di kirim oleh : shane sunpei
02 July 2008
01 July 2008
But, I am learning, Lord.
It seems that I was determined to carry all the load. I longed for smoother pathways. Yet, I walked a rocky road. Little did I understand, God waited patiently To pave a new beginning With a better life for me.
But, I am learning, Lord.
It took a real disaster To bring me to my knees; To finally call upon the Lord And say, "God help me, please." He can, with no delaying, With strong arms that could hold - The weight of all my burdens; He gladly took the load.
And, I am learning, Lord.
What a needless cross I carried, All because I could not see - What a friend I have in Jesus, And the love He has for me. Peace I find when troubles hover, Though the outcome is unknown. For if yet the road is rocky, I won't walk it all alone.
For, I am learning, Lord.
Author: Unknown
30 June 2008
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita merasakan bahwa beban yang kita pikul terasa berat. Seringkali pula kita merasa putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Beban itu antara lain adalah naiknya segala macam kebutuhan hidup kita, untuk sandang, pangan dan papan serta pendidikan.
Kita tidak tahu harus berbuat apalagi karena seiring meningkatnya kebutuhan tersebut, ternyata pendapatan kita tidak bertambah. Dimana lagi harus dicari?
Beban itu terasa lebih kompleks lagi ketika dalam lingkungan pekerjaan pun terjadi apa yang dinamakan saling sikut. Rekan kerja tidak mau bekerja sama, saling menjatuhkan, saling mencari kambing hitam dan menyelamatkan diri sendiri. Tiba-tiba rekan kerja kita tanpa kita ketahui sebabnya tidak menyukai kita lagi, mungkinkah kita di fitnah? Tugas kita sering salah sehingga pimpinan menegur kita. Perasaan kita jadi sensitif. Apa yang harus kita lakukan?
Masalah lain timbul, saudara kita beralih agama karena mengikuti psangannya, padahal sejak kecil ia setia pada agamanya.
Kita dalam dilema, seperti terjebak dalam perangkap yang tidak memiliki jalan keluar. Kita tidak punya pilihan. Mengapa ini terjadi?
Mungkin jalan satu-satunya adalah dengan mencoba untuk berdoa kepada-Nya, mencoba berdoa bagi mereka yang memusuhi dan berusaha menjatuhkan kita, mendoakan pimpinan kita dengan jiwa yang besar. Dan berdoa mohon bimbingan dalam mencari jalan keluar atas segala permasalahan yang kita hadapi. Berdoalah kepada Tuhan dan berusahalah mencari jalan keluar dengan mohon bimbingannya.
Suatu hari ketika mengikuti suatu seminar, saya mendengar seorang pastor melantunkan lagu rohani, tidak hanya lagunya, tapi ternyata liriknya cukup bagus, entah mengapa sepertinya Tuhan berbicara melalui lagu tersebut. Lagu tersebut seperti sebuah nasehat yang baik yang harus kita mengerti dan ikuti. Tanpa terasa mata saya berkaca-kaca.
Lagu itu menyadarkan saya untuk percaya bahwa Tuhan lebih mengerti dan memahami apa yang kita alami, apa yang kita hadapi. Oleh karena itu kita memang harus tetap percaya dan menaruh harapan pada-Nya sebesar apapun permasalahan yang menimpa kita… karena Dia mengerti… dan peduli.
* * *
DIA MENGERTI
Do = C
C G/B Am C/G
Terkadang kita merasa
Dm G/B G
Tak ada jalan terbuka
Gm F Em
Tak ada lagi waktu
G C
Terlambat sudah
C G/B Am C/G
Tuhan tak pernah berdusta
Dm G/B G
Dia s’lalu pegang janji-Nya
Gm F/A G/B
Bagi orang percaya
F/A C G
Mukjizat nyata
Refrein :
C G/B Am
Dia mengerti, Dia peduli
C/G F Dm C/G G
Persoalan yang sedang terjadi
C G/B Am
Dia mengerti, Dia peduli
C/G F Dm C/G G
Persoalan yang kita alami
Namun satu yang Dia minta
Em Am
Agar kita percaya
Dm G C
Sampai Mukjizat menjadi nyata
Fm C
Tuhan Mengerti
Sumber : panjikristo's corner
28 June 2008
Bacaan :
2Tim 4:6-8,17-18;
Mat 16:13-19.
Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku. Simon diberi nama baru ‘Petrus’ yang berarti ‘batu karang’. Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang. Tentunya bukan sembarang batu karang, melainkan yang kokoh dan bisa diandalkan.
Tapi kalau kita melihat Petrus dari dekat, kita menjadi heran. Batu karang macam apa dia itu? Ia lebih menyerupai batu karang yang retak. Bukankah ia pernah menyangkal Yesus, dan sikapnya plinplan? Tapi begitulah cara Yesus. Ia tidak memilih orang yang sempurna – karena yang sempurna itu tidak ada. Ia memilih orang yang tidak sempurna dan tidak kudus untuk disempurnakan dan dikuduskan.
Kita boleh merasa lega dan terhibur. Kita semua yang dipanggil dan dijadikan pemimpin, dipilih bukan karena sudah sempurna. Asal kita mau dibentuk, Yesus perlahan-lahan membentuk kita menjadi bejana yang indah.
Sumber : Angela Merici Biblical Center
Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran yang lain. Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya.
Jerry adalah seorang motivator alami. jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana , memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialamai.Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, “Aku tidak me ngerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu.
Bagaimana kamu dapat melakukannya? ” Jerry menjawab,
“Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu. Setiap ada sesorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya.. Aku selalu memilih sisi positifnya.”
“Tetapi tidak selalu semudah itu,” protesku. “Ya, memang begitu,” kata Jerry, “Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan. Kamu memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup.”
Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran: membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjata. Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.
Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut.
Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, “Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku? ” Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan.
“Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang,” jawab Jerry. “Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup.”
“Apakah kamu tidak takut?” tanyaku. Jerry melanjutkan, ” Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata ‘Orang ini akan mati’. Aku tahu aku harus mengambil tindakan.”
“Apa yang kamu lakukan?” tanya saya. “Disana ada suster gemuk yang bertanya padaku,” kata Jerry. “Dia bertanya apakah aku punya alergi.
‘Ya’ jawabku..
Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, ‘Peluru!’ Ditengah tertawa mereka aku katakan, ‘ Aku memilih untuk hidup. Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati’.”
Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena sikapnya hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya.
Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah.
Have a positive day n Selamat Memilih…
Salam
Marga de Quelyu,
sumber : Mus@fiR
Sejak empat tahun lalu, belasan orang lain ikut saya doakan dan “antarkan” dengan petikan gitar karena saya sering pelayanan dengan pendeta yang menangani kematian di gereja kami. Dia berkhotbah dan memimpin pujian, saya yang bergitar.
Lain pula kisah yang terjadi pada sebuah keluarga kaya tiga tahun lalu. Yang meninggal adalah pemimpin keluarga itu, sang ayah. Karena begitu kayanya, peti mati yang digunakan sangat bagus. Di salah satu sisinya terukir dengan indah Perjamuan Terakhir: Yesus dan murid-murid-Nya makan bersama terakhir kali sebelum disalib.
Maut dapat menjemput kapan saja pada setiap orang.
Itu bisa terjadi pada anak kecil, juga pada orang tua. Mungkin saja, hari di mana Anda membaca renungan ini adalah hari terakhir hidup Anda. Bukan untuk menakut-nakuti, namun demikianlah adanya. Setiap orang tak ada yang tahu dengan tepat kapan ia tiada.
Mungkin kita tak diantarkan dengan peti mati yang mahal bila kita dipanggil pulang, seperti yang tadi saya kisahkan. Namun, hidup kita “mahal” dan sangat berharga karena telah dijalani dengan cinta, pengabdian dan pengorbanan bagi-Nya. Saat itu kita akan meninggalkan segala yang fana di dunia dengan tenang dan penuh kepercayaan bahwa kita akan disambut dengan gegap-gempita malaikat surga. Kita begitu berharga saat itu... sangat percaya diri.
Doa: Tuhan, mampukan aku menjalani kehidupan ini seturut kehendak-Mu agar aku dapat bersukacita ketika kembali pulang kepada-Mu.
:: Sidik Nugroho, 2006
di kirim oleh : Emmi Danielly
-2 Timothy 4:7
Readings:
Acts 12:1-11
Psalm 34:2-3,4-5,6-7,8-9
2 Timothy 4:6-8,17-18
Matthew 16:13-19
One of my bedside books now is “Asian Saints” by Fr. Francis X. Clark, SJ. This inspiring work narrates the colorful lives of the Asian martyrs. I couldn't help but see ow our verse today resonates loudly in the choices these saints have made. Here are some of their last words...
“Courage, go on. Cut me in as many pieces as you wish, and you will see that every piece is Catholic,” said Blesses Si, an 18-year-old Chinese whose right arm had been cut off because of his faith.
“I profess the religion of the Lord of heaven and earth, I will never deny it.... If you allow me to live, good; it not, I die with pleasure,” said Lawrence Ngon, a Vietnamese layman.
“I am afraid to die, but I am more afraid to deny God,” said Son Cha-son, a 28-year-old Korean who has strangled after he spoke these decisive words.
“You may kill us, but you cannot kill the Church and you cannot kill God,” said Sr. Agnes Phila, 31, who was killed with rifles in Thailand.
“For God I will give many thousand lives if I had them,” said our own Lorenzo Ruiz.
My friend, how have we kept our faith?- Lallaine Gogna
Reflection:
Think of concrete steps on how you can become a “saint” in your own situation.
Prayer:
Lord, give me courage and boldness to run my race and make You proud.
sent by : ChristianYouth
