30 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/30/2009 07:51:00 PM | 2 comments

TUJUH TELADAN KRISTUS DI DALAM PENDERITAAN

Ketika di dalam kehidupan nyata umat kristen menemui berbagai penghinaan dan ketidak adilan karena mempertahankan iman kekristenan, maka ada tujuh teladan yang dapat kita ikuti agar kesabaran dan kerendahan hati berlimpah dalam kehidupan :

1. Penderitaan-penderitaan
"sebab untuk itulah kamu dipanggil , karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu supaya kamu mengikuti jejak-NYA". (1 Petrus 2:21) karena ... "Lalu Yesus berkata kepada murid2-NYA : Setiap orang yang mau mengikuti AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut AKU".

YESUS telah menunjukkan kepada kita bahwa IA telah menerima penderitaan2 sebelum kita dan kita sebagai umat pengikut KRISTUS juga akan menderita karena YESUS. Tidak p
erlu kita merasa sakit hati, YESUS menderita lebih dari kita dan IA telah menunjukkan kasih-NYA kepada orang yang mengakibatkan penderitaan maka kita juga tidak perlu sakit hati dan menunjukkan kasih pada mereka.

2. Tidak berdosa
"orang menempatkan kuburnya diantara orang-orang fasik, dan dalam mati-NYA IA ada diantara penjahat2, sekalipun IA tidak berbuat kekerasan dan tipu daya tidak ada dalam mulut-NYA". lalu dikuatkan oleh surat 1 Petrus 2:22 "IA tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-NYA".

YESUS telah menunjukkan kepada kita bahwa meskipun penderitaan menghampiri kita, maka kita sebagai umat KRISTUS tetap menjaga hati dan pikiran kita agar tidak berdosa. YESUS adalah TUHAN, kita adalah manusia yg tak lepas dari dosa, maka dengan berdoa dan mengucap syukur, TUHAN akan menjaga kita dari dosa2 dunia.

3. Tidak pernah menipu
"IA tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-NYA".(1 Petrus 2:22).

Hendaknya kebenaran ada dalam diri kita meskipun penderitaan menghampiri, sama seperti YESUS tidak pernah berbicara kebohongan ketika dianiaya dan disalib.

4. Tidak pernah membalas pada saat dicaci maki
"Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk" (Roma 12:14) dikuatkan oleh perkataan YESUS sendiri "Tetapi AKU berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, karena dengan demikian kamu menjadi anak2 BAPA-mu di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar". (Matius 5:44-45).

hal tidak membalas caci maki merupakan hal yang paling berat untuk dilakukan sebagai umat manusia. sebagai manusia biasa kita selalu tergoda untuk membalas segala sakit hati kepada mereka. namun dengan keteguhan dan ketekunan hati, YESUS telah merubah sakit hati tersebut menjadi kebahagiaan yang utuh tak kurang suatu apapun melalui satu ujian (ujian kerendahan hati).

5. Sabar di dalam ancaman
"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa". (Roma 12:12) karena YESUS sendiri mengatakan "Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu". (Lukas 21:19)

Teladan bersabar di dalam ancaman merupakan esensi dalam ajaran kristen yaitu YESUS menunjukkan kasih-NYA kepada musuhnya dan kehidupan yang dijanjikan-NYA adalah kehidupan kekal. begitu indah dan abadi.

6. Menyerahkan segala hal kepada ALLAH
"Ketika IA dicaci maki, IA tidak membalas dengan mencaci maki, ketika IA menderita IA tidak mengancam, tetapi IA menyerahkan kepada DIA yang mengadili dengan adil". (1Petrus 2:23)

Ketika manusia terjebak dalam pederitan yang tiada habisnya, maka satu teladan yang patut kita contoh dari YESUS adalah menyerahkan segala perkara kita kepada TUHAN karena IA yang empunya hidup akan menyelesaikan segalanya dengan adil. maka jangan takut berada dalam penderitaan karena kita umat kristen mempunyai ALLAH yang kuat, ALLAH yang hidup, ALLAH yang adil.

7. Kebenaran dalam Iman
"IA sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-NYA di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa , hidup untuk kebenaran. Oleh bilur2-NYA kamu telah sembuh". (1Petrus 2:24)

Penebusan dosa yang dilakukan YESUS adalah inti kebenaran pengajaran-NYA, kebenaran yang mutlak, kebenaran yang tidak terbantahkan supaya kita sebagai umat kristen tidak sia-sia mempercayai YESUS adalah juru selamat manusia dan kita menerima anugerah keselamatan abadi dan bukan kematian kekal.

KASIH KARUNIA TUHAN YESUS MENYERTAI SAUDARA SEKALIAN !

Sumber : Forum Bebas


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

27 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/27/2009 07:40:00 PM | 6 comments

Biarkan Tuhan Menilaimu

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi, tetaplah berbuat baik.

Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.

Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.

Mother Theresa.

Sumber : Forum Bebas



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

25 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/25/2009 05:53:00 PM | 2 comments

Cara Melihat Tuhan

Tuhan itu panjang sabar..., tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah - Nah 1:3

Bacaan: Nahum 1:1-8

Hubungan kita dengan Tuhan akan sangat ditentukan cara pandang kita kepadaNya. Ini kebenaran yang tak bisa disangkal lagi. Ada banyak bukti yang bisa mendukung pernyataan ini. Lihatlah Tuhan sebagai Diktator, maka hubungan kita dengan Tuhan seperti bos dengan karyawan. Kita sangat takut berbuat kesalahan. Bukan karena kita ingin hidup benar. Tapi karena kita takut kalau berkat kita akan disusutkan oleh Tuhan, persis seperti bos yang memotong gaji karyawannya.

Lihatlah Tuhan sebagai Hakim yang tak kenal belas kasihan, maka hubungan kita akan seperti hakim dan terdakwa. Kita selalu melihat Tuhan memegang palu dan siap-siap memvonis kita. Tak heran hubungan kita dengan Tuhan tidak akrab. Bagaimana bisa akrab jika kita takut mendekat? Bagaimana kita bisa mendekat kalau berpikir Ia sangat hobi mengetok palu tanda bersalah?

Lihatlah Tuhan sebagai Bapa yang sabar dan yang seakan tidak bisa marah, maka hubungan kita akan seperti bapa dengan anaknya yang kurang ajar. Kita akan gampang sekali berbuat dosa dan menganggap bahwa dosa adalah hal yang biasa. Kita pun berpikir pendek, toh nanti dosa kita juga diampuni Tuhan. Bukankah Ia penuh kasih dan pengampunan? Menjadi orang Kristen yang mempermainkan Tuhan, bahkan bersikap kurang ajar terhadapNya.

Lihatlah Tuhan sebagai Dalang, maka hubungan kita akan seperti dalang dengan wayangnya. Kita selalu merasa bahwa hidup kita ini tak ubahnya seperti robot yang sudah disetel dan diset sedemikian rupa oleh empunya. Lupa bahwa kita tidak diciptakan seperti robot, melainkan sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas.

Lalu bagaimana seharusnya kita melihat Tuhan? Jangan lihat Tuhan pada satu sisi saja. Tuhan memang Bos kita, tapi Ia tidak pernah melihat kita semata-mata sebagai upahanNya saja. Sebab Ia juga sekaligus menjadi Bapa yang baik bagi kita. Karena hubungan kita sebagai bapa dan anak, bukan berarti kita bisa mempermainkan Tuhan dan bersikap kurang ajar kepadaNya. Ingat, bahwa Tuhan juga sebagai Hakim yang tegas dan tak kenal kompromi dengan dosa. Meski kita anakNya, tapi Ia juga akan menghukum seandainya kita berbuat kesalahan. Pemahaman yang seperti ini akan membuat kita memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan.

Jangan lihat Tuhan pada satu sisi saja, agar kita memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan.(Kwik)

Sumber : renungan-spirit.com


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

23 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/23/2009 03:37:00 PM | 3 comments

Jawaban Doa

Bacaan: I Raja-raja 3:1-15

"...tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."
- Lukas 22:42


Siapapun orangnya pasti akan merasa kecewa ketika doanya belum juga dijawab oleh Tuhan. Meski begitu, Allah tetap memiliki alasan dan jawaban yang tepat atas doa-doa kita. Setidaknya ada empat jenis jawaban yang akan Allah berikan pada kita, yaitu:

1. Ketika Allah berkata, "Tidak "

Mungkin permohonan doa kita tidak benar. Tidak mungkin Allah mengabulkan doa kita jika kita menginginkan kehancuran lawan bisnis. Tidak mungkin pula Allah mengabulkan doa agar orang yang kita benci celaka. Ini karena musuh-musuh yang ada sekarang bukanlah untuk kita "bunuh", namun biarlah mereka ada agar kita bisa membuktikan penerapan kasih dan kesabaran yang diajarkan Bapa kita.

2. Ketika Allah berkata , "Luruskanlah! "

Allah tentu tidak mengabulkan doa yang berkedok. Kita terus-menerus berdoa meminta rumah yang baru dengan dalih untuk tempat persekutuan namun sebenarnya untuk kepentingan pribadi dan kesombongan semata. Dengan kata lain, Allah ingin doa kita murni tanpa kebohongan.

3. Ketika Allah berkata , "Perlahankan !"

Tidak mungkin Allah memberikan pada kita suatu pabrik yang besar dengan ratusan karyawan apabila saat ini kita masih belum mampu menangani kesulitan-kesulitan kecil. Tunggulah waktu yang tepat dari Allah, itu jawabannya.

4. Ketika Allah berkata , "Silakan !"

Orang yang dapat dipercaya dan diandalkan akan memperoleh apa yang ia mohon pada Allah. Jenis orang seperti ini tidak butuh waktu lama sebab Allah berkata , " Silakan ! "

Jadi siapapun Anda, jangan pernah bersungut-sungut apabila dalam doa kita ditolak, disuruh menunggu atau diharuskan untuk berkata jujur dulu. Mari terlebih dulu kita berkaca pada diri kita sendiri, apakah doa kita memang doa yang didasari motivasi yang benar. Sebab Allah akan menjawab doa orang yang benar-benar hidup berkenan padaNya, siapapun Anda !

Motivasi Anda dalam berdoa akan mempengaruhi jawaban doa Anda.
(Dioni)

Sumber : renungan-spirit.com


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

21 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/21/2009 03:13:00 PM | 7 comments

Keputusan sang Ayah

Setelah beberapa lagu pujian seperti biasanya pada hari minggu, pembicara gereja bangkit berdiri dan perlahan-lahan berjalan menuju mimbar untuk berkhotbah.

"Seorang ayah dan anaknya serta teman anaknya pergi berlayar ke samudra Pasifik", dia memulai, "ketika dengan cepat badai mendekat dan menghalangi jalan untuk kembali ke darat. Ombak sangat tinggi, sehingga meskipun sang ayah seorang pelaut berpengalaman, ia tidak dapat lagi mengendalikan perahu sehingga mereka bertiga terlempar ke lautan."

Pengkotbah berhenti sejenak, dan memandang mata dua orang remaja yang mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian. Dia melanjutkan, "Dengan menggenggam tali penyelamat, sang ayah harus membuat keputusan yang sangat sulit dalam hidupnya....kepada anak yang mana akan dilemparkannya tali penyelamat itu. Dia hanya punya beberapa detik untuk membuat keputusan.

Sang ayah tahu bahwa anaknya adalah seorang pengikut Kristus, dan dia juga tahu bahwa teman anaknya bukan. Pergumulan yang menyertai proses pengambilan keputusan ini tidaklah dapat dibandingkan dengan gelombang ombak yang ganas. Ketika sang ayah berteriak, "Aku mengasihi engkau, anakku!" dia melemparkan tali itu kepada teman anaknya. Pada waktu dia menarik teman anaknya itu ke sisi perahu, anaknya telah menghilang hanyut ditelan gelombang dalam kegelapan malam. Tubuhnya tidak pernah ditemukan lagi."

Ketika itu, dua orang remaja yang duduk di depan, menantikan kata-kata berikut yang keluar dari mulut sang pembicara. "Sang ayah," si pembicara melanjutkan ,"tahu bahwa anaknya akan masuk dalam kekekalan dan diselamatkan oleh Yesus, dan dia tidak sanggup membayangkan jika teman anaknya melangkah dalam kekekalan tanpa Yesus. Karena itu dia mengorbankan anaknya sendiri. Betapa besar kasih Allah, sehingga Ia melakukan hal yang sama kepada kita." Sang pembicara kembali ke tempat duduknya sementara keheningan memenuhi ruangan.

Beberapa saat kemudian, dua orang remaja duduk di sisi pembicara. "Cerita yang menarik," seorang remaja memulai pembicaraan dengan sopan, "tapi saya pikir tidaklah realistis bagi sang ayah untuk mengorbankan hidup anaknya hanya dengan berharap bahwa teman anaknya akan menjadi seorang pengikut Kristus."

"Benar, engkau benar sekali," jawab pembicara. Sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya dan kemudian di memandang kedua remaja tersebut dan berkata, "Tentu saja itu tidak realistis bukan ? Tapi saya ada di sini untuk memberitahu kalian bahwa cerita itu membuka mataku tentang apa yang sesungguhnya terjadi ketika Tuhan memberikan AnakNya untuk saya."Engkau tahu ... sayalah teman sang anak itu".
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. ~Yohanes 3:16

Author : Unknown
Sumber : Gen-x Forum


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

18 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/18/2009 04:48:00 PM | 2 comments

The Butterfly

A man found the cocoon of a butterfly, One day a small opening appeared. He sat and watched the butterfly for several hours as it struggled to force its body through that little hole. Then it seemed to stop making any progress. It appeared as if it had gotten as far as it could and it could go no further. So the man decided to help the butterfly, he took a pair of scissors and snipped off the remaining bit of the cocoon.

The butterfly then emerged easily. But it had a swollen body and small, shriveled wings. The man continued to watch the butterfly because heexpected that, at any moment, the wings would enlarge and expand to be able to support the body , which would contract in time. Neither happened. In fact, the butterfly spent the rest of its life crawling around with a swollen body and shriveled wings. It never was able to fly.

What the man in his kindness and haste did not understand was that the restricting cocoon and the struggle required for the butterfly to get through the tiny opening were God’s way of forcing fluid from the body of the butterfly into its wings so that it would be ready for flight once it achieved its freedom from the cocoon.

Sometimes struggles are exactly what we need in our life.
If God allowed us to go through our life without any obstacles,
it would cripple us. We would not be as strong as what we could have been.
We could never fly.

I asked for Strength………
And God gave me Difficulties to make me strong.

I asked for Wisdom………
And God gave me Problems to solve.

I asked for Prosperity………
And God gave me Brain and Brawn to work.

I asked for Courage………
And God gave me Danger to overcome.

I asked for Love………
And God gave me Troubled people to help.

I asked for Favours………
And God gave me Opportunities.

I received nothing I wanted.
I received everything I needed.

Author unknown

@http://krenungan.org/ a20




Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


17 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/17/2009 07:59:00 PM | 1 comment

Kejujuran Tukang Becak

Hari minggu yg lalu saya & istri pulang dari belanja di pasar di belakang perumahan kami yang jaraknya sekitar 1 km, biasanya kami naik motor tetapi karena hari itu sedang hujan gerimis dan kebetulan sayuran yang di beli lumayan banyak karena untuk persediaan selama satu minggu akhirnya kami memutuskan naik becak.

Setelah turun dari becak, saya membereskan sayuran yang hendak di simpan di kulkas dan istri saya memasak di dapur. Setelah makan kami tidur sebentar dan sekitar jam 3 sore kami berniat mengajak anak kami Larasati naik bom-bom car di mall.

Masalah muncul ketika istri saya mencari dompet tetapi tidak ditemukan. Saya coba ingatkan dia kapan terkahir kali meletakkan dompetnya. Istri saya mencoba megingat-ingat sejak pertama kali belanja di pasar sampai terakhir kali membayar becak. Tidak ada yang terlewatkan kata dia. Akhirnya sore itu kami sibuk mencari dompet istri saya, mulai dari lemari pakaian, tas kerja, saku celana bahkan sampai sayuran yang sudah masuk kulkas tidak luput dari pencarian kami.

Setelah dua jam sibuk mencari akhirnya kami pasrah. Sudah relakan saja, mungkin Tuhan bermaksud memberikan rejeki kita kepada orang yang lebih membutuhkan, hibur saya saat itu. Istri saya terlihat sangat bingung dan cemberut karena di dalam dompet terdapat berapapa kartu kredit, KTP, SIM dan juga sedikit uang tunai.

Selepas bedug maghrib sekitar jam 18.30, ada seorang bapak dan anak kecil bertamu kerumah kami. Saya mencoba mengingat wajah bapak tersebut, dan tidak salah dia adalah tukang becak yang kami naiki dari pasar tadi pagi.

"Maaf apakah ini rumahnya Ibu sosro" tanya dia dengan santun.

"Betul, ada perlu apa bapak kemari?" jawab saya.

"Oh, begini mas, tadi sore istri saya menemukan dompet ini di bawah jok sewaktu sedang mencuci becak, dan saya baca alamatnya ada di perumahan ini" kata bapak itu sambil memberikan dompet warna hitam.

Memang benar dompet tersebut milik istri saya yang hilang sejak tadi pagi. Saya buka dompet dan lihat isinya ternyata masih utuh, baik uang tunai maupun yang lainnya. Tidak ada barang secuil-pun yang hilang, bahkan uang 300rb juga masih utuh.

Saya pandangi wajah bapak dan anak yang sedang di gendongnya, tulus. Walaupun hanya mengenakan pakaian lusuh tetapi wajahnya memancarkan aura bening yang jarang saya temui pada tukang becak lainnya.

"Ya sudah mas, saya mohon pamit dulu. Kasihan istri sudah menunggu di rumah".

"Ohh..ya... terima kasih pak" kata saya sambil menyodorkan beberapa uang puluhan ribu sebagai "balas jasa" atas kebaikan hatinya.

"Tidak usah pak, terima kasih. Sudah menjadi kewajiban kami untuk mengembalikan barang yang bukan milik kami" jawab tukang becak itu menolak pemberian saya.

Dan masih dengan senyum yang tulus tukang becak itu pergi meninggalkan saya yang masih terbengong-bengon dengan kejadian barusan.

Aneh!!!...
Dijaman yang seperti ini masih ada tukang becak seperti dia. . . (saya
sampai lupa menanyakan namanya), di saat orang saring berebut harta dan
kekuasaan untuk menyenangkan diri sendiri bahkan dengan menghalal-kan segala
cara.

Apakah ini teguran dari Tuhan agar saya meniru sikap tukang becak tersebut. Atau??....Entahlah . . . (semoga saya bisa mengambil hikmah dari tukang becak tersebut)

di kirim oleh : Gundolo Sosro


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/17/2009 07:19:00 PM | 2 comments

Marilah dan kamu akan melihatnya

Mg Biasa II
Bacaan : 1Sam 3:3b-10.19; IKor 6:13c-15a.17-20; Yoh 1:35-42

Sebut saja namanya ‘Harjo’ (samaran). Pak Harjo adalah seorang pengusaha yang cukup terkenal di daerah pedesaannya, ia berdagang aneka kebutuhan hidup sehari-hari di pasar dan memang usaha atau dagangannya sangat diminati banyak orang/para pembeli. Dari rumah ke pasar dan sebaliknya setiap hari Pak Harjo menumpang ‘andong’(kereta berkuda), sarana kendaraan yang umum di daerah tersebut.

Pada suatu hari dalam perjalanan pulang dari pasar ke rumah, ketika sendirian menumpang ‘andong’, pak Harjo terkesan pada kusir ‘andong’ yang senantiasa nampak ceria dan gembira, padahal ia tidak kaya akan harta benda /uang seperti dirinya. Nama kusir tersebut ‘Pak Suto’ (samaran).

“Pak Suto, saya perhatikan sejak tadi bapak nampak ceria dan gembira terus menerus, apa sedang memperoleh hadiah besar? Atau apa rahasianya kok nampak ceria dan gembira tersebut menerus?”, demikian pertanyaan Pak Harjo kepada Pak Suto.

“Kalau mau tahu rahasianya, besok Jum’at sore silahkan datang ke rumah saya, ada orang yang dapat membuat saya bahagia dan ceria seperti ini”, jawaban Pak Suto.

Jawaban Pak Suto ini mirip dengan jawaban Yesus atas pertanyaan para murid ”Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?": “Marilah dan kamu akan melihatnya”.

Hari Jumat sore, sebagaimana dikatakan pak Suto, Pak Harjo datang ke rumah Pak Suto, dan ternyata di rumah pak Suto telah hadir beberapa orang dan seorang pastor berkebangsaan Belanda, yang dengan fasih berbahasa Jawa, sedang mengajar agama alias menjelaskan Kabar Baik, Injil atau ajaran Yesus. Pak Harjo begitu terkesan atas apa yang sedang terjadi, dan pada suatu saat Pak Harjo mohon kepada pastor tersebut ke rumahnya untuk semua anggota keluarganya.

Tidak lama kemudian memang Pak Harjo dan semua anggota keluarga mohon dibaptis, menjadi murid-murid atau pengikut-pengikut Yesus. Rahasia hidup damai , bahagia, ceria dan gembira telah diperolehnya, yaitu Yesus, yang datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia. Kesaksian hidup Pak Suto memang menjadi ‘sarana merasul’ yang baik, sehingga mereka yang melihatnya tergerak untuk lebih lanjut ingin mengenal dan mengikuti Yesus, yang diimaninya.


"Marilah dan kamu akan melihatnya.”
(Yoh 1:39)

Ketika Yesus lewat Yohanes Pembaptis memberitahu kepada dua muridnya sambil berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!", maka dua murid itupun, antara lain Andreas, tergerak untuk mengikutiNya. Andreas akhirnya hidup bersama dengan Yesus dan kemudian berceritera kepada saudaranya, Simon, dan kepada Simon yang juga tergerak mengikutiNya, Yesus bersabda: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).". Melihat, tertarik, terpesona dan akhirnya tergerak hidup bersama dengan serta menjadi murid-murid Yesus itulah yang terjadi. Kita semua dipanggil untuk meneladan Yesus, dimana mereka atau siapapun yang melihat cara hidup dan carta bertindak kita juga tergerak untuk menjadi murid-murid Yesus.

Kita semua dipanggil untuk menjadi ‘anak-anak domba Allah’, yaitu orang-orang yang taat dan setia kepada kehendak dan perintah Allah alias setia pada panggilan, tugas pengutusan dan pekerjaan kita masing-masing. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr.Edi Sedyawati/edit. : Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Maka marilah kita ingat, kenangkan dan refleksikan aneka perjanjian yang telah kita ikrarkan. Salah satu janji yang mendasari hidup dan panggilan kita sebagai murid-murid Yesus adalah janji baptis, dimana kita pernah berjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak aneka macam godaan setan’. Godaan-godaan setan pada masa kini ada di mana-mana, di dalam hidup sehari-hari, di dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya, antara lain masalah seksual, maka baiklah kita renungkan dan refleksikan apa yang diingatkan oleh Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini.

“Tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya. Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus” (1Kor 6:13-15a)

“Selingkuh di kalangan selebritis atau kelas menengah atas sudah sering didengar, bahkan hal itu dianggap bagian dari gaya hidup. Akan tetapi ternyata jumlah perselingkuhan lebih banyak dilakukan masyarakat kelas bawah daripada masyarakat menengah dan atas” (Artikel Selingkuh),

Masing-masing dari kita diciptakan dalam dan oleh kasih Allah melalui orangtua/bapak-ibu kita masing-masing serta menjadi gambar atau citra Allah, maka Paulus mengingatkan bahwa “tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, …dan tubuhmu adalah anggota Kristus”. Maka marilah kita menjaga dan merawat tubuh kita agar tetap bersih dan suci, dan untuk itu kiranya penting sekali menjaga kesucian indera penglihatan dan pendengaran disamping indera-indera lainnya.

Yang terkait dengan indera penglihatan antara lainnya aneka gambar atau hiasan rumah, dinding, kantor, dst..; hendaknya dipasang gambar-gambar atau hiasan yang mendidik dan membina suara hati agar tetap jernih dan bersih, jauhkan dan hindari pemasangan gambar atau hiasan yang berbau porno, yang mengundang orang untuk berpikiran dan berbuat jahat. Senada dengan penglihatan atau yang dilihat adalah pendengaran atau yang didengar; hendaknya tidak omong-omong atau berbicara yang menyerempet atau berbau porno, tetapi sopan. Menghadirkan diri baik dalam dan melalui kata-kata maupun phisik hendaknya juga sopan, hindari cara berpakaian yang mengundang atau merangsang orang lain untuk berpikir dan bertindak jahat.

Apa yang dilihat dan didengarkan orang akan sangat mempengaruhi kwalitas kepribadian yang bersangkutan atau kedewasaan baik jasmani atau rohani. Pengalaman Samuel dalam mendengarkan suara atau kehendak Tuhan kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua; di mana dalam tidur ia mendengarkan panggilan atau suara Tuhan. Apa yang terjadi dalam diri Samuel adalah kejernihan dan kebersihan suara hati atau hati nurani, yang menjiwai kebersihan dan kesucian tubuhnya juga. Karena kebersihan dan kesuciannya “Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur” (1Sam 3:9) Firman Tuhan bagi kita semua antara lain ada dalam aneka rumus janji-janji yang pernah kita ikrarkan: janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, sumpah jabatan dst… Jika apa yang pernah kita janjikan atau ikrarkan tidak kita biarkan gugur atau luntur, maka Tuhan senantiasa menjertai kita dan dengan demikian tubuh kita seutuhnya untuk Tuhan, dalam keadaan bersih dan suci.

Secara konkret saya mengajak dan mengingatkan kita semua untuk setia pada jati diri dan panggilan kita masing-masing, tidak selingkuh atau menyeleweng. Memang persilingkuhan atau penyelewengan panggilan atau tugas pengutusan dapat terjadi pada umumnya karena tidak setia dan taat dalam hal pengurusan atau pengelolaan uang / harta benda. Jika terhadap uang dan harta benda tidak bersih dalam pengurusan atau pengelolaannya, kiranya dapat diduga yang bersangkutan juga tercemar dalam hal panggilan maupun tugas pengutusan, entah selingkuh dalam hal seksual atau kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya yang dapat merusak tubuh.

“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN“ (Mzm 40:7-10)


Jakarta, 18 Januari 2009
Romo Maryo.


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

12 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/12/2009 11:22:00 AM | 3 comments

50 Tahun Salah Paham

Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50. Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting seperti para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta seniman-seniman terpandang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat serta kolega dari kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang tahun perkawinan pun berlangsung dengan megah dan sangat meriah.

Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara, yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati kamuan tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain adalah sepotong ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang mahal. Ikan emas itu dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat terkenal.

“Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal. Tetapi, inilah ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan, kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi,” kata sang pejabat senior dalam pidato singkatnya.

Lalu, tibalah detik-detik yang istimewa yang mana seluruh hadirin tampak khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana mengambil piring, lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan emas. Dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan kepala dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya. Ketika tangan sang isteri menerima piring itu, serentak hadirin bertepuk tangan dengan meriah sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.

Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar isak tangis si isteri pejabat senior. Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang ikut tertawa bahagia mendadak jadi diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang pejabat tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan bertanya “Mengapa engkau menangis, isteriku?”

Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan “Suamiku…sudah 50 tahun usia pernikahan kita. Selama itu, aku telah dengan melayani dalam duka dan suka tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai.” tutur sang isteri.

Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca pula, ia berkata kepada isterinya,” Isteriku yang tercinta…50 tahun yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu.”

Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, “Demi Tuhan, setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga buatmu.”

Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi “Walaupun telah hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak cukup saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.” Akhirnya, sang pejabat memeluk isterinya dengan erat. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi dan mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut.

Moral cerita diatas:

Bisa saja, sepasang suami - isteri saling mencintai dan hidup serumah selama bertahun-tahun lamanya. Tetapi jika di antaranya tidak ada saling keterbukaan dalam komunikasi, maka kemesraan mereka sesungguhnya rawan dengan konflik. Kebiasaan memendam masalah itu cukup riskan karena seperti menyimpan bom waktu dalam keluarga. Kalau perbedaan tetap disimpan sebagai ganjalan dihati, tidak pernah dibiacarakan secara tulus dan terbuka, dan ketidakpuasan terus bermunculan, maka konflik akan semakin tak tertahankan dan akhirnya bisa meledak. Jika keadaan sudah seperti ini, tentulah luka yang ditimbulkan akan semakin dalam dan terasa lebih menyakitkan.

Kita haruslah selalu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan dilandasi kasih, kejujuran, kesetiaan, kepercayaan, pengertian dan kebiasaan berpikir positif.

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.


Oleh: Tidak Diketahui
Sumber : heartnsouls.com




Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/
Posted by Ivan Shurex Posted on 1/12/2009 10:50:00 AM | No comments

TAK TERTOLONG LAGI?

Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." —Lukas 23:43


Baca: Lukas 23:33-43

Seorang gembala Israel berumur 110 tahun dari suku Bedouin dengan segera dibawa ke rumah sakit di Beersheba ketika ia terkena serangan jantung. Meskipun usianya sudah renta, dokter bekerja keras menyelamatkan jiwanya. Pria ini mungkin adalah pasien pengidap penyakit jantung tertua yang berhasil disembuhkan dengan obat pencegah penyumbatan jantung. Jurubicara dari rumah sakit melaporkan bahwa pria Bedouin ini telah kembali ke tendanya di gurun pasir Negev untuk menjaga kawanan kambingnya.

Perhatian yang diberikan pada pria berumur 110 tahun ini mencerminkan cara Yesus dalam menanggapi orang-orang yang kita anggap sudah tidak tertolong lagi. Kemampuan dan kemauan-Nya untuk menembus batas-batas sosial untuk menolong para penderita kusta dan mereka yang dikucilkan jauh melebihi apa yang biasanya dilakukan oleh seseorang yang baik hati.

Bahkan di tengah kepedihan atas penderitaan yang dialami-Nya, Yesus merengkuh seseorang yang sekarat, yang dianggap orang lain sudah tidak tertolong lagi. Orang ini adalah seorang penjahat, dihukum mati, dan hanya punya waktu beberapa jam sebelum ia akan terhilang selamanya. Pada saat itu, Yesus menanggapi seruan orang yang meminta pertolongan ini dengan berkata, "Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Luk. 23:43).

Apakah Anda mengenal seseorang yang tampaknya tidak tertolong lagi? Atau mungkin Anda berpikir, Anda-lah yang tidak memiliki harapan lagi. Allah dalam Alkitab sanggup memberikan pertolongan bagi mereka yang dianggap terlalu tua, terlalu berdosa, atau terlalu lemah untuk dapat ditolong lagi. —MRD II

Yesus mencari mereka yang direndahkan
Yang tidak dipedulikan oleh banyak orang;
Kebaikan hati dan pertolongan-Nya
Rindu Dia bagikan pada mereka. —D. De Haan

Kuasa Allah terlihat paling nyata dalam kelemahan kita.

Santapan Rohani
2009-1-12

Sumber : rbcintl.org



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

09 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/09/2009 06:40:00 PM | 1 comment

Nilai Manusia dan Cincin Emas

Seorang pemuda mendatangi Zen-sei dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk tujuan lain?"

Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya dan berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukanlah satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"

Melihat cincin Zen-sei yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."

"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil," kata guru

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak.

Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zen-sei dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."

Zen-sei, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zen-sei dengan raut wajah yang lain dan berkata, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai cincin ini sesungguhnya. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."

Zen-sei tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas".

"Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk melihatnya, dan itu membutuhkan proses. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas "

Semoga sekelumit cerita di atas dapat menambah kedalaman jiwa kita dalam memandang makna hidup dan kehidupan ini.

sumber : henlia.com



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

04 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/04/2009 04:44:00 PM | No comments

A Blessing to Friendship

Father, I ask you to bless my friend reading this right now
Lord, show them a new revelation of Your love and power.
Holy Spirit, I ask You to minister to their spirit at this
very moment.

Where there is pain, give them Your peace & mercy.
Where there is self-doubting, release a renewed confidence in Your ability to work through them.

Where there is tiredness, or exhaustion, I ask You to give them
understanding, patience, & strength as they learn submission to Your leading.
Where there is spiritual stagnation, I ask You to renew them by
revealing Your nearness, and by drawing them into greater intimacy with You.
Where there is fear, reveal Your love, and release to them Your courage.
Where there is a sin blocking them, reveal it, and break its hold over my friends life.

Bless their finances, give them greater vision, and raise up
leaders, and friends to support, and encourage them.
Give each of them discernment to recognize the demonic forces
around them, and reveal to them the power they have in You to
defeat it.

I ask You to do these things in Jesus’ name.

In Christian love,
Your Friend in Jesus


@http://krenungan.org/ 20



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


03 January 2009

Posted by Ivan Shurex Posted on 1/03/2009 05:44:00 PM | No comments

Baptisan Air dan Roh Kudus

“Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus”


Bacaan :
[1Yoh 2:29-3:6; Yoh 1:29-34]

“Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel." Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Yohanes Pembaptis adalah ‘bentara Yesus Kristus’, orang yang mempersiapkan jalan bagi sesamanya untuk bertemu dan bersatu dengan Yesus Kristus. Yohanes membaptis hanya dengan air, sedangkan “Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus”. Kita semua yang telah dibaptis telah menerima baptisan baik dengan air maupun Roh Kudus. Air merupakan symbol pembersihan atau penyucian, sedangkan Roh Kudus menggerakkan dan memberdayakan untuk hidup dinamis, ceria dan bahagia dalam Tuhan. Maka baiklah sebagai orang yang telah dibaptis saya mengajak anda sekalian mawas diri: sejauh mana hidup kita sungguh dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh, yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23)?

Jika kita sungguh hidup dari Roh Kudus yang menghasilkan keutamaan-keutamaan tersebut diatas ini, maka cara hidup dan cara bertindak kita secara otomatis akan menjadi ‘bentara atau petunjuk’ bagi siapapun yang kita jumpai untuk bertemu dengan Tuhan, semakin beriman dan suci. Kita menjadi saksi-saksi warta gembira bagi siapapun juga, dan kiranya dimana perlu kita juga berani berkata seperti Yohanes: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” . Kita yang telah dibaptis memiliki tugas missioner atau pengutusan untuk mewartakan apa yang baik kepada siapapun , pertama-tama dan terutama melalui cara hidup dan cara bertindak kita alias teladan berbuat baik, dan baru kemudian dengan kata-kata atau omongan.

· “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah” (1Yoh 3:3-4), demikian kutipan dari surat Yohanes. Rasanya kita semua mendambakan hidup suci, bahahgia, damai sejahtera sehingga pada suatu saat ketika dipanggil Tuhan alias meninggal dunia langsung masuk sorga, menikmati hidup bersama Allah di sorga selama-lamanya. Syarat untuk mewujudkan dambaan tersebut adalah ‘menaruh pengharapan kepadaNya’ , menaruh pengharapan kepada Tuhan maupun sesama yang berkehendak baik. Orang yang berpengharapan pada umumnya bersemangat, gigih serta kreatif.

“Bersemangat adalah sikap dan perilaku yang selalu dapat bertahan dan bergairah dalam melakukan sesauau; gigih adalah sikap dan perilaku tidak gampang menyerah pada keadaan apa pun dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi segala kesulitan untuk mencapai cita-cita atau tujuan, kreatif adalah sikap dan perilaku yang menggunakan daya cipta di luar kebiasaan umum, menemukan hal-hal baru yang mempunyai nilai tambah” (Lih.: Prof Dr.Edi Sedyawati: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997).. Marilah kita hayati iman, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing dengan bersemangat, gigih dan kreatif. Tiga keutamaan ini kiranya nampak dalam diri orang yang hidup dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga orang yang bersangkutan senantiasa diperbaharui cara hidup dan cara bertindaknya menuju ke pemenuhan penghayatan kehendak Tuhan tanpa cacat dan kerut sedikitpun.

Kita masih berada dalam masa Natal, masa untuk bergembira dan damai. Sebaliknya kepada mereka yang masih melanggar hukum Allah alias berbuat jahat kami harapkan bertobat. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat atau memperbaharui diri, saat ini juga mulailah bertobat dan memperbaharui diri.

“Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah! Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN!” (Mzm 98:3c-6)



Jakarta, 3 Januari 2009

By : Romo Maryo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


  • Text Widget