24 November 2008

Posted by Klinik Rohani Posted on 11/24/2008 10:25:00 AM | 1 comment

Memberi dari Kekurangan

"Janda ini memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."


Bacaan Hari ini :
[Why 14:1-3.4b-5; Luk 21:1-4]

"Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."(Luk 21:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Andreas Dung Lac, imam dan kawan-kawannya, martir Vietnam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Dalam tradisi Yahudi dan kiranya diteruskan oleh orang Kristen atau Katolik ada kebiasaan yang disebut persembahan/persepuluhan, yaitu mempersembahkan sepersepuluh (10%) dari pendapatan untuk keperluan Gereja, hidup para petugas Gereja maupun karya-karya pelayanan pastoral Gereja. Orang kaya mempersembahkan sepersepuluh (10%) dari pendapatannya berarti masih tersisa 90% dan kiranya dalam jumlah nominal cukup besar; sementara itu jika orang miskin mempersembahkan pendapatan sehari rasanya secara nominal lebih kecil dari persembahan 10% dari orang kaya, namun secara persentase pendapatan lebih besar karena mempersembahkan 100% pendapatannya alias ‘seluruh nafkahnya atau hidupnya’.

Maka Yesus mengatakan bahwa janda miskin lebih banyak memberi persembahan dari pada orang-orang kaya. Andreas Dung Lac dan kawan-kawan awam lainnya, para martir Vietnam, yang kita kenangkan hari ini telah mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dengan melayani sesamanya setiap hari. Maka baiklah kita meneladan para martir yang kita kenangkan hari ini atau janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya/hidupnya. Memang kiranya mustahil jika kita menyerahkan seluruh pendapatan kepada Gereja atau kepentingan umum, maka baiklah segala usaha dan kerja kita senantiasa terarah pada kesejahteraan umum, bukan hanya diri sendiri atau kelompoknya sendiri.

Mereka yang memiliki pembantu atau pegawai/buruh alias para pengusaha saya ajak untuk menjamin kesejahteraan mereka bersama keluarganya selayaknya, sebaliknya mereka yang merasa miskin dan berkekurangan hendaknya senantiasa juga berbuat baik kepada sesamanya dari kelemahan dan kekurangannya, dan mungkin dengan mempersembahkan tenaga demi sesamanya. “Memberi dari kelimpahan atau kelebihan” berarti membuang sampah alias menjadikan orang lain/yang diberi ‘tempat sampah’ dan dengan demikian melecehkan atau merendahkan yang lain. “Memberi dari kekurangan” itulah persembahan yang sejati dan benar.

· "Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela" (Why 14:4b-5) “Di dalam mulut tidak terdapat dosa dan tidak bercela”, itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua sebagai orang beriman. Memang apa yang keluar melalui mulut dengan kata-kata merupakan cermin apa yang ada di dalam hati alias mencerminkan jati diri pribadi yang bersangkutan. Kata-kata yang keluar dapat menyakitkan atau menimbulkan kebencian, tetapi juga dapat menawan, memikat dan mempesona. Yang menawan, memikat dan mempesona pun juga belum tentu benar dan dapat dusta sebagaimana dilakukan oleh para penjahat.

Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk tidak berdusta alias jujur dalam berkata-kata. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Marilah kita jujur terhadap diri sendiri, sesama maupun Tuhan. Jujur merupakan nilai atau keutamaan nurani, artinya bernilai pada dirinya sendiri: dengan menghayati nilai atau keutamaan kejujuran orang akan bermutu dalam hal kepribadian, sehingga ia menarik dan memikat bagi siapapun yang bergaul dengannya. Memang pertama-tama dan terutama kita harus jujur terhadap diri sendiri, dan kemudian baru dapat jujur terhadap sesama.

Jika kita bertindak tidak jujur mungkin untuk sementara tidak ketahuan orang lain, namun pada waktunya akan ketahuan juga, sebagaimana dikatakan dalam pepatah “sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh juga”. Entah kita jujur atau tidak jujur Tuhan tahu segalanya dan kita tidak mungkin menyembunyikan diri dari Tuhan. Memang ada rumor dalam bahasa Jawa “jujur kojur” (= jujur hancur), tetapi sadari dan hayati bahwa kehancuran tersebut merupakan ‘korban persembahan kepada Allah’, sebagaimana telah dihayati oleh Yesus, Tuhan dan Guru kita.


“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai."Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia” (Mzm 24:1-5).


Jakarta, 24 November 2008

Sumber : Romo Maryo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


22 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/22/2008 04:52:00 PM | 1 comment

A Letter to a ‘Silent’ Brother

Dear Patrick,

I was then an only child
who had everything I could ever want. But even a pretty,
spoiled and rich kid could get lonely once in a while
so when Mom told me that she was pregnant,
I was ecstatic.
I imagined how wonderful you would be
and how we’d always be together
and how much you would look like me.
So, when you were born, I looked at your tiny hands and feet
and marveled at how beautiful you were.
We took you home and I showed you proudly to my friends.
They would touch you and sometimes pinch you,
but you never reacted.
When you were five months old,

some things began to bother Mom.
You seemed so unmoving and numb,
and your cry sounded odd — almost like a kitten’s.

So we brought you to many doctors.
The thirteenth doctor who looked at you quietly said
you have the “cry du chat” (pronounced kree-do-sha) syndrome,
‘cry of the cat’ in French.
When I asked what that meant,
he looked at me with pity and softly said,
“Your brother will never walk nor talk.”
The doctor told us that it is a condition
that afflicts one in 50,000 babies,
rendering victims severely retarded.
Mom was shocked and I was furious.
I thought it was unfair. When we went home,
Mom took you in her armsand cried.
I looked at you and realized that word will get around
that you’re not normal.
So to hold on to my popularity,
I did the unthinkable … I disowned you.
Mom and Dad didn’t know but
I steeled myself not to love you as you grew.

Mom and Dad showered you with love
and attention and that made me bitter.
And as the years passed,
that bitterness turned to anger, and then hate.
Mom never gave up on you.
She knew she had to do it for your sake.
Every time she put your toys down,
you’d roll instead of crawl.
I watched her heart break every time she took away your toys
and strapped your tummy with foam so you couldn’t roll.
You’d struggle and you’d cry in that pitiful way,
the cry of the kitten. But she still didn’t give up.
And then one day,
you defied what all your doctors said — you crawled.
When Mom saw this, she knew that you would eventually walk.
So when you were still crawling at age four,
she’d put you on the grass with only your diapers
on knowing that you hate the feel of the grass your skin.
Then she’d leave you there.
I would sometimes watch from the window
and smile at your discomfort.
You would crawl to the sidewalk and Mom would put you back.
Again and again, Mom repeated this on the lawn.
Until one day,
Mom saw you pull yourself up and toddle off the grass
as fast as your little legs could carry you.
Laughing and crying, she shouted for Dad and I to come.
Dad hugged you crying openly.
I watched from my bedroom window this heartbreaking scene.
Over the years, Mom taught you to speak, read and write.
From then on, I would sometimes see you walk outside,
smell the flowers, marvel at the birds, or just smile at no one.
I began to see the beauty of the world around me,
the simplicity of life and the wonders of this world,
through your eyes.
It was then that I realized that you were my brother
and no matter how much I tried to hate you, I couldn’t,
because I had grown to love you.
During the next few days,
we again became acquainted with each other.
I would buy you toys and give you all the love that
a sister could ever give to her brother.
And you would reward me by smiling and hugging me.

But I guess, you were never really meant for us.
On your tenth birthday, you felt severe headaches.
The doctor’s diagnosis — leukemia.Mom gasped and Dad held her,
while I fought hard to keep my tears from falling.
At that moment, I loved you all the more.
I couldn’t even bear to leave your side.
Then the doctors told us that your only hope was
to have a bonemarrow transplant.
You became the subject of a nationwide donor search.
When at last we found the right match, you were too sick,
and the doctor reluctantly ruled out the operations.
Since then, you underwent chemotherapy and radiation.

Even at the end, you continued to pursue life.
Just a month before you died,
you made me draw up a list of things you wanted to do
when you got out of the hospital.
Two days after the list was completed,
you asked the doctors to send you home.
There, we ate ice cream and cake, run across the grass,
flew kites, went fishing, took pictures of one another
and let the balloons fly.

I remember the last conversation that we had.
You said that if you die, and if I need of help,
I could send you a note to heaven
by tying it on the string any a balloon and letting it fly.
When you said this, I started crying. Then you hugged me.
Then again, for the last time, you got sick.
That last night, you asked for water,
a back rub, a cuddle.
Finally, you went into seizure with tears streaming down your face.
Later, at the hospital,
you struggled to talk but the words wouldn’t come..
I know what you wanted to say.
“I hear you,” I whispered.
And for the last time, I said,
“I’ll always love you and I will never forget you.
Don’t be afraid. You’ll soon be with God in heaven.”

Then, with my tears flowing freely,
I watched the bravest boy
that I had ever known finally stop breathing.
Dad, Mom and I cried until
I felt as if there were no more tears left.
Patrick was finally gone, leaving us behind.

From then on, you were my source of inspiration.
You showed me how to love life and live life to the fullest.
With your simplicity and honesty,
you showed me a world full of love and caring.
And you made me realize
that the most important thing in this life is
to continue loving without asking
why or how and without setting any limit.
Thank you, my little brother, for all these.

Your Sister

Sumber : http://krenungan.org/ 21


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


21 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/21/2008 01:38:00 PM | No comments

Tidak hanya Jari

Aku tidak hanya menunjukkan jalan dengan jari saja, sebaliknya, dengan sikap menghormat, merentangkan lengan dengan pantas, aku akan menunjukkan jalan ke depan.


di kirim oleh : shane sunpei

14 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/14/2008 11:01:00 AM | 9 comments

Cinta Kupu-kupu

Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia.

Mereka saling mengasihi satu sama lain Namun pada suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tidak sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang perempuan menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-memanggil kekasih yang tidak sadar sedikitpun.

Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan Agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari.

Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur seperti dulu, sedangkan si perempuan telah berubah menjadi pucat pasi dan lesu tidak terkira, namun ia tetap dengan susah payah bertahan dan akhirnya pada suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan perempuan yang setia dan teguh itu, lalu Ia memutuskan memberikan kepada perempuan itu sebuah pengecualian kepada dirinya. Tuhan bertanya kepadanya "Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menukarnya?". Si perempuan tanpa ragu sedikitpun menjawab "Ya".

Tuhan berkata "Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu harus berjanji menjelma menjadi kupu-kupu selama 3 tahun. Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?". Si perempuan terharu setelah mendengarnya dan dengan jawaban yang pasti menjawab "saya bersedia!".

Hari telah terang. Si perempuan telah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Ia mohon Diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara dengan seorg dokter. Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu.

Dengan di sekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri. Beberapa hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak bahagia. Ia mencari keberadaan sang perempuan pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu sebenarnya sang perempuan telah pergi kemana.

Sang lelaki sepanjang hari tidak makan dan istirahat terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih, namun sang perempuan Yang telah berubah menjadi kupu-kupu bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya? Hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam-diam. Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut lalu terakhir kali ia terbang dan hinggap di atas bahu sang lelaki.

Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya. Namun tubuhnya yang kecil dan lemah benar-benar tidak boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat di dengar oleh kupu-kupu itu sendiri dan mau tidak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yang jauh dengan membawa harapan.

Dalam sekejap telah tiba musim semi yang kedua, sang kupu-kupu dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yang lama di tinggalkannya. Namun di samping bayangan yang tak asing lagi ternyata telah berdiri seorang perempuan cantik. Dalam sekilas itu sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa.Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri. Lebih tidak percaya lagi dengan omongan yang di bicarakan banyak orang. Orang-orang selalu menceritakan ketika hari natal, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter perempuan itu. Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka dan tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia seperti dulu kala .

Sang kupu-kupu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa perempuan itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yang pernah di milikinya dahulu dalam sekejap tokoh utamanya telah berganti seorang perempuan lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa.

Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dengan perempuan itu, ia dan suara tawa bahagianya sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir, karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu-kupu telah terbang berlalu. Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini.

Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si perempuan, mencium lembut wajah perempuannya sendiri. Sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu.

Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir dan pada saat hari yang terakhir, kekasih si kupu-kupu melaksanakan pernikahan dengan perempuan itu.

Dalam kapel kecil telah dipenuhi orang-orang. Sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yang berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan dengan mengatakan "saya bersedia menikah dengannya!". Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan perempuan itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu.

Dengan pedih hati Tuhan menarik napas "Apakah kamu menyesal?". Sang kupu-kupu mengeringkan air matanya "Tidak". Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan "Besok kamu sudah dapat kembali menjadi dirimu sendiri". Sang kupu-kupu menggeleng-gelengkan kepalanya "Biarkanlah aku menjadi kupu-kupu seumur hidup".

Ada beberapa kehilangan merupakan takdir. Ada beberapa pertemuan adalah yang tidak akan berakhir selamanya. Mencintai seseorang tidak mesti harus memiliki, namun memiliki seseorang maka harus baik-baik mencintainya.


Sumber : conectique.com


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

12 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/12/2008 01:06:00 PM | No comments

WILAYAH BEBAS GOSIP

Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam. —Amsal 25:18


Baca: Amsal 25:8-18

Di banyak kantor, Anda dapat dipecat karena bergosip. Menurut survey di tahun 2002, rata-rata karyawan bergosip selama 65 jam dalam setahun. Sebuah perusahaan di Chicago memutuskan untuk menjadi "wilayah bebas gosip". Para karyawan tidak boleh membicarakan hal-hal buruk tentang rekanrekan kerjanya secara sembunyi sembunyi. Jika ada yang tertangkap basah bergosip, ia akan kehilangan pekerjaannya.

Sebuah lembaga pelayanan bagi orang-orang yang bekerja di dunia hiburan menerapkan langkah alternatif untuk mengatasi gosip. Mereka melawannya dengan doa. Alih-alih membicarakan keburukan orang-orang terkenal yang sedang bermasalah karena keputusan mereka yang salah, pelayanan ini mendorong banyak orang untuk berdoa bagi mereka.

Salah satu dari perintah-perintah Allah bagi umat-Nya adalah "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu" (Kel. 20:16). Walaupun hal ini terutama mengacu pada kesaksian dusta di pengadilan, gosip dapat juga termasuk dalam perintah ini karena gosip melanggar hukum yang meminta kita untuk memiliki kasih terhadap sesama kita. Amsal menggunakan bahasa yang keras untuk menggambarkan dampak dari gosip yang keluar dari mulut kita. Gosip itu seperti "gada, atau pedang, atau panah yang tajam" terhadap sesama (25:18).

Gosip memuaskan sifat alami kita untuk merasa lebih baik daripada orang lain, merasa lebih disukai atau lebih diterima oleh orang lain. Akibatnya, mengatasi gosip dalam kehidupan pribadi kita dapat menjadi sebuah tantangan. Namun, bila kita memilih untuk mengasihi melalui doa, hidup kita dapat menjadi wilayah bebas gosip. —AMC

Tuhan, ampuni kami karena telah berkata-kata dengan ceroboh
tentang orang lain untuk membuat diri kami tampak lebih baik.
Tolong kami untuk berpikir sebelum berbicara. Ajarlah kami
untuk berkata-kata dengan penuh kasih. Amin.


Anda tidak dapat pernah membenarkan gosip.

Sumber : rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


10 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/10/2008 01:00:00 PM | No comments

Anjing Yang Rakus

Ada seekor anjing yang terasa bingung saking laparnya, seharian penuh tidak mendapatkan makanan. Saat senja tiba, akhirnya dengan penuh gairah ia melihat sepotong daging yang lezat di atas tanah, ia bergegas menggondol daging itu dan berlari ke tempat tinggalnya.

Dalam hati dia merenung

"sungguh beruntung sekali, di luar dugaan bisa mendapatkan daging besar ini, saya harus menikmati dengan sepuasnya."

Sambil berjalan ia berpikir, dan tanpa disadari tiba di sebuah sungai, jika sudah melewati jembatan kecil berarti tempat tinggalnya sudah dekat, berpikir sampai di situ ia lantas menggigit lebih erat lagi daging itu, dan berjalan di atas jembatan penyeberangan. Ia berjalan dengan sangat hati-hati, ketika sampai di tengah jembatan, tanpa sengaja ia memandang ke sungai, dan begitu melihat ke sungai bukan main kagetnya, ia melihat ada seekor anjing di sungai itu, menggondol sepotong daging yang besar dan sedang menatapnya.

Dalam hati ia mulai berpikir

"wah, daging yang digondolnya itu tampaknya lebih besar dibanding daging saya ini! Jika saya sedikit lebih galak terhadapnya, siapa tahu mungkin ia akan melepaskan daging itu dan lari!"

Makin dipikir ia semakin gembira, lalu mulai galak terhadap anjing di sungai itu. Namun, anehnya, anjing itu sepertinya tidak takut sedikit pun terhadapnya. Ia memelototkan mata, dan anjing itu juga memelototkan matanya; ia berbalik, anjing itu juga berbalik, ia menghentakkan kaki, anjing itu juga ikut menghentakkan kakinya.

Akhirnya, ia benar-benar marah, dalam hati berpikir

"lebih baik aku menggigitnya, ia pasti akan lari, dengan begitu aku bisa mendapatkan daging itu,"

lalu, ia membuka moncongnya dan menggonggong dengan keras

"Auh. auh.auh..."

Begitu ia membuka moncongnya, daging dalam gigitannya lalu tiba-tiba terjatuh ke sungai, menghancurkan tubuh anjing yang berada di sungai itu, dan dalam sekejap tenggelam di dalam air lenyap tak berbekas. Percikan air yang dalam menghancurkan semua mimpi si anjing yang rakus ini, dan ia baru menyadari bahwa ternyata anjing itu adalah bayangan dirinya dalam air. Lalu dengan sedih ia menangis "kalau tahu begini aku tidak akan sedemikian rakus, namun kini, saya harus menahan lapar lagi, ke mana aku harus mencari makan?"

Banyak orang ingin bisa hidup dengan lebih baik, harus mendapatkan lebih banyak, maka disadari atau tidak dapat mencelakakan kepentingan orang lain, tidak puas dengan apa yang sudah diperolehnya. Bahkan ada yang tak segan-segan merampas barang milik orang lain. Anjing yang rakus ini demi untuk mendapatkan sepotong daging lebih banyak, malah kehilangan makanan lezatnya, lantas apa yang hilang pada manusia yang rakus? Persaudaraan, persahabatan, hati nurani atau ketenangan hati? Ya, ini semua baru merupakan harta benda yang paling berharga dalam kehidupan! Hargailah semua yang kita miliki, tidak memaksakan sesuatu yang tidak bisa diperoleh, jangan karena rakus lantas malah kehilangan sesuatu yang sudah ada. "Kalau memang milik kita, pasti akan kita miliki, kalau bukan jangan memaksakan kehendak", orang yang tahu menikmati hidup apa adanya, itulah orang yang benar-benar kaya.

Oleh: Tidak Diketahui
sumber : heartnsouls.com



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


08 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/08/2008 04:59:00 PM | No comments

Allah dan Mamon

"Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara-perkara besar”.


Baca : (Flp 4:10-19; Luk 16:9-15)

“Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah”(Luk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah menghasilkan aneka alat atau instrument yang sangat kecil dan penting, antara lain yang terkait dengan serat optic. Apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari juga perkara kecil dan sederhana, misalnya: makan, minum, tidur, istirahat, omong-omong, duduk bersama dengan mesra, dst.. Dalam hal makan, minum dan tidur misalnya, jika orang mengalami kesulitan dalam hal ini kiranya ia juga akan mengalami kesulitan yang lebih besar terhadap hal-hal besar, sulit dan berbelit-belit.

Maka marilah kita dengan rendah hati dan bekerja keras untuk setia dalam perkara-perkara kecil, pekerjaan tugas yang kecil dan sederhana. Dengan kata lain marilah kita sungguh hidup mendunia, terlibat dan berparsipasi dalam seluk-beluk dunia mulai dari yang kecil dan sederhana; mencari dan mengusahakan kesucian hidup dengan mendunia. Kita tidak dapat memisahkan hal-hal duniawi atau Mamon dari Allah, dan mungkin hanya dapat membedakan. Sebagai orang beriman kita menerima tugas perutusan dari Allah : "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."(Kej 1:28)

Bukankah untuk ‘beranak cucu’ maupun menguasai ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan segala binatang yang merayap di bumi kita harus setia pada perkara-perkara kecil dan sederhana? Memang dalam hidup sehari-hari perkara-perkara kecil dan sederhana itu pada umum diurus atau dikelola dan dikerjakan oleh orang-orang kecil dan sederhana juga, para buruh atau pembantu rumah tangga; namun kiranya seperti ketika pada masa Liburan Lebaran/Idul Fitri yang baru saja berlalu kita semua menyadari betapa pentingnya perkara-perkara kecil dan sederhana, yang kita butuhkan dalam hidup kita sehari-hari.

• “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:11b-13), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, inilah kiranya yang juga layak menjadi pegangan atau acuan hidup dan kesibukan pelayanan kita.

Tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman tidak akan terlepas dari aneka perkara, dan semakin tumbuh berkembang berarti semakin banyak menghadapi perkara, entah besar atau kecil.. Kita imani dan hayati bahwa pertumbuhan dan perkembangan kita karena dan oleh Tuhan, maka hadapilah juga aneka perkara yang muncul ‘di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku’. Menanggung semua perkara dalam Tuhan berarti dengan dan dalam iman kita hidup bermasyakat, berbangsa dan bernegara. Iman adalah anugerah Tuhan, maka percayalah menghadapi aneka perkara dengan iman berarti Tuhan sendiri yang akan berkarya atau bekerja dalam dan melalui diri kita yang lemah dan rapuh ini.

Dalam iman juga kita dipanggil untuk ‘mencukupkan diri dalam segala keadaan’, artinya antara lain senantiasa bersyukur dan berterima kasih dalam situasi maupun kondisi apapun. Tiada rahasia bagiku, semua saya buka dan serahkan kepada Tuhan melalui saudara-saudari dan sesama kita. Baik dalam kenyang atau lapar, berkelimpahan atau kekurangan kita tetap hidup penuh syukur dan terima kasih.

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya” (Mzm 112:1-2.5-6)


Jakarta, 8 November 2008

Oleh : Romo Maryo
Posted by Ivan Shurex Posted on 11/08/2008 04:50:00 PM | No comments

Apple Tree

A long time ago, there was a huge apple tree.

A little boy loved to come and play around it everyday. He climbed to the tree top, ate the apples, took a nap under the shadow… He loved the tree and the tree loved to play with him. Time went by… the little boy had grown up and he no longer played around the tree everyday.

One day, the boy came back to the tree and he looked sad. “Come and play with me,” the tree asked the boy. I am no longer a kid, I don’t play around trees anymore.” The boy replied, “I want toys. I need money to buy them.” Sorry, but I don’t have money… but you can pick all my apples and sell them. So, you will have money.” The boy was so excited. He grabbed all the apples on the tree and left happily. The boy never came back after he picked that apples. The tree was sad.

One day, the boy returned and the tree was soexcited. “Come and play with me” the tree said. “I don’t have time to play. I have to work for my family. We need a house for shelter. Can you help me?” “Sorry, but I don’t have a house. But you can chop off my branches to build your house.” So the boy cut all the branches of the tree and left happily. The tree was glad to see him happy but the boy never came back since then. The tree was again lonely and sad.

One hot summer day, the boy returned and the tree was delighted. “Come and play with me!” the tree said. I am sad and getting old. I want to go sailing to relax myself. Can you give me a boat?” “Use my truck to build your boat. You can sail far away and be happy.” So the boy cut the tree truck to make a boat. He went sailing and never showed up for a long time.

Finally, the boy returned after he left for so many years. “Sorry, my boy. But I don’t have anything for you anymore. No more apples for you… “the tree said.

“I don’t have teeth to bite” the boy replied. “No more truck for you to climb on” “I am too old for that now” the boy said. “I really can’t give you anything … the only thingleft is my dying roots” the tree said with tears. “I don’t need much now, just a place to rest. I am tired after all these years.” The boy replied. “Good! Old tree roots is the best place to lean on and rest. Come, Come sit down with me and rest.”

The boy sat down and the tree was glad and smiled with tears……. This is a story of everyone. The tree is our parent. When we were young, we loved to play with Mom and Dad… When we grown up, we left them… only came to them when we need something or when we are in trouble.

No matter what, parents will always be there and give everything they could to make you happy. You may think the boy is cruel to the tree but that’s how all of us are treating our parent. Please enlighten all you friend by forward this to them. And love your parent.


Sumber : http://krenungan.org 22


Lihat dalam Bahasa Indonesia : Kisah Pohon Apel

Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


07 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/07/2008 01:36:00 PM | 1 comment

Pemberian Tulus

Memberi adalah ekspresi tertinggi niat baik mereka yang berkuasa, sekalipun debu, jika diberikan dengan setulus hati, akan menjadi pemberian yang baik karena efeknya yang demikian agung, tak ada hadiah yang menjadi kecil jika diberikan sepenuh hati kepada penerima yang pantas.


di kirim oleh : shane sunpei

06 November 2008

Posted by Klinik Rohani Posted on 11/06/2008 05:14:00 PM | 1 comment

Anak Dunia dan Anak Terang

“Anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak terang.”

Baca : (Flp 3:17-4:1; Luk 16:1-18)

“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.”(Luk 16:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Orang bodoh dapat menjadi pandai karena uang, sebaliknya orang pandai dapat menjadi bodoh juga karena uang”, demikian kiranya yang sering terjadi di dalam kehidupan bersama kita. Namun yang juga terjadi adalah orang pandai membodohi sesamanya demi uang atau demi keuntungan sendiri. Kepandaian atau kecerdikan macam itu dapat kita lihat atau cermati dalam diri para penipu atau penjahat yang dengan halus dan sabar mengelabui korban-korbannya. Maka benarlah yang disabdakan oleh Yesus bahwa “Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang”. Karena pendidikan dan pembinaan memang kita semua mendambakan diri sebagai orang yang pandai, cerdik dan cerdas, namun hendaknya juga sekaligus beriman alias menjadi anak-anak terang, sehingga menjadi cerdas beriman. Sebagai orang yang cerdas beriman kiranya ketika diberi tugas menjadi bendahara atau pengelola / pengurus harta benda duniawi, ia akan mengurus dan mengelolanya dengan baik sebagaimana diharapkan. 

Kesuksesan atau keberhasilan mengurus atau mengelola harta benda dengan baik pada masa kini hemat saya merupakan salah satu bentuk penghayatan iman kemartiran yang mendesak dan up to date, mengingat masih maraknya korupsi hampir di semua bidang kehidupan bersama di masyarakat pada saat ini. Untuk itu hemat saya kita masing-masing harus mulai dari diri kita sendiri: berapa besar atau banyaknya harta benda atau uang yang diserahkan kepada kita, marilah kita urus atau kelola sebaiknya mungkin, sesuai dengan maksud pemberi (ad intentio dantis). Jika kita berhasil dengan baik mengurus atau mengelola yang menjadi milik kita atau kita kuasai maka kiranya kita memiliki modal kekuatan untuk mengrurus atau mengelola milik orang lain yang lebih besar. Harta benda/uang adalah ‘jalan ke neraka atau jalan ke sorga’, marilah kita jadikan ‘jalan ke sorga’.

· “Saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!”(Flp 4:1), demikian sapaan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman. “Berdiri dengan teguh dalam Tuhan” adalah cirikhas orang cerdas beriman, ia tidak mudah tergoyahkan oleh berbagai rayuan atau godaan kenikmatan duniawi yang membuatnya ‘menjauh dari Tuhan maupun sesama atau saudara-saudarinya’. Kita semua adalah ciptaan Tuhan, dan hanya dapat hidup, tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman jika kita setia berdiri dengan teguh dalam Tuhan. 

Memang untuk itu kita perlu membiasakan diri terus menerus berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun; semakin banyak berbuat baik kepada sesama berarti akan semakin teguh berdiri dalam Tuhan, sebaliknya orang yang jarang berbuat baik kepada sesamanya pasti mudah jatuh atau berdosa terus menerus. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku universal dan bersifat menyelamatkan, khususnya keselamatan jiwa. Yang ideal memang ‘mens sana in corpore sano’, pengertian/akal budi/jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat, maka marilah kita serentak merawat, menjaga dan memperkuat pengertian/akal budi/jiwa dan tubuh kita menjadi segar bugar, sehat wal’afiat sebagai tanda bahwa kita dengan rendah hati berusaha setia ‘berdiri dengan teguh dalam Tuhan’. Orang yang demikian senantiasa dinamis dan proaktif dalam berbuat baik bagi sesamanya dimanapun dan kapanpun.

“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN."
(Mzm 122:1)


Jakarta, 7 November 2008

Oleh : Romo Maryo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


05 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/05/2008 03:12:00 PM | No comments

Ucapan Bahagia versi Iblis

---Berbahagialah orang yang terlalu capek karena kesibukan mereka, sehingga mereka tidak punya waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Mereka adalah anak-anakku yang mengerti kerinduan hatiku yang terdalam.

---Berbahagialah orang yang selalu mengharapkan pujian atas apa yang mereka perbuat. Aku bisa memperalat dan menunggangi ambisi mereka melalui pujian.

---Berbahagialah orang yang memelihara hati yang terlalu sensitif. Dengan sedikit "sentilan" saja mereka tersinggung. Mereka akan kurang bersemangat di dalam bekerja dan akan segera menghilang dalam pelayanan. Mereka ini adalah fansku yang setia.

---Berbahagialah mereka para pembuat masalah. Mereka akan disebut anak-anakku.

---Berbahagialah orang yang selalu mengeluh. Aku senang karena benih sungut-sungut yang kutabur bertumbuh subur di hati dan lidah mereka.

---Berbahagialah mereka yang egois, suka mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Mereka adalah pengikut-pengikutku yang setia.

---Berbahagialah mereka yang suka menggosip, karena mereka akan menimbulkan perpecahan dan pertengkaran. Ini sungguh sangat menyenangkan hatiku.

---Berbahagialah orang yang mengaku mengasihi Tuhan, tetapi membenci saudara-saudaranya. Mereka akan hidup bersamaku selamanya sampai ke kekekalan.

---Berbahagialah orang yang membalas kebaikan dengan kejahatan, penganiayaan dengan penganiayaan dan kebencian dengan kebencian. Mereka akan mendapat upah yang sama denganku di kegelapan.

---Berbahagialah orang yang membaca tulisan ini dan merasa isinya pas untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Dia ada dalam tanganku.

" Ucapan Bahagia versi Iblis" ini mengingatkan saya untuk lebih berjaga-jaga, karena saat ini
kita memang hidup di hari-hari yang jahat, dimana Iblis bekerja luar biasa giatnya.

Keputusan untuk masuk ke dalam kelompok orang yang berbahagia menurut versi Tuhan Yesus atau versi Iblis ada di tangan kita! Jika ingin menjadi orang yang berbahagia menurut versi Tuhan Yesus, kita harus hidup dalam ketaatan dan berjaga-jaga seperti halnya kelima orang gadis yang bijaksana (MAT 25:1-13). Jagalah pelita hati kita agar tetap menyala. Isilah minyaknya setiap hari dengan berdoa dan merenungkan firmanNya. 

Sumber : NN


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


01 November 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 11/01/2008 02:22:00 PM | No comments

Aku Terharu

Dua tahun yang lalu. Ketika saya mengunjungi sebuah toko buku di Taipei dan membolik-balik buku yang dipajang di sana. Saya tertarik pada sebuah buku dengan design sampul berwarna putih, dengan foto seorang ibu yang dengan wajah penuh kasih menciumi anaknya yang kira-kira berumur dua tahun yang sedang tertidur nyenyak. Judul buku tersebut hanya terdiri dari dua huruf Cina, “Gandong”, yang bisa diterjemahkan dengan kata “terharu”. Hanya dengan melihat judul buku tersebut saya sudah merasa terharu, dan karena itu tanpa harus membaca isinya saya langsung membeli buku tersebut.

Dan benar, buku tersebut mengumpulkan kisah-kisah kecil setiap yang dialami oleh banyak orang. Kisah-kisah tersebut walau begitu sederhana, namun ia membawa sebuah makna yang teramat dalam, yang mengetuk setiap hati dari mereka yang membacanya untuk mencoba mencintai dan mengasihi apa yang kelihatan kecil dan bahkan tak berguna.

Dalam buku ini dikisahkan bagaimana anak-anak merasa terharu atas sebuah tindakan yang nampaknya sederhana yang dilakukan seorang ibu. Juga dikisahkan bagaimana seorang ayah dengan tindakan penuh kasih berhasil meluluhkan hati sang anak yang telah membatu. Bagaimana seorang teman telah mampu menyelamatkan nyawa seorang sahabat yang sedang ingin membunuh diri hanya dengan meluangkan waktunya bahkan di tengah malam ketika ia nampaknya tengah dirundung kantuk yang tak tertahankan. Bagaimana seorang guru yang dengan gagah berani mengorbankan nyawanya demi anak didiknya.

Setiap hari selalu saja ada sesuatu yang mengharukan. Nyanyian burung pipit yang terbang riang di halaman gerejaku terdengar bagaikan suara malaekat yang datang membawa penghiburan. Ternyata alam raya ini juga bisa membuatku terharu. Kemarin setelah selesai seminar liturgi di paroki dan dilanjutkan dengan misa minggu malam. Setelah misa di tengah keletihan setelah segala kegiatan sepanjang hari ini dan ditambah lagi ketika Taipei kini diserang arus dingin yang datang dari utara, seorang umat datang membawa secangkir sup panas ke kantorku. Sungguh ada banyak kejadian yang kendatipun kecil bisa amat mengharukan.

Hari ini ketika aku melihat semua keharuan yang pernah aku alami dalam derap hidupku, tiba-tiba aku jadi terpana mensyukuri rahmat yang pernah dan masih aku terima sebagai seorang pengikut Kristus. Sebagai seorang pengikut Kristus, apa lagi yang lebih mengharukan diriku dari pada keharuan yang dibawa oleh Dia yang rela meninggalkan kebesaranNya dan menjadi sama seperti aku, hanya dengan tujuan agar aku disebut anak Allah?

Adakah keharuan yang lebih besar dari pada Dia yang empunya alam semesta ini datang dan berdiri di sampingku, membagi suka dukaku, dan berbisik bahwa aku tak perlu merasa takut ditinggalkan seorang diri, karena Ia akan selalu bersama aku? Adakah keharuan yang lebih besar dari pada Dia yang rela ditikam duri hanya karena ingin menyelamatkan diriku yang tersesat dan dililit semak duri tersebut? Adakah keharuan yang lebih besar dari pada Dia yang rela mati agar aku hidup? Pernahkah aku bersyukur atas semuanya ini??

Sungguh aku kehabisan kata untuk mengungkapkan betapa besarnya rasa keharuan yang ada di dasar bathinku. Di hadapan Dia yang telanjang di atas salib, aku hanya bisa memandangNya dengan diam. Namun diamku mengungkapkan sejuta kata, diamku mengungkapkan sejuta rasa. Aku bersyukur dan berterima kasih, karena aku terharu akan apa yang pernah Kau perbuat untuk diriku yang kecil ini. Amin!!

(Tarsis Sigho - Taipei)
Sumber : http://www.mkif-online.de


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


  • Text Widget