10 May 2008

Posted by ShureX Posted on May 10, 2008 | 28 comments

SIFAT-SIFAT SEORANG SAHABAT BAIK

Orang yang mempunyai sahabat baik dan merupakan sahabat baik bagi orang lain sesungguhnya adalah orang yang sangat kaya dan puas.

Persahabatan yang baik seharusnya menunjukkan ciri-ciri seperti berikut ini :

1. Persahabatan yang baik tidak mementingkan diri sendiri.

Amsal 17:17 mengatakan bahwa,
"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu."

Karena itu persahabatan sejati tidak didasarkan pada syarat-syarat yang berubah-ubah. Ada orang-orang yang berkata, "Saya akan menjadi sahabatmu jika, atau apabila, atau sampai, atau karena." Semua ini adalah syarat-syarat dan syarat bisa berubah.

Tetapi sahabat sejati mengasihi setiap waktu. Seorang sahabat yang berkata, "Aku mengasihimu jika" atau "Aku mengasihimu bila" bukan sahabat seperti yang dilukiskan oleh Alkitab. Sahabat sejati akan berkata, "Aku mengasihimu setiap waktu. Kasihku tidak bersyarat dan tidak mementingkan diri sendiri."


2. Persahabatan sejati bersifat teguh.

Kembali Amsal 17:17 berkata bahwa,
"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu."

Sebuah penerbitan Inggris menawarkan hadiah bagi orang yang memberikan definisi terbaik tentang persahabatan. Sebuah definisi yang tercantum dalam sayembara terhormat itu adalah: "Seorang sahabat adalah orang yang menambah sukacita kita dan membagi kesedihan kita." Definisi lain berbunyi, "Seorang sahabat adalah orang yang mengerti kita."

Tetapi definisi yang memenangkan hadiah dalam sayembara itu adalah: "Seorang sahabat adalah orang yang masuk pada saat dunia keluar." Betapa benarnya definisi ini! Jika Saudara ingin sungguh-sungguh mengetahui berapa banyak sahabat yang Saudara miliki dan siapa mereka, buatlah kesalahan dan lihatlah apa yang terjadi. Setelah Saudara mengetahui kesulitan, coba lihat berapa banyak kawan Saudara yang masih setia kapada Saudara. Persahabatan sejati itu teguh.


3. Persahabatan sejati bersedia berkorban.

Amsal 18:24 berkata,
"Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara."

Persahabatan sejati itu mahal, tetapi memang sepadan dengan nilainya. Kata Indian untuk sahabat berasal dari sebuah kata gabungan yang berarti "orang yang memikul kesusahanku pada pundaknya." Jadi kalau saya ingin menjadi sahabat, saya harus
hidup dengan bersedia berkorban bagi orang yang menerima persahabatan saya.


4. Persahabatan sejati bersifat menyucikan.

Amsal 27:17 berkata,
"Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya."

Seorang sahabat sejati akan menjadikan Saudara orang yang lebih baik. Persahabatan sejati membuat hidup Saudara lebih maju, mempertajam kecerdasan Saudara dan membuat Saudara lebih giat. Saudara akan menjadi orang yang lebih baik dan lebih berguna karena persahabatan itu.

Persahabatan sejati tidak akan menumpulkan pengaruh Saudara atau menumpulkan kerohanian Saudara. Seorang sahabat sejati adalah orang yang cukup peduli sehingga ia akan menegur bila Saudara salah.

------------------------------------------
Alkitab berkata dalam Amsal 27:6,
"Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah."

Sanjungan bukan persahabatan. Orang yang suka menyanjung sama dengan orang munafik. Seorang munafik mengatakan di belakang Saudara apa yang tidak akan dia ucapkan di muka Saudara, tetapi seorang penyanjung mengatakan di depan Saudara apa yang tidak akan ia katakan di belakang Saudara. Seorang sahabat sejati sebaliknya, ia bersifat jujur terhadap Saudara dan terhadap orang lain.


Jesus Blss U all
Titien S. Mahudie

09 May 2008

Posted by ShureX Posted on May 09, 2008 | No comments

Marilah berbuat baik

Dia hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri di pinggir jalan itu. Tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiac-nya di depan mobil Mercedes wanita tua itu, keluar dan menghampirinya.

Walaupun dengan wajah tersenyum wanita tua itu tetap merasa khawatir. Setelah menunggu beberapa jam dan tidak ada seorang pun yang menolongnya, tidakkah lelaki itu bermaksud menyakitinya?

Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik. Ia kelihatan begitu memprihatinkan. Wanita tua itu dapat merasakan kalau dirinya begitu ketakutan; berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin. Lelaki tersebut tahu apa yang ia pikirkan.

"Saya kemari untuk membantu Anda, Bu. Kenapa Anda tidak menunggu di dalam mobil, bukankah di sana lebih hangat? Oh... ya nama saya Bryan?"

Ya, dia memang sudah terlalu lelah, apalagi untuk wanita setua, menunggu dalam dingin kini benar-benar terasa berat.

Bryan masuk ke dalam kolong mobil wanita tua itu untuk memperbaiki yang rusak. Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah. Wanita tua itu membuka kaca jendela mobilnya, dan berbicara kepadanya.

"Saya dari St. Louis, kebetulan lewat di jalan ini. Saya sungguh merasa tidak cukup hanya mengatakan terimakasih atas pertolongan yang Anda berikan."

Wanita tua itu berkata berapa yang harus ia bayar. Berapapun jumlahnya yang Bryan minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki tersebut tidak menolongnya.

Bryan hanya tersenyum. "Bu, menolong orang itu bukan pekerjaan, karena itu tidak layak suatu imbalan. Saya yakin, apabila menolong seseorang, suatu hari nanti tuhan juga akan menolong saya, dengan tangan yang berbeda. Amal itu berputar, Bu?"
"Bila Ibu benar-benar ingin membalas jasa saya, suatu saat nanti apabila ia melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan maka tolonglah orang tersebut, ingatlah pada saya".

Bryan menunggu sampai wanita tua itu menstater mobilnya, lalu hilang dari pandangan.

Setelah berjalan beberapa mil wanita tua itu melihat kafe kecil. Ia lalu mampir ke sana untuk makan dan beristirahat sebentar. Seorang pelayan wanita datang dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Wanita tua itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan.

Setelah wanita tua itu selesai makan dan sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita tua itu pergi keluar secara diam-diam.

Setelah kepergiannya, sang pelayan kembali. Pelayan itu celingukan, bingung, tak menemukan wanita tua itu. Di meja, ia menemukan secarik kertas, dan selembar uang $1000. Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita tua itu:

"Kamu tidak berhutang apa pun pada saya. Karena seseorang telah menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka inilah yang harus kamu lakukan: jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang".

Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, pelayan itu berpikir mengenai uang dan apa yang ditulis oleh wanita tua itu. Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya?

Ia tahu bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini. Lalu, ia memeluk suaminya yang terbaring di sebelahnya dan memberikan kecupan yang lembut sambil berbisik, "Semuanya akan baik-baik saja, I Love You, Bryan".



Sumber : --

Posted by ShureX Posted on May 09, 2008 | No comments

Lolos Dari Maut Scuba Diving

Allah Membuat Segala Sesuatu Indah Pada WaktuNya

Semuanya bermula pada hari Sabtu bulan Juli tahun 1995...Waktu itu saya sedang membaca buku di tempat tidur (di Jakarta) ketika di hadapan saya salib Tuhan Yesus dan tasbih milik anak-anak (yang pada waktu itu beragama Islam) mendadak jatuh di lantai lepas dari dinding. Anehnya, salib tersebut jatuh di atas tasbih sehingga tasbihnya putus dan biji-bijinya berserakan kemana-mana di lantai. Tasbih dan salib itu sudah 15 tahun tergantung di dinding dan pakunya tidak pernah lepas. Waktu itu saya hanya dapat berpikir: "Ya Tuhan, pertanda apakah ini, apa yang akan terjadi?"

Hati saya sangat gundah dan pikiran saya langsung melayang ke Diana, anak saya yang kedua. Malam sebelumnya Diana baru minta izin untuk pergi scuba diving di pulau Catalina dekat LosAngeles. Waktu dia minta izin, sesungguhnya saya tidak setuju, karena Diana akan pulang seminggu lagi untuk berlibur ke Manado untuk diving di Bunaken. Karena dia mengatakan harus pergi ke Catalina untuk ujian sertifikat divingnya yang kedua, dengan hati berat saya izinkan juga. Reaksi pertama saya setelah salib jatuh saya langsung telpon ke Amerika untuk melarang Diana pergi.

Telpon saya dijawab oleh Ruby, adik Diana, yang mengatakan bahwa Diana baru saja didrop di dermaga, dan kapalnya sekarang sudah berangkat ke Catalina. Setelah itu saya hanya dapat menunggu dan berharap agar semuanya beres.

Ternyata perasaan saya benar. Hari Minggu keesokan harinya saya ditelpon oleh Monika, anak saya yang tertua, bahwa Diana telah mengalami kecelakaan tenggelam pada saat sedang ujian diving. Sejak itu seluruh hidup saya berubah.... Selama ini saya adalah orang Kristen yang sebelum menikah rajin ke gereja dan berdoa, tetapi karena perkawinan saya dengan orang beragama Islam, semua nilai-nilai itu menjadi pudar. Saya jadi malas ke Gereja, malas berdoa sebelum makan, dan saya merasa cukup dengan hanya membaca Alkitab dan berdoa dirumah. Bahkan setelah berceraipun saya masih malas ke gereja.

Sebelum saya berangkat ke Los Angeles untuk menjenguk Diana, sahabat saya yang bernama Lily, yang pernah kehilangan anak karena kecelakaan, mengingatkan saya: "Kamu jangan seperti saya hanya berpasrah dan berharap waktu anakku sakit. Kamu harus berdoa dan mohon kepada Tuhan untuk kesembuhan anakmu." Saya langsung mengikuti nasihat yang berharga itu. Saya mulai berdoa dan meminta dengan tekun kepada Tuhan sampai saya merasakan ketenangan yang luar biasa dan ketakutan saya hilang.

Mendadak saya merasakan suatu kekuatan iman yang luar biasa meskipun kondisi Diana sangat parah pada waktu itu. Diana sempat mendapat light stroke dan pneumonia. Pernapasannya dibantu dengan mesin pengganti paru-paru karena paru-parunya mengalami pendarahan di dalam (internal bleeding) dan hanya berfungsi 30 persen. Hidup nya tergantung dari 11 pipa selang, di mana di antaranya sebuah selang di dalam tenggorokannya yang memompa darah keluar dari dalam paru-parunya.

Angka-angka monitor juga sudah sangat kritis, detak jantungnya terlalu cepat untuk ukuran normal. Menurut team dokter seseorang dalam kondisi seperti itu seharusnya sudah dalam koma, dan mereka begitu heran badannya begitu kuat bisa bertahan sehingga masih sadar. Setiap kali saya tanya ke kepala team dokter, jawabannya selalu sama, yaitu, "we cannot promise you anything, but we are trying our best. It is already a miracle she's not in coma, but maybe it's because she's still young and very very strong." Baru belakangan saya menyadari bahwa ini semua terjadi karena Tuhan sedang berkarya dan berencana dalam keluarga saya.

Untung waktu itu Diana dalam keadaan sadar sehingga kami sekeluarga bias berkomunikasi lewat tulisan. Saya masih ingat pada suatu saat dia bangun ketakutan dan menulis bahwa dia bermimpi terkunci dalam suatu ruangan dan tidak bisa keluar, dan hanya mama (saya) yang bisa mengeluarkan dia dari kamar gelap tersebut. Di situlah saya sadar bahwa sayalah satu-satunya orang yang dapat mengajarkan Diana jalan terang Kristiani yang dapat membantunya di saat-saat gelap ini. Dan semua ini terwujud pada hari kelima sore hari, di mana dokter sudah angkat tangan dan memberi tanda bahwa Diana tidak dapat bertahan lebih dari 24 jam.

Waktu itu teman-teman Diana dari sekolah semuanya datang untuk menjenguk dan "pamitan" dengan Diana. Diana pun kelihatannya menyadari keadaannya. Pada beberapa kawan Diana menyampaikan teriman kasih dan secara khusus minta maaf. Suasana sangat mengharukan dan semua menangis karena sudah merasakan saatnya untuk "berpisah".

Ketika semua tamu sudah pulang dari ICU, yang tinggal hanya saya dan David, salah satu sahabat karib Diana. Kami berdua kaget ketika mendadak Diana ingin bangun dari tempat tidur dan tangan kanannya meraih dan menggapai ke depan seolah-olah ingin menyentuh sesuatu. Diana tersenyum dan matanya bersinar-sinar. Saya berkata, "Di, jangan bangun nanti selang-selang di badan terlepas." Saya mendorong badannya ke tempat tidur, tapi dia bangun lagi dan dengan tersenyum ingin meraih "sesuatu" di depannya. Akhirnya saya mengambil kertas dan meminta Diana menulis apa yang ia inginkan.

Dia menulis : "Di pojok kamar berdiri Tuhan Yesus dan di sekelilingnya berdiri orang-orang penting. Di tengah-tengah ruangan ada malaikat-malaikat menari-nari." Diana tersenyum terus ke pojok ruangan tapi saya dan David tidak dapat melihat apa-apa. Kemudian tanpa saya sadari, saya bertanya kepada Diana, "Di, apakah kamu sudah siap untuk dibaptis?" Diana menulis, "Yes, and please let me become a Christian and be baptized".

Malam itu juga kami mengurus pembaptisannya dan pagi harinya Diana dibaptis. Pembaptisan Diana sangat mengharukan terutama pada saat Diana minta izin kepada bapaknya untuk dibaptis. Pada saat masih di SMA, Diana sempat mengutarakan keinginannya untuk dibaptis. Tetapi karena bapaknya keberatan, Diana tidak jadi masuk Kristen. Kalau saya ingat sekarang, saya merasa di sinilah Tuhan bekerja. Saat Diana di rumah sakit, bapaknya mengijinkan Diana untuk dibaptis, mungkin karena merasa itu adalah "permintaan terakhirnya."

Sehabis dibaptis keadaan Diana tiba-tiba mulai membaik. Tim dokter sampai heran dan berkata, "We thought she was going to die." Mereka berkata bahwa kemajuan kondisinya yang secara tiba-tiba tidak dapat dijelaskan secara medis. Tiga hari setelah dibaptis, Diana dapat bernapas tanpa bantuan mesin pengganti paru-paru. Keesokan harinya selang di tenggorokannya dicabut dan Diana dapat berbicara lagi. Beberapa hari setelah itu keadaan Diana menunjukkan kemajuan yang luar biasa sampai tim dokter memutuskan untuk memindahkan Diana dari ICU ke kamar biasa. Setelah Diana dirawat di kamar biasa selama seminggu, Diana diijinkan pulang dari rumah sakit oleh dokter.

Pembaptisan Diana mengingatkan saya pada keadaan saat Diana masih SD.Saat itu Diana masih beragama Islam dan sangat tekun menjalankan agama Islam. Suatu hari, Diana datang kepada saya dan berkata bahwa dia mengalami mimpi yang sangat aneh. Dia bermimpi bahwa dia bertemu Tuhan Yesus, dan dalam mimpinya dia berkata kapada Tuhan Yesus bahwa dia ingin mengikutiNya. Tuhan Yesus hanya tersenyum dan mengatakan bahwa sekarang belum waktunya, suatu saat Tuhan Yesus akan datang kembali untuk menjemput Diana untuk mengikutiNya. Diana bercerita bahwa dia mendapat mimpi yang sama 2 kali. Dia heran mengapa sebagai orang beragama Islam mendapat mimpi seperti itu. Saat itu saya berkata kepada Diana bahwa mungkin mimpi itu berarti bahwa dia harus masuk Kristen dan mengikuti Yesus.

Kejadian ini merubah hidup saya. Saya baru menyadari betapa Tuhan selalu setia kepada saya dan keluarga saya, bahkan di tengah-tengah ketidaksetiaan kami. Saya merasa Tuhan menepati janjiNya kepada Diana, menolong Diana dan menjemputnya untuk mengikutiNya.

Kemurahan Tuhan tidak berhenti di situ saja. Tuhan menggerakkan hati anak saya Ruby, yang masih Islam. Mula-mula, Ruby mulai ikut ke gereja dengan Diana. Kemudian Ruby mulai turut aktif dalam kegiatan gereja, sampai akhirnya tergerak hatinya untuk dibaptis tahun lalu. Anak saya yang tertua, Monika, juga akan dibaptis bulan Mei tahun ini.

Sampai sekarang saya masih sering heran bila mengingat bagaimana Tuhan bekerja dengan luar biasa terhadap saya dan keluarga saya. Setiap hari saya berterima kasih kepada Tuhan atas kemurahan berkat karuniaNya dan untuk membuat segala sesuatu indah pada waktuNya bagi keluarga saya.

(Widyawati Deborah Sondakh)


08 May 2008

Posted by ShureX Posted on May 08, 2008 | 1 comment

SEREAL

Salam sejahtera,
Beginilah jadinya kalau kita suka menakuti anak dengan sesuatu yang
tidak benar :)

SEREAL
=======

Eko disiapkan sarapan pagi sereal dengan susu oleh ibunya. Eko yang mempunyai aquarium, berjalan ke arah aquarium dengan segenggam sereal di tangan, berniat memberikan sereal tersebut untuk makanan ikan-ikan di dalam aquarium. Tepat ketika Eko akan memberikan cereal, ibunya masuk ke ruang makan.

"Eko, jangan kamu berikan sereal itu kepada ikan. Nanti ikannya mati semua," tegur ibunya.

Dengan wajah pucat Eko menjawab, "Lalu, mengapa Ibu berikan sereal ini kepada saya?"



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Saksi yang setia tidak berbohong,
tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan,
adalah saksi dusta." (Amsal 14:5)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sumber: Kiriman dari "Liana"


disadur dari : www.sabda.org (976)
Posted by ShureX Posted on May 08, 2008 | 1 comment

Hati Adalah Jiwa

Seorang pria telungkup di tengah lapangan yang luas di bawah teriknya sinar matahari, dengan tas disampingnya. Lalu segerombolan orang menghampiri dan memeriksa keadaan pria tersebut. Meninggal, kata salah satu orang gerombolan tersebut. Mereka kemudian sepakat membuka tas disamping pria itu dan mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi. Ternyata mereka semua berpikiran sama, andai tas itu terbuka sesaat sebelumnya, maka pria tersebut mungkin tidak meninggal dalam keadaan seperti ini.

Apakah isi tas itu?? Ternyata isi tas itu adalah parasut. Parasut itu gagal terbuka pada saat si pria melakukan terjun payung. Memang sangat menyedihkan dan naas. Parasut yang tidak begitu besar menjadi penentu keselamatan jiwa para penerjun payung. Dan...begitu jugalah hati kita. Hati hanya akan berfungsi jika dalam keadaan terbuka. Hati akan menjadi penyelamat.

Kita akan menyerap petunjuk lebih mudah, menerima hidayah lebih mudah dan berprilaku lebih mulia. Jangan biarkan hati tertutup dengan butir-butiran kotoran hati, yang akan kian menebal jika tidak segera dibersihkan. Karena pada keadaan tertentu, kotoran hati tidak dapat dibersihkan hanya dengan sekali-dua kali kilapan 'wing porselen'!! Kotoran hati tersebut sudah menjadi bagian dari perilaku dan sikap keseharian manusia.
Oleh karena itu :

"Perhatikanlah hatimu karena ia akan menjadi fikiranmu
Perhatikanlah fikiranmu karena ia akan menjadi perkataanmu
Perhatikanlah perkataanmu karena ia akan menjadi perbuatanmu
Perhatikanlah perbuatanmu karena ia akan menjadi kebiasaanmu
Perhatikanlah kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu
Dan ...............
Perhatikanlah karaktermu karena ia akan menjadi lintasan hatimu"

Semuanya kembali ke diri kita masing-masing. Tanyakan pada diri sendiri apa yang akan terlintas dalam hati kita pada saat ini, saat itu, dalam keadaan ini, dan jika berada dalam keadaan itu.

Karena kalau bukan diri sendiri yang bertanya lalu siapa lagi.......???


Sumber : --

Posted by ShureX Posted on May 08, 2008 | No comments

DI TANAH YANG SALAH

Ada sebuah cerita menarik dari negeri Tiongkok kuno, di zaman Negeri Berperang, jauh sebelum masehi, mungkin bisa menjawab berbagai pemikiran kita yang cenderung rasialis. Di bawah ini ceritanya:

Yanci adalah cendekiawan yang sangat cerdik dari negeri Qi, suatu ketika dia diutus berkunjung ke negeri Chu untuk berunding dengan Raja Chu. Sebelum perundingan resmi, Raja Chu bermaksud menjatuhkan mentalnya, maka disusunlah sebuah rencana untuk mempermalukan dirinya.

Ketika Yanzi bersama Raja Chu sedang melewati keramaian, berpapasan dengan rombongan prajurit yang sedang mengawal seorang tahanan. " Siapakah orang itu, apa kesalahannya hingga ditahan?" tanya Yanzi.

"Oh, itu adalah orang dari negeri Qi, dia ditangkap karena menjadi rampok. " jawab Sang Raja:" Disini orang Qi banyak yang menjadi pencuri dan maling, apa memang itu tabiat bangsa Qi?"

Dengan tenang Yanzi menjawab : " Ada sejenis buah yang ditanam di selatan sungai, rasanya sangat manis, namanya "Jeruk". buah yang sama coba ditanam di utara sungai, karena kondisi tanah yang buruk dan cuaca yang tidak sesuai, rasanya menjadi kecut dan pahit, namanya bukan lagi jeruk, tapi dinamai "Jurek". Orang-orang Qi yang lahir dan hidup di negeri Qi, mayoritas adalah rakyat yang berperilaku baik dan warga yang taat pada hukum. Sedangkan sekarang, baginda memberitahu saya begitu banyak orang Qi di negeri Chu telah menjadi penjahat, itu mungkin juga disebabkan hal yang sama, mungkin karena mereka hidup di tanah yang buruk dan iklim yang salah."

Raja Chu terperangah dan tak bisa menjawab " Celaka, aku malah mempermalukan diri sendiri!!!"


Sumber : --

07 May 2008

Posted by ShureX Posted on May 07, 2008 | No comments

Be Still With God

Author: Nancy B. Gibbs

All day long I had been very busy; picking up trash, cleaning bathrooms and scrubbing floors. My grown children were coming home for the weekend. I went grocery shopping and prepared for a barbecue supper, complete with ribs and chicken. I wanted everything to be perfect.

Suddenly, it dawned on me that I was dog-tired. I simply couldn't work as long as I could when I was younger. "I've got to rest for a minute," I told my husband, Roy, as I collapsed into my favorite rocking chair. Music was playing, my dog and cat were chasing each other and the telephone rang.

A scripture from Psalm 46 popped into my mind. "Be still, and know that I am God." I realized that I hadn't spent much time in prayer that day. Was I too busy to even utter a simple word of thanks to God? Suddenly, the thought of my beautiful patio came to mind. I can be quiet out there, I thought. I longed for a few minutes alone with God.

Roy and I had invested a great deal of time and work in the patio that spring. The flowers and hanging baskets were breathtaking. It was definitely a heavenly place of rest and tranquility. If I can't be still with God in that environment, I can't be still with Him anywhere, I thought. While Roy was talking on the telephone, I slipped out the backdoor and sat down on my favorite patio chair. I closed my eyes and began to pray, counting my many blessings.

A bird flew by me, chirping and singing. It interrupted my thoughts. It landed on the bird feeder and began eating dinner as I watched. After a few minutes it flew away, singing another song.

I closed my eyes again. A gust of wind blew, which caused my wind chimes to dance. They made a joyful sound, but again I lost my concentration on God. I squirmed and wiggled in my chair. I looked up toward the blue sky and saw the clouds moving slowly toward the horizon. The wind died down. My wind chimes finally became quiet.

Again, I bowed in prayer. "Honk, honk," I heard. I almost jumped out of my skin. A neighbor was driving down the street. He waved at me and smiled. I waved back, happy that he cared. I quickly tried once again to settle down, repeating the familiar verse in my mind. Be still and know that I am God.

"I'm trying God. I really am," I whispered. "But you've got to help me here."

The backdoor opened. My husband walked outside. "I love you," he said. "I was wondering where you were." I chuckled, as he came over and kissed me, then turned around and went back inside.

"Where's the quiet time?" I asked God. My heart fluttered. There was no pain, only a beat that interrupted me yet again. This is impossible, I thought. There's no time to be still and to know that God is with me. There's too much going on in the world and entirely too much activity all around me.

Then it suddenly dawned on me. God was speaking to me the entire time I was attempting to be still. I remembered the music playing as I'd begun my quiet time. He sent a sparrow to lighten my life with song. He sent a gentle breeze. He sent a neighbor to let me know that I had a friend. He sent my sweetheart to offer sincere sentiments of love. He caused my heart to flutter to remind me of life. While I was trying to count my blessings, God was busy multiplying them.

I laughed to realize that the "interruptions" of my quiet time with God were special blessings He'd sent to show me He was with me the entire time.


Sumber : http://www.heartnsouls.com/


  • Text Widget