26 August 2008

Posted by Ivan Shurex Posted on 8/26/2008 06:00:00 AM | No comments

Renungan 26 Agustus 2008

“Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu”


Bacaan :
(2Tes 2:1-3a.13b-17; Mat 23:23-26)

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat 23:23-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Keadilan, belas kasih dan kesetiaan” merupakan keutamaan-keutamaan yang layak dan seharusnya kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan bersama kita masa kini., tentu saja keutamaan-keutamaan tersebut kita hayati dan sebarluaskan di dalam lingkungan hidup bersama di mana kita berada di dalamnya, antara lain keluarga, RT/RW, tempat kerja/kantor, dimana kita saling tergantung satu sama lain. Keadilan kiranya pertama-tama dan terutama harus dihayati oleh para pemimpin atau pengusaha, kesetiaan oleh para anggota atau buruh dan pekerja, sedangkan belas kasih oleh kita semua.

Khususnya kepada para pengusaha atau pemilik pekerjaan kami berharap untuk memberi upah atau imbal jasa yang adil kepada para buruh atau pegawai , tidak hanya sesuai dengan UMR atau UMP, melainkan sesuai dengan tuntutan hidup yang layak di lingkungan hidupnya. Upah atau imbal jasa yang tidak layak atau kurang memadai akan mengundang tindakan korupsi, jahat atau bermalas-malas dalam kerja atau mangkir dari tugas pekerjaan, dan dengan demikian usaha tidak maju, tidak tumbuh berkembang sebagaimana diharapkan. Ingatlah dan hayatilah bahwa kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan usaha sangat tergantung dari kinerja para pegawai atau buruh. Kepada para pegawai atau buruh kami harapkan setia dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat”((Prof Dr.Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka Jakarta, 1997, hal 24).

Kesetiaan dalam bekerja tidak hanya akan menguntungkan para pengusaha atau pemilik pekerjaan, melainkan terutama dan pertama-tama bagi kita sendiri sebagai pekerja/pegawai atau buruh, karena dengan demikian kita akan tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa lahir maupun batin, jasmani maupun rohani. Maka kesetiaan kiranya juga selayaknya kita hayati bagi kita semua, yaitu setia dalam tugas, panggilan, pekerjaan maupun jabatan kita masing-masing. “Belas kasih” dalam bahasa Latin “misericordia” memiliki arti kasihan, belas-kasihan, kerahiman, kerelaan, kemurahan, kedermawanan. Marilah kita hayati dan sebarluaskan keutamaan-keutamaan ini.

· “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan”(2 Tes 2:15-16), demikian nasihat atau pesan Paulus kepada umat di Tesalonika, kepada kita semua, orang beriman. Marilah kita ‘tidak usah malu berterus terang memberitakan perkataan kebenaran’ atau bertindak benar atau melakukan kebaikan di manapun dan kapanpun, sebaliknya hendaknya malu jika kita berbuat yang tidak benar, omong kosong dan yang tak suci dalam hidup sehari-hari.

Percaya dan imanilah bahwa kita kita saling berkata jujur dan benar serta baik, maka hidup sejahtera, damai dan bahagia bersama yang kita dambakan atau cita-citakan akan menjadi nyata atau terwujud di dunia ini. “Hindarilah omongan kosong dan yang tak suci”, lebih-lebih bagi para orangtua, pendidik maupun pemimpin atau tokoh hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Khususnya di masa kampanye pemiliihan umum 2009 maupun pilkada di daerah-daerah, hendaknya tidak omong kosong, sebagaimana pernah terjadi pada pemilu awal Reformasi: dikatakan dan diundangkan bahwa 20% APBN entah pusat maupun daerah untuk pendidikan, namun sampai kini tinggal dalam impian alias omong kosong belaka, sehingga mengecewakan rakyat.

Sewaktu berkampanye berteriak-teriak ingin memperjuangkan kepentingan rakyat, tetapi setelah terpilih, entah menjadi anggota DPR/DPRD, kepala daerah atau presiden, lupa pada rakyat, tidak bersama rakyat, melainkan berkolusi dengan para pengusaha atau bisnis untuk korupsi demi keuntungan diri sendiri. Sekali lagi “usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah’, layak di hadapan Allah berarti juga layak di hadapan rakyat.


“Katakanlah di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran." Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.”(Mzm 96:10-13)

Jakarta, 26 Agustus 2008



Sumber : Romo Maryo

Reactions:
Categories:

0 Komentar:

Post a Comment

Setelah dibaca apa anda punya komentar untuk artikel diatas ?
Jika anda merasa tersentuh, terinspirasi, termotivasi dengan artikel ini bagikan bersama kami dengan meninggalkan pesan, kesan atau komentar apa saja.

Semoga komentar anda dapat menjadi semangat bagi yang lainnya.

  • Text Widget