06 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 06, 2008 | No comments

A Simple Gesture

Mark was walking home from school one day when he noticed the boy ahead of him had tripped and dropped all of the books he was carrying along with two sweaters,a baseball bat,a glove and a small tape recorder. Mark knelt down and helped the boy pick up the scattered articles.

Since they were going the same way, he helped to carry the burden. As they walked Mark discovered the boys name was Bill,that he loved video games,baseball,and history, that he was having alot of trouble with his other subjects and that he had just broken up with his girlfriend.

They arrived at Bill’s home first and Mark was invited in for a coke and to watch some tv. The afternoon passed pleasantly with a few laughs and some shared small talk, then Mark went home.

They continued to see each other around school, had lunch together once or twice.They ended up at the same High school where they had brief contacts over the years. Finally the long awaited senior year came,and three weeks before graduation, Bill asked Mark if they could talk.

Bill reminded him of the day years ago when they had first met. “Do you ever wonder why I was carrying so many things from school that day?” asked Bill.

“You see, I cleaned out my locker because I didn’t want to leave a mess for anyone else. I had stored away some of my mother’s pills and I was going home to commit suicide. But after we spent some time together I realized that if I had,I would have missed that time and so many others that might follow. So you see, Mark,when you picked up my books for me that day,you did alot more. You saved my life!”

~~ Author Unknown ~~


Sumber : http://krenungan.org/ 23


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

Posted by ShureX Posted on September 06, 2008 | 1 comment

Mendengarkan Suara Tuhan

Ada seorang anak muda yang bersahabat akrab dengan seorang pengkhotbah tua. Suatu hari, anak muda ini kehilangan pekerjaannya dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari si pengkhotbah tua itu.

Ketika berada di ruang belajar si pengkhotbah, si pemuda ini berteriak-teriak tentang problem hidupnya. Akhirnya dengan kalap dia mengepal-ngepalkan tinjunya, sambil berteriak, “Saya memohon Tuhan agar menolong saya. Tapi hai pengkhotbah, mengapa Dia tidak menjawab saya?”

Si pengkhotbah tua itu pergi ke ruang lain dan duduk di sana. Lalu dia berbicara sesuatu dan menanti jawaban si pemuda. Tentu saja si pemuda itu tidak mendengarkan dengan jelas, sehingga dia ikut-ikutan pindah ruangan.

“Apa sih katamu?” tanya si pemuda penasaran. Si pengkhotbah itu mengulangi kata-katanya dengan perlahan sekali, seperti sedang bergumam sendiri. Tetapi si pemuda belum menangkap bisikan si pengkhotbah. Dia terus mendekati si pengkhotbah tua ini dan duduk di bangku sebelahnya.

Si pemuda itu lagi-lagi bertanya, “Apa katamu? maaf, saya tadi belum mendengarnya.”

Dengan lembut, si pengkhotbah memegang pundak si pemuda, “Saudaraku, Allah kadang - kadang berbisik, jadi kita perlu lebih dekat menghampiriNya, agar dapat mendengar Dia dengan lebih jelas lagi.” Si pemuda itu tertegun dan akhirnya dia mengerti.

Kita seringkali menginginkan jawaban Tuhan bak petir yang menggelegar di udara dan sekaligus meneriakkan jawaban dariNya. Tetapi Allah sering diam, kadang Dia bicara dengan lembut, bahkan berbisik. Hanya dengan satu alasan: agar Anda mau menghampiri takhta kemuliaanNya dan lebih dekat kepadaNya. Setelah Anda berada di dekatNya, Anda baru bisa mendengar jawaban Tuhan dengan jelas.

Indah sekali untuk mengetahui bahwa kita melakukan sesuatu yang tepat, pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dengan cara yang tepat dan bersama orang-orang yang tepat. Itulah yang terjadi apabila kita dipimpin oleh Roh Kudus. (Billy Joe Daugherty, Led By The Spirit)


Sumber : http://krenungan.org/


Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

05 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 05, 2008 | No comments

Memaafkan ...

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir: "Hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku."

Mereka terus berjalan sampai akhirnya menemukan sebuah oasis. Mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, tapi dia berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: "Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku."

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir dan sekarang menuliskan ini di batu?" Sambil tersenyum temannya menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu. Dan bila sesuatu yang luar biasa baik terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar takkan pernah bisa hilang tertiup angin."

Dalam hidup ini ada kalanya kita dan orang terdekat kita berada dalam situasi yang sulit, yang kadang menyebabkan kita mengatakan atau melakukan hal-hal yang menyakiti satu sama lain. Juga terjadinya beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu, sebelum kita menyesal di kemudian hari, cobalah untuk saling memaafkan dan melupakan masa lalu.


Sumber : Erwin Arianto

04 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 04, 2008 | 31 comments

Kumpulan Kata Bijak, Kumpulan Mutiara Kata online.

Kumpulan Kata Bijak, Kumpulan Mutiara Kata Online!

Tekan F5 (refresh/reload) pada keyboard untuk lihat (kata Bijak/mutiara kata) yang baru :



  • Pasang Kata Bijak ini (versi english) di Blog kamu.


Atau klik tombol ini:


  • Pasang Kata Bijak ini (B. Indonesia) di Blog kamu.



Atau klik tombol ini:



  • Pasang Ayat-ayat Emas ini di Blog kamu.


Atau klik tombol ini:


Begitu banyak nasehat berupa rangkain kata (kata bijak, Mutiara kata) yang sering kita dengar dan mampu untuk menggugah kesadaran, memotivasi, kita terhadap berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, serta mampu mengubah cara pandang, pola pikir kita dalam memaknai arti kehidupan.

isi kolom komentar,. Sharingkan kata bijak, mutiara kata, atau ayat-ayat, yang telah menggugah kamu, memotivasi kamu melewati berbagai tantangan hidup.

Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

03 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 03, 2008 | 1 comment

Mengucap Syukur

Banyak perintah Tuhan yang dapat kita terima dengan mudah, misalnya, jangan berzinah, jangan menyembah berhala, jangan membunuh. Namun Tuhan juga kadang-kadang memberikan beberapa perintah yang sulit diterima akal. Mari kita melihat salah satunya, yaitu mengucap syukur senantiasa untuk segala sesuatu.

Mengucap syukur haruslah menjadi gaya hidup kita, bukan hanya kegiatan seremonial. Masalahnya, gaya hidup seperti ini akan tampak aneh bila dipraktikkan ketika kita sedang berduka atau dalam pergumulan berat. Siapapun akan setuju bahwa untuk tetap bersyukur di tengah kejadian buruk memang tampak tidak masuk akal. Namun sesungguhnya, pemahaman kita yang terbatas tidak dapat dibandingkan dengan pengetahuan Tuhan yang jauh lebih luas tentang apa yang terbaik bagi makhluk ciptaan-Nya.

Tuhan mengajar kita bahwa sikap bersyukur akan memberikan dampak yang luar biasa bagi setiap orang percaya. Mungkin kita sedang merasa sesak dengan ujian yang kita alami. Namun, mengucap syukur kepada Tuhan untuk meminta perhatian atau penyediaan-Nya yang terus-menerus, akan mengingatkan kita bahwa Dia selalu hadir bagi kita. Bila kita tahu bahwa Dia memegang kendali atas segala sesuatu, pasti kita akan berserah kepada kehendak-Nya. Situasi yang kita alami mungkin tetap sama, namun sikap kita dalam menghadapinya telah diubah melalui iman.

Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita orang percaya. Itu artinya Tuhan memiliki tujuan untuk setiap kejadian yang Dia rencanakan atau izinkan. Sikap yang penuh syukur akan memotivasi kita untuk mencari tahu tujuan-Nya itu. Di dalam Tuhan yang sempurna, segala sesuatu pasti disingkapkan dan kita dapat berkata kepada-Nya dengan hati yang tulus, "Tuhan, terima kasih!"

Regards,
Gundolo Sosro



Posted by ShureX Posted on September 03, 2008 | No comments

Renungan 3 September 2008

"Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."

Bacaan :
  • 1Kor 3:1-9;
  • Luk 4:38-44
"Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.

Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea" (Luk 4:38-44),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Gregorius Agung adalah gembala umat dan negarawan ulung. Ia mendirikan biara-biara serta mengutus anggota-anggota tarekat yang bersangkutan menjadi misionaris, menulis buku dan homili yang bagus, mendamaikan yang bermusuhan, dst.. Ia sungguh memberitakan Injil Kerajaan Allah' di dalam melaksanakan dan menghayati panggilan serta tugas perutusannya. Gregorius Agung juga gembala yang menghayati panggilannya sebagai `servus servorum Dei' ( hamba dari para hamba Tuhan), yang kemudian menjadi motto dari para paus berikutnya sampai kini. Kiranya kita semua juga dipanggil untuk "memberitakan Injil Kerajaan Allah", dengan rendah hati, semangat melayani tanpa kenal lelah. `Injil Kerajaan Allah' berarti warta atau kabar gembira, maka melalui hidup dan kerja kita semua dipanggil untuk senantiasa menggembirakan orang lain, siapapun yang hidup bersama kita atau kita jumpai. Memang untuk itu pertama-tama kita sendiri harus selamat atau gembira; dalam keadaan gembira berarti sehat wal'afiat, bergairah, penuh harapan, dinamis, selalu senyum dst.., dan dengan demikian kita akan tahan atau kebal terhadap aneka ancaman dan serangan virus penyakit.

Kegembiraan ini sangat penting dalam proses pendidikan atau pembelajaran baik di dalam keluarga maupun di sekolah. "Para guru hendaknya menjadikan ruangan kelas lebih menyenangkan. Mereka cukup membantu para siswa agar mengetahui bagaimana caranya belajar dan menganalisa, belajar secara mandiri, , mengatur pengalaman-pengalamannya yang nyata, dan memberikan respons pada apa yang ingin dipelajari oleh para siswa dan kebutuhan belajar mereka" (Rung Kaewdang Ph.D: Suatu Cara Reformasi Pembelajaran yang mangkus, BELAJAR DARI MONYET, Grasindo – Jakarta 2002, hal 71). Untuk itu guru atau pendidik memang harus rendah hati, berjiwa melayani; hal yang sama hemat saya juga perlu dihayati oleh orangtua dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya.

• "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan" (1Kor 3:6-7), demikian kesaksian Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua. Yang menanam atau menyiram, bapak atau ibu, guru/pendidik, gembala (pemimpin, pastor, ketua dst..) adalah pelayan-pelayan atau pekerja-pekerja yang hina, pekerjasama-pekerjasama Allah yang menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan. `Menanam' dalam arti hanya menaruh atau menancapkan kiranya mudah tetapi `menyiram'dalam arti merawat dan mengurus rasanya sulit, sarat dengan tantangan dan hambatan.

Banyak orang dengan mudah menanam (membeli, menghamili, dst..) tetapi tidak dapat merawat atau mengurus dengan baik apa yang telah ditanam. Merawat dan mengurus segala sesuatu, lebih-lebih yang hidup seperti manusia, tanaman dan binatang, hemat saya perlu dijiwai oleh cintakasih dan kerendahan hati. Entah manusia, tanaman atau binatang `diadakan' dalam dan oleh cintakasih dan kerendahan hati, maka hanya akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik jika senantiasa `disirami' dengan cintakasih dan kerendahan hati. Pengalaman `menyiram' (merawat dan mengurus) dengan baik kiranya telah terjadi dalam diri para ibu dalam mengandung, melahirkan dan merawat anak-anaknya, maka baiklah jika para ibu atau perempuan dapat menjadi teladan dalam perawatan dan pengurusan segala sesuatu dengan baik. Perawatan dan pengurusan yang baik antara lain akan berbuah `penghematan' serta aneka macam keutamaan yang pada gilirannya akan mendukung untuk menjadi perawat atau pengurus yang handal.

"Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka" (Mzm 33:12-15)

Jakarta, 3 September 2008


Sumber : rm_maryo

02 September 2008

Posted by ShureX Posted on September 02, 2008 | 2 comments

Mobil dan Batu

Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak melintas. Aah…, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.

Cittt….ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, di mundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

“Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tentu paham, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores.” Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.” Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. “Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..”

Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. “Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku.”

Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.

Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatanmu.” Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat

“Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”

***

Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?

Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.

Teman, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

Sumber : Erwin Arianto

  • Text Widget