08 August 2008

Posted by ShureX Posted on August 08, 2008 | No comments

Renungan 8 Agustus 2008

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”
(Nah 1:15; 2:2; 3:1-3.6-7; Mat 16:24-28)

“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Dominikus, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Mental materialistis atau bisnis begitu dominant atau sangat berpengaruh di dalam kehidupan bersama, entah dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, bernegara maupun menggereja atau beriman. Banyak orang bangga dan sombong ketika berhasil mengumpulkan harta benda atau uang begitu besar jumlahnya (untuk tujuh turunan), dan yang bersangkutan juga egois, kurang peka terhadap kebutuhan sesamanya, lebih-lebih atau terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Tuhan mereka adalah ‘perut, harta benda atau uang’, sehingga ketika harta benda atau uang berkurang atau hilang yang bersangkutan menjadi stress, putus ada, tanpa harapan sama sekali.

Hari ini kita kenangkan St.Dominikus, yang dikenal sebagai pengkotbah ulung, pewarta Kabar Baik atau sabda Tuhan. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk merenungkan sabda Yesus : “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya”. Nyawa adalah yang menghidupi dan menggairahkan tubuh, maka baiklah sabda yang singkat ini kita renungkan untuk ‘memberi makan nyawa’ kita. “Bukan berlimpahnya pengetahuan, melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebnarannya itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa” (St.Ignatius Loyola, LR no 2), demikian nasihat St.Ignatius Loyola, yang juga belajar dari St.Dominikus. Para santo-santa atau orang-orang suci pada umumnya dikenyangkan dan dipuaskan oleh sabda Tuhan, satu dua ayat saja, yang sungguh menjiwai menggerakkan hidup dan cara bertindaknya, sehingga mereka dengan rendah hati berani menghayati sabda Tuhan: : "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”.. Marilah kita baca dan renungkan berkali-kali atau terus menerus teks kitab suci yang mengesan dan menyentuh hati kita.

· “Aku akan melemparkan barang keji ke atasmu, akan menghina engkau dan akan membuat engkau menjadi tontonan. Maka semua orang yang melihat engkau akan lari meninggalkan engkau serta berkata: "Niniwe sudah rusak! Siapakah yang meratapi dia? Dari manakah aku akan mencari penghibur-penghibur untuk dia?” (Nah 3:6-7). Kutipan dari Kitab Nahum ini kiranya layak menjadi permenungan atau refleksi kita, lebih-lebih atau terutaman mereka atau siapapun yang bermental materialistis, bisnis maupun egois. Mereka yang bermental demikian tanpa dihukum kiranya sudah terhukum dengan sendirinya. Mengapa? Untuk melindungi diri serta kekayaan, harta benda atau uangnya pada umumnya membangun dan memperkuat ‘benteng’, entah berupa pagar tinggi, anjing galak, satpam yang perkara dan angker, dst.., sehingga sangat sulit bagi siapapun untuk menghubungi atau dengan kata lain ia telah menyendiri.

Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan mereka yang bermental materialistis, bisnis dan egois untuk bertobat: fungsikan dan manfaatkan kekayaan, harta benda dan uang anda sebagai sarana untuk membangun dan memperdalam persaudaraan sejati dengan sesama manusia maupun ciptaan-ciptaan lainnya. Jadikanlah kekayaan atau harta benda dan uang untuk semakin memanusiakan manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah, entah diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Apa yang manusiawi akan tumbuh berkembang ke ilahi atau merupakan modal dan langkah yang baik untuk semakin beriman, mempersembahkan diri kepada Tuhan seutuhnya, semakin suci, semakin mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan maupun sesamanya.



“Hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka. Sebab TUHAN akan memberi keadilan kepada umat-Nya, dan akan merasa sayang kepada hamba-hamba-Nya”
(Ul 32:35cd-36ab)


Jakarta, 8 Agustus 2008


sumber : Romo maryo

Categories:

0 Komentar:

Post a Comment

Setelah dibaca apa anda punya komentar untuk artikel diatas ?
Jika anda merasa tersentuh, terinspirasi, termotivasi dengan artikel ini bagikan bersama kami dengan meninggalkan pesan, kesan atau komentar apa saja.

Semoga komentar anda dapat menjadi semangat bagi yang lainnya.

  • Text Widget