30 May 2009

“Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”

HR Pentakosta : Kis 2:1-11; Gal 5:16-25; Yoh 15:26-27

Hari ini juga diimani sebagai hari pendirian Gereja Katolik (Umum), paguyuban Umat Allah, orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus, yang satukan oleh Roh Kudus. Hari ini umat perdana/purba menerima anugerah Roh Kudus, yang dijanjikan oleh Yesus, “Roh Penghibur dan Kebenaran, yang bersaksi tentang Yesus Kristus”. Penghiburan yang membawa ke persaudaraan sejati atau persatuan umat Allah tersebut dikisahkan dalam Kisah Para Rasul :”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."(Kis 2:7-11). Maka baiklah di Hari Raya Pentakosta ini kita mawas diri perihal persaudaraan atau persatuan kita sebagai orang beriman, yang ditandai atau diwarnai oleh aneka penghiburan dan kebenaran.

“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku." (Yoh 15:26-27)

Para rasul bersaksi dengan kata-kata perihal “perbuatan besar yang dilakukan Allah” dengan bahasa mereka sendiri dan banyak orang dari aneka suku dan bahasa dapat memahami dan mendengarkan dalam bahasa mereka masing-masing. Bahasa merupakan sarana komunikasi utama, entah bahasa lisan atau bahasa tubuh, dan dengan berkomunikasi secara terbuka atau transparan, artinya saling mengkomunikasikan isi hati masing-masing lahirlah kebersamaan hidup damai sejahtera dan bahagia, penuh dengan penghiburan. Kita, dengan telah menerima Sakramen Inisiasi, juga telah menerima anugerah Roh Kudus, Roh Penghibur dan Roh Kebenaran, maka kita juga dipanggil untuk mewartakan ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’.

“Perbuatan besar yang dilakukan Allah” kiranya menjadi nyata dalam kehidupan bersama yang dijiwai oleh cintakasih, dalam hidup orang yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan. Untuk saling mengasihi dengan baik orang harus berani memboroskan waktu dan tenaga bagi yang dikasihi, sebagaimana dalam peristiwa Pentakosta banyak orang dari berbagai daerah berkumpul alias memboroskan waktu dan tenaga untuk mendengarkan ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’ yang disampaikan oleh para rasul. “Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku”, demikian sabda Yesus kepada para rasul, kepada kita semua. Marilah kita menjadi saksi atau teladan dalam memboroskan waktu dan tenaga dalam hidup saling mengasihi, dengan saling membagikan pengalaman atau sharing perihal ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’, entah yang terjadi dalam diri kita yang lemah dan rapuh maupun di dalam lingkungan hidup dan kerja kita setiap hari.

Dalam saling memboroskan waktu dan tenaga untuk curhat perihal ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’ kita akan saling terhibur dan bersama-sama menemukan kebenaran-kebenaran. Apa yang disebut benar senantiasa berlaku secara universal, sebagaimana dialami oleh jemaat Perdana dalam peristiwa Pentakosta, dimana mereka mendengarkan kebenaran-kebenaran yang diwartakan oleh para rasul. Dalam saling curhat tersebut kiranya kita semua juga diingatkan atau disegarkan perihal aneka ajaran, nasihat, petuah yang telah kita terima dalam aneka kesempatan pendidikan atau pembelajaran; kita juga diingatkan dan disegarkan perihal ajaran-ajaran Yesus, yang kiranya dapat dipadatkan dalam ajaran untuk saling mengasihi satu sama lain. Dalam curhat dan bercakap-cakap kita saling belajar dan mengajar. Berbagai kesalah-pahaman dapat diatasi dengan cuthat atau bercakap-cakap bersama.
“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki” (Gal 5:25-26)
Hidup dari dan oleh Roh berarti bersahabat atau bersaudara dengan siapapun dan apapun, dimanapun dan kapanpun, dan cara hidup atau cara bertindaknya dijiwai oleh dan berbuahkan keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23).. Persahabatan atau persaudaraan sejati kiranya mendesak dan ‘up to date’ untuk kita hayati dan sebar-luaskan, lebih-lebih di Indonesia dimana sedang sibuk berkampanye dalam rangka pemilu Capres dan Wapres. Jika dicermati rasanya ada sementara tokoh politik dan bangsa yang ‘gila hormat’, yang diperkuat dengan gila harta benda dan gila kedudukan atau jabatan. Berbagai komunikasi dan koalisi yang diselenggarakan setelah pemilu anggota legislatif dan sebelum pencalonan presiden dan wakil presiden nampak hanya untuk mengejar kehormatain duniawi, harta benda maupun kedudukan atau jabatan. Maka panggilan bagi kita semua untuk hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh serta menghayati keutamaan-keutamaan di atas sungguh mendesak dan ‘up to date’.

Di tengah-tengah hiruk-pikuk/kesibukan ‘gila hormat atau kuasa’ masa kini, perkenankan saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal keutamaan ‘penguasaan diri’. Menguasai atau mengendalikan diri sendiri kiranya tidak mudah. Jika orang tidak dapat menguasai atau mengendalikan diri sendri, maka menguasai orang lain berarti menindas, sebaliknya jika orang dapat menguasai diri sendiri, maka menguasai orang lain berarti melayani dan didalam melayani pasti dijiwai oleh keutaman-keutamaan di atas. Di dalam kesempatan ini perkenankan saya mengingatkan dan mengajak mereka yang pada saat ini sedang berkuasa, misalnya di dalam keluarga dan tempat kerja dimana kita semua memboroskan waktu dan tenaga kita:

1) Orangtua/kepala keluarga: Para orangtua atau kepala keluarga hendaknya menjadi teladan dalam hal melayani, melayani anak-anak atau anggota keluarga, yang berarti dengan segala upaya atau usaha senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan anak-anak atau anggota keluarga. Sebagai tanda atau buah bahwa pelayanan itu sungguh terjadi atau dilaksanakan adalah anak-anak atau anggota keluarga tumbuh berkembang, semakin cerdas dan dikasihi oleh Tuhan maupun sesamanya. Kelak kemudian hari anak-anak ketika menjadi dewasa akan lebih cerdas atau baik daripada orangtuanya. Bahwa di dalam keluarga juga terjadi pelayanan yang baik adalah semua anggota keluarga berfungs secara aktif di dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

2) Pemimpin kantor/tempat kerja: Para pemimpin di tempat kerja atau kantor kami harapkan menghayati kepemimpinan partisipatif, dimana pemimpin melibatkan secara aktif semua bawahan-nya dalam perjalanan hidup kantor atau tempat kerja. Berikut saya sampaikan tujuh prinsip manajemen ala Jawa , yaitu : “Titi-> teliti, hati-hati, Toto -> teratur, Titis-> tepat, berfokus, efektif dan efisien, Temen-> jujur, tulus , Tetep-> konsisten, mantap, Tatag-> tabah, Tatas-> tegas.”


“Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu.Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya! Aku hendak bersukacita karena TUHAN.”
(Mzm 104: 29b-30.34)


Jakarta, 31 Mei 2009

Romo Maryo
Reactions:
Categories:

1 comment:

  1. dEAR,
    BOLEH GA' MINTA RENUNGAN TENTANG PERSAHABATAN?

    ReplyDelete

Setelah dibaca apa anda punya komentar untuk artikel diatas ?
Jika anda merasa tersentuh, terinspirasi, termotivasi dengan artikel ini bagikan bersama kami dengan meninggalkan pesan, kesan atau komentar apa saja.

Semoga komentar anda dapat menjadi semangat bagi yang lainnya.

  • Text Widget