12 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 12, 2008 | No comments

Bintang Laut

Ketika fajar menyingsing, seorang lelaki tua berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati angin laut yang segar menerpa bibir pantai. Di kejauhan dilihatnya seorang anak sedang memungut bintang laut dan melemparkannya kembali ke dalam air. Setelah mendekati anak itu, lelaki tua itu bertanya heran;

'Mengapa engkau mengumpulkan dan melemparkan kembali bintang laut itu ke dalam air?'. Tanyanya.

'Karena bila dibiarkan hingga matahari pagi datang menyengat, bintang laut yang terdampar itu akan segera mati kekeringan.' Jawab si kecil itu.

'Tapi pantai ini luas dan bermil-mil panjangnya.' Kata lelaki tua itu sambil menunjukkan jarinya yang mulai keriput ke arah pantai pasir yang luas itu. 'Lagi pula ada jutaan bintang laut yang terdampar. Aku ragu apakah usahamu itu sungguh mempunyai arti yang besar.' Lanjutnya penuh ragu.

Anak itu lama memandang bintang laut yang ada di tangannya tanpa berkata sepatahpun. Lalu dengan perlahan ia melemparkannya ke dalam laut agar selamat dan hidup.

'Saya yakin usahaku sungguh memiliki arti yang besar sekurang-kurangnya bagi yang satu ini.' Kata si kecil itu. Kita Memang tidak bisa bermanfaat bagi dunia yang luas, tapi setidaknya kita bisa bermanfaat bagi orang di sekitar kita yang membutuhkan. Jadi kenapa kita tidak memulai berbuat sesutau yang berharga, mulai hari ini.

Karena satu hal yang kita lakukan dan bermanfaat bagi seseorang lebih berharga dari pada kita hanya berandai-andai


Sumber : Erwin Arianto


11 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 11, 2008 | No comments

SEPATU SI BAPAK TUA

Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi. Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, "Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?"

Bapak tua itu menjawab dengan tenang, "Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."

Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.

Sikap mempertahankan sesuatu -- termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi -- adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.

Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.

Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya. Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan, pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah ini dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.

Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur. Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ''perpanjangan tangan'' Tuhan. Anda tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan ''titipan'' Tuhan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.

Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.

Tapi, bukankah dalam proses memberi dan menerima ada pihak yang akan bertambah sementara pihak yang lain menjadi berkurang? Kalau Anda berpendapat demikian berarti Anda sudah teracuni konsep Zero Sum Game yang mengatakan kalau ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, kalau ada yang untung pasti ada yang rugi, kalau ada yang menang pasti ada yang kalah. Padahal esensi hidup yang sebenarnya adalah menang-menang. Kalau kita memberi kepada orang lain, milik kita sendiri pun akan bertambah.

Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Ambilah contoh kasus bapak tua tadi. Kalau ia tetap menahan sepatunya maka tak ada pihak yang dapat memanfaatkan sepatu tersebut. Kondisi ini adalah kalah-kalah (loose-loose). Sebaliknya dengan melemparkannya, sepatu ini akan bermanfaat bagi orang lain. Lalu apakah si bapak tua benar-benar kehilangan? Tidak. Ia memperoleh kenikmatan batin karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Betul, secara fisik ia kehilangan tetapi ia mendapatkan gantinya secara spiritual.

Perasaan inilah yang selalu akan Anda dapatkan ketika Anda membantu orang lain: menolong teman yang kesulitan, memberikan uang pada pengemis di jalan, dan sebagainya. Kita kehilangan secara fisik tapi kita mendapatkan ganti yang jauh lebih besar secara spiritual.

Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak:

"Engkau tidak pernah memiliki sesuatu
Engkau hanya memegangnya sebentar
Kalau engkau tak dapat melepaskannya,
engkau akan terbelenggu olehnya.

Apa saja hartamu,
harta itu harus kau pegang dengan tanganmu
seperti engkau menggenggam air.

Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas.
Akuilah itu sebagai milikmu
dan engkau mencemarkannya.
Lepaskanlah, dan semua itu menjadi
milikmu selama-lamanya".


Sumber: Sepatu Si Bapak Tua oleh Arvan Pradiansyah, pengamat
kepemimpinan dan SDM, penulis buku You Are A Leader!

di kirim oleh : yulinda widianti




Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


10 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 10, 2008 | No comments

Tiap Hari Adalah Istimewa

By Ann Wells (Los Angeles Times)

Kakak iparku membuka laci lemari pakaian kakakku yang paling bawah, lalu mengambil sesuatu terbungkus tissue putih dan mengulurkannya kepadaku sambil berkata: “Ini pakaian dalam yang sangat spesial.”

Kubuka bungkusan itu, dan kutemukan sebuah pakaian dalam yang sangat menawan, lembut, terbuat dari sutera, disulam tangan, dengan tali sangat lembut. Tag harga masih tertempel, dengan kode-kode penjualannya yang rumit.

“Jane membelinya 8 atau 9 tahun yang lalu, dan belum pernah memakainya.Katanya ia ingin memakainya untuk suatu kesempatan yang sangat istimewa.Yah, rasanya inilah hari yang istimewa itu,” kata kakak iparku lemah.

Ia mengambil pakaian dalam itu dari tanganku, dan meletakkannya di tas tempat tidur, bersama dengan pakaian lainnya yang kami persiapkan untuk dibawa ke rumah duka.

Ia memegang pakaian dalam itu sejenak, dan dengan tiba-tiba ia menutup laci tersebut keras-keras sambil berkata keras padaku: “Jangan pernah menyimpan sesuatu yang istimewa untuk kesempatan istimewa. Hidupmu tiap hari adalah istimewa.”

Aku terus ingat kata-kata tersebut sepanjang upacara pemakaman dan hari-hari sesudahnya. Saya membantu dia dan keponakan-keponakan saya untuk melewati hari-hari berkabung setelah kematian kakakku yang mendadak. Aku juga terus memikirkan mereka sepanjang penerbanganku kembali ke California dari kota Midwestern di mana kakakku tinggal. Aku juga memikirkan hal-hal yang belum sempat didengar, dilihat atau dikerjakan oleh almarhum kakakku.

Aku juga memikirkan hal-hal yang sudah ia kerjakan tanpa menyadari Bahwa hal-hal tersebut sungguh sangat spesial. Aku terus memikirkan kata-kata kakak iparku, dan sepertinya kata-kata yang ia ucapkan saat hatinya penuh duka tersebut telah mengubah hidupku. Mendadak sepertinya aku telah membaca sedemikian banyak buku tetang kehidupan. Aku lalu memandang ke luar jendela dan menikmati pemandangan udara yang indah, tanpa pusing lagi memikirkan bagaimana kebun kesayanganku yang telah kutinggal pergi beberapa hari.

Sesampai di rumahku sendiri,aku lalu menyempatkan diri untuk lebih Banyak berkumpul dengan keluargaku dan teman-temanku, dan langsung mengurangi kegiatan rapat-rapatku. Apabila diperlukan, hidup ini semestinya dipenuhi pola-pola untuk pengalaman tentang kenikmatan, dan bukan pertahanan serta beban. Sekarang saya mencoba untuk memperhitungkan waktu dengan lebih teliti dan mensyukurinya.

Aku tidak “menyimpan” sesuatu. Kami bahkan menggunakan chinawares (piring-piring buatan cina) dan koleksi kristal kami setiap hari, tanpa menunggu ada pesta, ada tamu atau lainnya. Ketika kami kehilangan uang, ketika kran air bocor, ketika bunga camelia kami mekar, adalah saat-saat yang kami istimewakan.

Saya pergi ke pasar memakai pakaian yang indah, jika memang sedang ingin. Semua kami lakukan tanpa rasa sayang yang berlebihan terhadap barang-barang tersebut. Teorinya, kalau saya kelihatan lebih berada daripada orang-orang di sekitarku, saya juga akan menjadi tidak pelit terhadap diriku sendiri.

Saya tidak hanya memakai parfum kalau pergi ke pesta.

Pelayan di toko bangunan, tukang sayur di pasar, teller di bank, dan teman-temanku di pesta, memiliki hidung yang berfungsi sama. Kata-kata “suatu hari kelak” ataupun “hari-hari ini”, mempunyai makna yang sama bagi saya. Jika ada hal-hal yang layak didengar, ditonton, dibaca atau dikerjakan, saya akan berusaha mendengar, menonton, membaca atau mengerjakannya sekarang juga.

Saya tidak tahu apa kira-kira yang akan almarhum kakakku apabila ia tahu bahwa keesokan harinya (”besok” adalah kata-kata yang tidak pernah kita bayangkan akan tidak terjadi) ia sudah tidak akan ada lagi di dunia ini. Mungkin ia akan menelpon seluruh keluarganya dan beberapa teman dekatnya, mungkin ia akan menelpon teman-teman lamanya dan meminta maaf akan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan di masa lalu. Saya bahkan juga membayangkan bahwa ia justru akan pergi ke sebuah restoran cina yang sangat ia sukai.

Tapi semua itu hanya perkiraanku saja. Kita tidak pernah tahu.

Hal-hal tersebut pasti akan membuat aku marah bila belum dapat saya lakukan padahal saya tidak memiliki waktu lagi. Marah karena selama ini saya selalu menunda pertemuan-pertemuan dengan teman-teman baik saya, meskipun Saya sangat ingin berjumpa dengan mereka.

Marah, karena selama ini saya jarang membalas surat-surat yang saya terima. Marah dan menyesal karena selama ini saya jarang sekali mengatakan pada isteri dan anak-anakku, betapa Saya menyayangi mereka. Kini saya selalu mengusahakan untuk tidak menunda atau menahan hal-hal yang sekiranya akan menambah keceriaan, kesulitan atau kesedihan dalam hidup ini. membuat saya tertawa.

Dan setiap pagi, begitu saya membuka mata, saya katakan pada diri saya sendiri, bahwa hari itu adalah hari yang spesial. Setiap hari, setiap menit, setiap nafas, adalah benar-benar anugerah yang indah dari Tuhan.

Jika anda menerima mail ini, pasti karena ada orang yang peduli dan Sayang kepada anda. Jika anda selama ini terlalu sibuk, cobalah berhenti sejenak.

Sempatkan beberapa menit saja memikirkan orang-orang yang dekat di hati anda, teman-teman yang telah memberikan warna pada hidup anda, guru, pembimbing, siapapun. Kalau perlu, bagikan arikel ini kepada mereka, just to show that you care.

“Good friends must always hold hands, but true friends do not need to hold hands because they know the other hand will always be there.”


Sumber : http://krenungan.org/



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

09 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 09, 2008 | No comments

Dalam pencarian

Dimana Kamu?
Dimana keadilanMu?
Dimana belas-kasihMu yang selalu Kau agung-agungkan dan Kau janjikan?
Dimana pertolonganMu saat aku membutuhkan?

Akh... Kamu telah meninggalkan aku, Kau biarkan aku dalam kebimbangan dan keter-putus asaan
Kau acuhkan aku di kala aku sangat membutuhkan keajaibanMu.
Akh... semuanya hanya sia-sia dan omong kosong belaka.

Mengapa Kau beri aku cobaan seperti ini?
Tidak tahukah Kamu akan kemampuanku?
Tidak tahukah Kamu atas keter-batasanku?
Tidak tahukah Kamu akan segala kesulitanku?

. . . h e n i n g . . .

Aku sadar

selama ini aku tidak pernah mencari-MU
selama ini aku tidak pernah berlaku adil kepada sesama
selama ini aku berlaku bengis dan kejam kepada sesama
selama ini aku selalu mengacuhkan sesama ciptaan-MU

Engkau tidak pernah meninggalkan aku tetapi aku yang menjauhi-MU
Aku biarkan diriku larut dalam ragu dan hampa
Aku meninggalkan-MU di saat Engkau mencoba menggapaiku
akhh..... Aku telah sia-siakan karunia-MU

Ini bukan cobaan-MU, tapi akibat dari ketidak-pedilianku
Bukan karena aku tak mampu, tapi aku tak mau berusaha
Bukan karena aku terbatas, tapi aku tak mau belajar
Bukan keslitan yang aku hadapi, tapi buah kemalasanku selama ini

Oh Tuhan...
maafkan aku
aku telah mencaci-MU
aku telah mengacuhkan-MU
aku telah meninggalkan-MU
terimalah pertobatanku
terimalah kedatanganku kembali

salam,
( kebimbangan dalam pencarian )


Sumber : Gundolo Sosro


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


08 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 08, 2008 | No comments

BACK TO THE BIBLE

Jumpa lagi semua...
Gimana nih kabarnya...hari ini kita mau kunjungan ke gereja dulu deh ...
Siapa mau ikut ...!!???

BACK TO THE BIBLE
=================

Seorang pengkhotbah dengan penuh semangat memotivasi jemaat untuk selalu percaya akan pemeliharaan Allah. Diakhir khotbahnya dia berkata, "Dengan semangat yang pernah Marthin Luther kumandangkan yaitu "Back To The Bible", mari kita tetap mempercayai Allah yang memelihara kita!!"

Usai kebaktian, seperti biasa para jemaat memberikan salam kepada sang pengkhotbah di depan pintu. Lantas tiba-tiba, dengan ekspresi wajah yang lugu dan malu-malu seorang ibu bertanya, "Maaf Pak Pendeta, perkataan Marthin Luther terlewat saya catat...."

Belum selesai si Ibu menyelesaikan penjelasannya, dengan tanpa ragu sang pengkhotbah menegaskan. Katanya, "Ooohhh itu,... 'Back to The Bible'... kalimat itu artinya adalah 'Allah menyertai kita semua'."

----------------------------------------------------------------------
"Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan,
tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya." (Amsal 14:15)

----------------------------------------------------------------------

Sumber: Tersenyum Sukacita (Oleh: Yoshua Wahyudi) p.26


@sabda.org (194)

07 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 07, 2008 | 1 comment

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :

“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :

“Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :

“Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :

“Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata :

“Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata :

“Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku.

“Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :

“Jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ”

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah- tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu- alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan dan ibu yang ada di rumah.

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” kemudian hari.

Sumber : http://krenungan.org


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

06 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 06, 2008 | No comments

Renungan 06 September 2008

Minggu Biasa XXIII

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata”

Bacaan :
  • Yeh 33:7-9;
  • Rm 13:8-10;
  • Mat 18:15-20
“Negative thinking” dan kebiasaan ngrumpi atau ‘ngrasani’ rasanya cukup marak dalam kehidupan kita masa kini. Ngrumpi atau ‘ngrasani’ pada umum membicarakan kekurangan, kejahatan atau kelemahan orang lain dan orang lain tersebut tidak ada dihadapan mereka alias mendengarkan apa yang sedang dibicarakan tentang dirinya. Sebagai contoh:

(1) bus, kereta api atau pesawat terbang terlambat berangkat atau kedatangan kemudian membicarakan berbagai kekurangan dan kelemahan dari pengelola transportasi atau pemerintah,

(2) merasa dikecewakan oleh saudara-saudarinya, rekan kerja dst.. kemudian dengan leluasa menjelek-jelekan orang yang bersangkutan,

(3) makanan atau minuman tidak enak kemudian ngrasani yang memasak atau yang menyediakan, dst…

Mereka yang suka ngrasani atau ngrumpi hemat kami berarti orang yang tidak pernah bahagia di dalam hidupnya, memboroskan pikiran dan tenaga yang tiada guna. Ngrasani atau ngrumpi juga melecehkan harta martabat orang lain alias melanggar hak azasi manusia. Orang yang memiliki hobby ngrasani atau ngrumpi juga tidak ksatria. Maka marilah kita renungkan dan refleksikan sabda-sabda atau warta gembira hari ini.

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata” (Mat 18:15a)

Sabda Yesus di atas inilah kiranya yang menjiwai St.Ignatius Loyola, sebagaimana ia nasihatkan bagi siapapun yang menghendaki tumbuh berkembang sebagai orang beriman, cerdas spiritual: “Setiap orang kristiani yang baik tentu lebih bersedia membenarkan pernyataan sesamanya daripada mempersalahkanya. Jika tak dimengerti, yang menyatakan hendaklah ditanya apakah yang dimaksudkan; dan jika dia salah hendaklah dibetulkan dengan cintakasih; dan jika itu belum cukup hendaklah digunakan segala upaya yang sesuai, supaya sampai pada pemahaman yang benar, dan dengan demikian dijauhkan dari kesalahan” (St.Ignatius Loyola, LR no 22). . Jika kita berani mawas diri dengan benar dan cermat, kiranya masing-masing dari kita telah memiliki pengalaman ini, yaitu ketika kita masih anak-anak diberi nasihat oleh orangtua senantiasa membenarkan dan melaksanakan nasihat tersebut, ketika kita sedang belajar di sekolah (TK, SD, SMP, dst..) senantiasa membenarkan dan menerima apa yang diajarkan atau dikatakan oleh guru atau dosen kita. Dengan kata lain masing-masing dari kita memiliki modal atau kekuatan untuk menghayati sabda Yesus di atas.

“Menegor saudara kita yang bersalah di bawah empat mata” berarti ketika kita melihat saudara kita bersalah maka kita ajak saudara tersebut berduaan atau curhat. Didalam menyampaikan tegoran hendaknya dengan rendah hati dan lemah lembut: mohon kejelasan atas apa yang kita lihat sebagai yang salah, tanpa menuduh atau mengadilinya. Baiklah perjumpaan atau curhat tersebut diawali dengan doa bersama, agar pembicaraan atau curhat ada di dalam Tuhan.

Dengan kata lain pembicaraan berdua menjadi pembicaraan rohani, atau ‘bimbingan rohani’, dimana masing-masing pihak membuka diri atas bisikan dan sentuhan Roh Kudus dan Roh Kuduslah yang akan menunjukkan atau memperlihatkan kebenaran-kebenaran serta apa yang harus kita katakan atau bicarakan berdua/bersama. Jika dengan cara demikian gagal maka baiklah baru melangkah ke cara berikutnya, yaitu “bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan “ (Mat 18:16), dan jika masih gagal baru melangkah cara terakhir, yang kiranya tidak kita kehendaki atau harapkan, yaitu: “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”(Mat 18:17)

Cara lain menegor mereka yang berbuat salah antara lain mendoakannya, sebagaimana pernah saya dengar sharing dari seorang bapak. Bapak tersebut membiasakan adanya doa bersama di dalam keluarga, serta melatih anak-anaknya untuk berdoa dan memimpin doa bersama. Bapak tersebut setiap hari berangkat ke kantor/tempat kerja dengan mengendarai sepeda motor: pada awal ia setia mengenakan helm tetapi kemudian, entah karena apa ia enggan lagi mengenakan helm ketika mengendarai sepeda motor. Di dalam doa bersama, salah seorang anaknya berdoa bagi sang bapak demikian: “Ya Tuhan kami berterima kasih atas bapak-ibu yang baik, lebih-lebih bapak yang bekerja keras untuk kami.

Semoga bapak senantiasa mengenakan helm dalam mengendarai sepeda motor agar selamat di perjalanan. Amin”. Sang bapak tersebut memang pernah berkata kepada anak-anaknya perihal pemakaian helm demi keselamatan, maka ketika mendengar doa anaknya ia melelehkan air mata, merasa ditegor dengan keras oleh anaknya. Ia bertobat dan kemudian tidak lupa mengenakan helm ketika mengendarai sepeda motor. Silahkan berdoa bagi siapapun yang kita nilai bersalah atau telah menyakiti kita.
“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat “(Rm 13:8-10)
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”, demikian peringatan atau nasihat Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua orang beriman. “Mengasihi diri sendiri” antara lain berarti senantiasa menjaga atau merawat diri agar tetap sehat wal’afiat lahir dan batin, cerdas spiritual: hati, jiwa, akal budi dan tubuh senantiasa segar bugar. Yang paling mudah, dalam arti kelihatan, namun belum tentu dilakukan oleh semua orang, adalah menjaga kesehatan tubuh: makan dengan berpedoman ‘empat sehat lima sempurna’, tidur/istirahat cukup, sering berolahraga, misalnya erobik(jalan kaki, lari atau berenang), dst… Kesehatan dan kesegar-bugaran tubuh akan mendukung kesehatan jiwa, hati dan akal budi. Jika diri kita sehat wal’afiat maka kiranya kita dengan mudah untuk mengasihi sesama dan saudara-saudari kita. Sehat bugar antara lain memang ‘tidak berzinah, tidak membunuh atau melecehkan yang lain, tidak mencuri’.

“Mengasihi sesama manusia” berarti mengajak, mendampingi atau mengingatkan sesama manusia untuk menjaga dan merawat dirinya agar tetap dalam keadaan segar bugar jiwa, hati, akal budi dan tubuh. Marilah kita renungkan dan hayati firman Tuhan yang disampaikan melalui nabi Yeheskiel ini: “Jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu” (Yeh 33:9). Firman ini baik menjadi permenungan bagi yang memperingatkan maupun yang diingatkan. Hendaknya baik yang memperingatkan maupun yang mengingatkan senantiasa bersikap rendah hati. Bagi ‘yang memperingatkan’ rendah hati berarti menyapa ‘yang diingatkan’ dengan lembut dan sabar, sedangkan bagi ‘yang diingatkan’ rendah hati berarti membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh alias siap sedia untuk ‘disakiti’ hati, jiwa, akal budi maupun tubuhnya. Untuk bertobat, tumbuh dan berkembang atau memperbaharui diri hemat saya harus siap sedia untuk ‘sakit’, dan menderita.
“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku” (Mzm 95:6-9)

Jakarta, 7 September 2008
Sumber : Romo maryo



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/


  • Text Widget