempuan di makam“ Pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu” dapat kita hayati dengan berkata-kata perihal apa yang baik dan benar dan kita senantiasa bersikap dan bertindak untuk melihat dan mengakui apa yang benar dan baik. Bukankah dengan melihat dan mengakui apa yang benar dan baik akan tumbuh berkembang “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan, penguasaan diri” dalam diri kita?

Mengenangkan dan mengimani misteri Paskah, wafat dan kebangkitan Yesus, berarti kita dipanggil untuk bekerjasama atau bergotong royong dalam melakukan apa yang baik dan benar. Memang untuk melakukan apa yang baik dan benar pada masa kini tidak akan terlepas dari aneka macam tantangan dan hambatan Jangan takut dan gentar menghadapi aneka tantangan dan hambatan, dan marilah meneladan para perempuan yang “pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur” tanpa takut dan gentar. Dari peristiwa kebangkitan Yesus dari mati ini kiranya kita dapat mawas diri bahwa kelemahan dapat menjadi kekuatan dan sebaliknya kekuatan dapat menjadi kelemahan. Dalam situasi genting pada umumnya yang berani tampil bebas merdeka adalah mereka yang dipandang atau dinilai lemah dalam situasi normal atau biasa, sedangkan yang dinilai kuat bersembunyi, tidak berani tampil. Bukankah untuk membersihkan apa yang kotor dan amburadul kita sering lebih minta bantuan dari mereka yang dinilai lemah seperti para pembantu atau pekerja kasar? Kuburan atau makam sering menjadi tempat yang menakutkan untuk sementara orang. Dalam arti tertentu juga ada orang yang menakutkan alias disikapi sebagai kuburan atau makam, maka marilah kita dekati dan sikapi orang-orang yang menakutkan dengan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh, yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan, penguasaan diri”!


“SELAMAT PASKAH,

MARILAH KITA BANGKIT DAN BERGAIRAH DALAM KASIH, SUKACITA, DAMAI SEJAHTERA, KESABARAN, KEMURaHAN, KEBAIKAN, KESETIAAN, KELEMBUTAN DAN PENGUASAAN DIRI”


Jakarta, 11 April 2009
Romo Maryo



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

10 April 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 4/10/2009 11:45:00 AM | No comments

"Perjalanan jiwa"

Hidup adalah sebuah perjalanan, mulai lahir sebagai seorang bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa lalu tua.

Dalam sebuah perjalanan, pastinya setiap orang mengalami hal yang sama yaitu tumbuhnya gigi,rambut serta usia, entah laki-laki/perempuan secara lahiriahnya.

Namun yang membedakan adalah situasi dan kondisi bertumbuh-kembangnya jiwa seseorang, entah laki-laki/perempuan, yang satu berbeda dengan yang lain, bahkan yang kembar sekalipun.

Persahabatanlah yang dapat membuat jiwa menjadi satu tanpa melihat adanya perbedaan. Persahabatan membuat orang lain menjadi saudara, bahkan dapat mengubah secara fisik rupa seseorang seperti pinang dibelah dua.

Lihatlah suami-istri yang rukun damai, semakin hari-semakin seperti saudara kakak dan adik. Mereka saling mengisi satu dengan yang lain, mereka semakin hari semakin tahu prilaku dan tabiatnya satu dengan yang lain. Kadang tanpa berbicarapun mereka sudah tahu apa yang diharapkannya tanpa beradu mulut.

Yang menyebabkan perpisahan jiwa terjadi,dikarenakan berbedanya menanggapi dan menafsirkan suatu hal,sehingga secara otomatis membuat prilaku dan tindakan yang berbeda pula.


===================================
Ayub 7:1"Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?

Yakobus 4;4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia!Tidakkah kamu tahu,bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini,ia menjadikan dirinya musuh Allah.

Matius 16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus :"Enyahlah Iblis,Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah,melainkan apa yang dipikirkan manusia.

Yohanes 10:30 "Aku dan Bapa adalah satu"

Yohanes 14:9 "Kata Yesus kepadanya:telah sekian lama Aku bersama-sama kamu,Filipus,namun engkau tidak mengenal Aku?Barangsiapa telah melihat Aku,ia telah melihat Bapa.

Salam Damai dan Doa
"Semoga Allah memberimu Damai"
by : Belfry



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/
Posted by Ivan Shurex Posted on 4/10/2009 04:32:00 AM | 13 comments

Doa Kerahiman Ilahi (Koronka)



Gambar Yesus Maharahim dengan tulisan: JEZU, UFAM TOBIE (YESUS, ENGKAU ANDALANKU) diperlihatkan kepada Sr. Faustina oleh Yesus sendiri pada penampakan-Nya tanggal 22 Februari 1931. Dua sinar pada gambar tersebut melambangkan darah dan air. Sinar yang merah melambangkan darah yang memberi hidup bagi jiwa-jiwa dan sinar yang pucat melambangkan air yang menguduskan jiwa-jiwa. Dua sinar itu keluar dari kerahiman Yesus ketika hati-Nya ditusuk dengan tombak saat disalib. Pada tahun 1935, Tuhan Yesus mengajar St. Faustina suatu doa khusus memohon kerahiman Allah.

Janji Yesus kepada Suster Faustina:
"Doronglah jiwa-jiwa untuk mendaraskan Koronka yang telah Aku berikan kepadamu. Barangsiapa mendaraskannya akan menerima rahmat berlimpah di saat ajal. Apabila koronka ini didaraskan di hadapan seorang yang di ambang ajal, Aku akan berdiri di antara BapaKu dengan dia, bukan sebagai Hakim yang adil, melainkan sebagai Juruselamat yang Penuh Belas Kasih. Para imam akan menganjurkannya kepada para pendosa sebagai harapan keselamatan mereka yang terakhir. Bahkan andai ada seorang pendosa yang paling keras hati sekalipun, jika ia mendaraskan koronka ini sekali saja, ia akan menerima rahmat dari belas kasih-Ku yang tak terhingga. Aku hendak menganugerahkan rahmat-rahmat yang tak terbayangkan kepada jiwa-jiwa yang percaya kepada kerahiman-Ku. Melalui Koronka ini, engkau akan mendapatkan segala sesuatu, jika yang engkau minta itu sesuai dengan kehendak-Ku."

Yesus juga mengajar St.Faustina, untuk mengucapkan doa kecil pada tiap jam 3, saat kematian-Nya:

Darah dan air yang memancar keluar dari Hati Yesus Yang Maha Kudus, sebagai sumber kerahiman bagi kami, aku mempercayai-Mu.


Berikut doanya yang didaraskan dengan bantuan Rosario biasa:


Sumber : www.jesusloves.ddjrfc.com

Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin
Bapa Kami ...
Salam Maria ...
Aku Percaya ...

Kemudian pada manik besar (Bapa Kami) didoakan:
Bapa yang kekal kupersembahkan kepada-Mu, Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Illahi-an Putera-Mu terkasih Tuhan kami Yesus Kristus, sebagai pemulihan dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia.

Pada setiap sepuluhan manik kecil (Salam Maria) didoakan:
Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belaskasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.

Diakhiri dengan tiga kali mengucapkan
Allah yang kudus, kudus dan berkuasa, kudus dan kekal, kasihanilah kami dan seluruh dunia. Amin

Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin

sumber : dari berbagai sumber


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/
  • Text Widget