30 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/30/2008 01:09:00 PM | 1 comment

Jatuh

Beberapa bulan yang lalu Madeleine mulai belajar untuk berdiri. Setiap waktu tanpa merasa lelah dia berusaha untuk berdiri. Barang apapun di sekitarnya dia pakai untuk membantu dia menegakkan kakinya yang kecil dan mungil itu.

Setiap kali dia berhasil berdiri sendiri, dia menolehkan mukanya ke arahku dan tertawa, seolah-olah mau pamer, “aku berhasil berdiri tanpa bantuanmu”. Dia sih senang saja. Aku takut setengah mati. Takut dia jatuh, melihat kakinya yang belum stabil betul. Saking takutnya sampai tiap kali dia berdiri, aku duduk bersila di belakangnya, jaga-jaga siapa tahu dia jatuh ke belakang.

Melihat aku duduk di belakangnya, dia malah memanfaatkan keberadaanku di situ. Dia menjatuhkan dirinya dengan sengaja ke belakang sehingga jatuh ke atas pangkuanku. Habis itu dia teriak, “Lagi ... lagi”. Maksudnya, tolong berdirikan aku lagi, biar aku bisa menjatuhkan diriku lagi. Ternyata dia menikmati sekali jatuh ke atas pangkuanku. Seolah-olah dia tahu, aku pasti akan menangkapnya dan tidak akan membiarkan dia jatuh. Seolah-olah dia yakin, ke manapun arah jatuhnya aku akan selalu menangkapnya.

Keyakinan seperti yang dimiliki Madeleine ini ingin sekali aku miliki ketika aku jatuh dan mengalami kepedihan dalam hidup. Keyakinan bahwa Bapaku tidak akan membiarkan aku mengalami kesakitan. Keyakinan bahwa Bapaku tidak mengenal lelah untuk selalu menangkap aku ketika aku jatuh. Bahwa aku tidak bisa jatuh lebih dalam lagi selain ke atas pangkuan Bapaku di surga.

Aku tahu bagaimana besar cintaku pada Madeleine, sehingga aku tidak akan membiarkan dia jatuh terjungkal dan kepalanya membentur lantai. Dan aku juga tahu bahwa cinta Bapaku padaku jauh lebih besar dari pada cinta terbesar yang mampu aku berikan pada Madeleine. Bila aku saja, yang hanya bisa mencinta dengan sangat terbatas, tidak akan membiarkan anakku jatuh selain ke atas pangkuanku, bagaimana dengan Dia yang bisa mencinta tanpa batas ?

Semestinya sampai di sini aku, sebagai anak-Nya, tidak perlu takut untuk jatuh. Tapi sering kali aku meragukan apakah Bapaku benar-benar akan menangkap aku bila aku jatuh. Sering aku jatuh, mengalami kepedihan hati dan pada saat itu aku tidak merasakan kehangatan pelukan tangan-Nya apalagi empuknya pangkuan tempat aku jatuh.

Padahal janji-Nya telah Dia berikan padaku di dalam kitab Yosua: “Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yos 1:5b). Janji yang seharusnya aku yakini sebagai janji yang pasti akan dipenuhi. Aku akan terus berusaha untuk meyakini janji-Nya ini. Sehingga suatu ketika nanti bila aku jatuh, aku tidak perlu menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Bapa-ku bersila di belakangku. Karena aku yakin, Dia tidak akan pernah meninggalkan aku. *** (afuk)

@ http://www.mkif-online.de


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


28 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/28/2008 12:51:00 PM | 3 comments

Aku sudah sampai !

Sepasang suami-isteri setengah baya yang sama-sama dari kalangan profesional merasa penat dengan kesibukan di ibukota. Mereka memutuskan untuk berlibur di Bali. Mereka akan menempati kembali kamar hotel yang sama dengan ketika mereka berhoney moon saat menikah 30 tahun yang lalu.

Karena kesibukannya, sang suami harus terbang lebih dahulu dan isterinya baru menyusul keesokan harinya. Setelah check in di hotel di Bali, sang suami mendapati pesawat komputer yang tersambung ke internet telah terpasang di kamarnya. Dengan gembira ia menulis e-mail mesra kepada isterinya di kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta.

Celakanya, ia salah mengetik alamat e-mail isterinya dan tanpa menyadari kesalahannya ia tetap mengirimkan e-mail tersebut.

Di daerah Cinere, seorang wanita baru kembali dari pemakaman suaminya yang baru meninggal. Setiba di rumah, ia langsung check e-mail untuk membaca ucapan-ucapan belasungkawa. Baru selesai membaca e-mail yang pertama, ia jatuh pingsan. Anak sulungnya yang terkejut kemudian membaca e-mail tersebut, yang bunyinya:

To : Isteriku tercinta
Subject : Aku udah sampai!!!
Date : 18 Mei 2006

Aku tahu pasti kamu kaget tapi seneng dapat kabar dariku. Ternyata di sini mereka udah pasang internet juga, katanya biar bisa berkirim kabar buat orang-orang tercinta di rumah.

Aku baru sampai dan sudah check-in. Katanya mereka juga sudah mempersiapkan segalanya untuk kedatanganmu besok.

Nggak sabar juga deh rasanya nunggu kamu. Semoga perjalanan kamu ke sini juga mengasyikkan seperti perjalananku kemaren.

Love,
Papa


Sumber : http://www.mkif-online.de/



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


27 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/27/2008 01:23:00 PM | No comments

Apakah Gubukmu Terbakar ?

Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal terdampar di pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatu pun yang datang. 

Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai. Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya.

Dia sedih dan marah. "Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?" dia menangis. Pagi-pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya. "Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?" tanya pria itu kepada penyelamatnya. "Kami melihat tanda asapmu", jawab mereka.

Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan. Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, mungkin itu "tanda asap" bagi kuasa Tuhan. Ketika ada kejadian negatif terjadi, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut.

Kamu berkata, "Itu tidak mungkin."
Tuhan berkata, "Tidak ada hal yang tidak mungkin." (Lukas 18:27)

Kamu berkata, "aku terlalu capai."
Tuhan berkata, "Aku akan memberikan kelegaan padamu." (Matius 11:28)

Kamu berkata, "Tidak ada seorangpun yang mencintai aku."
Tuhan berkata, "Aku mencintaimu." (Yohanes 3:16-Yohanes 13:34)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa meneruskan."
Tuhan berkata, "Kasih karuniaKu cukup." (2 Korintus 12:9 - Mazmur 91:15)

Kamu berkata, "Aku tidak mengerti."
Tuhan berkata, "Aku akan menuntun langkah-langkahmu." (Amsal 3:5-6)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa melakukannya."
Tuhan berkata, "Kamu bisa melakukan semuanya." (Filipi 4:13)

Kamu berkata, "Ini tidak berharga."
Tuhan berkata, "Itu akan berharga." (Roma 8:28)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
Tuhan berkata, "Aku memaafkanmu." (1 Yohanes 1:9-Roma 8:1)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa mengatasi."
Tuhan berkata, "Aku akan menyediakan kebutuhanmu." (Filipi 4:19)

Kamu berkata, "Aku takut."
Tuhan berkata, "Aku tidak memberikan padamu roh ketakutan." (II Timotius1:7)

Kamu berkata, "Aku selalu kuatir dan frustasi."
Tuhan berkata, "Serahkan segala kekuatiranmu kepadaku." (I Petrus 5:7)

Kamu berkata, "Aku tidak mempunyai iman yang kuat."
Tuhan berkata, "Aku memberi setiap orang iman menurut ukurannya."(Roma12:3)

Kamu berkata, "Aku tidak pandai."
Tuhan berkata, "Aku memberikan padamu hikmat." (I Korintus 1:30)

Kamu berkata, "Aku merasa aku sendirian."
Tuhan berkata, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu atau membiarkanmu."(Ibrani 13:5)

Wartakanlah ini pada siapa yang membutuhkan, percayalah ada saat-saat di mana kita merasa bahwa "gubuk" kita terbakar. 

@ http://pondokrenungan.com/


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


Posted by Ivan Shurex Posted on 10/27/2008 12:29:00 PM | 1 comment

Tanda Plus

Pernah ada seorang gadis kecil mulai belajar Aritmatika. Ia menyukai pelajaran itu dan pikirannya terkuasai oleh berbagai tanda: tanda plus, tanda minus, tanda pembagi, dan sebagainya. Pada suatu pagi ia diajak ayahnya pergi ke gereja. Gadis itu melihat salib kecil di atas altar.

Kemudian dengan berbisik ia berkata pada ayahnya : "Papa, untuk apa tanda plus di atas altar itu?" Rupanya gadis kecil itu sedikit bingung melihat tanda plus sendirian di atas altar itu. Namun, dalam pengertian yang mendalam, gadis kecil itu benar. Salib adalah "tanda plus". Penebusan yang disimbolkan dengan salib telah memberikan sebuah "tanda plus besar" ke dalam hidup kita (Halford F. Luccock)

Cerita singkat itu mengundang perhatian kita pada "tanda plus besar" yaitu Salib Tuhan kita Yesus Kristus sendiri. Salib-Nya menjadi sebuah tanda yang menunjukkan apa yang telah diperbuat Yesus bagi kita. Ia telah menghampakan diri menjadi seorang hamba. Dengan setia Ia memikul salib-Nya bahkan sampai Ia disalibkan dan wafat di salib.

Dengan salib-Nya, Ia telah menebus dunia. Berkat salib-Nya ditambahkan hidup kekal bagi kita. Menghormati salib-Nya berarti kita menjunjung tinggi nilai plus yang dianugerhkan-Nya yakni hidup dan iman kita dan dengan tekun lagi setia menjalankan tugas dan kewajiban yang menyertainya. Semoga rahmat penebusa-Nya menguatkan setiap orang yang melihat dan menghormati Salib-Nya.

(P. Metodius Sarumaha, Ofm.Cap.)
sumber : http://www.mkif-online.de


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


25 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/25/2008 04:45:00 PM | 1 comment

A Child Will Lead Them ...

One day a 6 year old girl was sitting in the classroom.

The teacher was going to explain evolution to the children.
The teacher asked a little boy:
Teacher: Tommy do you see the tree outside?
Tommy: Yes.

Teacher: Tommy, do you see the grass outside?
Tommy: Yes.
Teacher: Go outside and look up and see if you can see the sky.
Tommy: OK. (He returned a few minutes later) Yes, I saw the sky.

Teacher: Did you see God?
Tommy: No.
Teacher: That’s my point. We can’t see God because he isn’t there, he doesn’t exist.

A little girl spoke up and wanted to ask the boy some questions.

Teacher agreed and she asked the boy:
Little Girl: Tommy, do you see the tree outside?
Tommy: Yes.
Little girl: Tommy do you see the grass outside?
Tommy: Yes.
Little girl: Did you see the sky?
Tommy: Yes.
Little Girl:Tommy, do you see the teacher?
Tommy: Yes.
Little Girl: Do you see her brain?
Tommy: No.
Little Girl: Does that mean she doesn’t have one


Sumber : http://krenungan.org 22



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

24 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/24/2008 01:35:00 PM | No comments

Mempunyai Prioritas

Orang bijaksana yang bergegas ketika sudah waktunya untuk bergegas, dan yang melambatkan langkah ketika perlu berlambat, sangat berbahagia karena ia mempunyai prioritas.


di kirim oleh : shane sunpei

19 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/19/2008 09:39:00 AM | No comments

Ya Tuhanku, Kenapa Engkau Tidak Menolongku?

Ada seorang laki - laki yang tinggal di dekat sebuah sungai. Bulan - bulan musim penghujan sudah dimulai.

Hampir tidak ada hari tanpa hujan baik hujan rintik-rintik maupun hujan lebat.

Pada suatu hari terjadi bencana di daerah tersebut. Karena hujan turun deras agak berkepanjangan, permukaan sungai semakin lama semakin naik, dan akhirnya terjadilah banjir.

Saat itu banjir sudah sampai ketinggian lutut orang dewasa. Daerah tersebut pelan-pelan mulai terisolir. Orang - orang sudah banyak yang mulai mengungsi dari daerah tersebut, takut kalau permukaan air semakin tinggi.

Lain dengan orang-orang yang sudah mulai ribut mengungsi, lelaki tersebut tampak tenang tinggal dirumah. Akhirnya datanglah truk penyelamat berhenti di depan rumah lelaki tersebut.

“Pak, cepat masuk ikut truk ini, nggak lama lagi banjir semakin tinggi”, teriak salah satu regu penolong ke lelaki tersebut.

S lelaki menjawab: “Tidak, terima kasih, anda terus saja menolong yang lain. Saya pasti akan diselamatkan Tuhan. Saya ini kan sangat rajin berdoa.”

Setelah beberapa kali membujuk tidak bisa, akhirnya truk tersebut melanjutkan perjalanan untuk menolong yang lain.

Permukaan air semakin tinggi. Ketinggian mulai mencapai 1.5 meter. Lelaki tersebut masih di rumah, duduk di atas almari.

Datanglah regu penolong dengan membawa perahu karet dan berhenti di depan rumah lelaki tersebut.

“Pak, cepat kesini, naik perahu ini. Keadan semakin tidak terkendali. Kemungkinan air akan semakin meninggi.

Lagi-lagi laki-laki tersebut berkata: ” Terima kasih, tidak usah menolong saya, saya orang yang beriman, saya yakin Tuhan akan selamatkan saya dari keadaan ini.

Perahu dan regu penolongpun pergi tanpa dapat membawa lelaki tersebut.

Perkiraan banjir semakin besar ternyata menjadi kenyatan. Ketinggian air sudah sedemikian tinggi sehingga air sudah hampir menenggelamkan rumah-rumah disitu. Lelaki itu nampak di atas wuwungan rumahnya sambil terus berdoa.

Datanglah sebuah helikopter dan regu penolong. Regu penolong melihat ada seorang laki-laki duduk di wuwungan rumahnya. Mereka melempar tangga tali dari pesawat. Dari atas terdengar suara dari megaphone: ” Pak, cepat pegang tali itu dan naiklah kesini. “, tetapi lagi-lagi laki-laki tersebut menjawab dengan berteriak:”Terima kasih, tapi anda tidak usah menolong saya. Saya orang yang beriman dan rajin berdoa. Tuhan pasti akan menyelamatkan saya.

Ketinggian banjir semakin lama semakin naik, dan akhirnya seluruh rumah di daerah tersebut sudah terendam seluruhnya.

Bagaimana nasib lelaki tersebut?

Lelaki tersebut akhirnya mati tenggelam.

Di akhirat dia dihadapkan pada Tuhan. Lelaki ini kemudian mulai berbicara bernada protes:”Ya Tuhan, aku selalu berdoa padamu, selalu ingat padamu, tapi kenapa aku tidak engkau selamatkan dari banjir itu?”

Tuhan menjawab dengan singkat: “Aku selalu mendengar doa-doamu, untuk itulah aku telah mengirimkan Truk, kemudian perahu dan terakhir pesawat helikopter. Tetapi kenapa kamu tidak ikut salah satupun?

Sebuah cerita menarik. Demikian juga dalam kehidupan kita, kita bekerja dan selalu melakukan doa kepada Tuhan. Dan Tuhan sudah sering mengirimkan “truk”, “perahu”, dan “pesawat” kepada kita, tapi kita tidak menyadarinya.

Ya Tuhan, bukalah hatiku ini, agar aku lebih peka terhadap sapaanMu.


@ heartnsouls.com




Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


18 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/18/2008 02:12:00 PM | No comments

BUKIT YANG TERLALU TINGGI

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. —Matius 6:34


Baca: Keluaran 16:1-5

Saya dan istri gemar bermain rollerblade. Dekat akhir dari salah satu rute favorit kami terdapat perbukitan. Ketika pertama kali kami menempuh rute itu, saya berusaha menyemangati Sue dengan berkata, "Apa kau siap menaklukkan bukit itu?" sesaat sebelum kami mendaki menuju puncak bukit. Namun, pada suatu hari Sue berkata, "Dapatkah kau tidak mengucapkan kalimat itu? Kau mengatakannya seolah-olah kita sedang menghadapi sebuah gunung yang begitu besar dan itu mematahkan semangatku."

Adalah lebih baik bagi Sue ketika ia mendaki bukit itu untuk berpikir hanya "selangkah demi selangkah", atau satu kali kayuhan kaki di atas rollerblade, daripada membayangkan masih ada satu bukit curam yang harus ditaklukkan.

Hidup dapat diibaratkan seperti itu. Apabila kita menatap terlalu jauh melampaui hari ini, tantangannya dapat terasa seperti mendaki Gunung Everest. Semua tantangan itu tampaknya mustahil untuk diatasi, jika kita berpikir bahwa kita harus siap "menaklukkan bukit".

Alkitab mengingatkan kita bahwa yang perlu kita hadapi hanyalah hari ini. Kita tidak perlu khawatir akan hari esok (Mat. 6:34). Bayangkan jika Musa berpikir, "Saya harus memberi makan semua orang ini, entah sampai kapan. Bagaimana saya dapat menyediakan makanan sebanyak itu?" Namun, Allah memenuhi gunung itu dengan manna—tetapi hanya cukup untuk keperluan sehari (Kel. 16:4)

Setiap bukit dalam kehidupan ini akan terasa terlalu tinggi, jika kita berpikir untuk mendaki seluruh bagiannya sekaligus. Namun, tak ada bukit yang terlalu tinggi untuk kita daki jika kita menaklukkannya setapak demi setapak—dengan pertolongan Allah. —JDB

Dia yang hatinya penuh dengan segala kebaikan
Memberikan yang terbaik setiap hari—
Dengan penuh kasih, dalam penderitaan dan sukacita,
Memadukan karya dengan kedamaian dan ketenangan. —Berg

Allah hadir memberi kita kekuatan untuk setiap bukit yang harus kita daki.

Sumber : http://www.rbcintl.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


17 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/17/2008 02:43:00 PM | No comments

Doa dan Ucapan syukur

Berapa kali kita berdoa dalam satu hari?
Sebuah pertanyaan yang mudah tetapi sangat sulit sekali untuk di jawab. Ada yang menjawab 2 kali, 3 kali, lima kali, enam kali bahkan ada yang menjawab ber-puluh puluh kali.

Kapan terakhir kita berdoa?
Tadi pagi? Lima menit yang lalu? Kemarin petang? Satu minggu yang lalu? Atau bahkan sudah lupa kapan terkahir kali kita berdoa. Semalam sebelum tidur anak saya semata wayang bertanya "Ayah, buat apa sih kita berdoa?".

Glek!!!... pertanyaan yg keluar dari pemikiran anak kecil yang belum tahu apa-apa, tetapi maknanya besar sekali bagi saya. Saya sendiri sempat berpikir saat di tanya "buat apa sih kita berdoa?".

"Buat apa sih berdoa..."
Untuk sekedar menjalankan "rutinitas" sehari-hari
Untuk bisa dianggap sebagai orang yang taat ber-agama
Untuk sekedar mematuhi "aturan" masing-masing agama
Atau untuk apa?....

Untuk memohon mobil kepada Tuhan
Untuk memohon rumah mewah kepada Tuhan
Untuk memohon naik pangkat kepada Tuhan
Untuk memohon pasangan hidup yang serasi kepada Tuhan
Untuk memohon pekerjaan kepada Tuhan
Untuk memohon kebutuhan hidup kita kepada Tuhan
dan Tuhan telah mengabulkan permohonan anda . . .

Rumah mewah, mobil import, istri cantik, harta bertumpuk-tumpuk, Jabatan tinggi, terpandang di masyarakat, dan segala kemewahan lainnya.

Lantas apa yang telah kita berikan untuk TUHAN?...
Apakah Tuhan meminta bagian dari harta-benda yang sudah di berikan untuk kita?
Apakah Tuhan menuntut balas jasa dari kita?
Apakah Tuhan ikut tinggal dan memakai barang-barang kita?

Tidak sedikit-pun.
Tuhan sama sekali tidak meminta apa-apa dari kita.
Bahkan di saat kita sudah mencapai taraf hidup tertinggi menurut ukuran manusia, kita tidak mengucap syukur ataupun terima kasih kepada Tuhan.

Masih ingatkah anda doa yang baru saja anda panjatkan kepada-NYA?
Hanya permohonan dan keluh kesah anda kepada Tuhan.

Pernahkah anda mengucap syukur dan terimakasih atas segala rejeki yang sudah di berikannya?

Tuhan hanya meminta kita agar selalu berada di jalan-NYA...
Entah dalam kondisi apapun, susah, senang, sedih, gembira, ataupun bimbang
Di manapun kita berada, kapanpun kita berada, serahkan segala keluh kesah dan permohonanmu dalam doa dan ucapan syukur, sebab hanya di dalam Tuhan maka akan selalu ada berkah dan kegembiraan

Regards,
Gundolo Sosro



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


16 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/16/2008 11:12:00 PM | No comments

Renungan 17 Oktober 2008

“Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi”.

Bacaan :
  1. Ef 1:11-14;
  2. Luk 12:1-7
“Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”(Luk 12:1-7), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

* Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah dan sedang terus bergiat membongkar korupsi yang dilakukan oleh para pejabat atau pemimpin bangsa dan Negara. Apa yang dulu disimpan rapat-rapat akhirnya tercium dan terbongkar juga, maka benarlah apa yang disabdakan oleh Yesus :”Apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah”. Rasanya tidak ada orang yang menginginkan tindakan korupsi atau jahatnya terbongkar, dan dengan berbagai cara berusaha menyembunyikannya, namun kebenaran dan kejujuran pada waktunya menang dan mampu membongkar apa yang tersembunyi tersebut. Korupsi masih terjadi dimana-mana, di dalam berbagai bidang kehidupan di Indonesia saat ini, maka dengan ini kami mendukung dan mendorong KPK dengan dan anggotanya untuk terus berjuang memberantas koruspi; dan kepada anda sekalian kami berharap untuk tidak melakukan korupsi dan jika melihat ada korupsi di tempat kerja atau kantor anda hendaknya tidak takut membongkar dan memberantas atau melaporkannya ke KPK.”

Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka”, demikian pesan Yesus. Tuhan hadir dan berkarya dimana-mana dan kapan saja, tidak terbatas ruang dan waktu, maka jika kita sungguh beriman hendaknya takut berbuat jahat atau korupsi tetapi berani memberantas aneka kejahatan dan korupsi. Percayalah dan imanilah bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan mendampingi kita. Marilah kita hayati kemartiran hidup beriman dengan hidup benar dan jujur serta berani memberantas aneka kebohongan, korupsi dan kejahatan dalam hidup sehari-hari, di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja.

* “Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef 1:14), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat Efesus, kepada kita semua. Kita adalah ciptaan Allah, milik Allah dan hanya dapat hidup, tumbuh berkembang menuju ke kebahagiaan atau keselamatan sejati jika kita hidup dijiwai oleh Roh Kudus, sesuai dengan kehendak dan perintah Allah. Jika kita hidup dijiwai oleh Roh Kudus maka cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23), yang menjadi bekal dan kekuatan untuk menghayati kemartiran hidup beriman masa kini. Maka hendaknya mempercayakan diri sepenuhnya kepada bimbingan dan suara Roh dalam hidup sehari-hari, agar kita tidak takut dan gentar menghadapi aneka tantangan dan hambatan dalam menghayati buah-buah Roh tersebut di atas.

Dengan keutamaan-keutamaan tersebut di atas kita akan mampu mengatasi berbagai macam bentuk korupsi dan kejahatan yang masih marak dalam kehidupan bersama saat ini. “Kuasailah diri anda” untuk tetap setia pada iman, panggilan, tugas perutusan dan fungsi dalam goncangan godaan kejahatan atau rayuan-rayuan manis untuk berbuat jahat. Salah satu bentuk penghayatan kemartiran hidup beriman antara lain ‘tetap bertahan setia pada iman’ dalam berbagai goncangan dan gelombang kejahatan.
“Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.” (Mzm 33:1-2.4-5)


Jakarta, 17 Oktober 2008.

Oleh : Romo Maryo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


Posted by Ivan Shurex Posted on 10/16/2008 02:37:00 PM | No comments

Sedikit Bicara, Banyak Mencintai

Pada suatu hari jalan saya sedang berkunjung dirumah seorang teman.
Jalanan macet, entah kenapa jalanan itu bisa macet. Ditengah kemacetan
tergelitik untuk bertanya pada orang. "Pak, ada apa ya kok macet bisa
panjang gini?" tanya saya. "Ada yang meninggal mas." Jawabnya.

"Oo, jadi orang yang melayatnya panjang ya? Emangnya pejabat ya
pak?" "Bukan." Direktur?" "Juga, bukan" "Terus apa dong pak?" "Itu mak
tua, tukang urut. Masa mas nggak kenal sih?"

"Kok bisa tukang urut bisa begini banyak ya yang melayat?" Tanya
saya. "Dia sih, sedikit bicara banyak mencintai. Banyak anak-anak ama
ibu-ibu yang urut yang kagak bayar masih juga mau ngurut. Dia tuh
sampe dikenal luar kampung." Ceritanya dengan bangga.

Wassalam,
agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com




Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


15 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/15/2008 12:22:00 PM | No comments

TINGKATAN KEHIDUPAN YANG PENUH KEINDAHAN DAN KEBAHAGIAAN

Untuk mencapai tingkatan kehidupan yang penuh keindahan dan kebahagiaan, seseorang harus melalui 5 lima buah 'pintu' yang menuju ke tempat tersebut.

Pintu pertama adalah stop comparing, start flowing. "Stop membanding dengan yang lain. Seorang ayah atau ibu belajar untuk tidak membandingkan anak dengan yang lain. Karena setiap pembandingan akan membuat anak-anak mencari kebahagiaan di luar," ujar Gede Prama.

Setiap penderitaan hidup manusia, setiap bentuk ketidakindahan, menurut Gede Prama, dimulai dari membandingkan. Presiden Direktur Dynamics Consulting ini kemudian mencontohkan Michael Jackson, sebagai orang yang sering kali membandingkan dirinya dengan orang lain. "Uangnya banyak, mampu mengongkosi hobinya untuk operasi plastik. Sehingga orang yang hidup dari satu perbandingan ke perbandingan lain, maka hidupnya kurang lebih sama dengan seorang Michael Jackson. Leads you nowhere," kata Gede Prama dengan logatnya yang khas.

Karena itu, Gede Prama mengajak peserta ke sebuah titik, mengalir (flowing) menuju ke kehidupan yang paling indah di dunia, yaitu menjadi diri sendiri.  Apa yang disebut flowing ini sesungguhnya sederhana saja. Kita akan menemukan yang terbaik dari diri kita, ketika kita mulai belajar menerimanya. Sehingga kepercayaan diri juga dapat muncul. Kepercayaan diri ini berkaitan dengan keyakinan-keyakinan yang kita bangun dari dalam.  "Tidak ada kehidupan yang paling indah dengan menjadi diri sendiri. Itulah keindahan yang sebenar-benarnya !" seru pengagum Kahlil Gibran dan Jalalluddin Rumi ini.

Pintu kedua menuju keindahan dan kebahagiaan adalah memberi. Sebab utama kita berada di bumi ini, kata Gede Prama, adalah untuk memberi. "Kalau masih ragu dengan kegiatan memberi, artinya kita harus memberi lebih banyak," ujar pemilik gelar MBA dan MA di bidang perilaku organisasi ini. "Saya melihat ada 3 tangga emas kehidupan. I intend good, I do good and I am good. Saya berniat baik, saya melakukan hal yang baik kemudian saya menjadi orang baik. Yang baik-baik itu bisa kita lakukan, bila kita konsentrasi pada hal memberi," lanjut Gede Prama lagi.

Memberi tidak harus selalu dalam bentuk materi. Pemberian dapat berbentuk senyum, pelukan, perhatian, dan setiap manusia yang sudah rajin memberi, dia akan memasuki wilayah beauty and happiness. "Saya sering bertemu dengan orang-orang kaya. Ada yang suka memberi, ada yang pelit. Saya melihat orang yang tidak suka memberi muka orang itu keringnya minta ampun. Orang yang mukanya kering ini bertanya pada saya, apa rahasia kehidupan yang paling penting yang bisa saya bagi ke saya. Saya bilang : sleep well, eat well," ungkap Gede Prama sambil tersenyum.

Artinya memang, untuk ongkos untuk menjadi bahagia tidak mahal. Hanya saja orang sering kali memperumit hal yang sudah rumit. Kalau kita sederhanakan, sleep well, eat well akan jadi mudah jika diikuti dengan kegiatan memberi. "Tak perlu khawatir, setiap pemberian itu ada yang mencatat. Jika atasan Anda di kantor tidak mencatat pemberian Anda, ada 'Atasan Tertinggi' yang mencatatnya. Mirip dengan petani, orang-orang yang suka memberi akan memanen hasil-hasil yang tidak diharapkan," tutur Gede Prama.

Cahaya Di Dalam

Pintu ketiga untuk menuju keindahan dan kebahagiaan adalah berawal dari semakin gelap hidup Anda, semakin terang cahaya Anda di dalam. Perhatikanlah bintang di malam hari tampak bercahaya, jika langitnya gelap. Sedangkan, lilin di sebuah ruangan akan bercahaya bagus, jika ruangannya gelap. Artinya, semakin Anda berhadapan dengan masalah dan cobaan dalam hidup, semakin bercahaya Anda dari dalam. "Jika Anda punya suami yang keras dan marah-marah, jangan lupa mengucapkan terima kasih pada Tuhan. Karena suami yang keras dan marah-marah, diciptakan untuk Anda, membuat sinar dari dalam diri Anda bercahaya. Anda punya istri cerewetnya minta ampun. Ucapkan terima kasih pada Tuhan, karena orang cerewet adalah guru kehidupan terbaik. Paling tidak dari orang cerewet kita belajar tentang kesabaran. Jika Anda punya atasan diktatornya minta ampun, itu sengaja ada yang kirim. Agar Anda belajar tentang kebijaksanaan," ujar Gede Prama membesarkan hati.

Orang yang pada akhirnya menemukan keindahan dan kebahagiaan, menurut Gede Prama, biasanya telah lulus dari universitas kesulitan. Semakin banyak kesulitan hidup yang kita hadapi, semakin diri kita bercahaya dari dalam. Mengutip perkataan Jamaluddin Rumi, semuanya dikirim sebagai pembimbing kehidupan dari sebuah tempat yang tidak terbayangkan. "Tidak hanya orang cantik saja yang berguna, orang jelek juga berguna. Gunanya adalah karena orang jelek, orang cantik terlihat jadi tambah cantik," kata Gede Prama disambut tawa peserta. "Jadi semuanya ada gunanya, untuk menghidupkan cahaya-cahaya beauty and happiness," tegasnya.

Pintu keempat adalah surga bukanlah sebuah tempat, melainkan adalah rangkaian sikap. "Bila Anda melihat hidup penuh dengan kesusahan dan godaan, maka neraka tidak ketemu setelah mati. Neraka sudah ketemu sekarang," ujar Gede Prama. Sedangkan Anda akan bertemu surga, jika hasil dari rangkaian sikap Anda benar. Sikap ini dimulai dari berhenti mengkhawatirkan segala sesuatunya, dan coba yakinkan diri bahwa everything will be allright.

Setiap kali kita beribadah, berdoa dan memuja Tuhan, tetapi setiap kali pula kita merasa takut. Padahal ketakutan adalah sebentuk ketidakyakinan terhadap Tuhan. "Kalau Anda berdoa tapi masih takut, mending jangan berdoa karena tidak yakin. Lebih baik Anda yakin, hidup ini berjalan sempurna, doanya pas-pasan tapi Anda yakin jauh lebih baik," kata Gede Prama. "Segala sesuatunya menjadi baik-baik saja jika Anda mencintai yang kecil," tegasnya.

Pintu kelima menuju keindahan dan kebahagiaan yakni tahu diri kita dan kita tahu kehidupan. Gede Prama bercerita tentang Ada cerita tentang kumpulan binatang yang hendak bikin sekolah karena mereka tidak mau kalah dengan manusia. Semua binatang mengikuti kursus berlari, berenang dam terbang. Tetapi 11 tahun kemudian, binatang-bintang tersebut merasa lelah sekali. Burung tetap hanya bisa terbang, ikan tetap hanya bisa berenang, dan serigala tetap hanya bisa berlari. Akhirnya mereka sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa mereka harus tahu diri. Ikan mesti tahu diri hanya bisa berenang, burung mesti tahu diri hanya bisa terbang sedangkan serigala harus tahu diri hanya bisa berlari. Sehingga, seperti hewan-hewan tersebut, manusia-manusia yang tidak tahu diri adalah manusia yang tidak pernah ketemu keindahan dan kebahagiaan.

"Sumur kehidupan yang tidak pernah kering berada di dalam. Sumur ini hanya kita temukan dan kita timba airnya kalau kita bisa mengetahui diri kita sendiri," kata Gede Prama. Seandainya diri sendiri telah ditemukan, maka artinya kita kemudian mengetahui kehidupan.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
kiriman: Lucia
@ www.iloveblue.com



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


14 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/14/2008 11:41:00 AM | 1 comment

Tombak Tuhan

Para jago silat dahulu saling memperebutkan "pedang pembunuh naga" 'To Liong to', karena dengan memiliki pedang tersebut mereka bakal bisa menjadi jagoan yangg tak terkalahkan, begitu juga dengan raja-raja jaman dahulu di Eropa, dimana mereka juga memperebutkan "tombak pembunuh Allah", sebab bagi mereka yang memiliki tombak ini ia tidak akan bisa dikalahkan lagi, maklum tombak tersebut bukan hanya sekedar tombak biasa saja, melainkan tombak yang telah digunakan untuk membunuh Allah atau Tuhan Yesus pada saat Ia disalib, kalau Allah yang menjelma menjadi manusia saja bisa dikalahkan dan mati dibunuh oleh tombak ini apalagi sekedar manusia biasa.

Yang dimaksud dengan tombak disini sebenarnya hanya ujung tombaknya saja yg berukuran 50,7 cm. Tombak tersebut pernah patah menjadi dua, tetapi akhirnya digabung lagi menjadi satu dengan dipasangnya paku ditengah tombak tersebut. Dan paku yang dipasang disitu pun bukannya sekedar sembarang paku biasa saja melainkan paku yang digunakan untuk menyalib Tuhan Yesus.

Oleh sebab itulah raja Karl IV telah membungkus tombak tersebut dengan emas dan dicantumkan tulisan "LANCEA ET CLAVUS DOMINI" - "Tombak dan paku Tuhan". Karena ini adalah ujung tombak yang digunakan oleh serdadu Rumawi yang bernama Longinus untuk menusuk lambung-Nya Tuhan Yesus ketika Ia berada di kayu salib.



Kesaktian azimat ujung tombak ini, bagi pemiliknya telah terbuktikan, sehingga "tombak suci" ini sejak ribuan tahun telah menjadi rebutan dari para penguasa dunia. Mulai dari kaiser Rumawi Konstantin, Alexander Agung, Napoleon, Hitler sampai dengan General Patton dari USA. Bahkan raja Heinrich I di th 921 telah bersedia menukar sebagian besar dari tanah kerajaannya hanya untuk mendapatkan ujung tombak suci ini. Menurut tradisi Jerman, Charlemagne telah bisa memenangkan peperangan sampai 47 kali karena ia memegang tombak suci tersebut pada saat ia berperang, walaupun demikian ia mati dibunuh, karena ia telah meletakan tombak suci tersebut walaupun itu hanya untuk beberapa menit saja. Hal yang serupa terjadi dengan kaiser Fridrich Barbarosa.

Hitler merampok tombak suci dari Hapsburg dan ia menyimpannya di dalam gereja St Catarina, tetapi pada tgl 30 April 1945 jam 14.10 ujung tombak suci tersebut diambil oleh Lt. Walter William Horn (Ser. No. 01326328) dari tentara AS, dan aneh tapi nyata tepatnya 80 menit kemudian setelah tombak suci itu diambil alih, pada hari yang sama di Berlin jam 15.30 Hitler bunuh diri di tempat persembunyiannya. Apakah ini ada kaitannya dengan tombak suci tersebut yang sudah tidak dimiliknya lagi?

General George S. Patton dari AS gusar sekali ketika ia mengetahui bahwa General Eisenhower ingin mengembalikan tombak suci tersebut kepada pemiliknya di Wiena. Oleh sebab itulah banyak orang menduga ia membuat duplikat dari tombak suci tersebut, sedangkan originalnya disimpan oleh dia pribadi. Hal inilah yg menyebabkan General Patton menjadi seorang jenderal yang terhebat di dunia, sehingga di tahun 1970 perusahaan film Twentieth Century Fox's telah membuat film khusus mengenai dia yang telah menghasilkan 8 oscar.

Entah aslinya entah duplikatnya dari tombak suci itu sekarang berada di museum di Austria Foto dari tombak suci ini bisa dilihat di khm.at.
Tulang memuat kekuatan, sedangkan mematahkan atau meremukan tulang bagi orang Yahudi berarti mengalahkan sama sekali. Tuhan Yesus telah wafat sebelum tulang-Nya dipatahkan, maka dari itu untuk membuktikan bahwa Ia telah benar-benar wafat, lambungNya ditusuk oleh tombak. Dari sinilah mulai timbul kepercayaan bahwa orang yang memiliki tombak suci tidak akan bisa terkalahkan, karena ujung tombak tersebut telah disucikan oleh darah-Nya Yesus.

Gaius Cassius Longinus adalah tentara Rumawi yang barusan saja mengawali tugasnya sebagai bintara Rumawi, pada saat ia ditugaskan untuk menjaga Tuhan Yesus dibukit Golgatha, maka dari itu ia belum pernah menggunakan senjatanya untuk perang maupun membunuh. Pertama kali ia menusuk manusia, ialah menusuk lambungNya Tuhan Yesus dikayu salib.

Setelah Yusuf dari Arimathea membawa jenazahNya Tuhan Yesus untuk di makamkan, Pilatus memerintahkan Longinus untuk menjaga kuburanNya juga.

Tetapi pada hari ketiga setelah Tuhan Yesus bangkit, Longinus segera pergi ke kota untuk menyebar luaskan berita, tentang kebangkitan dari Tuhan Yesus, hal ini tentu saja ditentang oleh orang-orang Farisi yang tidak menginginkan terbuktinya bahwa Tuhan Yesus itu benar-benar Mesias atau Putera Allah. Maka dari itu Longinus segera ditangkap dan dibunuh dengan dipancung kepalanya oleh rekan-rekannya sendiri atas perintah dari orang Farisi.

Longinus, walaupun ia telah menusuk lambungNya Tuhan Yesus dengan tombak, tetapi akhirnya ia percaya bahwa Tuan Yesus telah benar-benar bangkit dari kematian, maka dari itu ia adalah martier pertama dari para pengikut Kristus. Oleh sebab itulah Bernini telah membuat patung dari Longinus di St Peter - Vatikan, ini bisa dilihat di phibetamoulton.com.

Yusuf dari Arimathea berangkat ke England dengan membawa antara lain kain kafan bekas membungkus jenazah dari Tuhan Yesus (kain kafan dari Turin), cawan suci (The Holy Grail) dan tombak suci Longinus. Kain kafan maupun tombak Longinus semuanya sudah diketemukan, yang masih belum diketemukan kembali sampai dengan saat ini hanya cawan suci (The Holy Grail). Mengingat kedua benda lainnya diketemukannya juga di Perancis maka mereka yakin bahwa cawan suci tersebut juga masih berada di Perancis.

Ujung tombak tersebut sebenarnya bukan untuk membunuh Yesus, sebab pada saat ujung tombak ditusukan ke lambung-Nya Tuhan Yesus telah wafat, melainkan hanya untuk membuktikan bahwa Tuhan itu telah benar-benar wafat. Yohanes 19:33-34 Ketika mereka sampai kepada Yesus, mereka melihat Ia sudah meninggal. Jadi mereka tidak mematahkan kaki-Nya. Tetapi lambung Yesus ditusuk dengan tombak oleh seorang dari prajurit-prajurit itu; dan segera keluarlah darah dan air.

Hanya sayangnya sampai detik ini tidak bisa dipastikan apakah ujung tombak yg berada di Wina itu adalah ujung tombak yang asli ataukah yang palsu, sebab di Polandia juga ada ujung tombak yang dinyatakan sebagai tombak dari Longinus?

Oleh: Tidak Diketahui
Kiriman: Philip



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/
Posted by Ivan Shurex Posted on 10/14/2008 11:12:00 AM | 7 comments

Tuhan Selalu Ada Untuk Orang Yang Hatinya Hancur

Sebagai seorang anak yang sudah tidak berbapa sejak umur 4 tahun, aku seringkali mendapati kenyataan dihidupku bahwa begitu banyak keterbatasan yang melingkari hidupku, hingga satu hari kemudian TUHAN mengajar aku mengenai ketidakterbatasnya DIA.

Aku begitu menginginkan dapat melanjutkan pendidikanku, tapi krisis moneter waktu itu menghapuskan segala impianku. Pekerjaanku hilang, modal untuk melanjutkan kuliahpun hilang. Melamar kesana kemari tak kunjung dapat.

Hingga satu hari, didalam bis kota menuju pulang, hatiku begitu sesak karena harus menerima kenyataan bahwa mustahil aku dapat mengejar impianku. Ditambah lagi dengan begitu banyak cibiran, sindiran dan cemooh yang mematahkan harapan, semuanya terakumulasi sementara waktu pendaftaran tinggal 1 hari lagi.

Bagaimana mungkin aku bisa melanjutkan kuliahku, uang tak ada, pekerjaan tak ada dan tabunganpun tak ada. Entah mengapa pada titik itu hatiku berbisik kepada Tuhan dikeramaian penumpang bis.. "TUHAN.. anakMU ini seringkali tidak mendapatkan apa yang di impikannya, tapi jika kali inipun aku tidak mendapatkannya lagi.. satu hal TUHAN hibur hatiku agar aku mampu menata hatiku yang hancur.. amin. "

Aku turun dari bus kota, sambil berjalan menuju rumah airmataku berlinang karena meratapi nasibku.

Dipertengahan jalan.. aku melewati gerejaku.. langkahku terhenti, aku memandang gedung gereja tertegun karena ada suara dalam hati.. masuklah.. curahkanlah isi hatimu di rumahKU. Aku menuruti. Pendeta mempersilahkan aku untuk berdoa didalam, akupun berdoa sambil mencurahkan isi hatiku seorang diri, bak anak kecil yang malang karena tidak bisa berbuat apa-apa, hatinya hancur, harapannya yang sederhana pun hilang, dia tidak minta apa-apa hanya minta dihibur oleh Bapanya.

Setelah selesai, aku berterima kasih pada Pendeta dan pamit untuk pulang, beliau menyuruhku duduk, dia dan istrinya mengatakan padaku bahwa ia mendengarkan doaku di dalam tadi, dan berkata.. "BAPA mu disorga mendengarkan doamu, Dia menggerakan kami untuk membantumu, ambilah uangnya besok pagi. Dan ingat DIA adalah BAPAmu yang selalu ada untuk orang yang hancur hatinya."

Thats the sweetest and amazing miracle that happened in my live. Taste HIS LOVE

Oleh: Josua Marpaung



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

11 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/11/2008 04:43:00 PM | No comments

Around The Corner

Around the corner I have a friend, In this great city that has no end, Yet the days go by and weeks rush on, And before I know it, a year is gone.

And I never see my old friends face, For life is a swift and terrible race, He knows I like him just as well, As in the days when I rang his bell. And he rang mine if, we were younger then, And now we are busy, tired men. Tired of playing a foolish game, Tired of trying to make a name. “Tommorow” I say “I will call on Jim” “Just to show that I’m thinking of him.”

But tommorow comes and tommorow goes, And distance between us grows and grows. Around the corner!- yet miles away, “Here’s a telegram sir” “Jim died today.” And thats what we get and deserve in the end. Around the corner, a vanished friend.


Remember to always say what you mean. If you love someone, tell them. Don’t be afraid to express yourself. Reach out and tell someone what they mean to you. Because when you decide that it is the right time, it might be too late. Seize the day. Never have regrets. And most importantly, stay close to your friends and family, for they have helped make you the person that you are today.

Pass this along to your friends. It could make a difference. The difference between doing all that you can or having regrets which may stay with you forever.

Henson Towne


Sumber : http://krenungan.org/ 22


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/
Posted by Ivan Shurex Posted on 10/11/2008 11:36:00 AM | No comments

KARYA DARI ORANG BIASA

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.
—Lukas 5:32

Bacaan :
Matius 4:18-25

Pelukis Italia abad ke-16, Caravaggio, menerima kritikan tajam pada masa hidupnya karena melukiskan tokoh-tokoh Alkitab sebagai orang-orang biasa. Para pengkritik itu merefleksikan suatu masa ketika hanya anggota-anggota kerajaan dan aristokrat yang dianggap pantas menjadi subyek dari seni yang bernilai kekal. Lukisan kanvasnya tentang St. Matthew and the Angel (Matius dan Malaikat) begitu mengusik para pemimpin gereja sehingga lukisan itu harus dikerjakan ulang. Mereka tidak dapat menerima ketika melihat Matius dilukiskan dalam sosok tubuh seorang pekerja kasar pada umumnya.

Menurut seorang penulis biografi tentang hidupnya, apa yang tidak dipahami oleh para pejabat gereja itu adalah bahwa "Caravaggio, ketika mengangkat sosok yang sederhana ini, sedang meneladani Kristus yang telah mengangkat Matius dari jalanan."

Pendapat Caravaggio mengenai tokoh-tokoh Alkitab sungguh benar. Yesus sendiri dibesarkan dalam rumah seorang pekerja. Ketika waktu-Nya tiba untuk tampil di depan umum, Ia diperkenalkan oleh seorang pria berjubah bulu yang muncul dari padang gurun dan yang dikenal sebagai Yohanes Pembaptis. Murid-murid-Nya terdiri atas para nelayan dan orang awam.

Yesus juga hidup, mengasihi, dan mati untuk orang-orang kaya. Namun, dengan menjadi sahabat bagi mereka yang dirasuk setan, orang kusta, para nelayan, dan bahkan para pemungut pajak yang dipandang rendah, sang Guru dari Nazaret itu menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang begitu miskin, berdosa, atau terbuang sehingga ditolak oleh-Nya menjadi sahabat-Nya. —MRD II

Yesus sahabat sejati,
Bagi kita yang lemah!
Tiap hal boleh dibawa
Dalam doa pada-Nya! —Scriven

Yesus menginginkan Anda menjadi sahabat-Nya.


@ www.rbcintl.org



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


10 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/10/2008 05:02:00 PM | No comments

Doa kepada St. Yohanes Pembaptis

“ Pelindung Krawam KRP “


Ya, Abba ya Bapa, Allah Pencipta kami.
Kami mohon Engkau menganugerahi semangat kerasulan,
St. Yohanes Pembaptis yang telah Engkau beri nama dan,
Tugas perutusan serta memenuhi hidupnya,
dengan terang Roh Kudus-Mu.

Untuk mendahului serta mempersiapkan jalan bagi Putra-Mu,
Engkau telah menampakan berupa burung Merpati,
menerangi hati Yohanes Pembaptis,
dan dia telah merendahkan diri,
Dihadapan Putra-Mu Yesus Kristus.

Semoga, Engkau berkenan mengutus,
Roh spirit pelayanan Yohanes Pembaptis,
untuk menuntun komunitas dan
pewartaan kami dalam pertobatan.

Engkau telah menganugerahi Inisiasi Pebaptisan,
sebagai murid-murid Putra-Mu,
melakukan hidup dan laku tobat,
menuju kesatuan Sabda dan Ekaristi,
melalui tuntunan Bunda Gereja kami.

Semoga dalam perjalanan pewartaan kami,
selalu Engkau terangi dan
arakan dalam Roh Kudus-Mu.
Agar kami tidak tersesat dan
menyesatkan sesama kami,
dalam mewartakan kebenaran Putra-Mu, Yesus Kristus.

Sudi kiranya Engkau menganugerahkan Roh Yohanes Pembaptis,
untuk selalu menyemangati Kerasulan kami.
Semua ini kami haturkan melalui perantaraan,
Putra-Mu, Yesus Kristus Tuhan pengantara kami.
serta doa-doa Bunda Gereja kami, Maria.
Amin.

(1x Bp.Kami, 1x Slm. Maria dan Kemuliaan….)



di kirim oleh : St Mikhael Grt

09 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/09/2008 01:22:00 PM | No comments

SIAPA YANG AKAN MENGAMBIL SANG ANAK ?

Seorang kaya dan anaknya gemar mengkoleksi karya -karya seni langka seperti Picasso sampai Raphael. Mereka sering duduk bersama dan mengagumi keindahan karya seni tersebut. Pada saat konflik Vietnam pecah, sang anak pergi ke medan perang. Dia sangat pemberani dan gugur di dalam pertempuran pada saat menolong prajurit lain. Sang ayah diberitahukan mengenai kabar anaknya dan sangat bersedih hati untuk anak satu-satunya itu.

Sebulan kemudian, tepat sebelum hari natal, ada ketukan dipintu rumah orang kaya itu. Seorang anak muda berdiri didepan pintu dengan bungkusan yang sangat besar ditangannya.

Anak muda itu berkata, “Tuan, anda tidak mengenal saya, tetapi saya adalah prajurit yang telah diselamatkan oleh anak anda dengan mengorbankan nyawanya. Anak anda menyelamatkan bayak orang pada hari itu, dan dia sedang mengangkat saya menuju tempat yang aman ketika sebuah peluru menembus jantungnya dan dia gugur seketika. Anak anda sering bercerita mengenai anda , dan kecintaan anda akan seni.

Anak muda itu menyerahkan bungkusan yang dipegangnya pada orang kaya tersebut dan berkata,”Saya tahu ini tidak ada artinya. Saya bukanlah seorang seniman yang hebat, namun saya pikir anak anda pasti menginginkan anda untuk memilikinya.

Sang ayah membuka bungkusan tersebut. Ternya isinya adalah sebuah gambar dari anaknya, lukisan yang dilukis oleh anak muda tersebut. Sang ayah memandang dengan kekaguman bagaimana prajurit muda itu menuangkan gambaran pribadi dari anaknya dalam lukisan. Sang ayah begitu tenggelam dalam perasaan sampai matanya berlinang air mata. Dia berterima kasih pada anak muda itu dan menawarkan untuk membayar lukisan tersebut.

“Tidak tuan, aku tidak mungkin membayar kembali apa yang telah anak anda perbuat untuk saya. Lukisan itu adalah hadiah.” Kata anak muda itu.

Sang ayah menggantungkan lukisan tersebut diatas rak diatas tungku. Dan setiap kali ada tamu yang berkunjung kerumahnya, tamu tersebut akan diajaknya untuk melihat lukisan anaknya terlebih dahulu sebelum mereka diajak untuk melihat koleksi karya seni hebatnya yang lain.

Beberapa bulan kemudian orang kaya itu meninggal. Semua koleksi lukisan akan dijual melalui lelang besar. Banyak orang penting datang berkumpul, tertarik untuk dapat melihat lukisan-lukisan hebat dan berkesempatan untuk dapat membeli satu untuk koleksi. Di atas panggung diletakkan lukisan dari Sang Anak.

Juru lelang mengetokkan palunya. “Kita akan memulai penawaran dengan lukisan Sang Anak. Siapa yang akan mengajukan penawaran untuk lukisan ini?”

Suasana sunyi tenang. Kemudian ada suara dari arah belakang berkata, kami ingin melihat lukisan yang terkenal, lewatkan saja lukisan ini.”

Namun Juru lelang tetap bertahan. “Adakah yang bersedia menawar lukisan ini? Siapakah yang akan memulai penawaran? $100, $200?”

Terdengar lagi suara dengan nada marah. “Kami datang bukan untuk lukisan ini. Kami datang untuk melihat karya Van Goghs, Rembrandt. Lanjutkan saja dengan penawaran yang sesungguhnya!”

Namun tetap saja Juru lelang melanjutkan.”Sang Anak! Sang Anak! Siapa yang bersedia mengambil sang Anak?”

Akhirnya, ada suara terdengar dari arah paling belakang. Ternyata suara tukang kebun yang telah lama bekerja pada orang kaya dan anaknya. “Saya akan membayar $10 untuk lukisan tersebut. Sebagai seorang tukang kebun yang miskin, uang sebesar $10 merupakan semua uang yang dimilikinya untuk mampu membayar.

“Kita memiliki seorang yang menawar $10, apakah ada yang bersedia menawar $20?” Para pengunjung mulai marah. Mereka tidak menginginkan lukisan Sang Anak. Mereka menginginkan investasi yang lebih berharga untuk koleksi mereka.

Juru lelang mengetokkan palunya. “Hitungan pertama, kedua, TERJUAL untuk $10!”

Seorang pria yang duduk dibaris kedua berkata, “Sekarang mari kita lanjutkan dengan koleksi nya!”

Juru lelang meletakkan palunya. “Maafkan saya, acara lelang sudah selesai.”

“Bagaimana dengan lukisan-lukisannya?” mereka berkata.

“Maafkan saya. Sewaktu saya dipanggil untuk memandu acara lelang ini, pada saya dikatakan sebuah syarat rahasia seperti yang tertulis dalam surat wasiat. Dan saya tidak diijinkan untuk mengungkapkan syarat tersebut sampai dengan saat ini. Syaratnya ialah bahwa hanya lukisan Sang Anak yang akan dilelang, dan barangsiapa membeli lukisan tersebut akan mewarisi semua kekayaan, termasuk seluruh lukisan.

ALLAH mengaruniakan Anak-NYA 2000 tahun yang silam untuk mati di kayu salib. Hampir sama dengan Juru lelang, pesan-NYA di masa ini adalah, “Sang Anak, Sang Anak, Siapa yang bersedia mengambil Sang Anak?” Karena, tahukah anda, siapapun yang mengambil Sang Anak mendapatkan semuanya.

@ krenungan.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/



08 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/08/2008 11:04:00 AM | No comments

Hidup Adalah Pilihan

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur.

Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku."

Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua bergumam. "Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman."

Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.

Renungan :

Hidup adalah pilihan. 2 sisi yang berbeda, tidak searah, dan bertolak belakang.Masing-masing punya kekuatan dan kelemahannya. dan tidak ada yang hanya memiliki segi positifnya saja.

Menentukan pilihan bagaikan bermain judi, penuh spekulasi, salah sedikit, kita akan masuk ke keadaan yang tidak menyenangkan. Namun itu bukanlah akhir dari segalanya, karena inilah hidup. Kita harus berani untuk menghadapinya.

Hidup seperti koin yang bersisi dua, setiap saat penuh dengan teka-teki dan misteri. Namun sebagai orang bijak, pilihan harus diambil dengan ketulusan hati nurani..... DAN JANGAN MENYESAL !!!!! karena tidak ada orang yang sukses di muka bumi ini, tanpa pilihan-pilihan hidup yang salah.

Memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan maka hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan maka pilihlah dengan bijak.

Mungkin dengan memegang wacana ini, kita mampu bangkit kembali disetiap kegagalan dan kesalahan pilihan dalam hidup kita. Karena tidak ada pilihan yang salah atau pun benar dalam hidup ini. Semua pilihan pasti ada hikmahnya...... Sukses adalah rangkaian kebijaksanaan dalam hidup dan perbuatan. Dan Sukses adalah keberanian untuk memilih dan menjalankan pilihan tersebut.

Oleh: Tidak Diketahui
Dari berbagai sumber
(Bodhi Taruna, milis cetivasi)



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


05 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/05/2008 12:18:00 PM | 5 comments

Wanita yang Dipenuhi Rasa Cinta

(Belajar tentang Cara Memaafkan)


Selalu, saya akan tenggelam dalam luasnya danau di keriput garis mata wanita itu; garis yang berkisah tentang kesabaran, perjuangan hidup, penderitaan dan pengorbanan serta maaf. Menelusuri peta yang ada di wajahnya, saya tak pernah tersesat dalam membaca atau mencari sebuah kota bernama: keikhlasan. Kali ini, saya berusaha menyusun kepingan kesabaran dan danau maaf yang ada padanya dari sebuah drama kecil yang meluruhkan air mata saya pada akhir Februari 2003 lalu, di sebuah bangsal kelas II Rumah Sakit Umum Giriwono, Wonogiri.

Tubuh renta wanita itu melangkah ragu, mungkin beberapa bagian disebabkan perjalanan sekitar dua jam dengan memakai bus. Ia memang hampir selalu mabuk dalam perjalanan semacam itu kendati hanya dalam bilangan jam.

"Mbah...!" suaranya bergetar saat berada di ambang pintu.

Nanap, ia menatap sesosok tubuh yang tergolek di atas tempat tidur dengan berbagai selang; infus, bantuan pernapasan, dan saluran pembuangan... Laki-laki yang tergolek itu membalas tatapnya, menahan sejenak lantas pelan-pelan dialihkan ke tempat lain. Ada sedu tertahan, sesak dalam dada.

"Bagaimana, Mbah?" kembali sapa wanita itu seraya mendekat dan meraba kening si lelaki.

"Yang sakit bagian mana?" lanjutnya.

Tangannya membelai kening lelaki itu dan turun ke telinganya. Lelaki itu telah dua hari dirawat di rumah sakit karena penyakit stroke. Tubuh bagian kanannya lumpuh. Lemah, tangan kiri si lelaki berusaha meraih tangan wanita itu, menggenggamnya lama, tetap dengan mata menghindari bertatap dengannya. Ada kepundan yang bergolak-golak di sana dan tangis yang enggan dipurnakan.

Wanita itu tak lain adalah bekas istri dari lelaki yang kini tergolek tersebut. Lebih dua puluh tahun sudah keduanya berpisah. Sangat sah bagi si wanita itu apabila ia membenci bekas suaminya. Begitu banyak luka menganga yang ditinggalkan lelaki itu dalam perjalanan hidup yang ia alami. Sebelum resmi berpisah, suaminya menelantarkan dirinya berikut anak-anaknya. Suaminya lantas menikah dengan wanita lain, memenuhi istri mudanya dengan kekayaan dan kebahagian, sedangkan wanita ini terlunta-lunta memperjuangkan hidup yang ingin ia menangkan. Ya, nyaris tak ada apa pun yang diberikan suaminya selain penderitaan. Ia bukan resmi dicerai di PA, karena itu ia masih menjadi istri jika sewaktu-waktu suaminya pulang atau bertandang.

Selalu tak ada apa-apa yang di bawa lelaki itu selain perselisihan atau kekesalan pada istri mudanya dan si wanita akan menerimanya dengan sabar. Tapi, selalu begitu, setelah ia kembali mengandung, suaminya akan segera pergi kembali pada istri muda-nya, dan kembalilah ia berjuang terlunta-lunta dengan janin dalam kandungan. Tercatatlah, sembilan anak terlahir dari rahimnya, seorang di antaranya meninggal karena kekurangan air susu. ASI-nya tidak keluar oleh karena nyaris tak ada makanan layak yang ia konsumsi. Di lain waktu, pernah selama beberapa minggu ia berikut anak-anaknya tidak makan nasi. Tidak ada beras tersisa. Kendati suaminya hidup berkecukupan bahkan boleh dibilang kaya, saat itu suaminya menjabat kepala desa ,­ ia tak hendak meminta apalagi menuntut.

Untuk bertahan hidup, ia dan anak-anaknya memakan daun-daunan yang direbus dengan campuran sedikit beras hasil utang. Jika waktu makan tiba, ia kumpulkan anak-anak, duduk melingkar memutari kuali tanah berisi bubur daun-daunan tersebut dengan masing-masing memegang satu piring. Lantas, pada piring masing-masing dituang bubur encer terebut. Sungguh jauh dari cukup, apalagi rasa kenyang. Sementara... suami dan istri mudanya sekaligus anak-anak mereka makan dengan kenyang dan berlebihan.

Jika malam tiba, gubuk reot yang ia huni itu penuh rebak dengan cerita. Wanita ini gemar sekali mendongeng untuk anak-anaknya; satu-satunya hiburan yang bisa ia berikan pada anak-anak. Dengan sebuah lentera kecil yang berkedip-kedip ditiup angin, ia mendongeng Timun Mas, Kepel, Lutung Kasarung, Roro Mendut-Pronocitro, Minakjinggo-Kenconowungu, dan sekian lagi dongeng yang ia kreasi sendiri. Anak-anaknya mendengarkan dengan mata berbinar-binar. Kadang-kadang pula ia mengajarkan tembang-tembang dolanan yang menjadi senandung riang pembawa semangat anak-anaknya. Sambil bercerita itu, tangannya tak henti bekerja, kadang-kadang sampai larut malam; menganyam tikar pandan pesanan tetangga, mengupas singkong, oncek dhele, prithil kacang, pipik jagung.. pekerjaan-pekarjaan khas para petani yang darinya ia peroleh upah tak seberapa. Lantas, sementara ia terus mendongeng, satu persatu anak-anaknya terlelap di atas tikar yang berlubang dan bertambal-tambal di sana-sini.

Setelah anak-anaknya tertidur, serentak wajahnya yang semula berbinar-binar tanpa duka itu meredup. Ia menatap anak-anaknya yang tidur dengan mulut menganga dan perut berkeriut. Napasnya cekat. Tanpa permisi, air mata berbondong-bondong keluar oleh tindihan rasa nelangsa. Ya.. di saat yang sama, suami dan istri mudanya berikut anak-anak mereka terlelap di atas kasur dengan selimut hangat dan perut kekenyangan. Dirinya masih harus merunut malam yang jauh. Dia tak berpikir akan bertahan hidup, tapi ia tak akan mengakhiri sendiri dengan bodoh.

"Saya tak percaya saya masih hidup sampai hari ini," ujarnya bertahun-tahun setelah itu.

Yang ada dalam pikirannya adalah 'hidup dan bertahan'. Ia harus menyelesaikan semua itu dengan cara-cara pahlawan. Dengan menjadi buruh tani, ia terus mengais. Pekerjaan itu nyaris tak menjanjikan apa-apa. Tak jarang, ia bekerja di sawah suaminya sendiri sebagai buruh dengan upah yang tidak lebih besar dari buruh yang lain, bahkan cenderung lebih kecil.

Entah bagaimana ia mampu menjalani semua itu. Lantas satu per satu anaknya lulus sekolah. Yang pertama menyelesaikan SMP, yang kedua bertahan hanya sampai SD, sedangkan yang ketiga tak mampu menyelesaikan pendidikan terendah sekalipun kendati justru ia anak paling cerdas di antara anak-anaknya yang lain. Bersama, ketiga anak ini memutuskan merantau ke Jakarta. Tentu saja tak begitu ada harapan bekerja di tempat yang nyaman. Ketiganya.. menjadi pembantu. Tapi kendati sedikit, ketiganya mulai bisa mengirim uang untuk orang tua dan adik-adiknya. Begitulah, wanita ini telah mengatur rupiah dengan begitu cermat. Ia bahkan tak menyentuh uang-uang kiriman itu, tapi kesemuanya digunakan untuk membiayai sekolah lima anaknya yang lain. Cukup ajaib, kelima anaknya tersebut berhasil menamatkan jenjang SLTA.

Hari-hari lesap ke bulan dan bulan tenggelam dalam tahun. Seperti hidupnya, waktu tidak berhenti berjalan. Satu per satu anaknya lulus, bekerja.. dan menikah. Biaya sekolah tidak melulu ditanggung anak pertama, tetapi selalu demikian.. setiap ada yang lulus dan mulai bekerja, ia bertugas melanjutkan estafet amanah itu. Lagi-lagi, keajaiban dan bukti bahwa Tuhan Maha kasih, empat dari anak-anaknya tersebut lulus tes menjadi pegawai negeri sipil, sebuah pekerjaan yang cukup bergengsi untuk ukuran daerahnya.

Saat sekolah pun, rata-rata mereka mendapat beasiswa atau keringanan biaya sebagai kompensasi dari prestasi yang diraih.. atau minimal menjadi juara kelas. Namanya pun menjadi legenda di masyarakatnya bahwa anak-anaknya maupun cucu-cucunya pasti cerdas dan sukses. Bolehlah dikatakan begitu. Untuk ukuran orang seperti dirinya, tentulah apa yang ada sekarang ini merupakan sukses yang tidak terbilang. Masing-masing anaknya di Jakarta telah memiliki hunian yang layak kendati kecil, anak pertamanya malah berhasil masuk tes PNS di Mabes Polri kendati hanya dengan ijazah SMP. Anak-anaknya pun nyaris semua cukup disegani di lingkungannya, hal mana tidak demikian dengan anak-anak suaminya dari istri mudanya.

Tahun 2002, rumah yang ia huni yang dibangun anak-anaknya pada tahun 1988, ambruk. Kondisinya memang telah reot. Anak-anaknya bukan tidak tahu, tapi mereka tidak memperbaikinya dalam kurun yang cukup lama itu disebabkan mereka dilarang oleh sang ayah suami dari wanita ini untuk memperbaiki. Laki-laki itu mungkin hatinya terbuat dari batu, tak juga bisa belajar dari kejadian-kejadian yang ia alami. Tahun 1988, saat anak terakhir dari istrinya berusia 10 tahun, ia kembali terpikat wanita lain; seorang janda muda dari kampung sebelah. Karena tak bisa menikah resmi, keduanya - entahlah, mungkin nikah di bawah tangan - tinggal serumah. Kali ini, wanitanya tak 'sebaik' dan sesabar' dua istrinya terdahulu. Hartanya habis dalam bilangan tahun. Dan.. empat tahun kemudian, jabatannya sebagai kepala desa berakhir. Hidup dengan sisa-sisa kejayaan masa lalu, wanita muda ini tidak bertahan. Ia memilih pergi meninggalkan si lelaki yang kini tak lagi bisa mencukupi kebutuhannya.

Lantas, seperti roda.. hidup berputar. Allah terus memperjalankan takdirnya yang tak terkata namun bagian dari hal paling tetap dan niscaya. Bukan karma. Lelaki ini menjalani hidupnya sendiri, menjadi buruh tani ­ karena sawahnya telah habis terjual dan tinggal di kesunyian rumahnya: tanpa anak dan istri. Sementara istrinya, si wanita ini mulai merasai kebahagiaan dari hidup yang lebih layak, riang dipenuhi jeritan manja cucu-cucu dan rengekan mereka. Maka, meradanglah si lelaki saat anak-anaknya berniat membangun sebuah rumah untuk ibunya karena rumah yang kemarin rubuh. Tak hanya fitnah, teror pun dilangsungkan. Anak-anaknya tak menyerah, tetap berusaha membangun rumah itu karena memang sudah tidak bisa ditunda lagi. Dulu mereka menahan-nahan niat tersebut selama bertahun-tahun, dan sekarang tak bisa lagi.

Tersebutlah di suatu malam, si wanita istrinya yang telah ditelantarkan itu mendengar suara berisik ayam-ayam di kandang. Berjingkat, ia membuka pintu belakang rumah. Masih sempat sekilas ia melihat suaminya menaburkan sesuatu di sudut luar rumah. Kendati dalam remang, ia masih bisa mengenali bahwa sosok itu adalah suaminya. Paginya, tiba-tiba ia lumpuh. Tubuhnya lemah dan tak bisa berdiri. Orang-orang menduga itu teluh. Setelah dirawat beberapa saat di RS, alhamdulillah ia sembuh. Teror tak berhenti. Suaminya secara terbuka mendoakan agar kayu-kayu rumahnya keropos dimakan rayap. Dan doanya terkabul, tapi kali ini bukan pada rumah si wanita, melainkan rumahnya sendiri. Beberapa waktu kemudian ia mengancam akan membakar rumah itu, dan sekali lagi rencana itu ­kendati bukan dia terlaksana. Juga bukan pada rumah si wanita, melainkan rumahnya sendiri. Karena lupa memadamkan api di tungku, rumah belakangnya terbakar. Itu semua belum berakhir.

Dalam kesendirian yang diliputi rasa dengki dan iri, ia mendoakan agar si wanita ini diserang penyakit. Dan lagi.. doanya terkabul, juga bukan untuk si wanita, tapi untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba orang-orang menemukan lelaki itu tak bisa bicara dan sebelah tubuhnya lumpuh. Ia terserang stroke untuk pertama kali yang sekaligus masuk dalam stadium kritis. Anak-anaknya membawanya ke rumah sakit. Dan.. kejadian hari itu adalah bak sebuah drama nyata. Sebuah babak yang luar biasa indah saat si wanita dengan langkah ragu dan bergetar, sebagian oleh sisa perjalanan yang membuatnya mabuk darat-menjenguk bekas suaminya yang tergolek di rumah sakit. Ada pancaran iba dan kasih yang tulus saat ia meraba, mengusap dan bertanya tentang kabar dengan terbata-bata. Mesra sekali saat ia memijit kaki lelaki itu.

"Piye rasane, Mbah?" tanyanya dengan panggilan mesra.

Mbah? Aduhai, nyaman sekali. Saat belum punya anak, ia memanggil lelaki ini dengan sebutan 'Kakang,' saat sudah punya anak dengan sebutan 'Pak', dan saat telah dianugerahi cucu demikian banyak, ia memanggilnya 'Mbah'

Gemetar, tangan kiri lelaki ini karena tubuh bagian kanannya lumpuh menggenggam tangan renta yang mengusap keningnya, seakan ia menikmati belaian lembut tersebut dan menahannya sesaat agar jangan terlalu cepat sirna. Kendati pandangannya dibuang ke sisi lain menghindari wajah bekas istrinya ini, ia tak bisa mengingkari ada lautan maaf dan cinta yang telah menggelombanginya. Melihatnya, saya tak kuasa menahan isak. Seperti lelaki itu, tangis saya cekat di kerongkongan sementara air mata sudah berbondong-bondong menitik tanpa bisa dicegah lagi. Sesak sekali dada saya oleh rasa haru yang menekan-nekan.

Ya.. melihat wanita ini, saya seperti tenggelam dalam laut kesabaran. Dan.. dialah wanita tercantik yang pernah saya jumpai di dunia ini. Dia.. tak lain adalah ibu saya. Ya Tuhan.. ampunilah dosanya, maafkanlah kesalahannya dan kasihilah dia sebagaimana ia mengasihi kami dalam suka dan duka.

Malam 1 Juni 03

Kenangan dan doa untuk Bundaku, orang paling berharga dalam hidupku.


Oleh: Tidak Diketahui
Kiriman: Azallea Lesmana
@ http://www.heartnsouls.com/



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


04 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/04/2008 10:58:00 AM | No comments

Hidupmu Pilihanmu

Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan selalu menjawab,

" Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!"

Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran yang lain. Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya.

Jerry adalah seorang motivator alami. jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana, memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialamai.Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya,

"Aku tidak mengerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu.Bagaimana kamu dapat melakukannya? "

Jerry menjawab, "Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu. Setiap ada sesorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya.. Aku selalu memilih sisi positifnya."

"Tetapi tidak selalu semudah itu," protesku.

"Ya, memang begitu," kata Jerry,

"Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan. Kamu memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup."

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran: membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjata. Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di dalam tubuhnya.

Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut. Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab,

"Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku? "

Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan.

"Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang," jawab Jerry.

"Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup."

"Apakah kamu tidak takut?" tanyaku.

Jerry melanjutkan, " Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata 'Orang ini akan mati'. Aku tahu aku harus mengambil tindakan."

"Apa yang kamu lakukan?" tanya saya.

"Disana ada suster gemuk yang bertanya padaku," kata Jerry.

"Dia bertanya apakah aku punya alergi. 'Ya' jawabku.. Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, 'Peluru!' Ditengah tertawa mereka aku katakan, ' Aku memilih untuk hidup. Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati'."

Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena sikapnya hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya. Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah.

Oleh: Tidak Diketahui
Sumber: Milis Motivasi

Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (2Ptr. 1:10)



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


03 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/03/2008 01:34:00 PM | No comments

Harta Karun Sejati

Harta karun yang disimpan dalam lubang yang dalam tidak akan memberikan keuntungan dan mudah hilang. Harta karun sejati dikumpulkan melalui sumbangan, kesalehan, tidak berlebihan, kendali diri, dan perbuatan baik. Semua tersimpan aman dan tak akan hilang.


di kirim oleh : shane sunpei
Posted by Ivan Shurex Posted on 10/03/2008 01:29:00 PM | No comments

Keinginan

Suatu ketika Xiao He seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan sekolahnya pergi menemui Zheng Zen yang dikenal sebagai orang tua yang bijak bagi masyarakat di desanya. Kedatangan Xiao He disambut Zheng Zen dengan ramah dan mereka berbincang-bincang sampai kemudian Xiao He bertanya "Wahai Zheng Zen yang bijaksana, beritahukan padaku rahasia untuk meraih kesuksesan dalam hidup ini".

Zheng Zen tertegun mendengar pertanyaan anak muda itu, namun segera berdiri dan mengajak Xiao He keluar dari rumahnya dan berjalan kaki menelusuri jalan dan perbukitan hingga berhenti di sebuah sungai. Orang tua terlihat mondar-mandir sejenak, kemudian mengajak anak muda itu masuk menyeberangi sungai dan Xiao He pun mengikutinya.

Sesampai ditengah sungai yang ternyata agak dalam, tiba-tiba Xiao He terpeleset dan tubuhnya setengah tenggelam dan menahan arus yang menerpanya. Zheng Zen segera menghampiri anak muda ini tapi bukan untuk menolongnya malahan membenamkan kepala Xiao He ke air yang membuat anak muda ini berontak dan berusaha keras mengeluarkan kepalanya dari air, begitu berlangsung hingga tiga kali. Melihat Xiao He sudah lemas, Zheng Zen pun menariknya ke pinggir sungai untuk beristirahat sejenak lalu mengajak pulang.

Sesampai dirumah, Xiao He masih terdiam memendam rasa kekesalan akibat peristiwa tadi, kemudian pak tua itu bertanya kepadanya "Apa yang paling kamu inginkan ketika kepalamu tenggelam di sungai tadi?" Dengan penuh rasa geram, spontan Xiao He menyahut "Tentu saja saya ingin bernafas !!".

Orang tua itu melanjutkan perkataannya dengan tenangnya "Anak muda, jika keinginanmu untuk sukses sekuat keinginanmu untuk bernafas saat kepalamu terbenam di sungai, maka kamu akan menemukan rahasia kesuksesan yang sesungguhnya."


di kirim oleh : haryooooo


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


02 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/02/2008 10:00:00 AM | No comments

Berdoa Hingga Mencapai Kemenangan Akhir

Elizabeth Dabney adalah seorang ibu rumah tangga Amerika, keturunan Negro, yang telah membiasakan diri untuk berdoa berjam-jam lamanya. Ia tidur hanya supaya dapat berdoa kembali dengan tubuh yang segar di waktu siang maupun malam hari. Ia membatasi diri untuk makan makanan yang sederhana, hanya sekali sehari, dan tidak menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan orang lain. Biasanya ia datang dengan tenang dalam kebaktian, sejam sebelum acara dimulai, untuk berdoa sendiri. Seusai kebaktian, dengan diam-diam ia kembali ke dalam biliknya, tempat pelayanannya yang SESUNGGUHNYA, yaitu tempat ia berdoa dengan sebulat hati bagi pembebasan jiwa-jiwa, dan hal ini berlangsung hingga jauh malam.

Dalam suatu wawancara, diungkapkannya tentang apa yang menyebab- kannya untuk memasuki pelayanan yang bermanfaat ini bagi Tuhan dan jiwa-jiwa yang sesat. Suaminya adalah seorang pendeta, yang diutus oleh sebuah gereja yang makmur di kota Filadelfia. Pada kebaktian yang pertama tidak seorangpun hadir, kecuali mereka berdua. Nyonya Dabney menyadari bahwa itulah suatu ladang yang sulit karena termasuk daerah hitam yang paling buruk di kota itu. Oleh sebab itu, ia sadar bahwa hanya doalah yang dapat mengubah situasi di sana.

IA MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK SIANG-MALAM BERTEKUN DI DALAM DOA

Ia berjanji kepada Tuhan bahwa apabila Tuhan mengirim orang-orang berdosa ke tempat kebaktian itu serta menyelamatkan jiwa-jiwa mereka, maka ia akan bergumul di dalam doa selama tiga hari tiga malam setiap minggunya, dalam jangka waktu tiga tahun. Di samping itu, bukan saja ia akan berdoa, melainkan juga berpuasa.

Ketika ia untuk pertama kalinya memberitahukan kepada suaminya mengenai niatnya itu, sang suami merasa segan untuk mengizinkannya bergumul dalam doa seorang diri selama tiga hari tiga malam setiap minggunya. Namun segera ia menyadari bahwa hal itu terjadi karena dorongan Tuhan. Segera setelah isterinya mulai berdoa seorang diri bagi pelayanan suaminya, Tuhan mulai bekerja. Orang-orang berdosa berdatangan dan tidak lama kemudian, ruang gereja mereka dipenuhi oleh orang-orang yang bertobat kepada Tuhan.

Suaminya meminta agar ia berdoa untuk tempat yang lebih besar. Tuhan menggerakkan hati seorang pengusaha untuk menyediakan sebuah rumah yang lebih besar dan lebih indah di seberang jalan. Sementara ibu itu melanjutkan pergumulannya di dalam doa, maka gedung itu pun tidak dapat memuat para pengunjung yang semakin meningkat. Kembali suaminya meminta kepadanya untuk berdoa bagi sebuah gedung gereja yang lebih besar lagi. Maka berdoalah ia untuk maksud tersebut dan Tuhan memberi sebuah gedung gereja yang besar dan indah di tepi jalan raya kepada mereka. Kebaktian-kebaktian itu selalu penuh dan jiwa-jiwa dilepaskan dari dosa. Orang-orang beriman itu kemudian dibaptiskan dalam kelompok-kelompok besar.

Pada suatu hari, di depan pintu gereja, ketika ia hendak masuk untuk memenuhi janjinya dalam hal berdoa, Tuhan berkata, “Pulanglah.” Akan tetapi, ia tidak berminat untuk pulang ke rumahnya. Ia rindu untuk berdoa! Kemudian Tuhan bertanya kepadanya, apakah ia mengetahui, hari apakah saat itu? Ia merasa terdorong untuk membuka dompetnya dan membaca janjinya kepada Tuhan. Akhirnya ia tahu dari catatannya itu, bahwa ia telah memenuhi janjinya untuk berdoa dalam jangka waktu tiga tahun! Hatinya sangat rindu untuk memasuki gedung gereja itu, untuk memuji dan menyembah Tuhan, tetapi, sekali lagi, ia mendengar Suara Tuhan yang mengatakan, “Pulanglah.” Maka ditaatinya perintah Tuhan itu. Jiwanya penuh dengan sukacita di depan hadirat Tuhan. Kemudian ia mendengar Tuhan berkata, “Pergilah ke ruangan di bawah tanah.” Ia merasa takut dan ragu-ragu, kemudian berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan, jika Engkau hendak membawa saya pulang ke rumah Tuhan yang penuh kemuliaan itu, izinkan saya terlebih dulu menemui suami dan anakku.” Meskipun demikian, ia pergi juga ke ruangan dibawah tanah itu, sesuai dengan perintah Tuhan. Ruangan itu yang biasanya gelap, pada saat itu tampak dipenuhi dengan terang yang ajaib. Kemudian kata Tuhan kepadanya, “Engkau telah berdoa terus-menerus, sampai pada akhirnya. Sekarang Aku datang untuk memberkatimu.” Dari plafon tampak turunlah suatu pancaran air kehidupan yang mulai mengisi ruangan itu! Tuhan berfirman kepadanya bahwa ke mana pun ia pergi dan berdoa, Ia akan melepaskan orang-orang berdosa dari ikatan dosa mereka, serta memenuhi orang-orang yang percaya itu dengan RohNya.

Semua ini terjadi beberapa tahun yang lalu dan Tuhan telah memegang janjiNya! Ke mana pun Nyonya Dabney pergi dan bergumul di dalam doa, maka orang-orang berdosa dilepaskan dan para saleh disegarkan kembali. Ia tidak berkhotbah, hanya menasihati para saleh dan mendorong orang-orang berdosa untuk mencari Wajah Tuhan hingga mereka menemukan Dia. (Silakan baca Luk. 11:9; Yes. 55:6,7; Hos. 10:12).

Petikan dari surat-suratnya di bawah ini kiranya memberi pengertian yang mendalam mengenai kehidupan doanya:

“Pagi ini saya sangat terbeban, hingga hampir mati rasanya. Jantungku terasa berhenti berdetak. Beban orang-orang berdosa menekan lebih berat di atas bahuku daripada waktu sebelumnya! Siang malam aku dapat mendengar jeritan orang yang akan binasa dalam dosa-dosa mereka.”

“Tuhan Allah merindukan suatu pencurahan Roh Kudus. Inilah masa tuaian yang besar! Karena beberapa alasan, Tuhan menganggap diriku patut untuk menderita sengsara, hingga hampir mati rasanya supaya orang-orang berdosa yang patut dikasihani itu dapat dibebaskan, sebelum terdengar suara orang berseru: Mempelai datang. Songsonglah Dia!”

“Pada saat ini, kita harus memiliki kuasa untuk menolong orang- orang terbelenggu ini. Apabila kita akan memecahkan materai Iblis dalam hati orang-orang berdosa ini, maka diperlukan doa yang tiada berkeputusan kepada Tuhan Allah.”

“Marilah, Saudara-saudara yang kekasih, ke tempat Yesus akan turun tangan melalui Saudara untuk melepaskan banyak orang berdosa dengan perantaraan doa-doa Saudara … Ia memiliki bukit-bukit doa yang tak pernah ada orang yang memohon dariNya. Kaki Saudara dapat berdiri di atas ketinggian baru, setiap hari dan setiap malam.”

“Berkhotbah itu baik. Pengajaran itu penting. Tetapi yang menjadi kunci rahasianya adalah DOA! Sebuah doa yang didengar dan dijawab oleh Tuhan dapat mengguncangkan alam ciptaanNya.”

Disadur dari “Herald of His Coming”

@ http://krenungan.org/ 11


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


01 October 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 10/01/2008 05:06:00 PM | 2 comments

Doa tiga Salam Maria sebelum menyambut Komuni Kudus

(doa pribadi di awali tahun 2000 sampai saat ini)
“mohon diperhatikan tidak dalam keadaan dosa berat”


Ya, Maria, Bunda Gereja.
Kesetiaan Iman-mu tak tertandingkan,
Mengikuti jejak Sang Juruslamat Yesus Kristus, Putra Allah.

Kami memohon kepada-mu dengan rendah hati,
Kami yang lemah dan berdosa ini,
Merasa tak layak dan tak pantas,
Menyambut hari ini.


Tetapi melalui Anugerah yang telah engkau terima dari Allah Bapa.
Sudi kiranya mendoakan dan menuntun kami,
Kehadirat Putra-mu - Manna dari Surga
Bagi kesembuhan kehidupan rohani kami.
Amin.

Salam Putri Allah Bapa – 1 Slm. Maria.
Salam Bunda Allah Putra – 1 Slm Maria.
Salam Mempelai Allah Roh Kudus – 1 Slm Maria.
Kemuliaan…… Amin


di kirim oleh : St Mikhael Grt

  • Text Widget